Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Berusaha menenangkan ala Raymond


__ADS_3

"Kau! Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau sedang bersama istrimu?" tanya Adit sambil berusaha bangun setelah Ray melemparkan pas bunga ke kepalanya. Tubuhnya lemas tak bertenaga, wajahnya babak belur sampai tiada rupa.


"Kau yang ngapain di sini, baji Ngan?" sentak Ray begitu murka dan menarik baju Adit yang kancingnya sudah terlepas semua. Ray membawanya keluar kamar dan mendorong kasar tubuh Adit.


"Ini salah paham, bukan aku yang datang ke sini tapi Viona yang menghubungiku. Kau salah paham menilai ku, Ray." Di saat darah mengalir di kepala pun, Adit masih saja mengelak dan menyudutkan Viona. Dia belum kapok atas apa yang Ray lakukan.


"Diam kau, baji ngan! Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku buta melihat kenyataan yang ada? Jelas-jelas kau yang datang ke sini tanpa di undang. Dan, asal kau tahu, Viona tidak mungkin menghubungimu karena dia tidak memiliki ponsel!" pekik Ray marah, dan ia menendang perut Adit. "Kau sudah keterlaluan, sialan! Mulai hari ini juga! Kerjasama kita batal! Aku tidak peduli harus rugi miliaran!"


Ray menarik tangan Adit dengan sorot mata tajam dan ia melemparkan pria itu ke luar rumah. Lalu, Ray menginjak dada Adit dan mencondongkan tubuhnya seraya mencengkram kuat rahang Adit. "Tak akan ku ampuni kau, ingat ini baik-baik! Saya tidak akan segan-segan menghancurkan mu karena kau sudah berani menyentuh istriku!" sentak Ray menginjak kasar tubuh Adit dan menendangnya lagi.


Merasa tubuh Adit sudah terkapar lemah tak berdaya, Ray masuk ke dalam dan mengunci seluruh pintu membiarkan Adit seorang diri. Dia berlari ke tempat dimana Viona berada.


"Viona," ujar Ray begitu lirih. Namun, Viona tidak ada di kasur dan ia mendengar gemircik air dari dalam kamar mandi.


Sedangkan di dalam, Viona mengguyur tubuhnya di bawah shower dan menggosok seluruh tubuhnya. Ia menangis sesenggukan tidak terima tubuhnya di sentuh pria lain. Dia merasa berdosa tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


"Hiks hiks aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, aku lemah, aku bodoh." Viona terus menggosok kasar tubuhnya menggunakan spon kasar. Bahkan, tubuh putihnya sudah memerah.


Ray panik, ia terus mengetuk pintu kamar mandi saking takut Viona berbuat nekat.


"Viona buka pintu, Vi. Kamu sedang apa di sana?" Ray terus mengetuk pintu, tapi Viona tidak membukanya.


Semakin panik saja kala Viona berteriak.


"Aku benci diriku! Aku kotor!"


"Viona buka!" pekik Ray tak tahu harus apa lagi. Dia berpikir mencari cara agar bisa membuka pintu itu. Tidak ada cara lain selain mendobrak pintunya.


Perlahan Raymond mundur, lalu dia menerjang pintu itu sampai terbuka. Viona yang sedang terduduk masih lengkap dengan piyama tidurnya terkejut. Dia menatap nanar bola mata yang juga menatapnya.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Aku tidak mau! Pergi! Jangan mendekat! Pergi!" pekik Viona tidak ingin Raymond mendekatinya. Namun, pria itu tak menghiraukan teriakan Viona dan mendekati wanita itu lalu berjongkok.


Viona mendorong tubuh Ray dengan tangis tersendat-sendat. "Pergi! Aku tidak mau di dekati olehmu! Jangan sentuh aku! Aku jijik pada diriku sendiri!"


Hati Ray sakit melihat Viona histeris seperti ini. Tangannya terkepal dan ia meninju dinding kamar mandi. "Sialan kau Adit."


Mata Ray menatap nanar wajah Viona yang sudah terlihat pucat dengan dua tanda merah terlihat jelas di leher Viona. Tubuhnya menegang dengan nafas memburu menahan amarah. Namun, kali ini bukan amarah yang ia prioritaskan. Melainkan mencoba menenangkan Viona.


"Vi, ini aku, Raymond. Lihatlah, Vi!" Ray menangkupkan kedua tangannya tapi Viona menepisnya.


"Tidak! Jangan sentuh aku!" kepala Viona menggeleng dengan mata terpejam karena ia takut jika itu bukan Raymond


Karena tidak ada kemajuan, Ray mencengkeram kedua bahu Viona. "Tatap aku, Viona. Ini aku Raymond, suamimu!" sentak Ray sembari menggoyangkan bahu Viona.


Viona perlahan membuka matanya dan ia pun memandang mata Ray. "Ray hiks hiks, aku, aku, aku minta maaf. Dia, dia ... hiks hiks."


Raymond langsung memeluk tubuh Viona. Tubuh Viona gemetar dan Ray bisa merasakan itu. Mereka berada di bawah guyuran air shower. Lalu, Ray melepaskan pelukannya dan kembali menangkup kedua pipi Viona.


"Tapi dia ..."


Ray tiba-tiba mengecup bibir Viona mencoba memberikan kenyamanan dan ingin menghilangkan seluruh sentuhan yang di lakukan Adit. Entah di bagian mana saja pria itu menyentuh Viona, Ray tidak menerimanya.


"Hanya aku, hanya aku yang akan menyentuhmu. Aku suamimu dan akau akan menghapus semua jejak pria brengsek itu," ucap Ray setelah melepaskan kecupannya. Mereka saling pandang, Ray menatapnya dengan tatapan begitu lembut seakan memberikan keyakinan pada Viona kalau semuanya baik-baik saja.


*****


Ray membawa Viona. ke kamar miliknya. Mereka dalam keadaan hanya memakai handuk saja. Awalnya Viona menolak dan tidak mau Ray menyentuh dirinya, tapi atas bujuk dan keyakinan yang Ray berikan, Viona mau Ray mandikan.


"Kamu tunggu di sini!" ujar Ray setelah mendudukkan tubuh Viona di tepi ranjang. Dia hendak melangkah, tapi Viona mencekalnya.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, aku takut, Ray." Wanita itu kembali mengeluarkan air mata kesedihan saking takut di tinggalkan sendirian.


Ray memejamkan mata sembari menahan kesal terhadap dirinya yang tidak bisa menjaga Viona. Lalu, Ray duduk kembali di samping Viona dan menggenggam kedua tangan Viona.


"Aku tidak meninggalkan mu, Vi. Aku akan di sini bersama mu. Kamu percaya 'kan?" ucap Ray menatap dalam bola mata indah Viona yang terlihat sembab.


"Tapi bagaimana kalau dia datang lagi."


"Ssstttt," Ray menggelengkan kepalanya dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Viona.


"Aku pastikan dia tidak akan berani menganggu kamu. Aku pastikan tak ada satupun orang yang akan menyakitimu. Kamu harus percaya padaku, Vi."


Entah kenapa Viona mengangguk sambil menatap mata Ray. Keduanya sama-sama saling memandang. Ray mengusap pipi Viona dan pandangan mereka semakin dalam saja.


Tanpa keraguan, Raymond mendekatkan wajahnya sampai benda kenyal mereka saling menempel. Ray memberi jarak sebentar tapi mata masih saling pandang.


"Akan ku hapus semua jejak dia dana akan ku gantikan dengan jejak milikku. Kamu milikku, kamu istriku dan tubuhmu hanya berhak di sentuh olehku. Percayakan perasaanmu padaku, Viona."


Dan Ray kembali menyatukan bibir mereka. Merasa tidak ada penolakan, Ray semakin memperdalam kecupannya. Ia merasa tubuh Viona masih menegang, tapi sebisa mungkin dirinya memberikan kenyamanan agar Viona percaya jika itu adalah dirinya. Perlahan namun pasti, Viona mulai rileks dengan keadaannya saat ini.


Tak di sangka pula, Ray sudah berada di atas tubuh Viona dan mengganti tanda merah yang ada di leher Viona dengan tanda yang ia berikan.


Kenyamanan, sentuhan lembut, hingga perlakuan baik Ray tunjukan kepada Viona. Keadaan pun semakin memanas tak terhentikan. Malahan, suara merdu pun terus keluar dari mulut Viona. Ray yang mendengarnya semakin tak terkendali, tapi masih dalam keadaan melakukan secara lembut.


Tak terasa, keduanya berada di atas puncak dan berakhir dengan erangan yang terdengar khas. Baik Ray maupun Viona menikmati kebersamaan mereka tanpa memikirkan yang lainnya lagi.


*****


"Sialan, bisa-bisanya Ray mematikan ponselnya. Apa yang dia lakukan di sana? Jangan sampai Ray jatuh ke dalam pesonanya wanita itu. Tidaka akan ku biarkan ini terjadi. Aku harus terus mencari perhatian Ray," gumam Elena melempar kesal ponselnya ke atas kasur.

__ADS_1


*****



__ADS_2