
"Sudah cek kandungan?" tanya Miranda penasaran. Mereka masih duduk di ruang tamu, padahal waktu sudah sangat malam.
Tapi Bram lebih dulu pulang sedangkan Ray sedang bicara dengan seseorang di tempat yang terbuka lebih tepatnya diluar rumah.
"Sudah, Mah. Kata dokter bayinya sehat."
"Mama senang dengarnya. Tapi kamu tahu jenis kelaminnya? Biasanya kalau melakukan USG ketahuan perempuan atau laki-lakinya."
"Kata dokter anaknya laki-laki. Bagiku, mau laki-laki atau perempuan dia tetap anakku dan tidak akan ada yang berbeda." Viona tidak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya. Terpenting anaknya sehat dan lahir dengan selamat.
"Mama senang dengarnya. Mama jiga tidak mempermasalahkan jenis kelaminnya. Oh, iya, ini sudah malam sebaiknya kamu tidur gih."
Viona mengangguk karena memang dirinya juga sudah mengantuk. Dia mencoba berdiri dan Miranda yang melihat Viona kesulitan membantu Viona berdiri. Dia pernah merasakan hamil dan tahu bagaimana perjuangan wanita hamil.
"Makasih, Mah." Ucapan tulus Viona begitu lembut disertai senyuman manis dan juga terlihat tulus. Viona pun beranjak pergi menuju kamar yang ada di kamar depan. Rumahnya hanya satu lantai dan terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Satu kamar di gunakan oleh Bi Marni, yang satunya menjadi kamar Viona dan yang satunya lagi di tempati Miranda yang ingin menginap di sana.
Ray masih serius mendengarkan orang di sebrang telpon. "Jadi mereka di usir dan sekarang berniat mencari Viona?"
"Iya, bos. Menurut informasi, Ronald kalah berjudi dan rumahnya menjadi jaminan judi, cuman ia gagal dan kini mereka sedang mencari Viona ke salah satu mucikari bernama Louis."
"Jangan biarkan mereka menemukan Viona apalagi mencoba masuk ke dalam kehidupan Viona lagi. Pastikan mereka hidup jauh dari sini. Kalau perlu, kau ajak mereka pergi dan dari kota ini dan pastikan mereka tidak bisa lagi ke sini!"
"Baik, Bos. Akan kami pastikan sesuai perintah mu."
Raymond mencari tahu tentang keluarga Viona di bantu oleh Papanya. Dia pun menemukan informasi yang mengejutkan dan Tidaka kan membiarkan itu terjadi. Ray rela mengeluarkan uang banyak agar Viona tidak di usik lagi oleh keluarga Ronald. Dia berencana memindahkan keluarga Ronald ke tempat terpencil sekaligus memberikan modal usaha untuk beli rumah agar tidak lagi bisa mengganggu atau menyakiti Viona.
Ray menghela nafas lalu beranjak masuk ke dalam. Setibanya di dalam, ia tidak menemukan Viona dan hanya mamanya yang ada.
__ADS_1
"Mah, Viona mana?"
"Dia sudah istirahat, kasihan terlihat ngantuk. Kamu masuk saja, temani dia di dalam. Kalian masih sah menjadi suami istri dan masih bisa tidur satu ranjang. Tapi tetap jangan melakukan apapun tanpa izin Viona!" Miranda menginginkan.
"Iya, Mah. Ray mengerti." Ray pun kembali melangkah dan masuk ke dalam kamar Viona.
Ceklek ....
Ia bisa melihat jika Viona sedang tidur menyamping. Langkahnya begitu pelan karena takut membangunkan Viona. Ray menyimpan ponselnya di atas meja dan ia beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya agar lebih santai.
Ray hanya mengenakan celana pendek dengan bagian tubuh tanpa pakaian. Kalau malam dan mau tidur, dia memang selalu seperti itu. Ray mendekati Viona dan duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah damai Viona dalam tidurnya.
Tangan Raymond mengusap lembut wajah cantik istrinya. "Istri," gumam Ray tersenyum senang saat menyebut Viona istri. "Kamu istriku, Vi. Kamu milikku dan anak ini anakku. Tidak akan aku biarkan orang lain menyakitimu lagi dan tidak akan ku biarkan kamu pergi lagi dariku. Terima kasih sudah bersedia memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini."
Perlahan, wajah Ray mendekat dan ia ingin mengecup lembut kening Viona. Di saat itu, Viona menggeliat dan merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan malah Ray mengecup bibir Viona. Mau heran tapi ini nyata, bibir yang mau ke kening malah beralih ke bibir.
Menyadari wanita yang tengah tidur terbangun, Raymond melepaskan bibirnya dan sedikit menjauhi wajah Viona.
"Maaf mengganggu mu dan maaf menyentuhmu tanpa seizin darimu dulu. Aku tidak bisa jika tidak menyentuhmu. Aku merindukanmu, Viona." Raymond tidak berbohong, ia seriusan dalam berkata karena itu memang yang ia rasa dan juga membuatnya kecanduan. Saat berdekatan dengan Viona dirinya tidak bisa mengontrol diri dan malah asyik menikmati bibir tipis nan merah alami.
"Tidak mengapa, karena aku pun merindukanmu." Viona nampak malu-malu mengakui kerinduannya. Namun, itulah yang ia rasakan sebenarnya. Persetan dengan apa yang terjadi di masa lalu, yang penting sekarang masa depan dirinya bersama orang yang ingin Viona miliki. Bolehkan dia egois? Bolehkah dia memberikan kesempatan? Bolehkah dirinya berharap pada sesuatu yang saat ini sedang terjadi? Semua hanya bicara soal waktu.
Ray tersenyum, ia naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Lalu, ia memeluk Viona seraya mengusap perut buncitnya. "Terima kasih sudah tidak marah padaku. Sekarang istirahatlah, sudah malam. Selamat malam kesayangan ku," ucap Ray mengecup lembut kening Viona.
Viona tersenyum samar merasa berbunga lagi dan jantungnya berdegup kencang. Ia pun memejamkan matanya berharap ini bukanlah mimpi.
*****
__ADS_1
"Siapa kalian? Kenapa kalian menculik kita?" tanya Ronald kepada lima orang pria yang sedang menyekap dirinya dan anak istrinya.
"Kau tidak perlu tahu siapa kita, tapi kami menginginkan kalian pergi dari kota ini!"
"Cuih, tidak akan! Sampai kapanpun kita tidak akan pergi dari sini!"
"Benarkah? Apa kalian akan menolak uang satu milyar jika tidak mengikuti perintah kita?" tanya salah satu dari kelima pria itu. Sepertinya dia bos dari beberapa orang di sana.
Ronald, Natalie, dan Elsa terbelalak mendengar uang sebanyak itu.
"Uang?!" ujar mereka secara bersamaan.
"Iya, UANG. Jika kalian mau pergi dari sini dan ikut kita, maka kita akan memberikan uang itu kepada kalian sebagai bekal untuk membeli rumah dan yang lainnya. Bos kami masih berbaik hati kepada kalian daripada kalian mati di bunuh olehnya."
"Bos?! Siapa dia? Enak sekali menyuruh kita pergi dari kota ini?" seru Ronald.
"BRAMANTYO CHRISTOPHER, dia adalah bos saya."
Deg ....
Mereka terkejut mendengar nama pria yang sering kali di kenal pembunuh dingin. Siapapun yang mengusiknya akan di hancurkan hingga tidak tersisa. Ronald gemetar hanya mendengar namanya saja.
"Nama itu, nama yang Louis katakan kalau dia orang yang telah membeli Viona. Apa mungkin dia tahu kalau kita akan mencari Viona. Tidak, tapi tidak mungkin Viona berhubungan dengan pria itu." Ronald tidak mempercayai ini semua.
"Daripada kita mati mending kita ambil uangnya dan pergi dari sini. Aku tidak tahu masalah apa yang kau lakukan sampai BRAMANTYO CHRISTOPHER ikut campur dalam urusan ini," bisik Natalie memberikan saran terbaik buat mereka.
"Baiklah, saya terima tawaran ini."
__ADS_1