GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Sapu Tangan


__ADS_3

"Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku, Olas." Ucap Bethany saat dirinya bersama Legolas berada di ruangannya. Duduk saling berhadapan.


"Tidak, aku hanya menampungnya karena dia sebatang kara." Jawab Legolas. "Ibu selalu mengajarkan aku untuk berbuat kebaikan, karena itu aku menampungnya."


"Benarkah seperti itu?" Tatap Bethany penuh selidik.


"Kaulah orang pertama yang akan tahu jika aku ingin menikah bu. Aku juga masih terlalu muda untuk menikah, aku masih ingin membantumu sedikit untuk biaya adik-adikku." Legolas mengeluarkan amplop berisi uang yang sudah disiapkannya dan meletakannya ke atas meja di hadapan Bethany.


"Bulan lalu kau sudah memberikan lebih dari setengah gajimu untuk pemakaman ayahmu. Simpanlah, bulan ini kau tidak perlu memberikannya lagi. Kau juga tidak perlu memberikannya lagi di bulan-bulan selanjutnya. Sebaiknya kau mulai menabung untuk melanjutkan kuliah atau menikah." Ucap Bethany.


"Tidak bu, ayah sudah tidak ada, kau pasti menjadi lebih sulit dalam masalah keuangan. Aku juga masih bisa menabung sedikit jadi terima saja." Ujar Legolas dengan tersenyum.


"Seminggu lalu seorang wanita kaya memberikan sumbangan ke panti asuhan ini. Padahal dia tinggal di Kryvcraz tapi jauh-jauh datang ke sini untuk memberikan sumbangan. Selain kebutuhan pokok, wanita itu juga menyumbangkan uang. Jadi saat ini kebutuhan panti bisa terpenuhi untuk tiga bulan ke depan."


"itu bagus bu. Semoga Tuhan memberkati hidup wanita itu." Legolas tersenyum senang. "Tapi kau juga tetap harus menerima pemberianku ini. Kau sudah membesarkan aku, ini tidak ada apa-apanya dengan semua hal yang kau lakukan dulu padaku."


Bethany sangat tersentuh dengan anak asuhnya itu. Sejak kecil Legolas memang selalu bersikap baik pada siapapun. Pemuda itu selalu memikirkan orang lain dan tidak pernah egois karena pemuda itu memiliki hati yang sangat lembut.


"Terimakasih banyak ya, Olas." Ucap Bethany mengambil amplop pemberian Legolas. "Olas, apa kau tidak ingin mencari tahu siapa orang tuamu?" Tanya Bethany.


"Aku rasa tidak perlu. Mereka meninggalkan aku di sini karena suatu alasan, jika mereka mengingat padaku mereka pasti sudah mencariku." Jawab Legolas dengan sesekali tertunduk menghindari tatapan Bethany.


"Apa kau membenci mereka?"


"Tidak. Sebagian besar alasan orang tua membuang anaknya karena faktor ekonomi. Mereka pasti terpaksa melakukannya. Itu bukan salah mereka, keadaan yang membuat mereka melakukan hal itu. Mungkin hal itu juga yang membuat mereka tidak mencari kami hingga kami besar. Atau bisa saja ternyata mereka sudah tidak ada karena mati kelaparan. Intinya aku tidak benci pada mereka."


Bethany tersenyum mendengar jawaban Legolas. Saat ini Legolas adalah satu-satunya anak di panti asuhan tersebut yang masih selalu datang ke sana setiap bulan walau sudah hampir 3 tahun keluar dari panti asuhan tersebut. Menurutnya Legolas adalah anak asuhnya yang terbaik.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu beranjak berdiri dan berjalan menuju ke sebuah lemari yang berada di dalam ruangan tersebut. Ia mengambil sebuah kotak yang ukurannya tidak terlalu kecil maupun besar.


"Waktu kau datang ke panti ini, benda itu ada bersama denganmu." Ujar Bethany sambil memberikan kotak yang dibawanya pada Legolas.


Legolas membuka kotak tersebut dan melihat sebuah sapu tangan putih ada di dalamnya. Ia mengambilnya dan memperhatikan sapu tangan itu. Sebuah tulisan ada di salah satu sudut sapu tangan tersebut, H. Burke.


"Kemungkinan itu nama dari orang tuamu." Ujar Bethany. "Kau bisa mencari tahu mengenai orang tuamu, tapi jika kau tidak ingin mencari tahu pun tidak apa-apa. Itu semua kau sendiri yang akan memutuskan. Aku hanya ingin memberikan benda itu padamu."


Legolas menjadi terdiam memandangi sapu tangan yang ada di genggamannya. Pemuda itu menjadi penasaran mengenai orang tuanya, namun jika harus mencari mereka, ia merasa tidak perlu melakukannya. Tak ada alasan untuknya mencari tahu mengenai kedua orang tuanya. Ia berpikir hanya ingin fokus pada hidupnya sekarang. Bahkan jika dirinya bertemu dengan orang tuanya ia merasa tidak akan ada perubahan di dalam hidupnya, atau bahkan dirinya akan menjadi beban untuk hidup mereka.


"Malam ini menginaplah di sini karena ini sudah mulai gelap." Ujar Bethany. "Oh iya, biasanya kau memberi kabar dulu sebelum ke sini, Olas?"


"Karena suatu hal, handphone-ku rusak, bu. Saat sudah membeli handphone baru, aku akan menghubungimu." Jawab Legolas.


"Olas!!" Seru gadis bernama Annie membuka pintu bersama beberapa anak.


"Ada apa Ann?" Tanya Legolas.


"Ini gawat, tadi Cia memanjat pohon untuk menangkap burung. Katanya dia ingin membakar burung tersebut untuk makan malam, aku sudah melarangnya tapi katanya dia sangat lapar, makanya dia tidak menghiraukan perkataanku dan dia memanjat mencoba mengambil burungnya. Namun burungnya terbang dan Cia terjatuh dari pohon. Sangat keras sekali, dia meringis kesakitan karena tangannya terluka dan berdarah." Ujar Annie panjang lebar.


Secepatnya Legolas keluar dari ruangan itu dan berlari menuju taman yang berada di belakang Panti asuhan. Lucia masih berada di bawah pohon dengan anak-anak yang berada di sekitarnya mengerubunginya.


Legolas memakai sarung tangan yang diberikan Bethany tadi untuk menutup siku lengan kanan Lucia yang berdarah. Ia melakukannya untuk menyembunyikan warna darah Lucia, karena warna darah gadis itu bukanlah merah melainkan hitam. Itu agar siapapun tidak menyadarinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Legolas sambil berusaha menutupi luka Lucia.


"Burungnya terbang. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak membakar apapun karena itu aku ingin membakarnya di atas kompor bersama Annie tadi." Jawab Lucia tidak menjawab pertanyaan Legolas. "Aku sangat lapar tapi aku tidak tahu kau ada di mana."

__ADS_1


"Olas, kenapa darahnya berwarna hitam?" Tanya salah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. "Apa dia monster?"


"Darah monster berwarna hijau bukan hitam. Di sini gelap jadi warna darahnya terlihat menjadi hitam." Jawab Legolas dengan tersenyum paksa. "Annie, bawa semuanya masuk ke dalam ya."


Annie menggiring anak-anak lainnya untuk meninggalkan Legolas bersama dengan Lucia.


"Bu, bisa tolong ambilkan kotak obatnya?" Tanya Legolas pada Bethany yang baru saja datang dan masih berjalan di jarak sepuluh meter.


Legolas membawa Lucia ke kamar mandi untuk mencuci luka di siku kanannya untuk menghilangkan kotoran dan darah yang berwarna hitam milik si gadis iblis.


"Apa sakit?" Tatap Legolas.


"Rasa sakitnya kalah dengan rasa laparku." Jawab Lucia. "Olas, aku ingin makan. Annie bilang kalau masakanmu sangat enak. Selama ini kau hanya memberiku sepotong roti saat di rumah."


Legolas menghela napas. Semua itu karena ketika Lucia datang dirinya sama sekali tidak memiliki uang sehingga mereka hanya memakan roti saat berada di rumah.


"Baiklah, saat di rumah nanti aku akan memasak saja." Jawab Legolas.


"Aku mencintaimu."


"Sebaiknya sekarang kita pulang saja sebelum semakin malam."


"Setidaknya makanlah dulu di sini sebelum pulang." Seru Bethany yang datang. "Ini kotak obatnya, Olas."


"Terimakasih, bu." Ucap Legolas menerima kotak obatnya. "Kami akan makan nanti saja agar kami sampai sebelum tengah malam, besok pagi aku juga masih harus bekerja."


"Baiklah, sepertinya kau sangat ingin pulang." Ucap Bethany dengan maksud tertentu.

__ADS_1


Legolas hanya menghela napasnya. Ia tidak ingin berada di panti asuhan tersebut lebih lama karena takut identifikasi Lucia ketahuan. Lucia sama sekali tidak bisa mengontrol perkataannya dan selalu mengatakan apa yang ada di isi kepalanya sehingga bisa saja Lucia berkata kalau dirinya adalah seorang iblis pada anak-anak di pantai asuhan tersebut. Dan itu tidak boleh terjadi.


__ADS_2