
Sepanjang lamunannya, Viona memikirkan perkataan Raymond.
"Ya, istri. Aku sudah menikah dan sudah memiliki istri sebelum menikah dengan mu. Jadi jangan pernah sekalipun kau berharap dari pernikahan palsu ini. Karena setelah Elena istriku kembali, kau akan ku ceraikan dan kita akhiri semuanya. Dan jangan harap kau akan mendapatkan jatah nafkah batin. Aku tidak sudi itu!"
Viona memeluk kedua lututnya dan melamun duduk di kursi yang ada di dalam kamar yang ia tempati. Ia menatap keluar jendela kaca memperhatikan taman bunga di sekitar rumah yang ia tempati.
Bahkan, Raymond menempatkan Viona di bagian belakang rumah. Lebih tepatnya kamar pembantu.
"Sekalipun kau menikah denganmu, kau hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Jadi jangan pernah harap menginginkan posisi nyonya dalam rumah maupun di luar rumah. Karena sampai kapanpun, kau bukanlah siapa-siapa. Jadi, lebih baik kau tidur di kamar pembantu ini!" sentak Raymond sambil menghempaskan tubuhnya Viona ke dalam kamar belakang.
Di sinilah dia berada, sendiri dalam keadaan menangis sepi. Menangis karena tidak ada satupun di dunia ini yang menginginkan dirinya. Orangtuanya membuangnya, keluarga yang membesarkannya pun tidak menginginkan dia. Sekarang, memiliki suami pun tidak menjamin dirinya hidup bahagia.
Yang membuat Viona heran adalah, kenapa Bramantyo memberikan rumah ini sebagai maskawin dan juga menyuruh mereka tinggal secara terpisah? Apa mungkin ini ini adalah salah satu alasan agar dia tidak tahu jika Ray sudah menikah? Itulah yang saat ini Viona pertanyakan.
"Ya Tuhan, salahkan jika aku hanya menginginkan bahagia? Tapi kenapa rasanya begitu sulit menemukan setetes bahagia sedikit saja." Gumam Viona termenung sendiri. Ya, Viona hanya ingin merasa bahagia menjalani hidupnya. Tapi Tuhan malah selaku memberikan dia cobaan.
"Viona ... Viona ... Kemari kau!" teriakan Raymond begitu menggema terdengar ke kamar belakang. Viona cepat-cepat beranjak turun dan berlari menghampiri.
Setibanya di dalam rumah, "ada apa?" tanya Viona mendekati Raymond yang sedang duduk dengan kedua kaki berada di atas meja.
"Bersihkan sepatuku! Sampai bersih!" titah Ray tegas tapi matanya malah terfokus kepada benda pipih yang ia pegang.
Viona menatap sepatu hitam yang di kenakan Ray, dan juga kembali menatap wajah pria yang kini sudah menjadi suaminya.
Merasa tidak ada pergerakan, Ray mendongak. "Kenapa diam saja, hah? Buruan bersihkan sepatuku sampai mengkilap!" sentak Ray kesal karena Viona diam saja.
"Ini sampai bersih?"
"Iya, buruan!"
"Tapi ini sepatunya sudah bersih." Karena memang sepatu hitam itu masih mengkilap, tidak ada debu ataupun lumpur yang menempel di sepatunya.
Viona masih bergeming di tempat tanpa melakukan pergerakan apapun. Mau di bersihkan pun percuma, toh tidak kotor. Jadi, dia malah diam saja dan hanya menatap sepatunya.
__ADS_1
"Astaga, kau dengar atau tidak? Buruan bersihkan, Viona!" sentak Ray sambil melemparkan bantal sofa ke tubuh Viona.
Viona tersentak kaget.
"Ah, lama. Buruan bersihkan!" sentak Ray sambil mendorong tubuh Viona hingga terduduk di lantai. Lalu, kakinya ia tumpangkan ke pangkuan Viona.
"Ini bersihkan pakai apa?" Viona kebingungan karena tidak ada lap ataupun alat semir di sekitar sana.
"Pakai bajumu!"
Viona menunduk lesu. Dengan demikian, Viona mengikuti perintah Raymond. Dia mencoba ikhlas dalam menjalankan segala tugas yang di berikan suaminya.
Dengan perasaan sedih bercampur hati kecil merasa kesal, Viona mengelap sepatu Raymond menggunakan baju yang ia kenakan.
Ray melirik sebentar, ia tersenyum sinis. "Akan ku buat kau menderita dan akan ku pastikan kau merasa hidup di dalam neraka."
Drrrtt ... drrrtt ....
ponsel Ray berbunyi, raut wajahnya yang tadinya marah berubah menjadi tersenyum melihat siapa yang menghubungi. Dan dengan segera Ray mengangkat panggilannya.
Viona tertegun, seketika ia merasakan sesak. Aneh bukan? Orang yang baru saja menikahinya bermesraan dengan wanita lain di hadapannya, padahal orang itu adalah istri pertamanya pria yang menjadi suami Viona.
"Baru saja selesai pemotretan. Kau lagi ngapain, sayang? Todak sedang lagi ekhem ekhem dengan istri muda mu?"
"Tentu saja tidak. Justru aku merindukan mu. Mana mungkin ku bermain dengan wanita yang jelas sama sekali beda jauh dengan kamu. Cintaku tetap untukmu dan hanya kamu yang akan menjadi istriku." Ray sengaja mengeraskan suaranya dan juga sengaja mengeraskan speaker ponselnya supaya Viona mendengar.
"Awas, ya. Jangan sampai kamu tergoda olehnya. Kamu akan tetap menjadi milikku selamanya, dan hanya akan menjadi suamiku."
"Pastinya, sampai kapanpun itu."
"Ya Tuhan, sesakit ini mendengar suami berkata lembut dengan orang lain. Padahal, aku tahu jika Ray tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Tapi rasanya sungguh panas telinga mendengar kemesraan keduanya."
Ray merasa pergerakan Viona diam, ia meliriknya. "Ngapain kau diam saja? Buruan bersihkan!"
__ADS_1
"Tapi ini sudah." Viona menunduk melihat penuh teliti sepatu yang dikenakan Raymond.
Ray melihatnya, sebenarnya ia tahu kalau sepatunya itu mengkilap. Namun, Ray hanya ingin mengerjai Viona saja.
"Minggir! Buatkan saya makanan!" kini Ray beralih meminta makanan. Entah apa maksudnya, Ray tidak tahu. Tapi, Viona mengangguk sambil berdiri.
Ray membiarkan Viona pergi dari sana dan ia kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Elena.
*****
Di dapur.
"Seandainya aku tahu jika dia sudah memiliki istri, aku tidak mungkin mau menikah dengannya. Biarlah ku masuk penjara asalkan terbebas dari belenggu rumah tangga sandiwara. Sungguh aku menyesal telah menerima tawaran om Bram yang ku pikir anaknya belum menikah. Tapi ternyata ...."
Kini Viona menyesali keputusannya menikah dengan anak Bram. Dia yang tidak tahu bakalan begini menyetujui permintaan Bram. Tapi akhirnya malah begini, ia menjadi istri kedua dan mendapatkan sebuah perlakuan tidak baik dari seorang pria.
Sebisanya, Viona memasak sesuai permintaan Ray. Namun, ia sempat bingung karena hanya ada mie instan saja di sana. Tidak ada bahan makanan apa pun selain mie instan dan beberapa hidangan sisa para tamu.
"Kalau aku masak mie instan apa Ray akan suka? Di sini tidak ada makanan apapun selain ini yang ada," gumam Viona membolak-balikkan bungkus mie yang ia pegang.
"Dah lah, masak ini saja daripada tidak." Dan, Viona pun memasak mie nya. Setelah bergelut alat-alat dapur, makanannya pun jadi.
"Viona, mana makanannya? Bawa kemari! Sudah belum?" pekik Ray nyaring begitu menggema.
"Iya tunggu sebentar," balas Viona sembari membawa nampan berisi mangkuk.
"Lelet banget jadi orang. Masak gitu saja pakai lama!" ujar Ray mendengus kesal.
"Maaf, ini makanannya." Viona menyimpan nampannya ke atas meja. Namun, Ray kembali marah melihat apa yang Viona masak.
"Makanan apa ini?"
Prang ....
__ADS_1
*****