GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Sebuah Penyesalan


__ADS_3

"Chloe, besok kau libur kan?" Tanya Legolas ketika jam kerjanya usai dan saat ini berjalan pulang bersama Chloe.


"Iya aku libur. Ada apa, Olas?" Chloe mengernyitkan dahinya melihat sikap Legolas yang tidak seperti biayanya.


"Aku besok cuti, bagaimana kalau kita menonton ke bioskop?" Dengan penuh keberanian akhirnya Legolas mengajak Chloe untuk berkencan dengannya.


"Baiklah. Kebetulan ada film yang ingin aku tonton." Jawab Chloe dengan sebuah senyum.


Sepulang bekerja, Legolas yang baru sampai di depan rumahnya melihat seorang wanita berdiri. Dengan langkah yang lebar, Legolas mendekati wanita itu, ia adalah Edith Gringger.


Melihat kehadiran Legolas, Edith memulas senyum hangatnya untuk menyambut putra kandungnya itu. Betapa bahagia saat ini ia melihat anak yang dulu ditaruhnya di panti asuhan sudah sebesar sekarang. Ditambah wajahnya yang sangat mirip dengan pria yang dicintainya. Itu tidak heran, ketika melihat pertama kali pemuda itu, ia juga sudah merasa kemiripan mereka, Legolas dengan Haven Burke, ayah kandungnya.


"Apa nyonya menungguku?" Tanya Legolas merasa tidak enak karena membuatnya menunggu. "Maafkan aku kalau membuatmu menunggu terlalu lama, nyonya."


Sekali lagi Edith tersenyum pada Legolas. Ia bersyukur kalau anak yang dilahirkannya tumbuh menjadi pemuda baik yang sangat sopan.


Edith mengeluarkan sapu tangan yang sudah bersih tanpa noda dan menyodorkannya pada Legolas.


"Maaf ya aku baru mengembalikannya. Aku berusaha untuk menghilangkan noda hitam di sapu tangan itu. Ternyata lumayan membutuhkan waktu." Ujar Edith.


"Terimakasih nyonya." Jawab Legolas menerima sapu tangan miliknya. "Aku pikir nodanya memang tidak akan pernah hilang. Tapi seharusnya nyonya tidak perlu repot-repot untuk menghilangkan nodanya. Ini pasti membuatmu kerepotan. Aku minta maaf nyonya, dan sekali lagi aku berterima kasih padamu."


Edith menjawabnya dengan sebuah senyum sambil mengusap pundak Legolas.


"Legolas, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang? Apa kau sudah merasa cukup baik? Jika kau mau kau bisa bekerja di perusahaan kami. Kebetulan saat ini kami sedang mencari beberapa karyawan baru."


"Benarkah?" Tanya Legolas terlihat sangat antusias. "Tapi aku merasa tidak enak."


"Tidak enak kenapa? Kau juga akan mengikuti tahap seleksinya. Aku juga tidak setuju jika langsung memasukanmu begitu saja." Ujar Edith. "Berikan nomer handphone-mu, nanti kau akan dihubungi untuk mengikuti seleksinya."


"Sepertinya aku harus memikirkannya sekali lagi, nyonya." Jawab Legolas. "Kebetulan saat ini aku belum membeli handphone baru. Apa boleh aku meminta nomermu untuk menghubungimu setelah memikirkannya sekali lagi?"


"Tentu." Jawab Edith setelah itu mengeluarkan selembar kartu nama dan memberikannya pada Legolas. "Kau bisa langsung menghubungiku kapan saja."

__ADS_1


"Kau sangat baik nyonya. Terimakasih untuk kebaikanmu." Ucap Legolas tersenyum.


Tiba-tiba Edith memeluk Legolas. Padahal sejak awal ia mengurungkan niatnya agar tidak melakukan hal tersebut namun wanita itu merasa sudah tidak tahan lagi dan ingin segera memeluk putra yang sangat dirindukannya itu. Sedangkan Legolas hanya bisa diam ketika dirinya dipeluk. Walaupun begitu di dalam dirinya ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Hal itu membuatnya merasa kalau wanita yang memeluknya adalah wanita yang sangat hangat dan berhati malaikat.


"Maafkan aku, tanpa sadar aku memelukmu." Ucap Edith.


"Tidak apa-apa nyonya. Kau sangat baik, aku tidak heran kenapa Cedric juga baik. Dia sangat beruntung memiliki seorang ibu berhati malaikat sepertimu." Ujar Legolas tersenyum.


...----------------...


Di rumah Cedric, Lucia memakai waktunya untuk membaca banyak komik yang diberikan Cedric padanya. Di atas tempat tidur besar Lucia merebahkan tubuhnya di dalam kamar sambil memakan buah apel yang sudah tersisa setengah.


"Dia sangat bodoh, kenapa dia tidak sadar kalau orang yang dicintainya adalah gadis itu? Kenapa dia malah pergi dengan gadis lainnya?" Gumam Lucia mengomentari cerita komik yang dibacanya.


Tiba-tiba Cedric datang mencoba membuka pintu kamar namun karena Lucia mengunci kamarnya, pintu tidak langsung terbuka.


"Cia, buka pintunya." Seru Cedric mengetuk pintu.


"Ternyata benar apa kata Olas." Ucap Lucia saat melihat perubahan warna bola matanya.


"Cia, kau dengar aku?" Cedric makin tidak sabar mengetuk pintu kamarnya.


Dengan segera Lucia berjalan menuju pintu dan membukakan pintu kamar untuk Cedric. Cedric menatapnya dengan sebuah senyum sebelum melangkah masuk mengikuti Lucia yang kembali berjalan ke tempat tidurnya.


"Ced, apa ada komik lainnya? Aku tidak suka cerita komik yang kau berikan ini. Karakter prianya sangat bodoh, aku menjadi kesal membacanya." Ujar Lucia duduk di sisi tempat tidur sambil memegang komik yang dimaksudnya.


"Bodoh kenapa? Kenapa kau menjadi kesal?" Tanya Cedric yang berdiri di hadapan Lucia.


"Dia pergi dengan gadis yang tidak dicintainya, itu sangat bodoh." Jawab Lucia. "Aku ingin cerita cinta yang lebih baik dari kisah komik ini. Berikan aku komik lainnya."


"Baiklah, karena hari ini aku tidak kemanapun, ayo kita pergi untuk membeli komik. Kau bisa memilih komik-komik yang ingin kau beli. Kau bisa membeli sebanyak apapun yang kau ingin kan." Ujar Cedric tersenyum ramah.


"Benarkah? Sebanyak apapun?"

__ADS_1


"Ya, kau bisa mengambil sebanyak apapun."


"Kau sangat berbeda dengan Olas. Seharusnya sejak awal aku tinggal denganmu." Ucap Lucia.


"Tapi sekarang kau tinggal di sini kan? Aku akan memberikanmu yang lainnya juga." Jawab Cedric. "Apa ada hal lain yang ingin kau beli?"


"Televisi. Apa aku juga boleh membeli televisi yang besar? Aku ingin punya televisi di ruangan ini." Ucap Lucia tanpa ragu. "Di rumah Olas tidak memiliki televisi. Saat aku memintanya untuk membelikan televisi yang sangat besar, dia menarik tanganku menjauh dari toko itu."


Lucia menjadi teringat pada Legolas. Legolas bilang akan membeli televisi ketika sudah kaya raya dan dirinya menjawab kalau akan menunggu Legolas menjadi kaya. Entah kenapa Lucia jadi ingin bertemu Legolas saat ini. Sudah hampir sebulan ia pergi dari rumah pemuda itu dan selama itu juga ia tidak melihat Legolas.


"Ada apa, Cia?" Tanya Cedric yang melihat perubahan di ekspresi wajah Lucia. "Baiklah, aku juga akan membelikanmu televisi yang sangat besar. Ayo sekarang kita bisa pergi ke mall, aku juga akan membelikanmu handphone agar saat aku tidak di rumah, aku bisa meneleponmu."


Mendengarnya Lucia kembali mengingat mengenai handphone yang dibelikannya pada Legolas. Apakah saat ini Legolas sudah membukanya? Ia ingin tahu bagaimana ekspresi Legolas saat melihat handphone yang dibelikannya. Lucia berharap kalau Legolas menyukainya.


...----------------...


Di rumah sewaan Legolas, pemuda itu sedang bersiap-siap pergi berkencan dengan Chloe. Ia memikirkan apa saja yang akan ia lakukan nanti selain menonton bioskop.


"Makanan apa yang disuka Chloe ya?" Pikir Legolas.


Pertanyaan itu membuat pemuda itu teringat pada Lucia. Ia tidak perlu memikirkan makanan apa yang disukai gadis iblis itu karena semua makanan sangat disukainya. Tiba-tiba saat ini Legolas menjadi memikirkan di mana Lucia berada. Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah ada orang lain yang mau menampungnya?


"Hah, sudahlah, itu bukan urusanku lagi. Tidak ada kabar mengenai kekacauan di kota ini. Itu berarti dia baik-baik saja saat ini." Ucap Legolas berjalan ke arah kasurnya.


Matanya tertuju pada sebuah tas tangan di atas meja. Benda itu adalah pemberian Lucia sebelum gadis itu pergi. Selama ini ia mengurungkan niatnya saat ingin membuka tas itu. Namun saat ini karena berpikir Lucia tidak akan kembali, sebaiknya ia membukanya untuk melihat isinya.


Legolas sangat terkejut ketika melihat isi tas itu adalah sebuah handphone. Dalam beberapa bulan ini ia belum bisa membeli handphone baru dan masih mengumpulkan uang untuk membelinya. Kehadiran Lucia yang tinggal dengannya menambah pengeluarannya sehingga sisa dari gajinya tidak cukup jika harus langsung membeli handphone.


Ia tahu kalau Lucia membelikannya handphone tersebut dari uang yang dihasilkannya dari menjahit mata boneka. Legolas tidak mengiranya, dan teringat kembali bagaimana ekspresi Lucia saat memberikan benda itu padanya. Entah bagaimana dirinya menjadi merasa bersalah pada gadis itu.


"Seharusnya aku menghentikannya saat dia pergi." Gumam Legolas dengan menyesal.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2