Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Flashback


__ADS_3

Seorang wanita hamil besar tengah berjalan-jalan di sekitar jalan di temani seorang wanita paruh baya. Dengan sengaja, dia tidak mengenakan alas kaki demi memperlancar ketika persalinan nanti. Ada yang bilang ibu hamil memang di suruh banyak berjalan-jalan kaki. Namun, ada juga yang tidak melakukan hal itu.


"Eh, nak Viona. Lagi jalan-jalan siang, ya."


Viona yang di sapa oleh tetangga tersenyum ramah. "Iya, Bu. Katanya ini baik buat ibu hamil. Makanya aku jalan-jalan siang di sekitar rumah di temani mi Marni saja."


Bi Marni yang ada di samping Viona tersenyum juga. "Iya, Bu. Ini saran dari dokternya. Berhubung kehamilan non Viona sudah delapan bulan di haruskan banyak gerak, termasuk jalan-jalan begini."


Bi Marni kembali di perintahkan seseorang untuk menemani Viona selama hidup sendiri.


"Itu sangat bagus buat ibu hamil. Saya doakan semoga lahirannya dilancarkan ya. Ibu dan anaknya sehat serta selamat." Doa tulus tetangga ucapkan kepada Viona sembari tangannya mengusap perut buncit Viona.


"Aamiin, makasih Bu atas doanya." Viona terharu berada di sekitar orang-orang yang peduli dan tidak banyak bicara mengenai dirinya. Dia yang juga ramah terhadap tetangga membuat mereka menyukai Viona yang ramah dan juga baik. Sehingga orang-orang komplek tidak sungkan saling sapa dan saling membantu di saat para tetangga sedang dalam kesusahan.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, Nak."


"Silahkan Bu."


Viona dan Bu Marni kembali berjalan-jalan di sekitar rumah. Ya, Viona tinggal di kompleks perumahan dan tinggal bersama bi Marni. Karena merasa sudah lelah, Viona dan bi Marni hendak kembali pulang. Hingga sebuah mobil datang menghampiri dan berhenti di depan rumahnya dan di samping mereka.


Viona tersenyum saat mengetahui siapa orang itu dan dia menunggu orang itu turun. Turunlah pria yang selama ini menjaganya dan menyayanginya setulus hati.


"Papa," sapa Viona tersenyum sembari mengulurkan tangannya dan memberi tanda hormat kepada mertuanya.


Bram tersenyum mengusap pucuk kepala menantunya. "Apa kabar, Nak?"


"Kabar Viona baik, Papa. Sangat sehat." balas Viona terdengar senang kedatangan mertuanya.


"Papa bawakan makanan buat kamu dan calon cucu papa. Bi, tolong turunkan semuanya!" ujar Bram kepada bi Marni yang keluar dari rumahnya dan di tugaskan menjaga Viona. Lebih tepatnya Bram memecat Bi Marni dari pekerjaannya di rumah dia dan kembali bekerja di tempat Viona selama wanita itu masih ada.


"Baik, Tuan." Balas Bi Marni sambil beranjak mendekati mobilnya Bram.

__ADS_1


Bram dan Viona masuk ke dalam di ikuti oleh Bu Marni yang membawa dua tentengan plastik berisi makanan. Semenjak Viona hamil, wanita itu lebih sering banyak makan dan juga sering banget ngemil. Itulah sebabnya setiap kali Bram datang berkunjung selalu membawakan makanan atau cemilan buat Viona.


"Padahal papa tidak usah repot-repot membawa makanan sebanyak ini. Viona jadi merasa todak enak hati sama papa."


"Papa tidak merasa direpotkan, justru papa senang membelikan makanan ini buat kalian." Tidak ada sedikitpun rasa repot jika sudah menyangkut menantu yang ia anggap anaknya sendiri.


Viona terharu, matanya berkaca-kaca dan berkata, "terima kasih, Pah. Terima kasih sudah begit baik pada Viona. Dan terima kasih juga sudah memberikan Viona tempat tinggal."


"Ini kewajiban papa sebagai orangtuamu. Di saat anaknya sedang dalam masalah, papa orang pertama yang akan datang membantu dan merangkul kalian. Meskipun kamu bukan anak kandung papa, tapi papa menyayangimu seperti anak papa sendiri." Bram berucap tulus dan ia tidak pernah memiliki niatan apapun selain menyayangi Viona dan calon cucunya.


Bram kembali teringat kejadian dulu yang dimana ia melihat kerumunan orang-orang.


FLASHBACK


Pada hari itu, Bram baru pulang dari urusannya. Dia mengendarai mobil seorang diri dan di tengah jalan melihat orang-orang berkerumun menyebabkan kemacetan.


"Apa yang terjadi di depan sana? Kenapa banyak orang sekali?" dia menunggu kendaraan lain maju. Namun, karena penasaran terhadap kerumunan orang, Bram keluar guna menanyakan apa yang terjadi.


"Itu ada kecelakaan di depan. Dan seorang wanita terlihat sangat syok. Untungnya ada orang yang membantunya keluar dari hantaman mobil. Kalau tidak, mungkin gadis itu sudah tertabrak."


"Ya Tuhan, kasihan sekali dia. Lalu bagaimana keadaan gadis itu?"


"Dia sedang duduk di sana dan di bantu orang-orang. Kayaknya dia masih belum sadar dari keterkejutannya." Orang itu menunjukan tempat seorang gadis duduk.


Bram mengangguk dan ia semakin di buat penasaran oleh orang itu dan ingin melihat siapa yang hampir tertabrak. Ia melihat sekitar dan memang ada tabrakan beruntun.


Namun, dahinya mengkerut saat sudah mendekati kerumunan orang yang sedang berusaha memberikan ketenangan pada wanita mudah. Dan, Bram di buat terkejut jika orang itu adalah Viona.


"Viona! Kamu ..." Viona yang merasa namanya di sebut menoleh.


"Papa," ucap Viona begitu lirih dengan wajah pucat penuh ketakutan dan masih terlihat syok. Namun, baru saja bersuara Viona malah pingsan tak sadarkan diri membuat mereka yang ada di sana panik.

__ADS_1


*****


"Dokter, Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Bram pada dokter yang memeriksa keadaan Viona.


"Anak Anda tidak apa-apa. Dia pingsan karena syok dan juga kelelahan. Dan untuk kandungannya sedikit lemah. Saya sarankan anak Anda jangan banyak pikiran, karena kalau banyak beban pikiran akan berpengaruh pada kandungannya. Usahakan anak Anda mengalami kebahagiaan dan juga jangan lupa untuk memberikan makanan yang sehat dan bergizi untuk menguatkan kandungnya." Penjelasan dokter membuat Bram diam mematung mencerna perkataannya.


"Maksudnya anak saya sedang mengandung?"


"Jadi Anda belum tahu?" dokter itu malah balik bertanya.


"Belum, dokter. Saya baru pulang dari luar kota."


Dan dokternya menjelaskan secara detail keadaan Viona serta kandungnya. Dari sinilah Bram bertanya apa yang yang terjadi kepada Viona. Viona yang memang tidak bisa berbohong berkata yang sejujurnya dan hal itu membuat Bram geram. Hingga ia memutuskan menyembunyikan Viona dari semuanya demi kebaikan Viona dan demi melihat penyesalan dalam duri Raymond.


FLASHBACK END.


Setelah mengantarkan keperluan rumah dan bahan-bahan keperluan calon cucunya, Bram pulang ke rumah. Ia melihat Raymond diam melamun seorang diri di dekat jendela sambil memandangi air mancur buatan.


"Raymond." Bram menepuk pundak putranya.


"Eh, Papa. Ada apa?" Ray tersadar dari lamunannya dan menoleh.


"Ada apa? Kamu masih memikirkan Viona?" tanya Bram ingin tahu isi hati putranya secara pasti.


"Tentu saja, Pah. Ray tidak bisa bohong mengenai perasaan ini. Raymond memang menyukai dan juga memikirkan Viona saat ini." Ray menghela nafas berat.


"Kamu ingin bertemu dengannya?"


"Jika Tuhan mengizinkan, Ray sangat ingin bertemu dengannya dan ingin meminta maaf serta mau menikahi Viona lagi secara resmi." Sebuah keinginan tulus dari Raymond jika nanti bertemu Viona ia ungkapkan pada Papanya.


"Kalau begitu, kita akan bertemu dengannya."

__ADS_1


"Maksud papa?"


__ADS_2