
Bel rumah berbunyi ketika Legolas keluar dari kamar mandi. Pemuda itu baru saja pulang dari bekerja dan langsung membersihkan tubuhnya. Hari ini dirinya pulang lebih cepat karena merasa sangat tidak bersemangat saat bekerja.
"Apa kabar, Olas?" Bethany berdiri di balik pintu dengan sebuah senyum. Di tangannya terdapat kantung besar yang dibawanya.
"Ibu? Kenapa kau datang ke sini? Padahal besok aku berencana untuk ke panti dan menginap disana hingga tahun baru." Ujar Legolas. "Masuklah bu." Legolas membawa tas kantung yang dibawa Bethany.
"Ternyata isi rumahmu sudah mulai banyak penambahan." Ujar Bethany seraya duduk di sofa. "Pekerjaan barumu sepertinya menjanjikan."
"Kau benar bu." Jawab Legolas sambil membuatkan minuman untuk ibu angkatnya. "Kenapa kau tidak bilang kalau akan datang? Aku akan menjemputmu tadi di halte."
"Aku ingin memberikan kejutan padamu." Ucap Bethany ketika Legolas berjalan membawa minuman untuknya. "Aku kira aku akan memergokimu bersama seorang gadis di rumahmu. Kau bilang akan segera menikah tahun depan."
Legolas hanya bisa tersenyum dengan raut wajah yang muram pada perkataan Bethany. Semua rencananya sudah gagal, dan tidak mungkin dirinya akan menikah di tahun depan.
"Ada apa?" Tanya Bethany yang menyadari perubahan raut wajah anak angkatnya itu.
"Aku akan melanjutkan kuliah tahun depan, jadi aku akan mengundur rencana menikahku, bu." Legolas berusaha tersenyum menyembunyikan kesedihannya. "Ada apa ibu datang menemuiku? Besok itu ulang tahunku, aku berencana merayakannya dengan adik-adikku."
"Karena itu aku ke sini. Itu semua adalah hadiah dari adik-adikmu, Olas." Bethany menunjuk tas kantung yang dibawanya yang ada di dekat Legolas.
"Seharusnya kau tidak membawanya kesini."
"Sebenarnya ulang tahunmu dua hari yang lalu. Kau lahir di hari natal." Ucap Bethany. "Usiamu sudah 21 tahun dua hari lalu. Kau datang ke panti saat usiamu tiga hari."
Sesuatu terasa aneh untuk Legolas. Perkataan wanita yang membesarkannya terdengar tidak ia mengerti. Bagaimana ibu angkatnya tahu kalau dirinya berusia tiga hari saat datang ke panti, dan bagaimana ia juga tahu kalau hari lahirnya adalah hari natal?
Satu jawaban yang pasti, dan yang terpikirkan oleh Legolas. Bethany sudah tahu siapa ibu kandungnya, dan mungkin bahkan mereka sudah bertemu kembali karena itu, ibu angkatnya itu mengetahui suatu kebenaran mengenai tanggal lahirnya.
"Katakan padaku bu, dari mana kau tahu semua itu? Apa kau sudah mengetahui siapa ibu kandungku?" Tanya Legolas dengan wajah tampak penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya ketika terakhir kali kau datang ke panti, ibu kandungmu datang sebelum kehadiranmu. Ia mengakui semuanya padaku mengenai dirinya yang meletakkanmu di depan panti asuhan." Jawab Bethany dengan sesekali menunduk karena masih menimbang-nimbang apakah akan memberitahu kebenarannya pada Legolas atau tidak.
"Siapa dia? Dimana dia sekarang? Beritahu aku bu, aku harus menemuinya. Dia pasti kesepian hidup seorang diri selama ini, dan mungkin saja hidupnya serba kekurangan. Aku ingin membuat hidupnya menjadi lebih baik. Aku tidak akan marah padanya karena membuangku. Aku mengerti mengenai penderitaannya."
Bethany menjadi diam dan menatap Legolas karena perkataan pemuda itu menjadi membuatnya mengurungkan niatnya untuk memberitahu hal yang sebenarnya.
"Kenapa diam saja bu? Katakan di mana dia?" Pinta Legolas sudah tidak sabar.
"Olas, bagaimana jika semua yang kau pikirkan tentangnya itu tidaklah benar?" Tatap Bethany dengan serius.
"Apa maksudnya?"
"Bagaimana jika ada alasan lain kenapa ibumu meletakkanmu di panti asuhan?"
"Memangnya apa alasannya?" Legolas mencoba memikirkan alasan lain yang mungkin saja menjadi alasan ibu kandungnya membuangnya dulu. Namun ia tidak menemukan alasan apapun yang bisa ia terima. "Katakan dengan jelas bu."
Bethany tidak langsung menjawabnya. Wanita itu sangat yakin kalau Legolas akan sangat marah jika mendengar siapa ibu kandungnya.
"Edith Gringger." Jawab Bethany akhirnya memberitahu.
Legolas benar-benar terkejut mendengar jawaban siapa ibu kandungnya. Ia sama sekali tidak pernah mengiranya.
"Jangan bergurau, bu." Ucap Legolas dengan mata yang memerah, tidak mampu menahan perasaannya yang memikirkan jika dirinya benar-benar anak yang tidak diinginkan. "Kau pasti hanya bercanda kan?"
"Ada alasan kenapa dia menaruhmu di panti asuhan—"
Perkataan Bethany terhenti ketika Legolas bangkit berdiri dari duduknya. Wajah pemuda itu terlihat sangat marah dan bercampur dengan rasa bersedih.
"Ternyata aku memang anak yang tidak diinginkan." Ucap Legolas setelah itu mendengus kesal saat mengingat semua perlakuan Edith Gringger padanya. "Karena itu dia terus bersikap baik padaku." Marah Legolas sambil berjalan mengambil bingkisan yang diberikan Edith padanya sebagai hadiah natal.
__ADS_1
Sejenak Legolas menatap bingkisan tersebut. Ia mengerti kenapa wanita itu datang menemuinya di hari natal, bahkan Edith juga salah mengucapkan selamat natal menjadi selamat ulang tahun padanya. Legolas juga semakin merasa kesal saat mengingat jawaban Edith yang berkata kalau dirinya menganggap Legolas seperti anak kandungnya sendiri.
"Olas, kau harus mendengar alasannya terlebih dahulu—"
"Tidak perlu bu." Potong Legolas dengan sebuah senyuman palsu. "Aku akan menemuinya sekarang."
...----------------...
Di kamarnya yang sangat kosong, Lucia yang sudah memakai gaun pengantin berwarna merah duduk memeluk kakinya sambil melihat layar yang menayangkan Legolas saat ini. Gadis itu menjadi tahu mengenai kebenaran mengenai ibu kandung Legolas.
Sejak awal Lucia merasa kalau Edith terlihat sedikit mirip dengan pemuda yang dicintainya itu dengan warna rambut yang sama, bahkan dibandingkan dengan Cedric, Legolas lebih mirip dengan ibunya itu.
Ia sangat merindukan Legolas saat ini. Wajah Legolas terlihat sangat marah dan bersedih, membuat dirinya merasa sangat kasihan pada pemuda itu. Namun tidak ada yang bisa dirinya lakukan.
Sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Leviathan, dan ia sama sekali tidak bisa menghindari takdirnya tersebut. Ia tidak bisa keluar dari neraka tanpa buah kehidupan, bahkan saat ini dirinya tidak bisa meninggalkan kamarnya karena penjaga level tinggi berjaga di depan pintu kamarnya.
"Ini lebih menakutkan dari pada memikirkan diriku yang akan melebur menjadi abu." Lirih Lucia menatap kotak musik kristal yang ia letakan di lantai dihadapannya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, sahabatnya datang dengan sebuah tawa melihat keadaan Lucia saat ini.
"Astaga Lucia, kau akan menikah tapi kau terlihat sangat menderita." Ejek Phoebe mendekati Lucia dan duduk dihadapannya. "Benda apa ini?" Phoebe mengambil kotak musiknya.
"Jangan sentuh barangku!!" Seru Lucia merampas kotak musik dari tangan Phoebe.
"Dasar pelit." Gumam Phoebe. "Sebentar lagi acaranya akan dimulai, tapi Tuhan belum juga datang."
"Semoga saja Dia tidak datang agar aku tidak akan menikah." Ucap Lucia dengan tidak bersemangat.
"Baiklah, aku akan mengabulkannya untukmu." Pintu terbuka kembali dan kali ini Lucas yang muncul.
__ADS_1
Lucia bangkit berdiri melihat kehadiran kakaknya itu. Perkataannya membuat gadis itu seperti memiliki sebuah harapan.
...–NATZSIMO–...