GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Pemberian Yang Berlebihan


__ADS_3

Hari ini adalah hari natal, Legolas tidak pergi bekerja dan hanya berdiam diri di rumahnya. Hubungannya dengan Chloe masih berlanjut namun begitu, dirinya menjadi merasa sedikit berbeda sekarang.


Sejak bangun dari tidur, pemuda itu tidak beranjak berdiri dari kasurnya. Di luar salju turun sangat lebat, untung saja ia sudah sempat membeli penghangat ruangan yang baru.


Legolas masih berbaring dan memikirkan mengenai perkataan Chloe padanya. Sudah lewat beberapa hari setelah Lucia datang ke rumahnya kemarin. Dirinya juga masih tidak mengerti mengenai perasaannya saat ini. Hanya saja ketika setiap kali ia merasakan kedinginan ataupun melihat salju turun, Legolas menjadi memikirkan Lucia.


Saat sadar dirinya kembali memikirkan gadis itu, ia mencoba untuk mengalihkan pikiran sekarang. Diambilnya handphone yang ia taruh di dekat kasurnya dan menghubungi Chloe segera.


"Chloe, hari ini datanglah ke tempatku. Ayo kita rayakan natal bersama." Ujar Legolas berbicara di telepon pada Chloe.


"Baiklah, Olas. Kita akan makan siang bersama nanti. Apa kau sudah sarapan? Suaramu seperti baru bangun tidur." Ucap Chloe.


"Ya, aku baru bangun. Sebentar lagi aku akan mandi dan segera sarapan." Jawab Legolas.


"Ini sudah hampir jam sembilan, segeralah sarapan."


Setelah mengakhiri teleponnya, Legolas beranjak berdiri sambil menghela napas hendak ke kamar mandi. Sesungguhnya dirinya enggan beranjak dari kasurnya namun ia tidak ingin memikirkan Lucia setiap kali dirinya hanya berdiam diri.


...----------------...


"Hari ini natal, kau malah mengajakku berjalan-jalan di neraka." Ujar Gayle pada Lucas yang menggandeng tangannya.


Lucas membawa Gayle pergi ke neraka untuk memperlihatkan bagaimana kondisi neraka saat ini. Pemuda itu terus menggandeng tangan Gayle agar api neraka tidak membakarnya.


Kondisi neraka di penuhi api yang menyala dengan aura yang terasa sangat gelap, namun begitu Gayle terlihat santai dan biasa saja berada di tempat tersebut.


"Ternyata neraka tidak menyeramkan juga." Gayle menoleh pada Lucas dengan wajah yang tampak senang.


"Ini adalah tempat tinggal para iblis, lain halnya dimana tempat penyiksaan manusia." Jawab Lucas. "Sayangnya aku tidak akan membawamu ke sana karena akan jauh lebih berbahaya. Bahkan aku saja tidak suka berada di tempat mengerikan itu."

__ADS_1


"Benarkah? Aku jadi sangat ingin kesana." Gayle terlihat antusias menatap Lucas.


"Tidak akan, aku tidak akan membawamu kesana." Tatap Lucas agak mencondongkan tubuhnya ke arah Gayle agar gadis itu melihat ekspresi wajahnya yang bersungguh-sungguh mengatakan hal tersebut.


"Lucas." Seru Phoebe yang tiba-tiba datang. "Gadis ini kan—"


"Ssstttt!!" Lucas menghentikan perkataan Phoebe mengenai Gayle yang ia ketahui. "Jangan menyatakannya."


"Kau ini tidak ada bedanya dengan adikmu, Lucia." Gumam Phoebe tidak habis pikir pada pemuda itu yang berani membawa manusia ke neraka. "Ayahmu memanggilmu, sepertinya dia sudah menetapkan kapan akan membawa Lucia kembali."


"Apa?" Gayle tampak terkejut mendengar kabar yang membuat dirinya menjadi takut itu.


Lucas menoleh pada Gayle, dari tatapannya pemuda itu terlihat menjadi sangat khawatir. Jika seperti itu ia akan lebih dulu membawa Lucia ke neraka agar ayahnya tidak datang ke dunia manusia yang akan membuat manusia musnah. Ia tidak ingin Gayle, gadis yang dicintainya mati.


"Gayle, aku akan membawamu kembali." Ujar Lucas menatap Gayle.


...----------------...


Tidak berapa lama bel rumahnya berbunyi. Ia segera membukanya dan mengira kalau yang datang adalah Chloe.


Legolas terkejut saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sebuah senyuman menyambutnya dan Legolas yang melihat kehadiran orang tersebut hanya bisa membalasnya dengan senyum simpul karena tidak mengerti maksud tujuannya datang hari ini.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Edith dengan wajah yang senang karena melihat putranya hari ini, di hari ulang tahunnya. "Selamat ulang tahun... Ma—maksudku, selamat natal, Legolas." Edith menyodorkan bingkisan natal yang dibawanya pada Legolas.


"Selamat natal, Komisaris." Jawab Legolas menerima bingkisan dari Edith. "Masuklah."


Edith segera masuk ke dalam rumah Legolas. Ia menyunggingkan senyumnya ketika melihat sofa baru di rumah anaknya itu. Ia sedikit senang melihatnya dan segera duduk.


"Seharusnya aku yang datang ke rumahmu untuk mengucapkan selamat natal padamu, Komisaris." Ujar Legolas yang sedang berada di meja dapur. Pemuda itu sedang membuatkan secangkir teh panas.

__ADS_1


"Kebetulan aku sedang melintas di daerah sini." Jawab Edith. "Jadi aku memutuskan untuk mampir menemuimu."


Legolas sudah tidak heran pada kebaikan dan perhatian Edith padanya. Namun dirinya masih saja merasa tidak enak menerima semua itu karena hingga saat ini ia tidak mengerti kenapa wanita itu selalu baik padanya.


"Silahkan diminum. Maaf, aku hanya bisa menyuguhkan teh hangat di hari natal." Legolas duduk di sofa satunya.


"Terimakasih, aku sangat suka teh hangat." Jawab Edith tersenyum dan setelah itu meminum teh hangatnya. "Bagaimana pekerjaanmu, apa ada sesuatu yang tidak membuatmu nyaman?" Tatap Edith setelah meletakan cangkir teh ke meja.


"Semua berjalan dengan baik." Jawab Legolas.


"Legolas, aku datang ke sini sebenarnya ingin memberimu sesuatu." Edith mengambil sebuah kunci dari dalam tas lalu meletakannya di atas meja di dekat Legolas. "Itu kunci sebuah apartemen yang sudah lama tidak pernah aku tempati. Aku rasa kau bisa menempatinya karena jaraknya dekat dengan perusahaan."


Perasaan Legolas menjadi semakin tidak enak mendengar perkataan Edith yang memberikannya sebuah kunci apartemen. Menurutnya kebaikan wanita itu padanya sudah terlalu berlebihan. Ia jadi ingin tahu apa maksud tujuan Edith berbuat baik padanya selama ini.


"Maaf, nyonya, mungkin ini terdengar kasar, tapi apa yang nyonya hendak berikan padaku sudah terlalu berlebihan." Ucap Legolas.


"Bu—bukan begitu maksudku. Aku tidak mengharapkan apapun, aku hanya benar-benar ingin membantumu. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Sama sekali tidak ada niatan buruk atau tujuan tersembunyi dariku." Jawab Edith sedikit panik karena dari tatapan Legolas, pemuda itu mengira jika dirinya mempunyai niat buruk padanya.


Wanita itu mulai merasa memang tidak seharusnya dirinya memberikan semua itu pada Legolas. Siapapun pasti akan berpikir hal buruk mengenai semua kebaikannya pada pemuda itu.


"Legolas, aku benar-benar hanya ingin memberikan semua itu hanya karena aku sudah menganggapmu seperti anakku. Mungkin untukmu ini terasa aneh." Edith menatap Legolas yang hanya diam dengan pandangan ke arah meja, tidak menatapnya. "Baiklah, kalau kau keberatan. Aku tidak akan memaksamu."


"Nyonya, sebenarnya setelah aku bekerja di perusahaanmu, aku mendengar banyak hal buruk mengenai dirimu. Semua itu karena kebaikan nyonya yang memberiku pekerjaan tersebut, tetapi semua orang salah sangka karena mengira kalau nyonya dan aku memiliki suatu hubungan dan ditambah suamimu sudah meninggal setahun yang lalu. Aku tidak pernah menghiraukan perkataan tersebut karena tahu kau adalah wanita yang baik dan tidak memiliki tujuan tertentu padaku. Tapi kali ini aku merasa pemberianmu ini sangat berlebihan. Aku jadi ingin tahu kenapa kau sangat baik padaku?" Legolas menatap Edith.


Edith melihat tatapan Legolas yang memaksa dirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur.


"Kau adalah anakku." Jawab Edith.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2