
Legolas memperhatikan noda hitam yang tidak bisa hilang di sapu tangan peninggalan orang tuanya. Nama H. Burke yang terbordir dengan benang hitam di sapu tangan itu menjadi tertutup dan tidak terlihat.
Pemuda itu menghela napas sambil memasukan sapu tangan tersebut ke saku celana belakang setelah itu membawa dua tangkap roti bakar menggunakan piring, ke Lucia yang masih sibuk memasang mata boneka.
"Kau sudah hampir menyelesaikan semuanya lagi?" Tanya Legolas terkejut memperhatikan boneka-boneka yang sudah memiliki mata.
"Ini jumlahnya dua kali lipat dari yang kemarin. Aku akan kaya kalau setiap hari aku bisa menyelesaikan berkali-kali lipat." Ujar Lucia tanpa menghentikan kegiatannya. "Kucing-kucing ini jadi terlihat senang saat memiliki mata."
"Ya, kau benar. Mereka jadi melotot tajam." Jawab Legolas sambil mengunyah roti."Itu terlihat menakutkan."
"Olas, apa jangan-jangan kau takut pada pada kucing?"
"Tidak" Jawab Legolas. "Makanlah rotinya, aku akan berangkat. Oh iya, pulang nanti aku akan mampir berbelanja sedikit kebutuhan jadi aku akan pulang lebih lama."
"Aku ikut." Ucap Lucia.
"Tidak usah, kau pasang saja semua mata boneka itu. Kau akan cepat kaya nanti." Ujar Legolas. "Aku akan membelikanmu apel lagi nanti. Tapi sebaiknya kau tidak langsung menghabiskan semua apel-apelnya dalam sekali makan. Uangku bukan hanya untuk membeli apel saja."
"Hhmm." Lucia mengangguk. "Aku mencintaimu."
"Oh iya, tadi pagi Ursula bilang agar kau ke rumahnya setelah aku pergi bekerja." Ucap Legolas.
Sepeninggalan Legolas, Lucia membawa boneka-boneka kucing tersebut ke rumah Ursula untuk menyerahkannya pada wanita itu.
"Kau benar-benar sangat cepat mengerjakannya, Cia." Ujar Ursula. "Duduklah dan makan ayam gorengnya aku akan pergi berbelanja sekarang, aku juga akan sekalian membawa boneka-boneka itu lagi. Kau sangat rajin, Cia."
Lucia menahan senyumnya mendengar perkataan Ursula yang membuat dirinya menjadi senang.
"Aku berangkat dulu ya, dan minta tolong bangunkan Gayle, gadis itu pasti belum bangun."
Setelah Ursula pergi, Lucia beranjak dari duduknya dengan masih memegang sepotong paha ayam, berjalan ke arah pintu kamar Gayle.
Di dalam kamar Gayle terkejut ketika mendengar Lucia mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkan dirinya. Gadis itu membuka selimut yang menutupi dirinya bersama seorang pemuda yang tak berbusana.
"Kau sudah bangun?" Tanya Lucas.
__ADS_1
Secepatnya Gayle menutup mulut pemuda itu karena tidak ingin Lucia mendengar suaranya.
"Diamlah, jangan mengatakan apapun!!" Seru Gayle membungkam mulut Lucas.
"Gayle, bangunlah, atau aku habiskan semua ayamnya!!" Seru Lucia setelah itu berjalan kembali ke meja makan dan duduk menikmati ayam goreng kesukaannya.
"Itu Lucia adikku?" Tatap Lucas.
"Aku bilang jangan bersuara!!" Seru Gayle kesal. "Cepat pergi dari sini!! Atau kita akan ketahuan?!"
Lucas malah tersenyum pada Gayle dan langsung mencium gadis itu, menahannya agar Gayle tidak melepaskan ciumannya. Gayle harus mendorongnya dengan kuat agar Lucas melepaskan ******* bibirnya.
"Sialan kau!! Dasar mesum!! Cepat pergi sebelum kita ketahuan bibiku!!" Seru Gayle sangat kesal pada Lucas. "Dia akan membunuhmu kalau melihatmu tidur bersamaku."
"Sebelum bibimu melakukannya aku akan menghilang secepat cahaya." Jawab Lucas mendekap Gayle. "Kau terus bilang aku mesum, padahal kau yang menggodaku. Kau memang gadis nakal."
"Kau tidak menolak aku goda. Sejak awal aku tahu bagaimana dirimu, dasar penguntit mesum." Ujar Gayle. "Kau terus mengirimkan foto diriku dari posisi vulgar, bahkan aku tahu kalau kau kemarin ada di dalam kamar mandi saat aku mandi kan? Kau memang setengah malaikat dan setengah iblis, tapi kelakuanmu sepenuhnya adalah iblis."
"Tapi kau menyukainya kan?" Lucas menyunggingkan bibirnya. "Baiklah, aku harus pergi sebelum ayahku tahu aku tidak ada di neraka atau di surga."
"Ingat ya, kau adalah budak cintaku, kau harus datang saat aku inginkan." Seru Gayle.
"Dasar sialan, aku tidak akan mengampuninya kalau dia tidak datang saat aku inginkan." Ancam Gayle.
Gayle memulas sebuah senyum senang di wajahnya. Kehadiran Lucas membuat rasa sedih akan pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya jadi terobati.
...----------------...
"Kau tidak ingin tahu aku dan Chloe kemana saja kemarin, Olas?" Tanya Leviathan saat mereka berada di meja kasir.
Legolas diam saja tak menjawab, pemuda itu sedang sibuk membersihkan meja kasir dari remahan-remahan makanan yang berserakan karena saat ini sedang tidak ada pembeli.
"Kami pergi ke mall, menonton di bioskop dan makan malam. Apa kau pernah pergi dengannya sebelumnya?" Tanya Leviathan dengan tujuan memanas-manasi Legolas yang menyukai Chloe.
"Tidak, kami hanya bertemu di sini, lain dari itu kami tidak pernah pergi bersama." Jawab Legolas. "Paling sering pulang bersama."
__ADS_1
Legolas masuk ke dalam untuk membuang sampah ke tempat sampah. Ia melihat Chloe yang sedang melihat ke arahnya juga. Gadis itu tersenyum pada Legolas namun Legolas hanya membalas senyum kaku padanya.
"Olas, kita tidak pulang bersama?" Tanya Chloe yang menghampiri Legolas saat jam kerja mereka usai. Leviathan juga menghampiri mereka yang berdiri di dekat pintu keluar karyawan.
"Ayo kita pulang bersama." Tambah Leviathan.
"Aku akan ke supermarket untuk berbelanja sebentar." Jawab Legolas. "Aku pergi dulu ya."
Saat berada di luar pintu, Legolas menghela napasnya dengan meregangkan tubuhnya sebentar. Ia ingat perkataan Lucia kemarin jadi dia tidak ingin berkata hal buruk lagi terhadap dirinya sendiri.
Legolas masuk ke dalam supermarket dan memilih-milih barang dengan teliti. Alasan ia tidak mengajak Lucia karena ia takut jika Lucia akan menginginkan banyak hal untuk dibelinya, dan dirinya akan sulit untuk menolak permintaannya.
Pemuda itu berkeliling supermarket dengan memperhatikan harga barang yang diambilnya, ia akan mengambil barang yang sedang diskon dan tidak membelinya jika sedang tidak ada promosi.
Tidak berapa lama pemuda itu selesai berbelanja. Dan setelahnya ia mampir ke toko kue untuk membeli sepotong kue tart yang ingin diberikannya pada Lucia. Selama di dunia manusia Lucia belum pernah mencicipi kue tersebut.
"Ya, beli sepotong saja." Jawab Legolas saat pelayan toko bertanya padanya berapa banyak yang ingin ia beli.
Pelayan toko tersebut memberikan sepotong kue tart yang dipesan Legolas dengan hanya meletakannya di piring kecil yang terbuat dari kertas. Legolas tidak ingin komplain karena ia tahu kalau dirinya hanya membeli sepotong kue jadi tidak mungkin mereka akan membungkusnya. Walaupun akan terasa aneh jika ia membawanya pulang dengan seperti itu.
Legolas menghela napasnya namun tiba-tiba seorang wanita yang baru masuk ke toko tersebut menabraknya dan membuat sepotong kue tart yang dibawanya mengenai pakaian wanita tersebut.
"Aku minta maaf, nyonya." Ucap Legolas sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku belakang celananya dan membersihkan pakaian wanita yang menabraknya.
"Tidak, aku yang salah. Aku yang minta maaf karena menabrakmu. Maafkan aku." Ujar Edith, wanita yang ditabrak Legolas. "Kau bukannya pemuda yang menabrakku kemarin di mall?"
Legolas tampak bingung karena ia tidak menyadari jika wanita itu yang ditabraknya waktu mencari Lucia saat di mall kemarin.
"Sepertinya kau tidak ingat." Ujar Edith. "Maaf ya, kue mu jadi jatuh, kalau begitu aku akan menggantinya."
"Tidak perlu nyonya."
"Tidak apa-apa. Oh iya, pasti kau juga tidak tahu kan kalau aku ini ibunya Cedric. Kemarin dia bercerita padaku kalau dia datang ke rumahmu." Seru Edith. "Berikan sapu tanganmu, biar aku yang mencucinya. Saat sudah bersih aku akan meminta Cedric mengembalikannya." Wanita berusia empat puluhan tahun itu langsung mengambil sapu tangan yang dipegang Legolas.
Legolas keluar dari toko kue dengan menghela napas. Ditatapnya kotak kue tart yang diberikan Edith sebagai ganti dari sepotong kue tart yang jatuh karena ditabraknya. Padahal dirinya sudah menolaknya tetapi wanita itu terus memaksa untuk menerimanya.
__ADS_1
Sambil berjalan, Legolas teringat dengan perkataan Lucia kemarin mengenai ibu Cedric yang mencari Cedric. Ia bisa merasakan betapa baiknya wanita itu tadi.
"Cedric benar-benar beruntung memiliki ibu yang sangat mencintainya." Ucap Legolas.