
"Olas, berikan aku ayam goreng atau kentang goreng." Ucap Lucia berbaring telungkup di atas lantai tanpa alas, memperhatikan Legolas.
Legolas sedang duduk di atas kasurnya dan bersandar ke tembok rumah. Tatapannya pada layar handphone karena saat ini ia sedang menghitung sisa gajinya jika dikurangi dengan biaya uang sewa rumah dan biaya lainnya. Ia juga harus mengirim uang kepada adik-adiknya di panti.
"Olas, aku ingin makan yang lainnya. Kenapa kau hanya memberiku sepotong roti untuk makan malam?" Gumam Lucia tidak bersemangat.
"Diamlah!! Kau mengganggu konsentrasiku!! Seharian ini kau sudah makan banyak kenapa masih kurang? Dasar rakus!!" Seru Legolas sangat kesal.
"Rakus salah satu sifat dasar iblis." Ujar Lucia. "Berikan handphone-mu, aku sangat bosan. Carikan aku drama percintaan yang bisa membuat aku merasakan cinta."
"Aku sedang memakai handphone-nya." Jawab Legolas setelah menghela napas.
"Kalau begitu belikan aku handphone baru."
"Sudah aku bilang, aku tidak punya uang!!"
"Kau bisa mencurinya!! Kau tidak akan berbuat dosa, kau tidak akan masuk ke neraka." Ucap Lucia.
"Aku tidak melakukan dosa bukan karena takut masuk neraka!! Tapi karena aku tidak ingin melakukan perbuatan jahat seperti itu!! Kau mengerti?"
"Aku lapar, aku jadi tidak mengerti apa yang kau ucapkan."
"Dasar iblis!!" Geram Legolas.
Ting tong, ting tong...
Legolas beranjak dari tempatnya menuju pintu saat seseorang menekan bel rumahnya. Ia terkejut karena Ursula si pemilik rumah yang berdiri di depan pintunya.
"Aku sudah bilang, aku akan membayarnya besok lusa saat gajian." Ujar Legolas.
"Aku datang ingin memberikan makanan ini." Seru Ursula memberikan sepiring ayam goreng.
"Ayam goreng?" Lucia muncul dengan sangat senang. "Aku mencintaimu."
Ursula tersenyum merespon perkataan Lucia. "Makanlah yang banyak, aku tahu Olas tidak punya uang, jadi pasti kau hanya makan roti saja untuk makan malam."
"Sepotong roti." Jawab Lucia.
Lucia membawa sepiring ayam goreng ke dalam dan memakannya segera. Legolas merasa aneh pada Ursula. Ia berpikir sepertinya wanita itu menyukai Lucia karena usianya sama dengan anaknya yang meninggal sebelum dilahirkan.
"Kau tidak mau?" Tanya Lucia dengan mulut di penuhi makanan. "Ini untukmu." Lucia menyodorkan paha ayam bagian bawah ke Legolas
Legolas mengambilnya dan memakannya.
"Kau hanya boleh dapat satu potong saja, sisanya untukku!!" Tegas Lucia menarik piring berisi ayam mendekat padanya.
__ADS_1
"Dasar iblis rakus." Gumam Legolas setelahnya membuang napas.
Ketika tengah malam tiba, Legolas yang sedang tidur dikejutkan dengan suara yang keras dan rasa panas yang ia rasakan. Ia membuka matanya dan melihat sesuatu terbakar di udara dan Lucia ada di dekatnya. Ia tahu kalau sesuatu telah dibakar oleh gadis iblis itu.
"Apa yang kau bakar?" Tanya Legolas terkejut hingga beranjak duduk segera.
"Tiba-tiba handphone-nya mati, aku mencoba menghidupkannya tapi tidak bisa. Aku menjadi kesal—"
"Maksudmu kau membakar handphone-nya?" Legolas semakin terkejut.
Lucia mengangguk tipis.
"KENAPA KAU MEMBAKARNYA, BODOH?!" teriak Legolas dengan kemarahan yang sudah sampai puncaknya. "ITU SATU-SATUNYA BENDA BERHARGA MILIKKU!!"
"Kenapa kau tidak bilang kalau aku tidak boleh membakarnya?"
"APA AKU HARUS BILANG?"
"Ya, aku tidak tahu apa saja yang boleh aku bakar. Kau diam saja saat aku bakar bonek beruang. Tapi kau marah—"
"JANGAN BAKAR APAPUN LAGI!! MENGERTI?!" Ujar Legolas setelah itu mencoba menahan emosinya dengan menghela napas panjang.
Pemuda itu kembali berbaring dengan kesedihan karena sudah kehilangan handphone-nya, benda yang sangat berharga yang ia miliki satu-satunya. Ia berbaring menghadap tembok dan membelakangi Lucia.
Legolas diam saja, ia tidak mau menanggapi perkataan si gadis iblis itu.
"Olas, apa kau marah padaku?" Lucia menarik-narik kaos pemuda itu dengan dua jarinya, ibu jari dan telunjuk. "Aku mencintaimu, aku akan menggantinya."
Legolas tetap tak menggubris perkataan Lucia. Ia berpikir bagaimana caranya gadis itu mengganti handphone-nya.
Keesokan harinya Legolas tetap mengajak Lucia ke tempatnya bekerja walau dirinya masih marah karena gadis itu membakar handphone-nya. Sepanjang jalan pemuda itu diam saja tak bicara, dan tidak menggubris semua perkataan Lucia.
"Olas, aku ingin kentang goreng saja nanti. Aku lebih suka ayam goreng Ursula sekarang. Aku akan meminta padanya lagi nanti malam." Ujar Lucia dengan nada datar sambil berjalan di samping Legolas. "Kau mendengarku? Kau diam saja sejak bangun. Apa kau sakit perut?"
Pemuda itu hanya merespon dengan menghela napas panjang.
Sesampainya di restoran tempat Legolas bekerja, Lucia kembali duduk di kursi yang kemarin ia duduki. Gadis itu tampak bosan sehingga ia ikut mengantri saat pengunjung lain mengantri memesan makanan.
"Olas, aku mau kentang goreng yang ukuran besar." Seru Lucia pada Legolas yang sudah melihat dirinya mengantri sejak awal. "Berikan aku kentangnya, aku sudah lapar."
Tanpa bicara dan dengan helaan napas, Legolas memberikan kentang goreng yang diinginkan Lucia pada gadis tersebut.
"Aku mencintaimu." Ucap Lucia membuat pengunjung di belakang gadis itu menatap aneh padanya.
Lucia berjalan mengitari meja pengunjung lainnya sebelum duduk kembali di tempatnya tadi. Dari tempatnya melayani pengunjung restoran, Legolas melihat Lucia sudah asyik diam dengan melahap kentang goreng.
__ADS_1
"Aku tadi meletakkannya di meja ini, tapi kenapa tiba-tiba tidak ada?" Terdengar salah seorang pengunjung wanita berbicara dengan temannya yang juga seorang wanita. "Pasti ada yang mencurinya."
"Kita harus melihat rekaman CCTV disini, aku akan minta mereka memperlihatkan rekamannya untuk melihat siapa yang mengambilnya." Jawab temannya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Drake selaku penanggung jawab di restoran tersebut langsung datang menghampiri kedua pengunjung tersebut.
"Handphone-ku menghilang, padahal tadi aku meletakkannya di meja ini dan kami tidak meninggalkannya."
Legolas yang mendengar dari tempatnya langsung melihat pada Lucia yang masih asyik makan. Ia melihat di saku celana gadis itu tampak penuh. Dengan segera Legolas menghampiri Lucia.
"Berikan handphone-nya!!" Seru Legolas menahan emosinya.
Lucia menatap kehadiran Legolas.
"Aku tahu kau yang mengambilnya, berikan handphone-nya sekarang juga!!"
Legolas langsung berjalan ke arah dua orang pengunjung yang sedang berbicara dengan Drake. Ia membawa handphone milik dari salah satu wanita itu setelah Lucia memberikannya padanya.
"Ini handphone-mu bukan?" Legolas meletakkan handphone tersebut di meja.
"Iya ini handphone-ku, dari mana kau menemukannya?"
"Ada di wastafel, kau pasti lupa saat mencuci tangan tadi." Jawab Legolas.
...****************...
"Olas, aku tahu kalau sepupumu yang ambil handphone itu." Seru Drake saat berbicara berdua di ruang karyawan restoran. "Kemarin dia mencuri ayam goreng dari pengunjung, sekarang dia mencuri handphone pengunjung. Aku harus bersikap tegas padamu."
"Maafkan aku, Drake. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi." Ucap Legolas.
"Sebaiknya kau tidak lagi mengajaknya ke sini, atau kau ingin berhenti bekerja?"
...****************...
Sesampainya di rumah, Legolas sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi pada Lucia. Saat mereka berdua masuk ke dalam rumah, Legolas menatap tajam Lucia, meski Lucia seperti biasanya menatap dengan tatapan datar.
"Aku hampir kehilangan pekerjaanku karena ulahmu. Kau benar-benar membuat hidupku semakin susah. Sebaiknya kau pergi dari rumahku, cari saja orang lain yang lebih sabar menghadapi iblis sepertimu." Seru Legolas.
"Aku mencintaimu." Ucap Lucia.
Legolas tidak memedulikan perkataan gadis itu. Ia membuka pintu rumahnya dan mendorong Lucia keluar dari pintu rumahnya.
"Carilah orang lain yang mau membantumu merasakan cinta." Ujar Legolas dengan dingin. "Aku tidak mencintaimu."
Legolas menutup pintu rumahnya.
__ADS_1