
Legolas yang masih tertegun di depan pintu masuk menatap pada Lucia yang terlihat sangat senang melihatnya. Walau melihat gadis iblis itu dengan hati yang senang, namun rasa khawatirnya lebih besar.
Gaun pengantin warna merah yang dikenakan Lucia menarik perhatian Legolas. Itu membuatnya tahu kalau gadis itu meninggalkan acara pernikahannya dan kabur ke dunia manusia lagi.
Di tambah kata-kata Lucia barusan, membuat Legolas tidak tahu harus bersikap dan berbuat apa pada Lucia sekarang. Keadaannya yang sedang kacau karena masalah ibu kandungnya, membuat pemuda itu tidak bisa berpikir.
Lucia menatap Legolas dengan bingung karena pemuda itu hanya diam saja menatapnya. Padahal dia berpikir kalau Legolas akan senang dengan kehadirannya. Tapi ternyata pemikirannya salah. Ya, seharusnya ia tahu karena sejak awal Legolas ingin dirinya kembali ke neraka.
"Apa kau tidak senang melihatku, Olas?" Tanya Lucia dengan ragu. Ia takut Legolas menjawabnya dengan jawaban ya. "Ya, seharusnya aku tahu kalau kau tidak akan se—"
Tiba-tiba Legolas berlari dan memeluk Lucia. Lucia hanya diam saja karena jika dirinya memeluk Legolas, ia takut pemuda itu akan terkena kulitnya menjadi terbakar.
"Aku senang melihatmu di saat aku seperti ini, Cia." Ucap Legolas menatap gadis itu.
Legolas mendekatkan wajahnya pada wajah Lucia, hendak mencium gadis itu. Sepertinya pemuda itu melupakan mengenai dirinya yang akan merasakan terbakar jika mengenai kulit Lucia secara langsung. Secepatnya Lucia mendorong Legolas agar tidak menciumnya.
"Tidak Olas, kau akan terbakar kalau menyentuhku secara langsung." Ujar Lucia pada Legolas yang sudah berdiri di jarak satu meter darinya.
"Aku lupa mengenai hal itu." Jawab Legolas. "Cia, kenapa kau kembali?"
"Aku merindukanmu, aku akan tinggal di dunia manusia sekarang." Jawab Lucia penuh keyakinan. Sejenak Lucia terdiam memandang Legolas dengan lekat. "Apa aku boleh tinggal bersamamu, Olas?"
Legolas tampak bingung mendengarnya namun keadaan dirinya tidak mampu banyak berpikir saat ini. Dirinya tidak ingin memikirkan hal apapun dulu karena untuk sekarang keberadaan Lucia membuat pemuda itu sedikit menjadi baik. Setidaknya ada yang mencintainya di dunia ini.
"Tentu saja. Aku sangat senang kau kembali, Cia." Legolas memulas senyum tipis.
Jawab Legolas membuat Lucia tersenyum senang. Gadis yang sedang merasakan cinta yang begitu besar itu sangat ingin mencium pemuda yang dicintainya namun itu tidaklah mungkin untuk saat ini.
__ADS_1
"Olas, aku ingin makan apel." Pinta Lucia. "Aku ingin menciummu." Lanjut Lucia secara terang-terangan.
Di ambilnya sebuah apel merah dari lemari pendingin yang baru Legolas beli kemarin. Pemuda itu langsung berjalan kembali ke arah Lucia dan memberikan apel tersebut pada gadis itu.
"Duduklah dulu, Cia." Seru Legolas.
Lucia tidak meresponnya dan langsung menggigit apel pemberian Legolas itu secepatnya. Sedangkan Legolas menatapnya dan hendak berbalik menuju sofa.
Dengan sangat cepat Lucia menahan Legolas dengan mencium bibir pemuda itu. Mereka berdua berciuman layaknya sebagai sepasang kekasih.
"Olas, akhirnya aku merasakan cinta dan kali ini rasanya begitu sangat senang. Aku seperti ingin berteriak untuk mengungkapkan rasa kebahagiaanku itu pada dunia manusia." Ucap Lucia dengan wajah merona dan tepat di depan wajah Legolas yang menatapnya sangat lekat. "Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Aku juga sangat bahagia karena aku juga mencitaimu, Cia." Kali ini Legolas yang menyambar bibir Lucia untuk mencium gadis itu.
...----------------...
"Kira-kira mereka sedang apa?" Tanya Gayle yang menempelkan telinganya ke tembok kamarnya yang menjadi pembatas antara rumahnya dan rumah yang Legolas tempati. "Apa mereka akan bercinta?"
Gayle mendengarkan perkataan Lucas. Ia segera berhenti menempelkan telinganya ke tembok dan berbalik melihat pada Lucas. Dari wajah pemuda setengah iblis dan setengah malaikat itu terpancar rasa sedih yang amat sangat dalam. Gayle mengerti mengenai kesedihan yang Lucas rasakan karena kebahagiaan Lucia sekarang adalah pemberian pemuda itu, di mana Lucas menuruti Lucia dengan kerelaan hatinya jika adiknya itu akan melebur menjadi abu.
Tangan Gayle melingkar ke leher Lucas yang menatapnya. "Itu keputusan Cia, biarkan dia memilih dan menikmati semuanya sebelum dirinya melebur menjadi abu." Ucap Gayle. "Kau adalah kakak yang baik untuk Cia, kau memberikan semua yang diinginkan adikmu, dan itu sesuatu yang membuatnya bahagia."
"Kau tahu Gayle, seharusnya waktu itu aku tidak memberitahu Lucia di mana buah kehidupan berada, seharusnya aku tidak meminta Phoebe untuk memberitahu mengenai buah itu, dan seharusnya aku tidak membiarkan Lucia datang ke dunia manusia." Ujar Lucas. "Sejak awal keadaan Lucia saat ini adalah salahku."
"Kau tidak salah. Sebelumnya pun kau juga sudah bilang padaku mengenai alasan tersebut. Kau hanya mau memberikan hadiah ulang tahun pada adikmu dengan mewujudkan hal yang paling Cia inginkan." Seru Gayle masih belum merubah posisinya. "Jadi... Jangan menyesali semua yang sudah kau lakukan untuk memberikan hadiah terbaik pada adikmu. Cia sangat bahagia saat ini, biarkan dia menikmati kebahagiaannya bersama Olas, karena waktunya tidak akan lebih dari satu bulan sebelum dirinya melebur menjadi abu, kan?"
Lucas menarik tubuh Gayle yang berdiri dihadapannya untuk mendekapnya. Ia akan menuruti permintaan Lucia untuk tidak memberitahu keberadaan Lucia saat ini pada ayah mereka, Lucifer sang raja iblis.
__ADS_1
"Kau benar, Gayle." Jawab Lucas dengan lirih.
...----------------...
Legolas mendekap Lucia dalam pelukannya. Saat ini mereka berada di atas kasur yang biasa Legolas tiduri. Mereka hanya mendekap satu dan lainnya untuk menunjukkan rasa cinta mereka.
"Cia, apa semua akan baik-baik saja?" Tanya Legolas setelah terbesit pikiran mengenai kondisi Lucia yang masih seorang iblis. "Maksudku, apa ayahmu tidak akan datang ke dunia manusia untuk menangkapmu dan membawamu kembali ke neraka?"
"Tidak. Lucas sudah berjanji akan melindungiku." Jawab Lucia menatap Legolas yang mendekapnya. "Olas, kalau boleh apa kita bisa pindah ke suatu tempat? Leviathan sudah tahu keberadaan kita, aku takut raja iblis mengirim pasukannya untuk memcariku."
"Kau benar, dan memang rencanaku untuk meninggalkan tempat ini. Kita akan pergi besok."
Sebelum Lucia memintanya, Legolas juga berencana untuk pergi dari tempatnya tinggal saat ini. Pemuda itu ingin pergi untuk menghindari ibu kandungnya, Edith Gringger. Ia berencana untuk tidak berhubungan dengan ibunya tersebut dan tidak ingin menemuinya lagi. Legolas ingin menjauh karena rasa marah dan kecewanya pada ibu kandungnya tersebut.
"Kita akan ke mana?" Tanya Lucia.
"Ke suatu tempat. Aku ingin tinggal bersama mereka dan bersamamu di sana." Ucap Legolas dengan tatapan kosong. "Cia, bagaimana denganmu?"
"Bagaimana apa?" Lucia balik bertanya.
"Apa kau akan baik-baik saja tinggal di dunia manusia?" Tanya Legolas memperjelas pertanyaannya.
Lucia menunjukan senyumnya pada Legolas dengan sedikit menengadah karena posisi mereka.
"Lucas akan mencari tahu dan membantuku agar aku menjadi manusia." Jawab Lucia. "Ternyata cara itu tidak terlalu sulit. Aku hanya harus mencintai tiga orang. Aku sudah mencintaimu dan aku rasa untuk selanjutnya tidak terlalu sulit. Aku akan mencintai dua orang lainnya dengan cara yang berbeda seperti aku mencintaimu. Maksudku, aku harus mencintai seorang sahabat, saudara, atau pun orang tua."
Perkataan Lucia sedikit membuat Legolas merasakan keanehan namun dirinya tidak ingin memikirkannya untuk saat ini. Pemuda itu hanya semakin erat mendekap tubuh Lucia yang berbaring di sampingnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Cia." Bisik Legolas. "Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu."
...–NATZSIMO–...