GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Memberikan Kehangatan


__ADS_3

Lucia bersama dengan Legolas mendatangi panti asuhan Greenville. Mereka mampir ke sana sebelum pergi ke suatu tempat yang akan menjadi tempat mereka tinggal menghabiskan hidup mereka bersama.


Legolas berada di ruangan Bethany untuk berbicara sebentar dengan ibu angkatnya itu sedangkan Lucia hanya berdiri di luar memperhatikan anak-anak yang sedang bermain salju di tengah-tengah halaman. Annie bersama dengannya.


"Kau harus mendengar alasan kenapa ibu kandungmu meninggalkan dirimu, Olas. Dia melakukannya karena terpaksa. Ayahmu meninggal dan dirinya hanya sendirian sedangkan keluarganya terus mencarinya untuk menikahkannya." Ujar Bethany.


"Bagiku itu bukan alasan yang bisa aku terima, bu. Asalkan dia niat dan berusaha pasti semua akan baik-baik saja. Keluarganya sangat kaya, tidak seharusnya dia meninggalkan anak dari pria yang dia cintai di panti asuhan." Jawab Legolas dengan wajah muram. "Sungguh bu, itu bukan alasan yang bisa aku terima."


"Lalu apa yang akan kau lakukan saat ini? Di mana kau akan tinggal? Kau meninggalkan Kryvcraz? Bagaimana kau akan bertahan hidup bersama Cia?" Tanya Bethany. "Aku tidak mengira kalau akhirnya kau akan datang kembali ke tempat ini dengan Cia. Apa kalian akan menikah? Kau tidak jadi melanjutkan kuliah kan?"


"Entahlah bu, aku tidak ingin memikirkan semua hal tersebut. Aku hanya akan menjalani semuanya saja mulai saat ini." Ucap Legolas sedikit mengha napas. "Aku akan memberimu kabar dimana aku akan tinggal secepatnya."


"Di kota mana kau akan tinggal?"


"Di sini, di Parvyzki." Jawab Legolas. "Bu, saat dalam sebulan aku tidak menghubungimu, aku mohon padamu untuk menemui Cia dan bawa dia ke sini. Biarkan Cia tinggal bersama denganmu dan anak-anak lainnya."


"Apa maksudmu? Memang kau mau ke mana?" Bethany tampak tidak mengerti mendengar perkataan Legolas.


"Tolong jaga Cia kalau aku tidak ada, bu." Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Legolas sebelum dirinya bangkit berdiri.


Legolas berjalan keluar dari ruangan tersebut dan berdiri menatap Lucia yang membelakanginya.


"Apa kau tidak suka salju, Cia?" Tanya Annie yang berdiri di samping Lucia.


"Aku suka, tapi salju yang tidak suka padaku." Jawab Lucia dengan datar.


"Cia." Panggil Legolas.


Lucia menoleh ke belakang menatap pemuda itu. "Apa kita akan tinggal di sini, Olas?" Tanya Lucia.


"Tidak, kita akan pergi sekarang." Jawab Legolas.

__ADS_1


Dengan segera Legolas berjalan mendekati Lucia dan membuka payung hijau yang dibawanya. Lalu pemuda itu menjulurkan tangannya pada Lucia.


"Ayo kita pulang, Cia." Seru Legolas.


Lucia langsung meraih tangan Legolas dan berjalan masuk ke dalam payung untuk meninggalkan panti asuhan tersebut.


Salju turun tidak terlalu lebat, namun tetap saja untuk gadis iblis yang tinggal di dunia manusia itu bukan sesuatu yang bagus.


Lucia berjalan sambil mengaitkan tangannya ke lengan Legolas yang membawa payung. Kedua orang itu terus berjalan setelah turun dari bus di sebuah halte. Untuk mencapai tujuannya, mereka masih harus menempuh sekitar satu kilometer berjalan kaki.


"Apa kau kedinginan?" Tanya Legolas menatap Lucia yang terus memeluk lengannya.


Lucia mengangguk tipis menjawabnya. Legolas menatap mata Lucia yang dekat dari pandangannya. Warna mata gadis itu benar-benar sudah berubah.


"Tapi ini tidak masalah. Asalkan aku bersama denganmu, sesuatu di dalam diriku terasa sangat hangat." Jawab Lucia.


Legolas memulas senyum menanggapi perkataan Lucia. Dan pemuda itu menghentikan langkahnya, ada sesuatu hal yang ingin dikatakannya pada Lucia saat ini.


"Aku tidak peduli meski aku berbuat dosa, aku mencintaimu walau harus ke neraka." Ucap Legolas setelah itu mendekatkan wajahnya ke wajah Lucia untuk mencium gadis itu.


Lucia terkejut mendengar perkataan Legolas. Walau sebelumnya dulu ia ingin Legolas mengatakan hal tersebut, namun saat Legolas mengatakannya sekarang, hal itu menjadi terdengar tidak menyenangkan. Itu membuat air matanya keluar begitu saja.


Akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah bangunan kecil yang bertuliskan Burke Tailor, tempat yang pernah Legolas datangi. Ya, tempat itu adalah rumah dari orang tua ayah kandung Legolas, Haven Burke.


"Selamat datang." Seru pria tua yang adalah kakek Legolas menyapa kehadiran Legolas dan Lucia yang masuk. Ia adalah Pietro Burke. "Kau lagi? Apa kali ini kau ingin membuat pakaian?" Pietro menatap Legolas.


"Kakek, sebenarnya aku adalah cucumu." Ucap Legolas.


Saat yang bersamaan, neneknya datang dari dalam rumah, mendengar apa yang dikatakan Legolas. Wanita tua tersebut adalah Daphne Burke. Ia dan sang suami menjadi saling pandang setelah mendengar perkataan Legolas.


"Sebenarnya anak kalian memiliki seorang anak sebelum dia meninggal. Dan anak itu adalah aku sendiri." Lanjut Legolas.

__ADS_1


Lucia yang berdiri di samping Legolas tidak bergeming, dirinya hanya menatap pemuda itu dengan tatapan serius.


Kedua orang paruh baya itu menangis mendengar perkataan Legolas. Mereka tidak mengira kalau seorang pemuda yang datang ke tempatnya adalah anak dari putra mereka.


"Mungkin kalian terkejut mendengar perkataanku. Tapi benar, anak kalian Haven Burke memiliki seorang anak dengan wanita bernama Edith Gringger. Tapi selama ini aku dibesarkan di panti asuhan Greenville." Terang Legolas dengan air mata yang mengalir.


"Ya, akui pernah mendengar kalau Haven bersama dengan seorang wanita kaya raya, bahkan aku juga pernah mendengar kalau wanita itu mengandung anaknya tapi aku tidak pernah mengira kalau wanita itu melahirkan anaknya karena kabar yang beredar, dia menggugurkannya." Seru Daphne dengan penuh air mata.


"Apa yang kau katakan?" Pietro tampak terkejut mendengar perkataan istrinya.


"Maafkan aku, aku merahasiakan kabar tersebut karena waktu itu kau sangat marah ketika Burke pergi dari rumah." Jawab Daphne. Wanita tua itu lalu berjalan mendekati Legolas dan langsung memeluk pemuda itu. "Aku senang kalau ternyata Haven memiliki seorang putra."


"Sungguh kau anak dari Haven?" Kali ini Pietro mendekati Legolas.


Legolas hanya sedikit mengangguk menjawabnya. Pietro langsung memeluk Legolas juga. Ia merasa sangat bahagia mengetahui anaknya memiliki seorang putra.


"Maafkan aku karena waktu itu tidak mengatakannya padam." Ucap Legolas.


"Pantas saja, kau sangat mirip dengan putraku. Bahkan tinggi badan kalian berdua sangat mirip. Melihatmu seperti aku melihat Haven putraku." Ujar Pietro. "Kami berdua senang mengetahui kabar kalau kau cucu kami."


"Kakek, nenek, kalau boleh kami akan tinggal bersama kalian di sini." Tatap Legolas.


Daphne mengantar Legolas dan Lucia ke sebuah kamar yang menjadi kamar mereka. Kamar tersebut berada di lantai tiga bangunan itu. Ruangan itu dulunya adalah kamar Haven Burke, ayah Legolas.


"Ini adalah rumahmu juga, kami sangat senang kau datang sebelum kami meninggal." Daphne kembali memeluk Legolas ketika mengantar ke kamar. "Beristirahat lah, aku akan mengambil minuman dan makanan untuk kalian berdua."


Setelah pintu ditutup oleh Daphne yang keluar, Legolas membalikkan badannya. Ia melihat Lucia yang berdiri di dekat jendela yang cukup besar, memandang keluar di mana salju turun terlihat sangat indah.


Dengan segera Legolas memeluk Lucia dari belakang, mendekap gadis itu untuk memberikan kehangatan tanpa berkata apapun.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2