
Lucia keluar dari rumah Legolas ketika pemuda itu tertidur. Saat ini waktu menunjukan hampir pukul dua malam. Di luar salju turun walau tidak terlalu lebat. Gadis itu hanya berdiri di depan pintu rumah menatap pada salju yang turun dari langit, sambil merapatkan pakaiannya yang sudah tebal.
Dalam benaknya saat ini hanya ada rasa penasaran mengenai bagaimana rasanya berdiri di tengah salju tanpa takut salju tersebut membakar dirinya. Ia sangat ingin merasakannya, namun hal seperti itu tampaknya sangat mustahil untuk dirinya. Dirinya hanya ingin bersama dengan Legolas saja sekarang hingga melebur menjadi abu.
Pintu rumah di sebelah kanan Legolas terbuka, Lucia menoleh pada Ursula yang baru saja keluar membawa plastik sampah yang ukurannya lumayan besar.
"Kau tidak tidur?" Tanya Lucia pada Ursula.
Ursula melihat ke arah gadis yang ternyata adalah keponakannya itu dengan tatapan muram. Namun dengan segera melangkah mendekati Lucia.
"Bagaimana kabarmu, Cia? Kau baik-baik saja?" Ursula menatap pada Lucia.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Lucia. "Hari ini Legolas akan pergi, aku akan bersama dengannya. Aku tidak tahu apakah nanti dia akan kembali lagi ke sini atau tidak."
"Bagaimana denganmu?" Tatap Ursula.
"Aku tidak tahu. Aku ingin kembali ke sini lagi suatu hari nanti. Tapi waktuku tidak banyak." Lucia menundukan kepalanya karena merasakan kesedihan saat melihat dirinya yang akan segera melebur menjadi abu.
"Cia, sebaiknya kembalilah ke tempatmu berasal—"
"Ursula, aku adalah iblis." Potong Lucia mengakui dirinya pada Ursula.
Ursula tertegun, kenyataan dirinya yang merupakan adik dari ratu iblis yang berubah menjadi manusia membuat dirinya mengetahui siapa Lucia sejak awal melihatnya. Akan tetapi Ursula tidak ingin gadis itu tahu mengenai kebenaran mengenai siapa dirinya.
__ADS_1
"Semua manusia mempunyai sisi iblis di dalam diri mereka." Jawab Ursula tanpa melihat pada Lucia dan hanya memperhatikan ke jalanan di mana saat ini sedang ditutupi salju sehingga sejauh mata memandang semua tampan putih. "Menjadi manusia tidak lebih baik dari menjadi seorang iblis atau pun malaikat. Akan tetapi ketika manusia itu bisa bersama-sama dengan seseorang yang dirinya cintai, semua akan menjadi lebih baik dari apapun. Hal itu yang tidak akan pernah dirasakan seorang iblis atau pun malaikat."
"Bagaimana denganmu? Suamimu meninggal sudah sejak lama. Apa semuanya menjadi sangat berat ketika kau menjalani hidupmu seorang diri?" Lucia terus memperhatikan Ursula yang pandangannya hanya lurus ke depan dengan mata yang sekalipun tidak berkedip.
"Level tertinggi dari mencintai adalah ketika kita bisa menerima kenyataan untuk melepaskan orang yang kita cintai asalkan dia hidup dengan baik dan seturut dengan yang diharapkannya walaupun kita tidak bisa bersama dengannya." Jawab Ursula. "Tetapi semua itu tidak akan pernah siapapun mampu lakukan, karena ketika kita mencintai seseorang, kita juga berharap untuk selalu bersama dengannya. Dan ketika kita tidak bisa bersama dengannya hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, cinta itu semakin lama akan semakin pudar atau hidup kita akan menjadi kacau karena perasaan cinta yang tidak pernah padam itu."
Lucia tidak ingin mengatakan apapun lagi pada Ursula karena gadis itu melihat bagaimana air mata Ursula mengalir membasahi wajahnya, membuat dirinya mengerti kalau setelah kehilangan suami yang dicintainya, hidup Ursula menjadi kacau karena rasa cintanya pada sang suami tidak pernah padam.
Untuk beberapa saat Lucia dan Ursula berdiri berdampingan tanpa mengatakan perkataan apapun lagi. Mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Legolas membuka matanya dan melihat Lucia tidak berada disampingnya. Pemuda itu langsung beranjak bangun dan memutar matanya mencari keberadaan gadis itu di sekitar rumah, namun Lucia tidak berada di dalam sana.
Seketika Legolas merasakan kepanikan. Pemuda itu takut kalau Lucia pergi meninggalkannya. Dengan segera Legolas memakai soalnya dan membuka pintu rumah untuk keluar mencari Lucia.
Tanpa Legolas duga, Lucia langsung menggalai tubuhnya untuk dipeluk olehnya. Melihat Legolas yang tiba-tiba muncul setelah mendengar perkataan Ursula, membuat gadis itu menjadi sangat takut kalau Legolas akan hidup menderita seperti Ursula setelah dirinya melebur menjadi abu. Lucia lebih berharap kalau Legolas akan melupakan dirinya setelah mereka berpisah agar hidup pemuda itu baik-baik saja. Walaupun itu terasa menyakitkan untuk Lucia jika memikirkan Legolas akan melupakannya.
"Ada apa, Cia?" Tanya Legolas merasa aneh. Pemuda itu menatap pada Ursula yang juga menatapnya.
Lucia tidak menjawab, gadis itu tidak ingin mengatakan apapun mengenai hal yang dirasakannya saat ini.
"Olas, kau akan pergi?" Tatap Ursula.
Lucia melepas pelukannya pada Legolas dan melihat pada Ursula.
__ADS_1
"Cia, masuklah ke dalam, di luar sangat dingin. Ada yang aku ingin bicarakan dengan Ursula. Tunggulah aku di dalam." Ucap Legolas.
Lucia menuruti perkataan Legolas dan segera masuk ke dalam rumah. Gadis itu berpikir kalau hal yang akan Legolas bicarakan dengan Ursula mengenai kepindahannya hari ini.
"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Ursula pada Legolas yang menggantikan posisi Lucia yang berdiri di samping kirinya. Mereka tidak saling menatap karena pandangan mereka melihat jauh ke jalan. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tahu mengenai rahasia dirimu." Sambar Legolas. "Dulu kau seperti Cia, kau adalah seorang iblis. Benar seperti itu kan?"
Ursula tidak menjawab, ia tidak heran dari mana pemuda itu mengetahuinya karena pasti keponakannya, Gayle lah yang memberitahu pemuda itu mengenai rahasia terbesar pada dirinya.
"Gayle bilang manusia dan iblis tidak mungkin bersama. Sepertinya itu benar, aku bisa menebak kalau suamimu meninggal untuk mengubah dirimu menjadi manusia. Bukan begitu?"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ursula. "Baru saja aku memberitahu Cia mengenai betapa menderitanya diriku hidup tanpa orang yang aku cinta. Untukku pengorbanan suamiku yang membuat aku berubah menjadi manusia adalah keputusan salah. Bagiku hidup di dunia manusia tanpa dirinya adalah sebuah penderitaan. Dan sepertinya Cia merasakan hal yang sama."
"Apa maksudmu?" Legolas menoleh pada Ursula.
"Iblis akan berubah menjadi manusia ketika orang yang mencintainya rela mati untuknya." Jawab Ursula. "Cia tidak ingin kau mati untuknya, dia yang akan lebih rela melebur menjadi abu dengan terus bersamamu saat ini."
Legolas yang sebelumnya tidak memikirkan hal tersebut hanya terdiam karena terkejut mendengar ucapan Ursula padanya. Jika seperti itu, Iblis dan manusia memang tidak mungkin bersama akan tetapi, Legolas tidak akan membiarkan Lucia yang melebur menjadi abu.
"Ursula, aku mengerti apa yang dirasakan suamimu saat itu." Ucap Legolas membuat Ursula menolah padanya. "Aku juga akan melakukan hal sepertinya walau itu akan membuat Cia merasa tidak seharusnya aku melakukannya. Tapi dari pada aku yang melihatnya melebur menjadi abu, lebih baik aku membuatnya bisa merasakan salju seperti keinginannya."
...–NATZSIMO–...
__ADS_1