
Ibu mana yang tidak khawatir pada anaknya yang tak kunjung pulang meski sudah larut malam. Hatinya gelisah, pikirannya kacau, dan juga ia gelisah tidak tenang sebelum putranya pulang.
Miranda, ia ikut menyesali perbuatannya terhadap Viona. Dia yang baru tahu mengenai siapa Viona membuat hatinya terenyuh merasa bersalah. Tubuhnya terus mondar-mandir gelisah tak menentu menunggu kepulangan Raymond. Di saat itu juga ia kembali teringat pada perkataan suaminya.
"Viona seorang anak yatim-piatu, keluarganya sudah tiada dan seluruh hartanya pun sudah habis oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. Viona di buang di depan rumah seorang keluarga yang gila harta. Hidupnya tidaklah mudah, seringkali mendapatkan perlakuan tidak baik dari ayah dan ibunya serta kakak angkatnya. Sering di pekerjakan dan terakhir di jual kepada seorang mucikari seharga lima milyar sebagai jaminan utang. Papa tidak tega melihat dia menangis ketakutan saat orang-orang hendak menangkap nya. Makanya papa membayar utang itu dan membawa Viona ke dalam kehidupan kita. Papa juga sudah mencari tahu siapa Viona, ternyata Viona anak dari sahabatmu, Mah. Hidupnya sebatang kara dan dari itu papa berniat menjodohkan Viona dengan Raymond dengan harapan Ray mampu mencintai Viona dan menjaganya. Sedari awal papa sudah memiliki feeling jika Elena tidak sebaik yang kita kira. Untuk itulah papa meminta Viona menikah dengan Raymond karena papa yakin kalau Viona mampu memberikan cinta tulus untuk putra kita."
Miranda memejamkan mata menyesali perbuatannya. "Pantas saja wajah Viona tidaklah asing. Ternyata dia anaknya Rianti dan Febian yang di buang oleh saudaranya. Tuhan, sekian lama tidak bertemu dengan teman sekolahku dulu ternyata anaknya ada di sekitarku."
Miranda dan orangtuanya Viona dulu satu sekolah. Mereka juga sempat menghadiri pernikahan mereka. Namun, orangtuanya Viona tidak langsung memiliki anak dan sangat lama hamilnya. Sedangkan Miranda pada saat itu cepat di berikan momongan. Namun, sejak usia Raymond lima tahun, keluarganya Viona pindah karena tugas mereka juga di pindahkan. Hingga saat ini semuanya hilang kontak dan tidak bertemu lagi. Kini, ia di pertemukan dengan anak dari rekan-rekan sekolahnya dulu yang tak lain dan tak bukan rekan terbaiknya.
Dan untuk Bram sendiri, ia mencari Raymond serta membantu mencari Viona. Sampai lamunan Miranda teralihkan oleh pintu yang terbuka secara paksa.
"Raymond!" Miranda berlari menghampiri putranya yang terlihat semakin kacau dan pulang dalam keadaan mabuk. Pria itu begitu terpuruk dalam penyesalan dan juga kebingungan mencari Viona. Pun dengan Miranda yang juga sama-sama terpuruk melihat putranya.
"Viona, kamu dimana? Aku cinta sama kamu, Vi. Kembalilah padaku." Raymond meracau tidak jelas dengan tubuh sempoyongan.
"Ray kenapa jadi begini?" Miranda membantu anaknya yang hendak terjatuh. Raymond menoleh dan matanya kembali tersirat kesedihan.
"Mah, Viona pergi membawa cinta yang baru ku sadari. Kenapa kehilangan Viona sesakit ini, Mah?" Raymond terus saja meracau mencari Viona dan menanyakan keberadaan Viona. Dia juga mengungkapkan segala isi hatinya.
Miranda sedih dan ia membatu Raymond duduk di sofa.
__ADS_1
"Aku bahkan melakukan kesalahan-kesalahan padanya, Mah. Aku mengatai dia wanita murahan, wanita malam, sampai melampiaskan kekesalan ku dengan cara penyatuan. Mama tahu, Viona seorang gadis, Mah. Ray orang pertama yang menyentuhnya. Dibandingkan Elena, Viona jauh lebih baik dari segalanya. Elena tidak pernah sekalipun Ray sentuh karena dia selalu menolak, tapi Viona dengan ikhlas selalu melayani nafsu Ray, Mah. Hiks hiks hiks, Ray rindu Viona, Mah. Rindu perhatiannya, rindu pelukannya, rindu segala hal yang ada dalam diri Viona, Ray rindu." Suara Raymond mulai melemah dengan mata mulai terpejam. Miranda yang ada di sana mendengarkan setiap kata yang keluar dari putranya.
"Jadi hubungan kau dan Viona sudah sejauh itu, Ray. Tapi dia, dia tidak menuntut apapun saat pergi darimu. Malah Viona juga masih terlihat baik sama mama dan berkata sopan dengan tutur kata yang lemah lembut. Maaf kan Mama tidak merestui hubunganmu dengan Viona. Seandainya mama tahu lebih awal, Mama tidak akan membiarkan dia pergi dari kehidupanmu. Kamu ternyata lebih kehilangan Viona daripada Elena."
Miranda mengusap air matanya dan ia pun mengusap lembut kepala putranya. "Mama berjanji sama kamu akan mencari Viona dan akan merestui hubungan kalian. Jika dia adalah kebahagiaan mu yang sebenarnya, Mama tidak akan menghalangi kalian, Nak."
Janji seorang ibu untuk putranya dan tidak akan lagi mengganggu urusan mereka lagi. Hingga suara mobil kembali terdengar membuat Miranda segera berdiri dan melangkah ke depan.
"Pah, bagaimana?" tanya Miranda saat suaminya sudah turun dari mobil.
"Papa tidak bisa menemukan Viona, Mah." Bram terlihat letih dan juga sedih. Miranda kembali murung dan berkata, "kasihan Raymond. Dia sampai pulang dalam keadaan mabuk saking kehilangannya."
*****
"Apa-apaan kau ini? Masa membuat kopi saja tidak becus!" sentak Ray sambil membaringkan gelas yang ia pegang.
Prang ....
"Saya tidak suka karyawan yang kerjanya tidak becus sepertimu. Mulai hari ini saya kau pecat!" pekik Ray tanpa ampun memecat orang yang tidak tahu kesalahannya dimana.
"Jangan pecat saya, pak. Saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Wanita itu gemetar ketakutan dan ia juga tidak mau di pecat.
__ADS_1
"Saya tidak peduli! Keluar kau dari hadapanku! Saya benci wanita yang berusaha menggodaku! Pergi!" Ray kembali melempar nampannya.
Sedangkan di luar banyak orang berkerumun mendengar keributan di ruangan CEO, anak dari direktur utama.
"Ini yang kesekian kalinya pak Raymond marah-marah. Sudah tujuh bulan ini Pak Raymond menjadi arogan dan apapun yang membuat dia marah pasti saja begini."
"Iya, saya juga heran. Entah apa penyebabnya kita juga tidak tahu."
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri di depan ruangan Raymond?" seru Bram membuat para karyawan menunduk ketakutan.
"Maaf, Pak."
"Kembali ke tempat kerja kalian!" serunya begitu tegas dan dingin.
"Baik, Pak." Dan orang-orang yang tadi berkerumun membubarkan diri kembali ke tempat kerja mereka.
Sedangkan Bram menghelakan nafas berat. "Anak itu selau saja begini." Diapun masuk dan tercengang melihat kondisi ruangan Ray berantakan dengan seorang wanita berlutut ketakutan dan menangis.
"Ray ada apa?"
"Ray tidak suka dia, Pah. Dia pikir dengan cara berusaha mendekati Ray, aku akan berpaling dari Viona? Tidak akan!" sentak Ray sambil pergi dari kantornya.
__ADS_1
Bram melihat prihatin wanita itu. "Jangan pernah mencoba untuk menggoda anakku karena dia sudah memilki istri dan calon anak."
"Mungkin ini saatnya Raymond bertemu dengan Viona."