
Cedric yang menutupi wajahnya dengan masker dan topi bersama Lucia berada di dalam mobil setelah mereka membeli kue tart dan apel. Saat ini mereka berdua hendak menuju rumah Legolas lagi untuk kembali.
"Apel ini sangat manis. Rasanya berbeda dengan apel yang biasa dibeli Olas. Apa karena harganya lebih mahal?" Lucia menoleh pada Cedric yang sedang menyetir sambil menggigit apel yang digenggamnya.
"Mungkin saja." Jawab Cedric dengan senyum.
"Aku mencintaimu." Ucap Lucia.
"Kenapa kau selalu mengatakan kalimat itu?" Tanya Cedric penasaran.
"Karena aku ingin merasakan cinta." Jawab Lucia dengan mulut dipenuhi oleh apel.
"Apa kau belum pernah merasakan cinta?" Cedric menatap Lucia dengan tatapan penasaran dengan sesekali memperhatikan jalanan.
"Aku akan segera merasakannya. Aku rasa seperti itu." Jawab Lucia. "Ced, dimana aku bisa membeli handphone? Bisakah kau mengantarku membelinya?"
Tidak berapa lama Cedric menghentikan mobilnya ke sebuah toko handphone. Lucia terlihat sangat senang ketika melihat-lihat banyak handphone yang terpajang di sana, hingga salah satu pekerja di toko handphone tersebut menghampirinya.
"Aku ingin membeli handphone yang paling bagus dengan harga 2.000 Lurks. Apa ada?" Tanya Lucia, namun fokusnya langsung teralih pada sebuah handphone yang berada tidak jauh dari dia berdiri. "Ini sangat bagus. Aku ingin yang ini."
"Tapi harga yang itu 18.000 Lurks." Jawab pekerja toko. "Ini handphone keluaran terbaru."
Lucia terkejut mendengar harga handphone tersebut. Itu sangat jauh dari uang yang ia punya. Gadis itu menoleh pada Cedric karena ia tahu kalau handphone pemuda itu seperti handphone yang dia lihat itu.
"Aku bisa membelikannya untukmu." Bisik Cedric pada Lucia.
Lucia menggeleng. Gadis itu sudah mulai belajar banyak setelah hidup dengan Legolas yang selalu irit menggunakan uangnya. Ia juga tidak ingin kalau uang sebanyak itu habis digunakan hanya untuk membeli satu barang.
"Tolong carikan yang seharga 2.000 Lurks saja." Ucap Lucia pada pekerja toko.
Dengan perasaan senang Lucia membawa tas tangan berisi handphone yang baru saja dibelinya. Gadis itu membawanya dengan memeluknya dengan tidak sabar ingin segera pulang.
...----------------...
__ADS_1
Legolas menunggu jawaban Leviathan yang sejenak seperti berpikir akan sesuatu. Semua iblis yang datang ke dunia manusia dengan sebuah misi wajib menyembunyikan identitasnya dan jika ketahuan dirinya adalah seorang iblis maka itu adalah sesuatu hal yang buruk. Iblis tersebut harus segera kembali ke neraka atau akan mendapatkan kemurkaan dari Lucifer, sang raja iblis.
"Berani sekali kau mengatakan aku iblis?!" Seru Leviathan mencoba menyembunyikan yang sebenarnya dari Legolas.
"Cia... maksudku Lucia, kau datang ke dunia manusia untuk membawanya kembali ke neraka kan?" Tanya Legolas tanpa memedulikan ucapan Leviathan yang ia ketahui kalau iblis tersebut masih berusaha menutupi identitasnya. "Aku tahu kau juga seorang iblis sepertinya. Warna mata kalian sama, dan sebelumnya aku tidak pernah melihat warna mata seperti itu di manusia manapun."
Leviathan masih tidak mau mengakuinya meski dirinya sudah tidak bisa menyangkal, namun ketakutannya akan murka sang raja iblis membuatnya tidak ingin menjawab Legolas. Ia tidak mengakuinya maupun menyangkalnya.
"Kalung itu, apa itu kunci pintu neraka?" Tanya Legolas pada Leviathan yang masih bungkam. "Aku tahu apa yang akan terjadi jika Cia semakin lama berada di dunia manusia. Dia akan melebur menjadi abu, karena itu aku akan membantumu untuk membawanya ke neraka."
"Kau hanya manusia biasa, kau tidak mungkin bisa memaksanya untuk kembali. Lucia adalah iblis yang tak berperasaan, dengan mudah dia akan membakar apapun saat dia rasa itu membuatnya kesal." Ujar Leviathan yang akhirnya berbicara. "Aku pun tidak bisa berbuat apapun saat ini karena sekarang aku hanya manusia biasa. Bahkan aku terperangkap di dunia manusia ini karena tidak bisa kembali ke neraka setelah Lucia merebut kunci itu dariku. Aku hanya akan menunggu kehadiran Lucifer untuk membawaku kembali ke neraka saat dia datang mencari Lucia anaknya."
Legolas terdiam sesaat. Pemuda itu memikirkan sesuatu cara bagaimana untuk membawa Lucia kembali ke neraka. Jika dengan memaksa gadis itu tidak bisa kalau begitu dia akan mencoba untuk membujuk Lucia. Ia akan mencobanya walaupun ia tahu Lucia tidak akan menurutinya karena tidak mungkin bagi gadis iblis itu untuk mendengarkan perkataan siapapun. Tapi pemuda itu merasa jika ia harus mencobanya.
"Apa kau tahu kapan dia akan melebur jadi abu?" Tanya Legolas.
"Perlahan pupil matanya akan berubah menjadi warna hitam, dan ketika seluruh bola matanya menjadi warna hitam sebaiknya dia harus segera kembali ke neraka karena tidak lama dari itu matanya yang berwarna putih pun akan berubah menjadi warna hitam juga dan dengan cepat dia akan segera melebur jadi abu." Jawab Leviathan.
Perasaan takut mulai terasa pada Legolas jika memikirkan apa yang akan terjadi pada Lucia. Ia harus segera berbuat sesuatu untuk menghindari hal tersebut terjadi pada Lucia. Bagaimanapun dirinya sudah merasa dekat dengan gadis itu setelah mereka tinggal bersama, jadi tidak mungkin ia akan membiarkan hal seburuk itu menimpa Lucia.
...----------------...
Lucia yang sampai di rumah tidak melihat Legolas berada di sana. Padahal ia sudah tidak sabar untuk memberikan handphone yang baru saja dibelinya.
"Kemana Olas?" Gumam Lucia sedikit kecewa karena tak ada Legolas di rumah.
"Cia, di mana Olas?" Tanya Cedric yang baru masuk membawa kue tart dan apel yang dibelinya dan meletakannya ke meja dapur.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka lagi dan muncul Legolas dari luar. Lucia senang melihat kehadiran Legolas. Gadis itu langsung berjalan mendekati pemuda yang masih berdiri di depan pintu. Cedric yang berada di sana juga melihat kehadiran Legolas.
"Olas, aku membelikan ini untukmu." Lucia menyodorkan tas tangan berisi handphone yang dibawanya pada Legolas.
Cedric terkejut karena ia mengira jika Lucia membeli handphone itu untuk dirinya sendiri. Namun ternyata Lucia membelikannya untuk Legolas.
__ADS_1
Saat ini Legolas masih memikirkan bagaimana cara dirinya untuk membujuk Lucia kembali ke neraka hingga pemuda itu tidak langsung menerima tas tangan tersebut. Lucia harus lebih mendekatkan tas tangan itu pada Legolas hingga pemuda itu akhirnya menerimanya.
"Bukalah Olas, aku mem—"
"Ced, bisakah kau pergi dari sini?" Legolas menoleh pada Cedric memotong perkataan Lucia.
Dari tatapan Legolas, Cedric bisa melihat kalau pemuda itu ingin mengatakan sesuatu yang serius pada Lucia sehingga Legolas memintanya pergi.
"Maafkan aku menyuruhmu pergi. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Cia." Ujar Legolas dengan tatapan serius.
"Baiklah." Jawab Cedric setelah itu berjalan keluar.
Legolas berjalan ke arah kasurnya berada dan meletakan tas tangan pemberian Lucia ke atas meja kecil di dekat kasur lalu berbalik dan menatap kembali Lucia yang berdiri di jarak tiga meter darinya.
"Ada apa, Olas? Kenapa kau tidak membukanya?" Tanya Lucia.
"Cia, dengarkan aku." Pinta Legolas dengan air muka yang sangat serius. "Kau harus kembali ke rumahmu. Kau harus kembali ke neraka segera."
"Aku tidak mau, aku akan tinggal bersamamu di sini selamanya sampai aku merasakan cinta." Jawab Lucia masih belum mengerti pada apa yang akan terjadi.
"Kau harus pulang kalau tidak kau akan melebur menjadi abu." Ucap Legolas.
"Apa? Melebur menjadi abu?"
"Panas api neraka yang masih ada di dirimu akan membakarmu dari dalam hingga kau melebur menjadi abu." Jawab Legolas. "Karena itu segeralah kembali ke neraka. Berikan kunci pintu neraka pada Levi—"
"Tidak!!"
"Kau harus mendengarku, aku tidak ingin kau menjadi abu."
"Aku tidak mau mendengarmu..." Ujar Lucia di saat yang bersamaan tangannya bergerak untuk membuat bola api yang hendak dilemparkannya pada Legolas.
Legolas menahan napasnya saat melihat hal tersebut.
__ADS_1
Lucia akan membakarnya.
...–NATZSIMO–...