
"Nyonya, kenapa kau datang ke sini? Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu?" Tanya Legolas yang sudah berada dekat di hadapan Edith yang menunggu kepulangannya. "Di luar sangat dingin, seharusnya nyonya menunggu di dalam mobil nyonya."
"Aku juga baru sampai." Jawab Edith semakin yakin kalau Legolas tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki hati yang baik. Beberapa kantong ada ditangannya.
"Masuklah dulu nyonya." Ujar Legolas sambil membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Edith masuk terlebih dulu ke dalam rumahnya. "Tidak perlu membuka sepatumu."
Edith menoleh pada Legolas saat ia hendak membuka sepatunya. Ia pun segera berjalan masuk tanpa melepas sepatunya.
"Tunggu sebentar ya nyonya." Legolas menutup pintunya untuk menuju rumah yang ada di sampingnya, rumah Ursula.
Untuk pertama kalinya, Edith masuk ke dalam rumah yang disewa Legolas. Dirinya memperhatikan setiap sudut ruangan yang tampak tidak memiliki barang-barang berharga di dalamnya, bahkan tak ada satupun kursi, apalagi sofa. Dirinya menjadi merasa sedih melihat anak kandungnya harus hidup di ruangan seperti ini.
Legolas menekan bel rumah Ursula, dan Gayle membukakan pintu untuknya.
"Pinjamkan aku satu kursi." Ujar Legolas pada Gayle yang tampak malas melihat kehadirannya.
"Kenapa aku harus meminjamkannya?"
"Kau bisa mengambilnya, Olas." Seru Ursula dari dalam rumah.
Legolas segera masuk dan berjalan mendekati meja makan di mana Ursula sedang duduk di salah satu kursinya.
"Akan aku kembalikan setelah selesai." Ucap Legolas sambil mengangkat kursi tersebut.
Legolas langsung berjalan keluar bersama kursi yang dipinjamnya dan masuk ke rumahnya. Edith yang masih berdiri melihat kedatangan Legolas yang ternyata datang membawa kursi.
"Silakan duduk nyonya, maaf membuatmu menunggu." Ucap Legolas.
Edith tersenyum sambil berjalan mendekati kursi dan duduk.
"Maaf ya, sejak kemarin penghangat ruanganku juga rusak, jadi pasti kau merasa dingin di sini." Ujar Legolas yang berdiri di hadapan Edith yang menatapnya lekat.
Edith baru sadar kalau tempat dimana dirinya berada saat ini terasa sangat dingin ternyata karena memang tidak ada penghangat ruangan yang menyala didalamnya. Ia jadi berpikir kalau semalam, Legolas pasti tertidur dengan sangat kedinginan. Dirinya menjadi semakin merasa sedih saat ini.
"Maaf nyonya, ada perlu apa nyonya sampai datang ke tempatku?" Tanya Legolas dengan sopan.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku berikan padamu." Jawab Edith setelah itu menyodorkan kantong-kantong yang dibawanya pada Legolas.
Legolas menatap bingung pada kantong-kantong yang diberikan Edith padanya. Pemuda itu tidak langsung mengambilnya dan menatap Edith dengan penuh tanya.
"Hari senin kau akan memulai bekerja dan pekerjaanmu harus memakai pakaian yang formal, aku berpikir kemungkinan kau tidak memilikinya karena itu aku memberikan beberapa pakaian untuk kau kenakan saat bekerja nanti." Jawab Edith berharap Legolas tidak menolak pemberiannya.
Legolas sempat terdiam mendengar perkataan Edith padanya. Dirinya semakin yakin kalau Edith memang manusia yang memiliki hati yang baik seperti malaikat. Namun ia merasa tidak harus menerima pemberiannya itu.
"Maaf nyonya, aku tidak bisa menerimanya." Tolak Legolas dengan tidak menatap Edith yang terus melihat padanya.
"Aku tahu kau pasti akan menolaknya." Ujar Edith menurunkan kantong-kantong tersebut ke lantai. "Kau harus menerimanya. Anggap saja ini hadiah untuk pekerjaan barumu dariku." Edith kembali menyodorkannya pada Legolas.
Legolas masih belum menerimanya. Dirinya sama sekali tidak ingin menerima pakaian-pakaian tersebut karena semakin merasa tidak enak pada Edith. Tidak mungkin kalau ia menerimanya juga sedangkan dirinya pun mendapatkan pekerjaan tersebut darinya.
"Kau memang keras kepala." Edith sedikit kesal pada Legolas. "Di udara yang dingin aku menunggumu di luar setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh ke sini untuk memberikan hadiah ini untukmu, tapi kau tidak mau menerimannya? Itu sangat tidak sopan. Kau tahu itu?"
Dari perkataannya, Legolas tahu kalau Edith mencoba memaksa dirinya untuk menerima semua itu.
Edith langsung bangkit berdiri dan memberikan kantong-kantong tersebut langsung ke Legolas agar pemuda itu mengambilnya.
Sejenak Legolas memikirkan semua kebaikan yang diberikan Edith padanya. Ia sedikit bertanya kenapa Edith terlihat sangat baik pada dirinya? Apa maksud dan tujuannya? Namun ia segera menghilangkan pertanyaan tersebut karena merasa hal itu menjadi tidak baik. Ia tidak ingin berprasangka buruk pada wanita baik hati seperti Edith Gringger.
Legolas segera berjalan keluar menyusul Edith yang hampir masuk ke dalam mobilnya di kursi belakang.
"Nyonya..." Panggil Legolas.
Edith berhenti ketika sudah memegang kenop pintu mobil bagian kursi belakang dan berbalik menoleh pada Legolas yang masih berada di depan pintu rumahnya.
"Terimakasih nyonya." Ucap Legolas.
Edith memulas senyum senang mendengar ucapan putranya yang akhirnya mau menerima pakaian pemberiannya. Setelah itu masuk ke dalam mobil.
Mobil yang dinaiki Edith melaju meninggalkan tempat tinggal Legolas walau dirinya masih melihat terus pada pemuda yang merupakan anaknya itu. Melihat bagaimana tempat tinggal Legolas saat ini membuat dirinya menjadi sangat bersedih. Ia semakin menyesali perbuatannya dulu karena meninggalkan putranya itu dan tidak membesarkannya.
Sekarang ia ingin menebus kesalahannya dulu dengan memberikan semua yang bisa ia berikan pada Legolas. Hingga suatu hari nanti ia akan memberitahu pemuda itu mengenai siapa dirinya. Saat ini Edith sedang ingin membangun hubungan baik dengan Legolas agar ketika ia memberitahu hal yang sebenarnya, Legolas akan mau menerimanya.
__ADS_1
Legolas masuk ke dalam rumah dan melihat kantong-kantong yang diberikan Edith padanya. Di dalamnya terdapat lima pasang pakaian formal dan dua pasang sepatu. Ia tahu kalau semua itu merupakan barang-barang mahal karena mereknya Grins Fashion, merek nomer satu di negara tersebut.
"Aku tidak akan mungkin bisa membalas kebaikannya dengan apapun." Ucap Legolas sedikit merasa tidak enak dihatinya.
Setelah itu Legolas membawa kursi yang dipinjamnya untuk dikembalikan ke rumah Ursula lagi.
"Terimakasih ya untuk kursinya." Ujar Legolas pada Ursula.
"Kau harus membeli kursi dan beberapa perabot lainnya agar kau tidak perlu meminjamnya pada kami!!" Seru Gayle yang sedang sibuk dengan laptopnya duduk di kursi meja makan.
"Gayle, aku ingin bertanya sesuatu padamu." Legolas menatap Gayle.
"Baiklah, ini sudah malam. Aku akan tidur sekarang." Ursula bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. "Gayle, kunci pintunya saat kau ingin tidur nanti." Ursula sempat menoleh sebelum masuk ke kamar dan menutup pintunya.
"Ya, kalau aku tidak lupa." Jawab Gayle dengan tidak jelas karena mulutnya di penuhi apel yang dimakannya.
Legolas yang terus berdiri dihadapan Gayle masih mencari kata yang akan dikeluarkan dari mulutnya. Ia terpikirkan sesuatu mengenai perkataan Cedrid kemarin. Dan tadi tiba-tiba saja ia mengingat sesuatu mengenai perkataan Gayle dulu.
"Katakan apa yang ingin kau tanyakan?" Tatapan Gayle masih teralih pada layar laptop dihadapannya.
"Iblis yang kau bilang waktu itu, apakah saat ini dia masih seorang iblis?"
Gayle sontak terkejut mendengar pertanyaan Legolas hingga gadis itu menatap pemuda yang menatapnya dengan serius.
"Atau dia sudah berubah menjadi manusia?"
...–NATZSIMO–...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih untuk pembaca setia yang masih terus ngikutin kisah panjang ini. Jangan lupa terus baca hingga akhir dan dukung selalu ya dengan meninggalkan jejak terbaik kalian setelah membaca.
Karena sudah akhir tahun, author mau ngadain giveaway untuk ucapan terimakasih pada para pembaca setia. Yuk gabung di grup chat author untuk ikut giveaway.
Jangan lupa bahagia karena kebahagiaan diciptakan untuk semua orang.
__ADS_1
Arigatou ❤