GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Malaikat VS Iblis


__ADS_3

Sepulang bekerja, Legolas berada di atas kasurnya memikirkan sesuatu. Ia teringat dengan perkataan Gayle kemarin yang menyinggung dirinya. Gadis itu bilang kalau dirinya selama ini selalu mencari aman hingga tidak ada kemajuan dalam hidupnya. Itu sangat menusuk hatinya, karena bagaimana pun Legolas ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.


Ia mengambil sebuah kartu nama yang ia terima tempo hari dari Edith Gringger. Sekarang penawaran wanita itu terdengar menggiurkan. Legolas ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik agar kehidupannya pun menjadi lebih baik. Chloe tidak menolak ajakan menikahnya kemarin, itu berarti dirinya masih mempunyai kemungkinan mendapatkan jawaban ya dari gadis itu.


Legolas menoleh ke arah sebuah benda yang ada di atas meja dekat kasur. Handphone pemberian Lucia masih ada di dalamnya. Ia langsung mengambilnya. Sejenak Ia memikirkan Lucia karena handphone tersebut. Ia tidak mengira kalau iblis sepertinya memberikan sebuah hadiah untuknya.


"Tidak, ini bukan hadiah. Dia hanya mengganti handphone-ku yang sudah dibakarnya." Gumam Legolas berusaha menghilangkan perasaan yang membuat dirinya merasa bersalah pada Lucia.


Dihidupkannya handphone itu segera. Ia ingin menghubungi Edith Gringger untuk menerima penawaran tersebut.


"Maaf nyonya kalau aku mengganggu." Ujar Legolas di telepon. "Aku sudah memikirkannya dan aku rasa aku memang ingin mengikuti seleksi pekerja di perusahaan anda secepatnya." Ujar Legolas dengan sedikit keraguan


"Benar kah?"


Kalau Chloe setuju untuk menikah, itu berarti dirinya memang harus mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untuk memenuhi kehidupannya bersama gadis itu setelah menikah nanti.


"Selamat sore nyonya, ini aku Legolas Greenville." Ucap Legolas saat Edith menjawab telepon darinya.


"Selamat sore Legolas." Jawab Edith dengan senang mendengar suara pemuda itu.


"Aku ingin membicarakan mengenai tawaranmu tempo hari. Apa itu masih berlaku?"


"Tentu saja. Bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya?" Tanya Edith.


"Ya, aku sudah memikirkannya dan berencana untuk mengikuti tahap seleksinya." Jawab Legolas dengan memantapkan perasaannya.


"Itu sangat bagus, kau bisa datang besok ke perusahaan langsung."

__ADS_1


Setelah mengakhiri telepon tersebut Legolas menghela napasnya. Ia kembali berpikir kalau Cedric memiliki kehidupan yang sangat beruntung. Selain kaya, ibunya adalah wanita yang baik. Itu membuatnya menjadi yakin kalau Cedric juga orang yang baik. Ia pasti bisa menerima Lucia disaat dirinya tahu kalau gadis itu adalah seorang iblis.


Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Legolas langsung bangkit berdiri untuk membuka pintu rumahnya. Ternyata orang yang datang adalah Cedric, pemuda yang baru saja dipikirkan olehnya.


"Olas, maaf kalau aku mengganggu." Seru Cedric.


"Masuklah, di luar sangat dingin." Ujar Legolas setelah itu berjalan ke dalam diikuti Cedric. "Ada apa kau ke sini? Ingin teh hangat?"


"Tidak perlu." Jawab Cedric. "Aku hanya mampir sebentar saja."


"Apa ada sesuatu?" Tatap Legolas.


"Aku sudah tahu siapa Cia sebenarnya." Ucap Cedric.


Legolas mencoba membaca wajah Cedric apakah pemuda itu merasa tidak masalah dengan hal itu atau tidak. Namun sepertinya yang diperkirakan olehnya tepat. Cedric memang menyukai Lucia, ia pasti tidak masalah dengan hal itu.


"Kau pun akan binasa juga." Jawab Legolas merasa aneh pada perkataan Cedric.


"Aku tidak peduli pada hal itu." Ucap Cedric. "Aku hanya ingin bersama dengan Cia saja saat ini, walau nanti aku akan binasa juga."


Legolas hanya diam dan tidak berniat menanggapi perkataan Cedric karena percuma saja, apa yang dikatakannya pasti tidak akan didengar olehnya. Dirinya juga sudah memutuskan untuk tidak ikut campur pada urusan Lucia lagi dan ingin hidup normal dengan fokus pada tujuannya saat ini.


"Iblis tidak memiliki cinta, apa tidak masalah kalau aku bersama dengannya?" Tanya Cedric menatap lekat Legolas.


"Kenapa bertanya padaku? Aku dan Cia sejak awal tidak memiliki hubungan apapun. Aku hanya menampungnya karena saat dia keluar dari neraka, dia muncul dari lantai tempat ini." Ujar Legolas menunjuk tempatnya berdiri saat ini. "Kalau kau sudah memutuskannya seperti itu maka kau bisa melakukannya."


"Tapi aku merasa Cia mengalami perubahan setelah pindah dari rumahmu ini." Ujar Cedric. "Dia terlihat tidak bersemangat dan jadi lebih tidak aktif seperti dulu. Bahkan wajahnya yang datar jadi terlihat dingin. Olas, apa benar iblis tidak bisa merasakan cinta? Apa Tuhan tidak menciptakan iblis dengan perasaan cinta? Jika iya, ada apa dengan Cia saat ini?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Legolas mengernyitkan dahinya karena perkataan Cedric padanya terdengar sangat membingungkan.


"Apa sebenarnya iblis bisa merasakan cinta juga?"


"Itu tidak mungkin. Iblis tidak akan bisa merasakan cinta, hanya hal buruk yang iblis rasakan." Jawab Legolas.


"Lalu ada apa dengan Cia? Dia pasti begitu karena merindukanmu, sepertinya dia mencintaimu."


Mendengar perkataan Cedric, Legolas tertawa kecil dengan mendengus heran. Ia merasa hal yang diucapkan Cedric sangatlah lucu.


"Dia hanya sedang beradaptasi karena tinggal bersama denganmu. Nanti juga dia akan kembali seperti dulu saat dia sudah beradaptasi." Jawab Legolas dengan tatapan lekat pada Cedric agar pemuda itu mengerti maksud perkataannya. "Jangan berkata yang tidak-tidak, iblis tidak akan bisa jatuh cinta, sebaiknya kau pun tahu itu. Kau juga harus tahu kalau Cia tidak mungkin membalas perasaanmu, tapi selama kau tidak masalah dengan itu, kau bisa bersama dengannya sampai kau binasa. Tapi kau juga harus hati-hati padanya, saat dia marah atau kesal dengan mudahnya dia akan membakar sesuatu tanpa berpikir terlebih dulu, bisa saja dia membakarmu juga. Bahkan sebelum dia pergi dari sini Cia juga hampir membakarku."


"Be—benarkah?" Tanya Cedric sontak kaget, namun ia terpikirkan sesuatu. "Tapi kenapa dia tidak jadi membakarmu?"


Legolas mencoba mencari jawabannya. Saat itu Lucia terlihat menahan amarahnya ketika sudah mengeluarkan bola api ditangannya, tapi ia juga tidak mengerti kenapa Lucia menahan amarahnya karena biasanya gadis iblis itu langsung melemparkan bola apinya tanpa berpikir apapun.


"Apa sebenarnya Tuhan juga menciptakan iblis dengan rasa cinta?" Tanya Cedric yang masih mencari jawaban yang membuatnya tidak merasa aneh dengan semua yang dirasakannya pada Lucia.


"Sepertinya kau masih belum mengerti juga Ced—"


"Kau yang tidak mengerti, Olas." Sambar Cedric memotong perkataan Legolas. "Jika Tuhan menciptakan cinta dan semua perasaan yang baik untuk malaikat apa hanya kebencian dan semua perasaan buruk untuk iblis?"


"Ya seharusnya memang seperti itu." Jawab Legolas terlihat sudah malas menanggapi omongan Cedric. "Semua hal baik untuk malaikat, semua hal buruk untuk iblis dan keduanya untuk manusia seperti kita."


"Lalu kenapa Lucifer bisa menjadi raja iblis, sedangkan dulu dia adalah malaikat?" Tatap Cedric. "Kau juga tahu kan kalau Tuhan menghukumnya karena rasa iri dengkinya pada manusia? Bagaimana bisa seorang malaikat memiliki perasaan itu yang seharusnya tidak dirasakannya?"


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2