
Kehadiran Legolas yang tiba-tiba membuat Lucia dan Cedric terkejut. Apalagi Legolas datang dan langsung memegang tangan Lucia yang terluka dengan sebuah pertanyaan yang membuat siapapun menjadi bingung.
"Olas." Ucap Lucia menatap Legolas.
Setelah tersadar apa yang dilakukannya secara tiba-tiba, Legolas melepaskan tangan Lucia dan menoleh pada Chloe yang berada di belakangnya. Namun tiba-tiba Lucia memeluk Legolas.
Kehadiran Legolas membuat Lucia senang hingga tanpa sadar gadis itu memeluknya. Bahkan ia tidak mengerti kenapa dirinya memeluk Legolas karena tidak seperti biasanya, ada suatu dorongan di dalam hatinya untuk memeluk pemuda itu.
Cedric maupun Chloe sama-sama terkejut. Termasuk Legolas, namun untuk Legolas pelukan itu adalah pelukan biasa yang sering dilakukan Lucia padanya. Lucia sering memeluknya untuk mengetahui apa yang akan gadis itu rasakan saat memeluk dirinya.
"Ada apa dengan tanganmu, Cia?" Tanya Chloe sehingga Lucia melepaskan Legolas dari pelukannya. "Ini seperti terbakar." Chloe memegang tangan Lucia dan menatap gadis itu ingin tahu.
Lucia menarik tangannya dan memakai sarung tangan yang dipegang Cedric. Cedric masih diam saja karena bingung dengan kehadiran Legolas.
"Kau bukannya Cedric Hartman?" Tatap Chloe saat melihat Cedric.
Cedric mencoba tersenyum menjawabnya walau tak sekalipun mengalihkan tatapannya pada Legolas yang masih menatap Lucia.
"Apa kau mencari Cia selama ini?" Tanya Cedric pada Legolas. "Dia tinggal bersamaku sekarang. Kau tidak perlu khawatir."
Legolas menoleh pada Cedric dan Cedric tersenyum simpul padanya.
"Chloe, ayo kita pergi." Ujar Legolas setelah itu berjalan meninggalkan Cedric dan Lucia.
Lucia masih memperhatikan kepergian Legolas. Entah kenapa saat ini rasanya ia menjadi sedih dan ingin menangis. Padahal sudah sangat lama dirinya yang merupakan iblis tidak merasakan kesedihan seperti sekarang ini.
"Ayo, Cia." Cedric memegang lengan Lucia agar berjalan mengikutinya.
...----------------...
"Aku sudah tahu dimana keberadaan Lucia sekarang." Terdengar suara Phoebe di ujung telepon handphone Lucas. "Baru saja Legolas bertemu dengannya."
"Benarkah?" Tanya Lucas yang sedang sibuk dengan kegiatannya bersama Gayle di atas tempat tidur. "Baiklah, aku akan menemuinya." Setelah itu Lucas menutup handphone-nya yang menyambungkan telepon ke neraka.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Gayle yang berada di dalam dekapan Lucas. "Kau sudah tahu dimana Cia?"
"Kau bisa mencari tahu dimana alamat rumah Cedric Hartman?" Ujar Lucas masih terus menggerakan pinggulnya membuat Gayle mendesah kenikmatan. "Lucia tinggal dengan pria itu sekarang."
"Cedric Hartman?" Tanya Gayle memastikan. "Seharusnya aku sudah bisa mengiranya. Pria itu tampaknya menyukai adikmu. Baiklah, setelah ini aku akan mencari tahu alamatnya. Kau bisa selesaikan sekarang."
Lucas memutar posisinya hingga Gayle yang berada di atasnya, untuk mengambil alih permainan.
"Posisi ini akan membuat aku cepat keluar." Senyum Lucas dengan kedua tangannya berada di dua tonjolan Gayle. "Bergerak lebih cepat."
"Sialan kau!!" Geram Gayle setelah itu mencium bibir Lucas.
...----------------...
Legolas yang bersama Chloe sedang menonton film di bioskop mencoba fokus, walau sebenarnya dirinya saat ini sedang memikirkan mengenai Lucia. Seberapa usahanya untuk tidak memikirkannya, sia-sia. Keadaan Lucia membuatnya menjadi mengkhawatirkan gadis itu.
Tangannya yang terbakar karena terkena salju dan ia juga bisa melihat perubahan warna mata di mata Lucia yang terlihat sedikit gelap. Itu semua membuatnya menjadi gusar saat ini. Ia takut kalau Lucia akan segera melebur jadi abu.
"Olas, ada apa?" Tanya Chloe yang duduk di sampingnya dengan agak berbisik. "Apa ada yang kau pikirkan? Wajahmu tampak memikirkan sesuatu sejak tadi."
Tiba-tiba Chloe yang duduk di samping kiri Legolas memegang tangan kiri pemuda itu. Legolas tampak terkejut hingga menatap gadis itu. Chloe menoleh padanya dan memulas senyumnya.
"Aku sangat senang saat kau mengajakku pergi, Olas." Ucap Chloe.
Mendengarkan perkataan Chloe membuat Legolas merasa kalau itu adalah sesuatu yang bagus. Chloe memberinya sinyal positif pada dirinya. Sudah lama ia mengharapkan hal tersebut dan sepertinya semua akan berjalan dengan lancar.
...----------------...
Setelah membeli sarung tangan dan komik yang banyak untuk Lucia, Cedric mengajak gadis itu ke toko elektronik. Pemuda itu hendak membelikan televisi yang sangat besar untuk Lucia.
"Kau bisa memilih televisi yang kau mau." Cedric tersenyum ketika berkata seperti itu.
Namun entah kenapa, Lucia tidak merasa senang sedikitpun. Dirinya masih merasakan sebuah kesedihan ketika Legolas pergi meninggalkan dirinya. Ia tidak mengerti dengan apa yang saat ini hatinya rasakan karena selama ini perasaan tersebut belum pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Cia, kau mendengarku?" Tatap Cedric dengan sangat dekat. "Kau bisa memilih yang manapun."
"Ced, aku berubah pikiran. Aku tidak ingin apapun lagi sekarang. Aku ingin pulang." Jawab Lucia dengan nada suara dan tatapan yang datar. "Entah apa yang aku rasakan, aku merasa tidak semangat saat ini."
"Kau serius? Tadi kau bilang ingin punya televisi yang besar dan handphone agar setiap malam kau tidak bosan karena tidak bisa tidur." Ujar Cedric. "Biar aku pilihkan ya?"
Lucia memegang lengan Cedric ketika pemuda itu hendak berjalan meninggalkannya. Cedric berbalik dan melihat mata Lucia yang tergenang air mata.
"Ced, ada apa denganku? Kenapa aku jadi ingin menangis?"
Cedric tertegun menatap Lucia saat mendengar perkataan gadis itu dengan air mata yang menetes membasahi wajahnya. Pemuda itu mengerti apa yang terjadi pada Lucia.
"Ayo kita kembali ke rumah, Cia." Ucap Cedric menggandeng tangan Lucia.
Tidak berapa lama mereka berdua sampai rumah. Lucia segera berjalan masuk menuju kamarnya dengan langkah kecil. Ia tidak bersemangat dan kepalanya tertunduk. Ia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya dan kenapa Ia mengeluarkan air mata tadi.
Cedric berjalan dibelakang gadis itu ketika Lucia membuka pintu kamar dan melangkah masuk. Cedric terus memperhatikan sikap Lucia yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Cia, kau baik-baik saja?" Tanya Cedric masih mencoba berpikiran kalau saat ini Lucia hanya sedang tidak sehat. "Apa kau sakit?"
"Apa aku sakit?" Lucia malah balik bertanya dengan menatap Cedric yang baru saja meletakan komik-komik miliknya ke meja dan berbalik menatapnya. "Maksudmu aku sakit? Apa karena sakit yang biasa diderita manusia aku jadi seperti ini?"
Wajah Cedric menjadi heran karena perkataan Lucia yang untuknya sangat membingungkan.
"Sepertinya kau memang sedang sakit, Cia." Ucap Cedric sambil berjalan mendekati Lucia.
Pemuda itu mencoba menyentuh kening Lucia namun efek apel yang dimakan gadis itu habis hingga tangannya terasa sangat panas dan membuatnya berteriak kesakitan. Lucia hanya menatap Cedric yang meringis karena rasa sakit yang tidak sengaja ia berikan pada Cedric.
"Kenapa keningmu panas sekali?" Tanya Cedric kebingungan. "Sebaiknya lepaskan topi itu dulu, kau tidak perlu memakai topi ketika di rumah.
Tanpa diduga Lucia, Cedric langsung membuka topi yang menutupi tanduk kecilnya. Pemuda itu tersentak kaget melihat apa yang ada di atas kepala Lucia.
"Ka—kau siapa sebenarnya?" Wajah Cedric terlihat pucat melihat Lucia.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...