GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Menciummu Setiap Hari


__ADS_3

Dengan amat sangat khawatir Legolas berlari keluar rumahnya lagi hendak mencari Lucia di sekitar. Namun langkahnya terhenti ketika berada di depan pintu rumahnya. Tiba-tiba Ia seperti mendengar suara Lucia.


"Aku mencintaimu." Suara Lucia terdengar dari arah samping kanan rumah Legolas, rumah Ursula.


"Aku juga mencintaimu. Makanlah apel itu yang banyak." Kali ini suara Ursula terdengar.


Tanpa ragu dan karena ingin mengetahui keberadaan Lucia, Legolas langsung membuka pintu rumah Ursula. Lucia dan Ursula yang berada di kursi meja makan menatap kehadiran Legolas.


"Kau sudah pulang, Olas?" Ucap Ursula dengan senyum.


"Olas, kau mau apel?" Tanya Lucia menyodorkan apel pada pemuda itu namun malah memakannya segera. Gadis itu tidak bersungguh-sungguh ingin memberikan apel tersebut.


Legolas membuang napasnya karena merasa lega melihat Lucia berada di dalam rumah Ursula. Tampaknya semua baik-baik saja, gadis itu tidak berbuat hal-hal berbahaya. Tapi tiba-tiba Legolas menyadari sesuatu. Lucia tidak memakai topi sehingga tanduknya terlihat.


Ia segera menghampiri Lucia dan menarik tangannya untuk mengikuti dirinya keluar dari rumah Ursula tanpa sepatah kata. Namun ketika berada di luar rumah, pemuda itu menyadari sesuatu hal. Ia melihat tangannya yang memegang tangan Lucia dan ia tidak merasakan kepanasan pada tangannya itu.


Legolas menatap Lucia yang memutar bola matanya karena tidak tahu maksud Legolas menatapnya.


"Kenapa aku tidak merasakan panas?" Tanya Legolas bingung.


Pemuda itu langsung menyentuh pipi Lucia dengan jarinya, lalu memegang tanduk gadis itu juga. Tapi dia tidak merasakan panas sedikitpun.


"Apa yang terjadi?" Legolas tampak bingung.


Lucia juga tidak mengerti. Tapi sesuatu membuat gadis itu tersadar. Ia melihat buah yang ada di genggamannya. Saat ini Lucia membawa buah apel merah yang sudah tersisa setengah.


"Ini buah iblis." Ucap Lucia memperlihatkan apel yang dibawanya. "Apel adalah buah iblis. Agar dapat terlihat oleh manusia, Tuhan juga memberikan satu buah apel yang disebut apel kehidupan agar iblis yang memakannya bisa terlihat oleh manusia. Tapi apel yang ada di dunia manusia membuat efek yang berbeda. Karena memakan apel ini panas api neraka di dalam tubuhku sepertinya sudah hilang."


"Mungkinkah seperti itu?" Tatap Legolas.


Tiba-tiba Lucia mengecup bibir Legolas. Pemuda itu terkejut karena tidak menduganya. Namun ia hanya memperhatikan Lucia yang tampak memutar bola matanya, sedang mencoba merasakan sesuatu.


"Tidak ada perubahan." Ujar Lucia menatap Legolas.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kenapa kau juga menciumku?" Tanya Legolas kesal.


"Ternyata aku belum merasakan cinta. Tak ada yang berbeda padaku setelah menciummu. Padahal aku sudah meniru di drama percintaan yang aku tonton kemarin." Jawab Lucia dengan intonasi yang datar.


"Kau tidak boleh menciumku lagi!! Itu tidak sopan!! Kau mengerti?"


Lucia tidak menjawab gadis itu malah menggigit apel yang dibawanya.


"Aku akan menciummu setiap hari untuk tahu perubahannya. Bisa saja aku sudah merasakan cinta."


"Itu mustahil. Kau iblis, tidak akan bisa merasakan cinta. Tapi kenapa aku yang dijadikan kelinci percobaan?!" Kesal Legolas namun setelah itu menghela napasnya. "Jangan menciumku lagi, mengerti?!" Tatap Legolas dengan suara perlahan agar Lucia mau mengerti. "Setidaknya minta persetujuan aku dulu sebelum melakukannya."


"Tapi di drama yang aku tonton tidak ada yang meminta persetujuan dulu—"


"Itu karena mereka saling mencintai." Sambar Legolas menahan emosinya berbicara pada gadis itu.


"Kalau begitu kita juga harus saling mencintai."


Legolas menghela napasnya sangat panjang, pemuda itu sekuat tenaga menahan emosinya saat ini agar sabar menghadapi si gadis iblis berwajah datar tersebut.


"Baiklah, aku akan meminta ijin sebelum melakukannya." Jawab Lucia setelah itu hendak masuk kembali ke rumah Ursula.


"Tunggu dulu! Kenapa kau tidak memakai topi? Sudah aku bilang kau harus menyembunyikan tandukmu dari siapapun!! Apa yang kau katakan pada Ursula mengenai tanduk itu?"


"Tidak ada, Ursula tidak berkata apapun mengenai tandukku." Ujar Lucia setelah itu berjalan masuk.


Legolas berada di rumahnya saat Lucia masih berada di rumah Ursula. Pemuda itu mencatat pengeluarannya di sebuah buku. Biasanya ia akan mencatatnya di handphone namun saat ini pemuda itu tidak memiliki handphone karena perbuatan Lucia yang membakar handphone miliknya.


Ia sudah membayar uang sewa rumah yang menunggak dua bulan, sehingga sisa gajinya tidak terlalu banyak. Ia juga masih harus membeli handphone baru dan mengirim uang pada adik-adiknya di panti asuhan. Tapi uangnya sudah tidak cukup, sehingga untuk bulan ini harus ada yang Ia korbankan.


"Hhuft... sepertinya bulan depan saja aku membeli handphone." Ucap Legolas bersandar ke tembok. "Aku juga masih harus membelikan Cia pakaian."


Tiba-tiba Lucia masuk ke dalam rumah dengan membawa sesuatu yang sangat besar. Gadis itu membawanya di balik punggung dengan memikulnya. Benda-benda yang dimasukkan ke dalam seprei putih besar.

__ADS_1


Legolas langsung beranjak berdiri dan menghampiri Lucia karena merasa panik. Ia berpikir kalau gadis itu pasti baru saja mencuri benda-benda tersebut.


"Cia, sudah aku bilang jangan mencuri!!" Seru Legolas dengan kesal.


Lucia melepaskan barang bawaannya hingga terjatuh ke lantai, seketika boneka-boneka yang ada di dalam seprei yang membungkusnya terjatuh berhamburan. Anehnya boneka-boneka berbentuk kucing dengan warna hitam itu tidak memiliki mata. Jumlah boneka-boneka tersebut juga sangat banyak sekitar lima puluh buah.


"Ke—kenapa isinya boneka semua? Apa ini, Cia?" Tatap Legolas heran.


"Ursula memberitahuku kalau aku bisa mendapatkan uang dengan cara memasang mata boneka-boneka itu." Jawab Lucia sambil mengeluarkan bungkusan plastik berisi mata boneka dan alat menjahit. "Aku harus mengganti handphone-mu."


Legolas sedikit terkejut dengan sikap Lucia. Ia tidak mengira seorang iblis bisa berpikiran seperti itu. Pemuda itu menjadi tahu kalau Lucia merasa bersalah karena membakar handphone-nya.


"Tidak ada handphone membuat aku bosan." Gumam Lucia membuat Legolas menghela napas karena dugaannya yang tadi salah.


Legolas memperhatikan Lucia yang mencoba memasang mata pada boneka kucing tersebut. Namun seperti yang pemuda itu duga, Lucia tidak akan bisa melakukannya. Ia membuang napas sebelum mendekati Lucia dan mengambil jarum lain dan memasukan benang ke dalamnya dan tangan satunya memegang boneka beserta mata boneka yang sudah diposisikan.


"Lihat, begini caranya. Kau hanya harus menusuknya tidak sampai menembus keatas lalu tusuk lagi ke bawah dan begitu seterusnya hingga matanya terpasang dengan kuat." Ujar Legolas.


"Ursula sudah mengajariku, aku sudah bisa." Ucap Lucia sambil melirik ke jahitan Legolas.


Namun tiba-tiba tanpa sengaja jarinya tertusuk jarum hingga Lucia meringis kesakitan. Darah hitam keluar dari jari telunjuk tangan kiri yang tertusuk.


"Kau baik-baik saja?" Legolas menoleh pada Lucia.


Legolas mengambil plester di meja dekatnya, lalu memegang tangan Lucia namun ia terhentak karena merasakan panas yang luar biasa pada tangan yang menyentuh Lucia.


"Apa efek apel itu tidak bertahan selamanya?" Tanya Lucia.


Legolas yang meringis kesakitan sambil memikirkan sesuatu saat ini. Sepertinya memang benar apel yang dimakan hanya membuat hawa panas api neraka di dalam tubuh Lucia hanya menghilang untuk sementara bukan menghilang selamanya.


"Cia, kapan terakhir kali kau makan apelnya tadi?" Tanya Legolas.


"Sepertinya dua jam yang lalu." Jawab Lucia sambil mengingat-ingat.

__ADS_1


"Kalau begitu efek apelnya hanya sampai dua jam." Ujar Legolas.


"Kalau begitu kau harus belikan aku apel yang banyak, Olas." Seru Lucia. "Karena aku akan menciummu setiap hari."


__ADS_2