
"Dengarlah Cia, saat di mall nanti jangan pergi jauh dariku!! Kau harus selalu bersama denganku. Jangan berbuat keributan, jangan mencuri, jangan mengatakan hal-hal aneh mengenai iblis atau neraka, jangan sampai kau mengeluarkan bola apimu dan membakar apapun. Kau juga tidak boleh melepas topimu!!" Seru Legolas menatap Lucia dengan lekat. "Apa kau mengerti?"
"Hhmm." Jawab Lucia yang berdiri di hadapan Legolas tanpa ekspresi.
Pemuda berambut cokelat itu mengajak si gadis iblis Lucia pergi ke mall seperti janjinya kemarin. Walau hanya dengan sisa uang dari gajinya bulan ini, Legolas berniat membelikan pakaian untuk Lucia karena selama ini gadis itu hanya memakai pakaian miliknya.
Pada dasarnya Legolas merupakan pemuda berhati baik dan lembut karena ia merupakan anak tertua dari panti asuhan dimana dirinya dibesarkan. Ia selalu memikirkan orang lain lebih dahulu dari pada dirinya sendiri. Kehidupan di panti asuhan tidak membuatnya menjadi seseorang yang egois.
"Olas, belikan apel itu!! Beli yang banyak!!" Seru Lucia menunjuk tumpukan apel merah di toko buah ketika mereka hendak berjalan ke halte bus.
"Baiklah." Legolas segera menghampiri toko buah tersebut dan membeli satu kilogram apel.
"Beli lebih banyak, Olas." Pinta Lucia ketika Legolas hendak membuka dompetnya untuk membayar apel tersebut.
Legolas melihat isi dompetnya terlebih dahulu sambil berpikir apakah akan cukup sisa uangnya hingga akhir bulan nanti.
"Berikan satu kilogram lagi." Ujar Legolas pada penjaga toko buah tersebut.
Tidak berapa lama mereka berdua sampai di depan mall terbesar di kota Kryvcraz. Karena hari ini adalah akhir pekan, keadaan mall cukup ramai. Legolas berhenti berjalan memasuki mall karena dirinya sedikit khawatir jika saja Lucia terpisah darinya dan membuat keributan.
"Aku tidak akan memberimu apelnya, semua apel itu hanya untukku." Ucap Lucia karena Legolas menatapnya yang sedang memakan apel.
"Kau ingat kata-kataku tadi kan? Jangan pergi jauh dariku!" Tanya Legolas memastikan.
"Hhmm." Jawab Lucia sambil mengunyah apel.
"Karena terlalu ramai, sebaiknya kita langsung saja mencari—"
Perkataan Legolas terhenti karena Lucia sudah lebih dulu jalan meninggalkannya menuju ke sebuah toko elektronik yang dimana televisi besar terpajang di depan toko tersebut.
Legolas menahan emosinya dengan menghela napas, karena gadis itu sama sekali tidak mendengar ucapannya barusan maupun saat di rumah. Secepatnya ia melangkahkan kakinya menghampiri Lucia yang tampak takjub melihat televisi yang sedang menayangkan gambar bawah laut. Sedangkan seorang karyawan toko elektronik tersebut menghampiri Lucia dan mencoba ramah pada gadis itu walau ucapannya diabaikan.
__ADS_1
"Televisi dunia manusia warnanya lebih tajam dan jauh lebih bagus dari gambar televisi di neraka. Walaupun ukurannya lebih kecil dari pada televisi di kamarku tapi ini jauh lebih bagus." Ujar Lucia yang tidak mengedipkan matanya saat melihat layar televisi tersebut. "Olas, belikan aku televisi ini."
Entah sudah berapa kali pemuda itu menghela napas untuk menahan rasa kesalnya pada Lucia sejak gadis itu hadir di hidupnya. Tangan pemuda itu menyambar lengan Lucia dengan cepat dan menariknya meninggalkan toko elektronik itu. Tidak mungkin ia mampu membeli televisi sebesar lemari pakaiannya dengan sisa gajinya saat ini. Bahkan gajinya selama setahun pun tidak cukup untuk membelinya.
"Aku akan membelinya saat aku sudah kaya raya." Ujar Legolas sambil berjalan menarik Lucia.
"Hhmm, aku akan menunggu kau menbelinya." Ucap Lucia.
Apa yang dikatakan gadis itu membuat Legolas menolehnya. Perkataan dirinya tadi sebenarnya memiliki arti sampai kapanpun ia tidak akan membeli televisi sebesar itu karena suatu hal yang mustahil dirinya menjadi kaya raya, namun Lucia dengan mudahnya bilang akan menunggunya membeli televisi itu.
"Kau bisa mengambil beberapa setel pakaian yang kau suka." Legolas menoleh pada Lucia saat mereka berada di dalam sebuah toko pakaian wanita. "Kau suka warna hitam dan merah kan?"
"Ya, itu warna iblis." Jawab Lucia ringan. "Warna apa yang kau suka, Olas?"
"Hijau." Jawab Legolas. "Hijau bermakna kelahiran kembali. Ya namaku juga memiliki arti yang ada unsur warna itu. Legolas berarti dedaunan hijau dan Greenville adalah nama panti asuhan dimana aku dibesarkan yang berarti kota hijau."
"Kalau begitu aku akan membeli pakaian berwarna hijau." Ucap Lucia. "Agar kau juga bisa memakainya, seperti aku memakai pakaianmu."
Lucia menatap ke sekitar, memperhatikan beberapa gadis berlalu lalang. Ia ingin memakai pakaian yang biasa dipakai oleh gadis manusia.
"Aku ingin seperti dia."
Lucia menunjuk pada salah seorang gadis yang sedang melintas. Gadis itu memakai gaun di atas lutut. Lucia menganggapnya jika dirinya memakai pakaian seperti juga maka dirinya akan bisa merasakan cinta, karena setiap gadis yang memakai pakaian seperti itu terlihat sangat mencintai pasangannya yang berjalan dengan mereka, bergandengan tangan dengan tatapan hangat penuh cinta.
"Aku rasa itu bagus." Seru Legolas pada Lucia yang mencoba gaun yang dipilihkannya, gaun berwarna hijau."
"Aku akan langsung memakainya." Ucap Lucia.
"Ya, baiklah." Jawab Legolas. "Aku akan membelikanmu pakaian untuk di rumah juga dan pakaian da—" Perkataan Legolas terhenti karena sadar ia juga harus memilih pakaian dalam untuk gadis itu.
"Pakaian dalam. Aku tidak memakai pakaian da—"
__ADS_1
Legolas langsung menutup mulut Lucia karena sejak awal seorang karyawan toko bersama dengan mereka untuk melayani mereka.
"Tolong bantu cari beberapa pakaian dalam untuknya juga." Ucap Legolas dengan sedikit malu pada karyawan toko tersebut.
Saat karyawan toko sedang sibuk mencari pakaian dalam untuk Lucia, Legolas mengambil sebuah topi rajut. Ia melihat ke kanan dan kekiri sebelum memakaikannya pada Lucia.
"Olas, tandukku jadi terasa hangat." Kata Lucia terlihat senang dengan mata mendelik. "Aku mencintaimu."
Legolas hanya tersenyum melihat reaksi Lucia.
"Aku akan membayar semua yang sudah diambil. Ikutlah denganku ke kasir. Berjalanlah di belakangku karena kasir saat ini sangat penuh. Semakin siang mall ini semakin ramai."
"Hhmm." Lucia mengangguk dan langsung memegang ujung kaos Legolas dengan ibu jari dan telunjuknya.
Legolas segera berjalan dan mengantri di kasir. Sesekali Ia menoleh pada Lucia yang berada di belakangnya. Tampaknya Lucia sudah mengerti sekarang, dan tidak ingin sampai terpisah oleh Legolas.
Tiba-tiba dari tengah mall tersengar suara seorang pria bernyanyi, lagu yang sudah sangat Lucia hapal liriknya. Bersamaan dengan pria itu bernyanyi terdengar suara tepuk tangan meriah.
Legolas sibuk berhitung kira-kira ia akan menghabiskan berapa banyak uang untuk membayar semua kebutuhan Lucia saat ini. Hingga akhirnya kasir menghitung berapa harga yang harus dibayarkan untuk semua kebutuhan Lucia. Pemuda itu sedikit bernapas lega karena perhitungannya tidak terlalu jauh berbeda dengan uang yang harus ia bayarkan.
"Dengar, pulang dari sini kita akan pergi ke panti asuhan tempat aku dibesarkan." Ujar Legolas. "Kemungkinan kita akan pulang malam ataupun menginap—"
Legolas terkejut saat menoleh ke belakang. Ia tidak melihat Lucia ada di sana. Legolas mulai mencari ke sekitar sana dengan pandangannya. Ia merasa bodoh karena tidak menyadari Lucia melepas ujung kaos yang dipegang gadis itu.
Ia harus segera menemukan Lucia sebelum gadis itu membuat masalah. Legolas berlari ke sekitar dan berputar untuk mencari sosok gadis yang tidak pernah mendengarkan perkataannya itu. Ia sangat khawatir hingga tidak sengaja dirinya menabrak seorang wanita yang berusia sekitar empat puluhan tahun.
"Maafkan aku." Ucap Legolas dengan pandangan ke sekitar masih terus mencari tidak melihat pada wanita berumur yang ditabraknya.
Pencarian Legolas berhenti ketika melihat Lucia yang berjalan ingin menaiki panggung menghampiri seorang penyanyi yang sedang bernyanyi dengan petikan gitar.
Penyanyi tersebut adalah seorang pria yang merupakan pemilik lagu yang berjudul Aku Mencintaimu Walau Harus Ke Neraka, dan saat ini pun ia sedang menyanyikannya. Pria itu merupakan seorang penyanyi terkenal yang bernama Cedric Hartman.
__ADS_1
"Cia? Apa yang akan dilakukannya?" Legolas berlari dengan cepat untuk menghentikan Lucia yang ingin menaiki tangga hendak ke atas panggung.