
"Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?" Tatap Legolas.
Pemuda itu yakin pasti ada yang memicu kenapa Lucia ingin memiliki ibu yang mencintainya.
"Cedric bilang kalau semua ibu pasti mencintai anaknya. Apa ibumu juga mencintaimu?" Tanya Lucia.
"Aku rasa seperti itu." Jawab Legolas dengan ragu.
"Tapi Annie bilang kalau orang tua mereka membuang mereka ke panti asuhan itu. Apa ibu yang mencintai anaknya akan melakukan hal itu? Apa mungkin mereka membuang anak yang mereka cintai?" Tanya Lucia penasaran. "Jika memang seperti itu aku cukup senang, walau ibuku tidak pernah menggendongku setidaknya dia ada bersama denganku."
"Apa maksudmu?"
"Semua bayi di neraka tidak pernah digendong, mereka dibiarkan hingga besar tanpa pernah digendong sekalipun. Begitu juga dengan ibuku. Dia tidak mencintaiku, dia membesarkan aku hanya karena aku ada. Seperti yang pernah kau bilang, rasa cinta membuat seseorang ingin selalu bersama dan takut kehilangan. Hal itu yang membuat seorang ibu menggendong anaknya. Tadi ibu Cedric meneleponnya, ibunya mencarinya. Semua itu pasti karena rasa cinta ibunya pada Cedric hingga dia mengkhawatirkan anaknya. Tapi bagaimana bisa kau bilang ibumu dan ibu semua anak di panti asuhan itu mencintai mereka? Itu terdengar aneh. Kalau ibumu mencintaimu, dia pasti sudah mencarimu seperti ibu Cedric."
Legolas merasa tertampar dengan perbandingan yang diucapkan Lucia padanya.
"Jika ibumu yang kau bilang mencintaimu tetapi tidak mencarimu setelah membuangmu adalah hal wajar, berarti semua ibu di neraka juga melakukan hal yang wajar pada anak-anak mereka dengan tidak menggendong mereka." tambah Lucia. "Tapi iblis tidak memiliki cinta jadi mereka melakukan seperti itu. Sedangkan manusia memiliki cinta. Jadi yang mana yang harus dikatakan wajar?"
"Cia, yang kau katakan benar. Tidak semua ibu manusia mencintai anak mereka. Dalam hal ini ibu para iblis lah yang lebih wajar karena mereka memang tidak memiliki cinta." Ucap Legolas sambil mengusap sudut matanya yang tergenang air mata karena ucapan Lucia.
"Aku iri pada Cedric, apa kau juga iri padanya?" Tanya Lucia.
"Ya, aku juga iri padanya. Dia beruntung memiliki ibu yang mencintainya. Tidak seperti kita." Ucap Legolas. Tiba-tiba Legolas membungkuk membelakangi Lucia. "Naiklah, aku akan menggendongmu."
Lucia tersenyum mendengar ucapan Legolas dan langsung melompat ke punggung pemuda itu. Legolas membawa Lucia dengan menggendongnya di punggungnya berjalan keluar rumah. Mereka berdua berjalan-jalan di sekitar rumah saat malam hari.
"Aku mencintaimu." Ucap Lucia yang berada di punggung Legolas.
Legolas hanya tersenyum mendengar kalimat favorit gadis itu.
...----------------...
Gayle terus mengumpat dan memaki saat membaca pesan-pesan yang di kirimkan oleh seseorang ke laptopnya. Saat ini gadis itu berusaha mencari tahu siapa orang yang mengerjainya tersebut dengan keahliannya di bidang teknologi informasi.
"Aku pasti akan langsung membunuhmu saat tahu siapa kau, bedebah sialan!!" Racau Gayle sambil mengutak-atik laptopnya.
__ADS_1
Sebuah pesan muncul.
Aku ada di belakangmu.
"Sialan kau pasti ingin menakut-nakutiku ya!!" Geram Gayle tidak memedulikan pesan tersebut dan masih berusaha mencari tahu siapa orang tersebut.
Tiba-tiba muncul sebuah gambar. Gambar tersebut membuat Gayle terhentak karena itu merupakan foto dirinya yang di ambil dari belakangnya.
Dengan cepat Gayle menoleh ke arah belakangnya...
...----------------...
"Olas, aku lapar." Ucap Lucia yang masih digendong oleh Legolas. "Kau tertidur sangat lama hingga melupakan waktu makan malam. Sekarang sudah jam sembilan malam tapi aku baru makan apel."
"Baiklah, kita pulang sekarang. Aku akan menurunkanmu." Ujar Legolas.
"Aku tidak ingin turun." Jawab Lucia sambil mendekap Legolas. "Ini pertama kalinya aku digendong dan aku tidak mau turun."
"Olas?" Tiba-tiba terdengar suara Chloe dari arah belakang mereka.
"Ada apa? Apa kau sakit Cia? Kenapa kau digendong?" Tanya Chloe dengan tatapan khawatir.
Lucia menatap pada Leviathan yang terlihat takut pada dirinya. Namun pemuda iblis itu sedikit merasa lega karena keberadaan para manusia bersama dengan mereka membuat Lucia tidak mungkin membakarnya.
"Turunlah, Cia." Bisik Legolas agar Lucia mau turun dari gendongannya.
Lucia malah semakin mendekapnya dengan kuat.
"Olas, Cia baik-baik saja?" Tanya Chloe lagi.
"Dia habis terjatuh jadi aku menggendongnya." Jawab Legolas berbohong.
Chloe melihat tangan Lucia yang terluka sehingga membuatnya percaya begitu saja. Padahal luka tersebut di dapat Lucia saat di panti asuhan kemarin.
"Kau harus berhati-hati, Cia. Bagaimana kau bisa jatuh?" Tanya Chloe lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Dia sudah baik-baik saja." Jawab Legolas tertawa menyembunyikan kebohongannya. "Baiklah, aku dan Cia duluan ya."
Setelah berkata begitu Legolas berjalan menjauh dari Chloe dan Leviathan. Pemuda itu melangkahkan kakinya selebar mungkin untuk menghindar dari dua orang tersebut.
"Dia gadis yang kau cinta, tapi dia pergi dengan pria lain. Olas, apa kau cemburu?" Tanya Lucia bisa membaca apa yang terjadi.
"Iya." Jawab Legolas jujur.
"Kenapa kau malah kabur?" Tanya Lucia lagi. "Apa kau tidak ingin berbuat sesuatu?"
"Tidak, aku tidak bisa berbuat sesuatu." Ucap Legolas. "Chloe tidak menyukaiku, dia menyukai Levi. Sudah aku bilang padamu kemarin, pria tampan akan lebih mudah membuat wanita merasakan cinta."
"Tapi kau bilang rasa cinta itu tumbuh karena sesuatu hal yang memupuknya, seperti kedekatan, rasa ingin memiliki atau rasa takut kehilangan. Itu bukan sulap, harus ada prosesnya. Apa wajah tampan bisa menyulap perasaan itu?" Tanya Lucia lagi. "Jika memang seperti itu, apa aku harus tinggal dengan Cedric saja?"
"Apa maksudmu?" Legolas menurunkan Lucia dari gendongannya dan menatap gadis itu karena mendengar pertanyaannya membuat dirinya semakin buruk. "Kau ingin tinggal dengan Cedric? Apa karena dia jauh lebih tampan dariku?"
Lucia mengangguk menjawabnya.
"Baiklah, kau bisa tinggal dengannya." Ucap Legolas dengan perasaan yang pasrah.
"Kau belum jawab pertanyaanku." Ujar Lucia. "Apa wajah tampan bisa menyulap perasaan itu? Apa semua proses terlewati dengan adanya wajah yang tampan?"
"Sepertinya begitu. Kau sudah lihat buktinya. Chloe langsung menyukai Levi. Dia langsung jatuh cinta pada Levi yang tampan itu. Dengan mudahnya Levi melewati proses dan menyulap perasaan itu."
"Apa kau pernah mengatakannya pada Chloe kalau kau mencintainya?" Tanya Lucia. "Bisa saja dia pergi karena Levi memintanya bukan karena dia mencintainya. Itu sama halnya aku yang memintamu untuk membantuku kan? Kau membantuku bukan karena mencintaiku tapi karena kebaikanmu."
Lucia tahu jika Leviathan dengan sengaja melakukan hal itu pada Legolas. Dia sengaja membuat Legolas cemburu karena itu adalah keahliannya dalam menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Manusia yang cemburu akan berbuat hal-hal buruk. Seperti yang diinginkan Gayle pada mantan kekasihnya yang berkhianat. Namun selain bisikan iblis, malaikat juga berbisik pada manusia.
"Olas, seorang setengah malaikat dan setengah iblis pernah bilang padaku, manusia tidak bisa mencintai fisik melainkan mencintai hati. Itu sama artinya pria baik akan menang dengan pria tampan." Ucap Lucia dengan bola mata yang menyala semakin merah karena terkena cahaya bulan.
Sekali lagi Legolas merasa tertampar dengan perkataan Lucia, si gadis iblis.
...----------------...
Gayle terhentak ketika melihat seseorang berdiri dibelakangnya. Seorang pria berambut perak panjang dengan sebuah cahaya putih dan tanduk panjang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Si—siapa kau?" Gayle tergagap ketika melihat sosok itu.