Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Kesedihan Raymond


__ADS_3

Dear suamiku, Raymond.


Terima kasih atas waktu kebersamaan kita selama lima bulan belakangan ini. Banyak sekali suka duka, canda tawa yang tercipta di rumah ini. Terima kasih pula atas kebahagiaan yang kamu berikan.


Ray, kau tahu, aku tidak pernah merasakan bahagia seperti yang kamu lakukan untukku. Aku merasa dunia berpihak padaku karena aku menemukan orang yang mungkin tepat bisa menjadi sandaran ku di saat aku mengalami gundah gulana, tangis air mata, dan merasa hidup sendiri. Pada hari itu aku meyakinkan diriku untuk tetap bertahan dalam hubungan kita. Namun, ternyata aku salah, apa yang kita lakukan salah.


Seharusnya dari awal aku sadar diri kalau kamu tak mungkin menjadi bagian dalam hidupku. Kamu memang suamiku, tapi kamu bukan tercipta untukku. Raymond, tak pernah sedikitpun ku berpikir kalau pernikahan ini hanyalah sebuah permainan. Namun, saat melihat surat perjanjian kita, aku tersadar kalau aku tidak berhak ada dalam kehidupanmu dan Elena.


Ray, makasih untuk semuanya. Sesuai kesepakatan kita dari awal, aku bersedia bercerai darimu. Kita tidak akan pernah berhubungan lagi dan maaf telah menjadi orang ketiga dalam rumahtangga mu dan Elena.


Oh, iya, selamat ya atas kehamilan ISTRIMU, aku ikut bahagia karena melihat kamu juga bahagia. Seperti isi perjanjian, maka aku akan pergi setelah Elena kembali dan mengandung anakmu.


Biarlah aku yang mengalah karena aku bukanlah siapa-siapa, biarlah aku yang pergi karena ku sadar diri cintamu bukan untukku. Kita yang awalnya asing mungkin akan kembali menjadi orang asing tanpa harus bertegur sapa. Ku kembalikan semua barang-barang yang papa dan kamu berikan untukku. Maaf, aku hanya mengambil uang sepuluh juta.


Hujan telah reda, tugasku memayungi mu pun telah usai. Kini tinggal menunggu cahaya matahari menyinari dan cahaya itu bukanlah aku. Selamat berbahagia, Ray. Selamat juga karena kamu akan menjadi ayah. Aku mencintaimu, Ray. 'Kan ku bawa cinta ini bersama kenangan.


Calon mantan istri keduamu, Lamuela Viona Saira.


Deg ....


Jatuh sudah air mata Raymond setelah membaca setiap tulisan indah dari Viona. Dada Raymond tiba-tiba terasa sesak mengetahui Viona mengakhiri hubungan mereka. Ia melihat dokumen berisi surat perjanjian mereka dan Ray mengambilnya.


"Viona pergi? Viona meninggalkan ku, dia meninggalkan banyak kenangan di sini, dia juga tahu Elena hamil?" Ray menggelengkan kepalanya tidak percaya jika Viona pergi tanpa berpamitan dulu. Sekalipun Viona meminta izin, tidak akan ia lepaskan begitu saja.


"Aaahhh, kau tidak boleh pergi dari ku Viona. Kau milikku! Kamu milikku!" pekik Ray melempar apa saja yang ada di atas meja dan Ray juga merobek surat perjanjian itu. "Aku bodoh tidak membakar surat ini. Aku juga bodoh sampai lupa padanya."


Ray berdiri dan berlari keluar kamar, ia kembali mencari keberadaan Viona berharap bisa menemukannya.


*****

__ADS_1


Sudah tiga jam lamanya Raymond berkeliling mencari Viona. Tapi, ia tidak menemukannya. Bahkan, langit pun berubah sore dan awan pun mendung semendung hati Ray yang kehilangan Viona.


Tak pernah terbesit oleh Ray akan kehilangan wanita yang begitu perhatian, memperlakukan dirinya layaknya seorang suami, tidak pernah membantah, dan selalu saja membuat Ray nyaman.


Setelah ketiadaan mu, nyata ada gundah bersenandung pilu. Bahkan air mata ini menetes disudut sudut sunyiku membersamai nyeri yang kian menyakitkan sepanjang waktu.


Kenapa kebersaamaan harus berakhir seperti ini? Kenapa harus egomu yang menguasai


Terlupakan janji suci ini? Bahwa setia kan terpatri sampai nanti, tapi nyatanya kau telah pergi.


Ah....pintaku hanya bualan belaka, inginku tuk tetap bersama hanya fatamorgana. Semua tlah hilang karena diam yang begitu lama dan keangkuhan tlah merenggut bahagia kita


Andai sang waktu membuat temu


Kan kupeluk engkau sebagai luapan rindu. Viona, maafkan aku. Kembalilah padaku, aku merindu dalam diam.


Ray memberhentikan mobilnya dan ia menunduk menyenderkan keningnya ke stir. Pria itu menangis dalam diam meluapkan segara rasa sesal yang mendera. Sesal karena mengabaikan Viona, sesak karena tidak mengabari Viona, sesal karena tidak peka terhadap perasaan Viona. Kini, setelah wanita itu pergi Ray malah kehilangan dan hatinya terasa kosong dan hampa seakan sebagian jiwanya terbawa pergi.


"Ahhhh, Viona kamu dimana?" pekik Ray prustasi.


*****


Kediaman Bram.


Elena dan Miranda dari tadi bertanya-tanya mengenai Raymond.


"Mama yakin Ray keluar dengan tergesa?" tanya Elena.


"Iya, tadi Mama melihat Ray terlihat panik dan juga berlari keluar tanpa mempedulikan teriakan mama. Mama heran karena tidak biasanya Ray begitu. Itu seperti bukan Raymond yang Mama kenal." Miranda juga melihat ada hal lain yang lain rasakan cuman ia tidak tahu apa penyebabnya.

__ADS_1


"Emangnya sepenting itu orang di luaran sana sampai membuat Ray panik segala? Siapa sih orangnya? Sudah tahu aku lagi hamil malah di tinggal pergi," ujar Elena menggerutu kesal. Padahal susah payah ia menahan Ray agar tidak ke luar dari rumah Bram dan berusaha mengalihkan perhatian Ray dari Viona, eh sekarang Raymond pergi entah kemana.


"Mama juga tidak tahu. Sudahlah, mungkin itu masalah pekerjaan. Oh, iya, tadi Mama ke rumah Ray yang baru. Wanita itu sudah pergi dari sana."


"Benarkah? Akhirnya wanita ja lang itu sudah pergi dari kehidupan Raymond. Aku sangat senang sekali, Mah. Tidak akan ada lagi orang yang menghalangiku untuk mendapatkan Raymond." Elena terlihat bahagia karena saingannya pergi dari kehidupannya. Dia merasa menang atas diri Raymond.


Dan orang yang di bicarakan pun pulang dalam keadaan kacau. Langkah Ray terlihat lesu dengan mata terlihat sebab.


Miranda dan Elena berdiri menghampiri.


"Ray, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Miranda memegang pundak putranya. Namun, Ray bergeming dengan tatapan kosong. Pria itu hanya melamun.


"Sayang," panggil Elena menggapai tangan Raymond. Ray menoleh dan menatap Elena, ia masih juga tidak bersuara dan hanya sorot mata terlihat sedih.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berdiri di dekat pintu?" seru Bram baru pulang kerja. Dia merasa heran karena ketiga orang itu berdiri tak masuk ke dalam.


Mereka menoleh termasuk Raymond yang juga menoleh. Barulah Ray bersuara.


"Pah, Viona." Suara Raymond terdengar serak dan matanya terlihat sedih.


Miranda maupun Elena terhenyak mendengar Ray mengucapkan kata Viona.


"Ada apa? Kenapa dengan Viona?" Bram kebingungan.


Raymond malah memeluk papanya dan mereka tertegun mendengar Raymond menangis. "Viona pergi, Pah. Viona pergi dariku, dia pergi. Bawa Viona kembali, Pah. Ray tidak mau kehilangannya, Ray cinta sama Viona, Pah."


Deg ....


"Apa-apa ini?"

__ADS_1


__ADS_2