
Lucia menatap dengan datar kepada Leviathan yang berada di hadapannya. Gadis itu tidak memperlihatkan ekspresi terkejut pada kehadiran seorang pemuda yang merupakan sesama iblis. Padahal pemuda iblis itu adalah jodohnya.
"Apa kau sangat terkejut hingga tidak bisa berkata apapun, Lucia?" Tanya Leviathan dengan menatap tajam Lucia.
"Siapa kau? Kenapa kau tahu nama asliku?" Lucia malah balik bertanya dengan tatapan datar.
Mendengarnya membuat Leviathan menjadi kesal. Walau ia menahan emosinya namun dengan melihat ekspresi datar dari jodohnya tersebut memang selalu membuatnya menjadi kesal.
"Aku tidak mengenalmu."
"Bagaimana mungkin kau bisa tidak mengenaliku?" Seru Leviathan dengan kesal. "Kau pasti hanya berpura-pura kan?!"
"Apa aku harus mengenalmu?" Tanya Lucia.
"Gadis bodoh!! Ayahmu akan membakarmu nanti!!"
"Ayah? Maksudmu si malaikat yang dibuang Tuhan itu?" Tanya Lucia lagi sambil berjalan mendekati Leviathan. "Ah, ternyata kau si cacing neraka."
"Aku akan membakarmu kalau berani memanggilku dengan sebutan itu lagi!!" Leviathan terlihat sangat kesal pada Lucia.
Cacing neraka adalah julukan Leviathan untuk dirinya karena ia terkenal dengan kemampuannya menjerumuskan manusia ke dalam dosa dengan cara menggrogoti manusia tersebut dengan rasa iri dengki sehingga manusia melakukan hal-hal buruk dan jatuh ke dalam dosa. Namun julukan tersebut sangat tidak ia suka karena itu terdengar seperti sebuah ejekan untuknya. Leviathan adalah iblis yang berprestasi dengan wajah yang tampan.
"Di mana tandukmu?" Lucia mencondongkan tubuhnya memperhatikan kepala Leviathan yang tak memiliki tanduk. "Kenapa kau juga memotong rambutmu?"
Saat ini penampilan Leviathan memang tampak berbeda dari sebelum dirinya ke dunia manusia. Pemuda itu yang semula memiliki rambut merah panjang sebahu, memotong rambutnya menjadi terlihat seperti pemuda manusia pada umumnya. Saat di neraka semua iblis yang menginjak usia 20.000 tahun memiliki tanduk panjang. Leviathan yang melakukan ritual penghapusan dosa kekal sebelum ke dunia menjadi tidak memiliki tanduk, dan sepenuhnya menjadi manusia. Berbeda dengan Lucia yang masih menjadi iblis karena tidak melakukan ritual tersebut.
"Kau harus ikut pulang ke neraka bersamaku!!"
"Bagaimana jika aku tidak mau? Aku akan tinggal di dunia manusia selamanya." Jawab Lucia.
"Itu mustahil!!" Seru Leviathan. "Aku akan membuka pintu neraka sekarang, dan kau harus ikut denganku!!
Leviathan menarik kalung yang dipakainya dan menggigit ibu jarinya mengeluarkan darah hitam, lalu memegang Lucia. Namun dirinya terhentak karena merasakan rasa panas dari gadis tersebut. Hingga kalung yang dibawanya terjatuh.
__ADS_1
"Kenapa kulitmu terasa panas sekali?" Tanya Leviathan dengan heran sambil memegang tangannya yang masih terasa panas.
Lucia memungut kalung milik Leviathan secepatnya, dan memperhatikan sebuah bandul berbentuk kunci.
"Apa pintu neraka akan terbuka jika meneteskan darah ke bandul kunci ini?" Tanya Lucia.
"Berikan padaku!! Kembalikan!!" Leviathan berusaha mengambil kalung miliknya namun Lucia memegang tangannya hingga sekali lagi pemuda itu kesakitan.
"Sepertinya kau tidak tahu, Levi. Saat ini kau hanya manusia biasa sedangkan aku masih iblis. Aku tidak melakukan ritual penghapusan dosa kekal karena itu kau tidak mungkin bisa membawaku kembali ke neraka." Ujar Lucia sambil membuka topi yang dipakainya menunjukan tanduknya.
Leviathan sempat terkejut melihat Lucia yang terlihat sangat menyeramkan dengan tatapan tajam padanya. Saat di neraka Lucia terkenal tidak pernah mendengarkan perkataan siapapun, termasuk ayahnya yang merupakan raja iblis. Gadis itu selalu berbuat sesukanya bahkan tidak jarang membakar para penjaga. Kekuatannya sebagai keturunan raja dan ratu iblis membuatnya tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya, apalagi Lucia merupakan calon ratu iblis. Walaupun Leviathan adalah pendampingnya kelak, namun kekuatannya tidak mampu melampau gadis itu hingga mereka menikah nanti.
"Bukankah kau memiliki misi lain?"
"Karena kau ayahmu jadi memberikan misi untuk membawamu kembali ke neraka." Jawab Leviathan. "Lucia, kau harus segera kembali ke neraka kalau tidak—"
"Kau akan membakarku?" Tatap Lucia dingin. "Kau hanya manusia biasa, kalau kau menggangguku aku yang akan membakarmu."
"Jangan coba-coba menggangguku!!" Seru Lucia sambil memperlihatkan gestur membuat bola api.
"Tu—tunggu dulu, Lucia!!"
Tiba-tiba pintu terbuka, Legolas yang membuka pintu melihat Lucia seperti akan mengeluarkan bola api, dengan cepat pemuda itu memegang tangan Lucia namun dirinya terhentak karena rasa panas di tangannya.
"Olas, ada apa?" Tanya Lucia menoleh pada Legolas dengan terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Legolas menahan amarahnya karena bagi Legolas saat ini keberadaan Leviathan di sana sebagai manusia biasa. "Sudah aku bilang jangan membakar apapun lagi!!"
Leviathan yang berhasil lolos dari maut merasa lega. Jika saja Legolas tidak datang, mungkin dirinya sudah menjadi abu saat ini.
Legolas menoleh pada Leviathan dengan sebuah kepanikan terlihat dari wajahnya. Ia takut jika baru saja Lucia membuat masalah pada orang itu.
"Maafkan dia ya, dia pasti mengganggumu kan? Aku minta maaf. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Legolas menghampiri Leviathan. "Eh, kenapa matamu terlihat sama dengan dia?" Legolas menoleh pada Lucia.
__ADS_1
Warna bola mata iblis semuanya adalah berwarna merah, termasuk Leviathan yang walaupun sudah melakukan ritual penghapusan dosa kekal. Satu-satunya yang tidak akan berubah adalah warna bola mata iblis.
"Aku tidak mengenalnya." Jawab Lucia datar.
Legolas kembali menoleh pada Leviathan. Pemuda iblis itu segera tersenyum pada Legolas. Ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Legolas.
"Kenalkan, namaku Levi Zucker, usiaku 20 tahun, dan aku baru saja pindah di rumah ini." Ujar Leviathan dengan senyum ramah sambil bersalaman dengan Legolas. "Aku mendengar dari nyonya Ursula kalau tetangga samping rumahku adalah seorang pemuda yang seumuran denganku dan bersama seorang gadis yang merupakan sepupunya."
"Namaku Legolas, kau bisa memanggilku dengan Olas. Dia adalah Cia. Dia gadis yang aneh, jadi jangan terkejut dengan sikapnya nanti ya." Ujar Legolas tanpa curiga sedikitpun pada mereka berdua yang sudah saling kenal. "Cia, kau bawa apa?"
"Dia memberiku kalung ini, dia bilang sebagai hadiah perkenalan." Jawab Lucia berbohong.
"Benarkah? Seharusnya kau tidak perlu melakukannya, Levi." Seru Legolas. "Cia, kembalikan kalung itu padanya."
Lucia menatap Levi agar pemuda itu mengatakan sesuatu agar Lucia tidak perlu mengembalikan kalung tersebut. Ketika Legolas tidak melihat ke arah Lucia, gadis itu menggerakan tangannya siap membuat bola api untuk mengancam Leviathan.
"Ti—tidak apa-apa. Dia bisa menerimanya." Jawab Leviathan tersenyum paksa.
Legolas menoleh pada Lucia dan melihat Lucia tampak berbeda. Biasanya gadis itu akan mengucapkan kalimat andalannya untuk berterimakasih namun kali ini tidak.
"Baiklah, karena sudah malam kami masuk dulu." Ujar Legolas.
"Ya, besok aku juga harus mulai bekerja." Jawab Levi.
Legolas segera masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Lucia lagi bersama Leviathan. Gadis itu harus mengancam Leviathan agar menyembunyikan identitasnya dari Legolas karena ia tidak ingin Legolas tahu kalau ada iblis lain di dekat mereka.
"Kau harus tetap diam, kalau tidak aku akan langsung membakar tubuh manusiamu itu!?" Seru Lucia menatap datar Levi.
"Baiklah, tapi ada hal yang harus kau keta—"
Lucia tak memedulikan Leviathan yang hendak berkata sesuatu padanya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Melihatnya Leviathan hanya bisa menahan rasa kesal-nya karena ia gagal memberitahukan hal yang penting pada jodohnya tersebut.
__ADS_1