
Lucas berjalan masuk mendekati Lucia. Sebelum dirinya datang ke kamar adiknya itu, ia memikirkan segalanya mengenai keinginan Lucia yang hidup di dunia manusia.
"Ada apa kau ke sini? Apa kau ingin menertawakan aku?" Tatap Lucia dengan tajam pada Lucas. "Pergilah, aku tidak ingin melihatmu di sini."
"Lucia, dengarkan perkataanku, aku ingin tahu jawabanmu agar aku bisa memutuskan apa yang akan aku lakukan." Ujar Lucas.
Lucia yang awalnya membuang muka pada Lucas yang berdiri dihadapannya dengan menatapnya, menoleh pada kakaknya itu. Ia mencoba menelisik apa yang hendak Lucas katakan, akan tetapi ia tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Kau mendengarku kan?" Tanya Lucas.
"Katakan saja!" Ketus Lucia.
"Kau ingin tahu bagaimana iblis bisa berubah menjadi manusia kan?"
Pertanyaan Lucas membuat Lucia menjadi penasaran. Itu adalah hal yang sangat ingin dirinya ketahui. Sejak awal dia sudah mengira kalau ternyata cara seperti itu memang ada.
"Tapi itu mustahil."
"Katakan saja! Biar aku yang menilai itu mustahil atau tidaknya." Jawab Lucia tidak sabar mendengar mengenai hal tersebut.
"Tujuh belas ribu tahun lalu atau tujuh belas tahun lalu dunia manusia, seorang wanita iblis diutus untuk melakukan sebuah misi ke dunia manusia. Dia adalah Lilith, adik dari sang ratu iblis." Lucas memulai ceritanya.
"Adik ratu iblis? Maksudmu, adiknya mama?" Tatap Lucia tampak tidak percaya. "Aku tidak pernah mendengar kalau mama mempunyai seorang adik."
"Karena dia berubah menjadi manusia, karena itu semua tentangnya dirahasiakan dari dunia iblis. Papa tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Dia tidak mau ada iblis yang berubah menjadi manusia lagi."
"Jika seperti itu, aku juga bisa menjadi manusia?" Lucia tampak antusias saat ini. Ia seperti melihat secerca harapan mengenai dirinya yang bisa berubah menjadi manusia. Sedangkan Phoebe yang berdiri di sampingnya tampak terkejut mendengar cerita tersebut. "Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa berubah menjadi manusia?"
"Aku ingin tahu terlebih dahulu, apa alasanmu ingin menjadi manusia?" Jawab Lucas menahan dirinya untuk melanjutkan dirinya memberitahu semuanya pada Lucia sebelum ia tahu alasan tersebut. "Aku akan memberitahumu setelah kau menjawab aku."
Sejenak Lucia terdiam. Ia tahu kalau tujuannya ingin menjadi manusia karena dirinya ingin tinggal bersama dengan Legoas. Bersama-sama dengan pemuda yang dicintainya itu. Namun mengatakannya pada Lucas terdengar sangat memalukan ditambah Phoebe terus mendesaknya dengan menata agar aku mau bicara.
__ADS_1
"Apa karena kau mencintai, Legolas?" Tanya Lucas.
Lucia menundukan kepalanya. Ia baru ingat kalau sebelum dirinya menghilang dari dunia manusia, secara gamblang dirinya mengatakan kalimat pernyataan cinta tersebut pada Legolas, Jadi tidak mungkin jika Lucas tidak mengetahui hal tersebut.
"Aku ingin hidup bersama dengan Olas. Aku mencintainya." Jawab Lucia menatap tegas kakaknya.
Jawaban itu memang sudah diketahui oleh Lucas, namun pemuda itu tetap ingin Lucia mengatakannya lagi padanya.
"Lucas, cepat katakan bagaimana caranya." Pinta Lucia semakin tidak sabar. "Aku ingin menjadi manusia. Aku tidak ingin menikah dengan Leviathan ataupun menjadi ratu iblis."
"Ketika menjalankan misinya di dunia manusia, Lilith bertemu dengan seorang pria dan mereka jatuh cinta." Lucas kembali melanjutkan ceritanya. "Hingga Lilith melupakan misinya dan menjadi buronan pasukan iblis yang dikirim oleh papa."
Lucas mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan perkataannya.
"Saat itu, Lilith sedang mengandung anak dari pria itu, namun sebelum dia melahirkan, pasukan iblis mengetahui dimana dirinya berada dan langsung menangkapnya. Akan tetapi pria yang mencintainya tidak tinggal diam. Dia menghentikan pasukan iblis dengan mengorbankan nyawanya, dan saat itu juga Lilith kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya."
"Lalu bagaimana dengan Lilith? Kenapa dia bisa berubah menjadi manusia? Tidak, maksudku kenapa dia tetap menjadi manusia padahal dia sudah kehilangan pria yang dicintainya?" Tanya Lucia merasa aneh dengan cerita Lucas.
"A—apa maksudmu?" Tanya Phoebe dengan wajah yang terkejut.
"Manusia terlahir karena rasa cinta seseorang. Seorang ibu di dunia manusia melahirkan anak mereka dengan mempertaruhkan nyawa mereka karena itu kehidupan baru lahir. Begitu pun dengan yang seharusnya jika iblis ingin menjadi manusia. Seseorang yang mencintainya harus rela mengorbankan nyawanya agar kehidupan baru lahir. Supaya iblis tersebut mendapatkan kelahiran baru, seperti seorang bayi yang lahir dari cinta ibunya."
Lucia tidak mampu berkata apapun lagi. Cara untuknya menjadi seorang manusia ternyata begitu sulit. Jelas dirinya tidak mau memiliki nasib yang sama dengan adik dari ibunya. Ia tidak ingin Legolas mengorbankan nyawanya demi merubahnya menjadi manusia, itu sama saja hal yang sia-sia, karena dirinya tidak akan ingin hidup di dunia manusia tanpa adanya Legolas.
"Sekarang apa kau mengerti kenapa aku tidak ingin kau berubah menjadi manusia?" Ujar Lucas. "Hal ini adalah yang terbaik. Kau tetap menjadi iblis dan Legolas menjalani kehidupan normalnya sebagai manusia biasa."
"Kalau begitu aku ingin kau mendengarkan aku, Lucas." Ucap Lucia.
...----------------...
Legolas menekan bel rumah Cedric Hurtman yang juga merupakan rumah dari ibu kandungnya, Edith Gringger. Kehadirannya di sana hanya untuk memastikan sesuatu sebelum dirinya memutuskan satu hal.
__ADS_1
"Mohon maaf, ada keperluan apa?" Tanya pelayan wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahun menatap Legolas sesaat setelah membukakan pintu untuknya.
"Legolas?" Edith yang sedang duduk menikmati tehnya di sofa yang dekat pintu masuk melihat pada kedatangan Legolas. Cedric juga duduk di salah satu sofa bersama ibunya. "Masuklah, Legolas. Ikutlah minum teh bersama dengan kami." Edith bangkit berdiri dan memberikan gestur tangannya agar Legolas masuk
Legolas berjalan mendekat ke arah ibu dan anak yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Sebentar Legolas melihat pada Cedric yang juga menatapnya heran dengan maksud tujuannya datang ke rumahnya.
"Duduklah." Ucap Edith.
"Aku ingin kau menjawab satu pertanyaanku, nyonya." Seru Legolas, matanya menatap lekat ibunya dengan dingin.
Edith menjadi terkejut melihat sikap dan bicara Legolas yang dingin padanya.
"Apa benar kau ibu kandungku?" Tanya Legolas tanpa basa basi.
Pertanyaan Legolas membuat Edith terkejut, begitupun dengan Cedric yang masih duduk di sofa. Pemuda itu langsung melihat pada ibunya yang menjadi tampak tegang.
"Katakan yang sebenarnya padaku. Apa itu benar? Apa aku adalah anak kandungmu?" Legolas mengulang pertanyaan dengan kalimat yang berbeda.
"Ya, kau memang anakku, aku adalah ibumu. Itu benar." Jawab Edith dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Legolas tertegun sesaat dan setelahnya berjalan ke arah meja di dekat sofa lalu meletakan bingkisan Natal yang ia terima dari Edith, ia juga meletakan kunci mobil yang diberikan perusahaannya ke meja tersebut. Setelah itu, Legolas langsung berjalan keluar dari rumah itu tanpa mengatakan hal apapun lagi.
Kebenaran mengenai ibu kandung Legolas membuat dirinya sangat bersedih. Baginya, tidak ada alasan lain yang bisa dirinya terima mengenai alasan kenapa dirinya dibuang ke panti asuhan selain karena faktor ekonomi. Sedangkan Edith Gringger termasuk dalam pengusaha terkaya di negara tersebut sehingga itu membuat Legolas merasakan rasa sakit yang sangat dalam. Itu membuat dirinya merasa kalau kelahirannya bukan sesuatu yang diharapkan oleh ibunya.
Hari sudah sangat malam ketika Legolas sampai di depan rumahnya. Rasa sedih yang dirasakannya membuat langkahnya gontai, bahkan tangannya menjadi tidak bisa ia kendalikan saat membuka kunci rumahnya.
"Nasibku memang sial." Gumam Legolas dengan air mata yang menetes.
Setelah itu ia membuka pintu rumahnya. Ketika Legolas mengangkat kepalanya, dirinya serasa membeku karena melihat seseorang yang ada di dalam rumahnya.
"Aku tidak peduli walau aku akan melebur menjadi abu. Aku mencintaimu walau harus meninggalkan neraka." Ucap Lucia yang berdiri di hadapan Legolas.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...