GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Manusia Makhluk Lemah


__ADS_3

Legolas tidak langsung tidur ketika berada di dalam rumahnya. Saat ini pemuda itu sedang mencuci sapu tangan yang diberikan Bethany padanya. Sapu tangan yang merupakan milik orang tuanya.


Sapu tangan tersebut dipenuhi dengan noda hitam karena dipakai olehnya untuk menutup luka di tangan Lucia.


"Kenapa tidak mau hilang?" Tanya Legolas saat mencuci sapu tangan tersebut di tempat cuci piring.


"Olas, aku ingin apel." Ucap Lucia yang sedang menjahit mata boneka. "Olas, kau dengar aku?"


"Ini sudah malam, tidak ada yang menjual apel tengah malam." Jawab Legolas.


Lucia tidak berkata apapun lagi, ia fokus memasang mata-mata boneka kucing. Gadis itu mulai memikirkan sesuatu karena kehadiran Leviathan. Dalam benaknya ia akan membakar Leviathan jika mempunyai kesempatan.


"Dengar Cia, kau tidak boleh membakar apapun juga. Kau juga harus bersikap baik pada tetangga baru kita. Dia sangat tampan kan? Sebaiknya kau mendekatinya karena biasanya pria tampan akan lebih mudah membuat wanita merasakan cinta. Mungkin dia bisa mengajarimu agar bisa cepat merasakan cinta."


"Iblis tidak bisa merasakan cinta." Gumam Lucia.


"Kau bilang apa?" Legolas menoleh pada Lucia.


"Aku mencintaimu." Jawab Lucia.


Legolas berjalan mendekati Lucia setelah menyerah menghilangkan noda darah hitam di sapu tangan. Pemuda itu duduk di lantai di hadapan Lucia.


"Ingat, kau tidak boleh membakar apapun!! Apa lagi membakar manusia. Aku akan langsung mengusirmu dan tidak akan mau bertemu denganmu lagi." Ujar Legolas.


"Aku juga akan membakarmu." Tatap Lucia.


Legolas menjadi takut. Pemuda itu berpikir gadis iblis di depannya itu bisa kapan saja membakarnya karena memang gadis itu tidak memiliki rasa cinta sesama manusia karena ia seorang iblis.


"Tidak, aku tidak akan membakarmu." Ujar Lucia melanjutkan memasang mata di boneka. "Aku mencintaimu, asalkan kau membelikan aku apel yang banyak setiap hari."


Rasa lega dirasakan Legolas. Ia menghela napas panjang. Setidaknya ia tidak dibakar oleh si gadis iblis meski harus menghabiskan banyak uang untuk membelikannya apel.


"Aku juga ingin digendong."


"Apa?" Legolas tidak mengerti maksud perkataan Lucia.


"Aku belum pernah digendong oleh siapapun. Aku juga ingin digendong seperti kau menggendong Gayle tadi."


"Aku akan membelikanmu apel yang banyak besok." Jawab Legolas menghindari Lucia dengan segera beranjak bangun dan menuju kasurnya.

__ADS_1


Lucia terdiam menatap Legolas yang meninggalkannya. Gadis itu menatap dengan tatapan yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun. Tatapan kelabu.


...----------------...


Legolas keluar dari rumahnya untuk berangkat bekerja, dan Lucia mengantarnya ke depan pintu dengan terus berkata pada pemuda itu apa saja yang gadis itu inginkan agar Legolas membawanya saat pulang nanti.


"Bawakan aku kentang goreng, burger, dan es krim saat pulang nanti. Kau juga harus membelikan aku apel merah, Olas. Apel-apelku sudah habis karena kau memberikannya pada mereka kemarin." Seru Lucia berjalan mengikuti Legolas yang melangkah keluar pintu.


"Aku hanya akan membawakan salah satunya. Aku akan membelikanmu apel saja." Jawab Legolas. "Kita harus mengirit."


"Selamat pagi." Terdengar suara Levi menyapa pada Legolas.


"Selamat pagi, Levi. Kau ingin berangkat bekerja? Di mana kau bekerja?"


Lucia melongok keluar pintu melihat pada Levi dengan tatapan datar yang menakutkan. Dengan tatapannya gadis itu mengancam agar Levi tetap tutup mulut dan tidak mengatakan apapun tentang dirinya yang seorang iblis juga.


"Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di restoran cepat saji yang berada tiga kilometer dari sini. Namanya McBeal." Jawab Leviathan.


"Benarkah? Aku juga bekerja di sana." Ujar Legolas terkejut. "Bagaimana kalau kita berangkat bersama?"


"Sepertinya itu ide yang bagus." Ucap Leviathan dengan tersenyum.


"Cia, aku pergi dulu, ingat pesanku yang kemarin-kemarin. Kalau tidak, aku tidak akan membawakan apapun untukmu!!" Seru Legolas.


Legolas langsung berjalan cepat menghindar dari Lucia, dan Leviathan mengikutinya. Lucia menggerakan tangannya seperti gerakan membuat bola api saat Leviathan menoleh padanya. Gadis itu mengancam Leviathan agar tidak berbuat ataupun berkata macam-macam pada Legolas.


Sedangkan Leviathan langsung mengalihkan tatapannya dari Lucia. Ia mengerti, dirinya tidak bisa berbuat apapun saat ini. Bahkan kunci untuk kembali ke neraka setiap waktu, saat ini ada pada Lucia.


"Kenapa dia ingin menciummu?" Tanya Leviathan pada Legolas.


"Ti—tidak, dia hanya bercanda." Jawab Legolas.


"Apa kalian bukan saudara?" Tanya Leviathan lagi dengan senyum. "Kau tidak perlu berbohong. Aku tahu manusia seperti apa."


"Apa?" Legolas menoleh pada Leviathan karena perkataan pemuda yang baru dikenalnya itu terdengar seperti bukan perkataan manusia.


"Selamat pagi, Olas." Sapa Chloe yang baru muncul dari gang yang dilewati Legolas dan Leviathan.


"Selamat pagi, Chloe." Senyum Legolas merasa senang melihat gadis yang ia sukai.

__ADS_1


"Siapa dia, Olas?" Chloe terpana pada wajah tampan Leviathan saat pertama kali melihatnya.


"Namaku Levi Zucker." Jawab Leviathan dengan senyum ciri khasnya. "Kau sangat cantik. Siapa namamu?"


"Aku Chloe Klitschko. Aku dan Olas adalah teman kerja." Jawab Chloe membalas senyum Leviathan dengan sangat baik.


"Hari ini aku mulai bekerja di tempat kalian bekerja, aku juga adalah teman kerjamu sekarang." Ujar Leviathan yang berjalan di samping Chloe.


"Benarkah? Itu bagus sekali." Jawab Chloe dengan raut wajah senang.


Legolas yang berjalan di belakang Leviathan dan Chloe hanya diam saja memperhatikan mereka berdua. Pemuda itu tahu kalau Chloe sepertinya langsung menyukai Leviathan. Ia hanya membuang napasnya karena itu pasti benar. Siapapun akan menyukai wajah tampan Leviathan saat pertama kali melihatnya, begitu juga dengan Chloe, gadis yang ia suka.


"Ada apa, Olas?" Tanya Chloe menoleh ke belakang pada Legolas saat mendengar Legolas membuang napas.


"Tidak, aku hanya masih mengantuk." Jawab Legolas menyembunyikan rasa cemburunya.


Leviathan yang melihat pada Legolas mengetahui apa yang terjadi. Ia tahu kalau Legolas menyukai Chloe dan saat ini Legolas merasa cemburu karena dirinya. Iri dengki adalah akar dari rasa cemburu, dan itu sangat pemuda iblis itu pahami.


"Chloe, apa kau sudah punya pacar?" Tanya Leviathan terang-terangan.


"Be—belum, ada apa?" Chloe sedikit terkejut karena pertanyaan Leviathan tanpa basa-basi.


"Pulang bekerja nanti, bagaimana kalau kita berjalan-jalan?" Tanya Leviathan.


Chloe semakin terkejut karena ia sangat tidak mengira jika pemuda yang baru dikenalnya langsung mengajaknya pergi. Gadis itu menoleh pada Legolas yang menatap mereka berdua dengan tatapan terkejut juga. Chloe membandingkan Legolas dengan Leviathan, ia tahu jika Legolas menyukai dirinya tapi selama ini pemuda itu tidak pernah sekalipun mengajaknya pergi keluar atau menyatakan perasaannya langsung padanya.


"Kita akan pergi bertiga. Aku, kau dan Olas. Kau mau kan, Olas?" Leviathan menoleh pada Legolas.


"Hah? Kenapa aku juga ikut?" Legolas semakin terkejut. "Tidak, aku tidak ikut."


"Benarkah?" Ujar Leviathan. "Baguslah, sepertinya kau tidak masalah jika aku pergi bersama dengan Chloe." Leviathan tersenyum.


Legolas menatap Chloe yang juga menatapnya. "Ya, aku tidak masalah. Aku juga harus cepat pulang karena Cia akan bosan menungguku."


"Baiklah Chloe, pulang kerja kita akan pergi berdua."


"Ba—baiklah." Senyum Chloe tampak sangat senang.


Sekali lagi Legolas menghela napasnya.

__ADS_1


Manusia memang makhluk lemah. Mereka membiarkan rasa cemburu dan iri dengki menggerogoti diri mereka.


Leviathan membatin sambil membalas senyum Chloe dengan matanya yang hampir tertutup.


__ADS_2