
Hari libur Legolas digunakannya untuk bersantai di rumah. Pemuda itu tidak ingin kemanapun dan lebih memilih untuk berbaring di atas kasurnya. Sejak bangun tidur tak ada yang dikerjakannya karena dirinya merasa enggan dan malas melakukan apapun. Sedangkan si gadis iblis sejak semalam ia terus menjahit mata boneka dengan sangat serius.
Legolas mulai teringat mengenai nama yang ada di sapu tangan yang diberikan Bethany padanya. H. Burke. Dirinya jadi merasakan sedikit rasa penasaran mengenai orang tuanya. Apakah sebaiknya ia mencari tahu siapa orang tuanya atau kah itu tidak perlu? Ia terus memikirkan hal tersebut hingga kepalanya terasa sakit.
Dengan sangat berat pemuda itu membuang napas panjang.
"Kau sudah membuang napas sebanyak tujuh kali sejak setengah jam yang lalu, Olas." Ujar Lucia tanpa menghentikan kegiatannya.
Pemuda yang berada di jarak tiga meter darinya tidak menanggapi perkataan gadis itu. Bahkan sekali lagi ia membuang napas sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Aku ingin makan kue tart lagi seperti tempo hari. Belikan aku kue tart-nya, Olas." Seru Lucia. "Apelku juga tersisa satu sejak kemarin. Aku tidak ingin memakannya sampai kau mau mengijinkan aku menciummu."
Mendengar gadis itu mengoceh seperti itu membuat Legolas menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya dengan kesal dan beranjak duduk menatap Lucia.
"Sudah aku bilang jangan ingin menciumku terus!! Kau jadi seperti seorang maniak, kau mengerti?" Seru Legolas dengan kesal.
"Apa itu maniak?" Tanya Lucia menoleh pada Legolas.
"Sudahlah, aku ingin mandi dulu. Ini sudah hampir jam makan siang. Kita hanya akan makan telur rebus saja untuk makan nanti." Legolas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku tidak suka telur rebus. Aku ingin makan kue tart." Ujar Lucia. "Belikan aku kue tart lagi, Olas."
Legolas tidak menjawabnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi pemuda itu mendengus membuang napasnya sekali lagi. Ia merasakan sebuah kebosanan dalam hidupnya saat ini.
"Sampai kapan aku akan seperti ini terus? Dan sampai kapan gadis iblis itu menggangguku?" Gumam Legolas.
Lucia membuka pintu setelah seseorang menekan bel. Sebelumnya gadis itu memakai topi rajut yang diberikan Legolas padanya. Cedric tersenyum menyambut gadis itu dengan membawa makanan yang ada di dalam plastik.
"Aku datang lagi adik kecil. Apa kau sudah makan siang?' Ucap pemuda berambut pirang dan memiliki bola mata berwarna biru. Ia berucap dengan memulas senyum yang membuat wajahnya semakin tampan. "Ini aku bawakan ayam goreng yang banyak untukmu."
Wajah Lucia berubah senang saat melihat sesuatu yang dibawa Cedric untuknya. Secepatnya gadis itu mengambilnya dari Cedric.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Ucap Lucia sambil membawa plastik berisi ayam masuk ke dalam.
Cedric sempat terkejut mendengar pengakuan Lucia, namun kali ini pemuda itu sudah sedikit mengerti mengenai Lucia. Gadis itu adalah gadis yang aneh, Cedric sudah mengerti itu.
Tanpa jeda Lucia melahap ayam goreng yang jumlahnya sangat banyak jika harus dihabiskan seorang diri, tetapi si gadis iblis itu sudah memakan tiga potong ayam besar dengan sangat lahap.
"Dimana Olas? Aku datang ke restoran katanya dia sedang libur."
"Ced, aku ingin makan kue tart juga." Ujar Lucia. "Apa kau mau membelinya untukku? Olas tidak punya banyak uang sehingga dia tidak mungkin membelikannya untukku."
"Ya, tidak masalah. Ayo kita pergi ke toko kue."
"Tunggu sebentar!" Seru Lucia. "Kau juga harus membelikan aku apel."
"Ya, kau tenang saja." Senyum Cedric.
Lucia langsung mengambil sisa satu apel yang tersisa di atas meja dapur dan langsung menggigitnya. Cedric akan membelikannya apel jadi ia bisa menghabiskan apel terakhir yang dimilikinya.
Saat yang bersamaan Legolas yang sudah selesai mandi melihat kehadiran Cedric. Itu membuatnya merasa aneh karena sekali lagi Cedric datang ke rumahnya. Kehadirannya pasti karena ingin menemui Lucia. Legolas menjadi merasa aneh dan lucu pada Cedric karena sepertinya pemuda itu menyukai Lucia.
"Aku ingin menemui fans-ku." Jawab Cedric dengan wajah di penuhi senyum merona. "Aku dan Cia akan keluar untuk membeli kue dan apel. Kau ingin ikut?'
"Tidak, ini hari liburku, aku ingin bersantai saja seharian." Jawab Legolas sambil duduk di atas kasurnya lagi. "Cia, ingat semua perkataan yang sering aku bilang padamu."
"Perkataan apa?" Tanya Lucia dengan mulut dipenuhi apel yang dikunyahnya.
Seharusnya Legolas tahu jika Lucia pasti sudah melupakan semua pesannya. Tidak, seharusnya ia sadar kalau Lucia tak pernah mendengarkan perkataannya. Sambil berbaring Legolas membuang napasnya lagi.
"Sudah sana pergi." Seru Legolas.
"Olas, aku akan membawakanmu sesuatu nanti." Ujar Lucia yang berdiri di dekat pintu saat akan keluar. Gadis itu menoleh sesaat pada Legolas yang sudah berbaring di atas kasur tipis miliknya.
__ADS_1
"Tidak perlu." Jawab Legolas menutup wajahnya dengan bantal.
Sepeninggalan Lucia dan Cedric Legolas kembali memikirkan mengenai orang tuanya. Dirinya merasa penasaran sekarang. Ia ingin mencari tahu siapa orang tuanya. Ya, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu siapa kedua orang tuanya. Walaupun kemungkinannya jika tahu siapa mereka ia tidak ingin menemui mereka. Legolas hanya ingin mengetahui saja siapa orang tua yang sudah meninggalkannya di panti asuhan.
Pemuda itu bangun dari tidurnya untuk mencari sesuatu benda yang satu-satunya adalah petunjuk siapa orang tua kandungnya. Tampaknya ia lupa jika sapu tangan tersebut dibawa oleh Edith, ibu Cedric untuk dibersihkan setelah kotor terkena kue ketika mereka bertabrakan tempo hari.
"Kenapa tidak ada?" Tanya Legolas bingung saat tidak menemukan sapu tangan di penjuru rumahnya. "Ya ampun, aku lupa. Sapu tangan itu ada di ibu Cedric."
Dengan malas Legolas terperenyak di atas kasurnya. Ia mencoba mencari cara bagaimana agar dirinya bisa mengetahui keberadaan orang tuanya. Sepintas teringat mengenai nama yang terbordir di sapu tangan tersebut. Ibu asuhnya bilang kalau bisa saja nama itu adalah nama orang tua kandung Legolas. H. Burke.
Sepertinya seseorang bisa membantunya mencari tahu mengenai nama itu. Dengan segera Legolas bangkit berdiri kembali dan berjalan keluar rumahnya. Ia hendak menemui Gayle untuk meminta bantuannya mencari tahu tentang keberadaan orang yang bernama H. Burke. Satu-satunya orang yang terpikirkan untuk membantunya adalah Gayle. Gayle pasti bisa mencari tahu dengan kemampuannya dalam bidang teknologi informatika.
"Di mana Cia?" Saat yang bersamaan Ursula keluar rumah saat Legolas hendak memencet bel rumahnya.
"Dia sedang pergi dengan temannya." Jawab Legolas.
"Kau membiarkannya pergi tanpamu?" Ursula terlihat heran pada Legolas. "Kau tidak khawatir jika sesuatu terjadi padanya?"
"Tidak. Memang apa yang akan terjadi padanya? Dia akan baik-baik saja." Ujar Legolas. "Kau ingin pergi? Apa Gayle ada? Aku ingin meminta bantuan padanya."
"Aku hendak berbelanja. Masuk saja, gadis itu masih tidur setelah tidak tidur semalaman. Kau bisa sekalian membangunkannya." Ujar Ursula. "Olas, kau harus menjaga Cia dengan baik."
"Memang kenapa? Kenapa kau bicara seperti itu?"
Legolas melihat keanehan pada Ursula dari tatapannya. Ursula terlihat sangat mengkhawatirkan Lucia. Apa Ursula sangat menyanyangi Lucia hingga wanita itu sangat mencemaskan gadis yang bahkan tidak di kenalnya dengan baik.
"Sudahlah." Ujar Ursula. "Tolong bangunkan Gayle ya."
Legolas masuk ke dalam rumah Ursula setelah Ursula pergi. Dengan cepat ia menuju kamar Gayle untuk membangunkan gadis itu yang kata Ursula masih tertidur.
Pintu kamar Gayle tidak terkunci ketika Legolas membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pemuda itu terbelalak dengan apa yang dilihatnya. Seorang pria sedang berada di atas tubuh Gayle yang tertutup selimut. Mereka sedang bercinta.
__ADS_1
Gayle dan Lucas menoleh dengan terkejut pada Legolas yang berada di ambang pintu melihat kegiatan yang mereka lakukan.
...–NATZSIMO–...