
Sepulang bekerja, Legolas langsung masuk ke dalam rumahnya. Tak ada Lucia yang biasa menyambutnya dengan perkataan aneh lagi. Biasanya pemuda itu akan merasa dipusingkan dengan semua permintaan gadis itu. Ingin apel, kentang goreng, es krim atau apapun makanan yang Lucia sukai.
Kentang goreng yang dibawanya saat ini pun menjadi tidak berguna karena Legolas hanya meletakannya ke atas meja dapur di samping kue tart dan apel yang kemarin dibelikan Cedric untuk Lucia.
Legolas membuang napas setelah menariknya dalam-dalam.
Belum sempat Legolas melakukan apapun tiba-tiba Gayle menekan bel untuk memberitahukan sebuah kabar pada Legolas.
"Aku sudah menemukannya, Olas." Ujar Gayle.
"Kau menemukan Cia?" Dari wajah Legolas terlihat sebuah ekspresi senang.
"Cia? Maksudku, aku menemukan orang yang kau minta carikan padaku kemarin." Jawab Gayle. "Orang itu ada di Pavyzki. Nama lengkapnya Haven Burke. Ini alamatnya." Gayle memberikan sepotong kertas bertuliskan sebuah alamat.
Di atas kasur, Legolas melihat kertas pemberian Gayle. Membaca sebuah nama dan alamat orang tersebut. Haven Burke. Pemuda itu berpikir, apakah orang tersebut adalah ayahnya?
Ia berencana untuk pergi ke Pavyzki besok untuk mencari tahu mengenai orang yang ia duga adalah ayahnya. Ia tidak berniat untuk menemuinya dan hanya ingin mencari tahu saja mengenai orang tersebut. Legolas hanya akan melihat keadaannya untuk memastikan alasan kenapa orang tuanya meninggalkannya di panti asuhan.
...----------------...
Di sebuah rumah yang berukuran besar dimana saat ini Lucia berada. Rumah besar itu adalah milik keluarga Cedric.
Lucia berada di kamarnya, ia hanya duduk di kursi dengan sebuah rasa bosan. Cedric sedang pergi ke sebuah acara untuk bernyanyi, jadi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia berpikir saat di rumah Legolas masih lebih baik. Gadis itu akan ke rumah Ursula untuk makan di sana atau mengobrol dengan Gayle atau saat di rumah Legolas, ia menjahit mata boneka.
Dengan langkah lebar, gadis itu berjalan keluar kamarnya dan menuruni tangga, sebelumnya ia memakai topi pemberian Legolas untuk menutupi tanduknya.
"Cia, kau sudah makan siang?" Sapa Edith yang duduk di sebuah sofa besar di ruang keluarga sedang menikmati teh hangat.
"Kapan Cedric pulang? Aku bosan." Ucap Lucia yang masih berdiri.
"Duduklah di sini, kita bisa mengobrol agar kau tidak bosan." Seru Edith dengan sebuah senyum.
Lucia menurutinya dan segera duduk di salah satu sofa. Seorang pelayan memberikannya segelas teh hangat.
__ADS_1
"Minumlah tehnya." Edith menggerakan tangannya untuk mempersilakan Lucia meminum tehnya.
Tanpa ragu Lucia meminumnya. Wajahnya terlihat sangat senang karena rasa teh yang baru diminumnya terasa sangat nikmat. Sangat jauh berbeda dengan teh yang ia minum di rumah Legolas.
"Bagaimana rasanya?" Tatap Edith saat melihat reaksi wajah Lucia yang terlihat senang.
"Ini sangat jauh berbeda dengan teh di rumah Olas. Ini sangat enak. Aku mau lagi." Jawab Lucia setelah menghabiskan segelas teh hangat.
Edith meminta pelayan untuk menambahkan teh di gelas Lucia. Dengan senang Lucia menyeruputnya lagi.
"Ini teh bunga chamomile, manfaatnya sangat banyak. Salah satunya membuat tidur jadi lebih berkualitas." Ucap Edith. "Kau harus meminumnya saat tidak bisa tidur."
"Aku tidak tidur." Jawab Lucia.
"Apa?" Edith menatap aneh pada gadis yang ada di dekatnya. "Saat kau ingin tidur, kau bisa meminumnya juga."
"Olas pasti akan suka teh ini. Dia selalu mengigau saat tidur, pasti karena tidurnya tidak nyenyak." Ujar Lucia.
"Kau bisa membawanya saat pulang."
"Benarkah?" Tanya Edith dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Nyonya..." Seorang pelayan datang mendekati mereka dengan sesuatu yang dibawanya.
Edith menoleh pada kehadiran pelayan tersebut dan tidak jadi mengatakan apa yang ingin ditanyakannya pada Lucia.
"Nyonya, akhirnya kami berhasil menghilangkan noda hitam di sapu tangan ini." Pelayan tersebut menyodorkan sebuah benda yang terbungkus plastik bening pada Edith.
Edith menerimanya, dan mengeluarkan sapu tangan tersebut. Wanita itu membuka lipatan saputa tangan untuk melihat keseluruhannya. Ia terlihat senang karena noda hitam yang susah hilang di sapu tangan tersebut akhirnya hilang juga. Namun ekspresinya berubah ketika melihat sesuatu yang berada di sapu tangan tersebut. Sebuah nama, H. Burke.
"Bukankah itu sapu tangan Olas?" Seru Lucia melihat sapu tangan di Edith.
Edith menoleh pada Lucia, melihat ke arah gadis itu dengan sesuatu yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Olas sudah berusaha untuk menghilangkan noda darahnya tapi tidak bisa hilang juga. Kau berhasil menghilangkannya? Dia pasti akan sangat senang karena Olas selalu melihat sapu tangan tersebut selama beberapa hari."
...----------------...
Legolas berjalan di suatu daerah yang tampak asing untuknya. Saat ini ia sedang mencari alamat rumah dari orang bernama Haven Burke. Daerah yang ia datangi merupakan kawasan yang sederhana dengan rumah-rumah kecil yang berdempetan
"Maaf, apa kau tahu dimana rumah orang bernama Haven Burke? Ini alamatnya." Akhirnya Legolas menyerah mencari alamat yang sejak tadi membuatnya terus berputar-putar karena tidak juga menemukannya dan memutuskan untuk bertanya pada seseorang di sana.
"Ini adalah alamat Burke Tailor, ada di ujung jalan sana." Jawab seorang wanita tua sambil menunjukan ke arah dimana alamat itu berada. "Tapi Haven sudah lama meninggal, sekitar 20 tahun lalu dan yang tinggal hanya kedua orang tuanya."
Mendengar perkataan wanita tua yang menunjukan jalannya sedikit membuat Legolas menjadi bersedih. Haven Burke, pria yang ia duga adalah ayahnya sudah meninggal. Walau ia belum pernah bertemu dengannya tapi tetap saja rasa sedih menyerangnya saat ini.
"Selamat datang." Sapa seorang pria tua berusia sekitar hampir 70 tahun. "Apa ingin membuat pakaian?"
Legolas terdiam sesaat sambil melihat keadaan di sekitar rumah yang di penuhi dengan pakaian-pakian yang tergantung hasil menjahit pria itu. Dan berhenti di sebuah foto seorang pria muda yang tergantung di figura yang ada di sana. Pria bermata hijau yang terlihat sama dengan matanya.
"Apa yang kau ingin buat? Kemeja? Jas? Atau apa?"
Pertanyaan pria tua itu menyadarkan Legolas dari pemikirannya. Ia menoleh pada pria tua yang ia yakini adalah kakeknya, ayah dari pria bernama Haven Burke.
"Kau terlihat seperti anakku yang sudah lama meninggal." Ujar pria tua. "Kau juga merasa seperti itu ya, karena itu kau melihat fotonya terus."
"Maaf, kalau boleh tahu kenapa anakmu meninggal?" Tanya Legolas penasaran.
"Seseorang menabraknya. Itu sudah sangat lama sekali. sekitar 20 tahun lalu. Dia masih sangat muda ketika meninggal, bahkan dia belum menikah." Jawab Pria tua itu.
Legolas sempat terkejut mendengar perkataannya mengenai pria bernama Haven Burke yang belum menikah.
"Apa kau tahu kalau dia punya seorang anak?"
"Anak? Dia belum menikah, bagaimana dia punya anak? Dengan siapa?"
Pemuda itu semakin terkejut mendengar perkataan pria tua yang adalah ayah dari pria bernama Haven Burke.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...