
Lucia membawa semua boneka yang sudah ia pasangkan matanya ke rumah Ursula. Semua boneka sudah memiliki matanya masing-masing. Gadis itu selama dua hari ini mengerjakannya setiap malam.
"Cepat sekali kau mengerjakannya, Cia." Ujar Ursula sambil memperhatikan semua boneka kucing hitam tersebut. "Kau juga mengerjakannya dengan sangat rapi."
"Olas yang mengajariku." Jawab Lucia. "Berikan aku boneka yang lebih banyak lagi. Aku akan mengerjakannya. Aku ingin mempunyai uang yang cukup untuk membeli handphone."
"Membeli handphone?"
"Aku membakar handphone Olas, aku ingin menggantinya." Jawab Lucia sambil melirik buah apel yang berada di atas meja makan di sampingnya berdiri.
"Kau ingin apel? Makanlah apel-apel itu, kau bisa membawanya pulang juga." Ujar Ursula.
Tanpa basa-basi Lucia langsung memakan sebuah apel dan menikmatinya sambil duduk di kursi meja makan.
"Kau juga tidak perlu memakai topi saat di dalam rumahku." Seru Ursula sambil melepas topi di kepala Lucia memperlihatkan tanduknya.
"Tapi kata Olas, aku harus pakai topi selain saat di rumah." Jawab Lucia. "Aku tidak boleh memperlihatkan tan—"
"Cia, aku akan membawa boneka-boneka ini dan mengambil boneka yang lain agar kau bisa memasang matanya lagi." Potong Ursula sambil berjalan mengambil tasnya. "Kau di sini saja bersama dengan Gayle."
"Hhmm." Lucia mengangguk.
"Gayle, kau sudah bangun kan? Keluarlah, temani Cia!!" Seru Ursula sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak berapa lama Gayle muncul dengan wajah yang masih lusuh karena baru bangun tidur. Gadis itu tersenyum pada Lucia yang menatapnya.
"Selamat pagi, Cia. Kau sangat manis memakai pakaian itu." Ujar Gayle yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek.
"Ursula yang membuatnya untukku." Jawab Lucia memperhatikan baju terusan berwarna merah maroon yang dikenakannya.
Gayle sempat menatap tanduk Lucia sesaat namun gadis itu tidak berkata apapun dan langsung berjalan ke kamar mandi.
"Aku akan pergi sebentar. Kau jangan kemana-mana Gayle!!" Seru Ursula sebelum keluar rumah.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Gayle duduk di kursi meja makan dengan sebuah laptop. Lucia duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Kau sedang apa?" Tanya Lucia.
"Aku sedang menyihir." Jawab Gayle masih fokus ke layar laptop.
"Apa maksudnya menyihir? Apa kau seorang penyihir?"
"Ya, aku seorang penyihir." Jawab Gayle.
"Lalu di mana tongkat sihirmu?" Tanya Lucia lagi dengan bingung.
"Ini tongkat sihirku." Jawab Gayle tersenyum sambil menunjukan laptopnya. "Jaman sekarang tongkat sihir penyihir berubah menjadi ini."
"Aku tidak mengerti maksudnya. Apa kau juga bisa melakukan sihir padaku?"
"Memang apa yang ingin aku sihir padamu?" Tanya Gayle heran. "Apa kau ingin kaya?"
Gayle tertawa mendengar jawaban Lucia. Untuknya itu sangat lucu karena gadis itu meminta hal yang mustahil. Bahkan penyihir sungguhan pun tidak bisa membuat seseorang merasakan cinta.
"Kau tahu, Cia. Aku malah tidak ingin merasakan cinta. Kemarin aku baru saja berpisah dengan kekasihku, dia mengkhianatiku, dia bercinta dengan teman kerjaku. Karena itu aku memilih keluar dari tempat kerjaku kemarin."
"Kenapa kau tidak ingin merasakan cinta? Bukankah karena cinta seharusnya kau memaafkan kekasihmu?"
Gayle tertawa mendengar ucapan Lucia. Ia menganggap gadis itu merasa kalau cinta adalah jalan keluar dari semua masalah, padahal untuknya cinta adalah biang dari semua masalah di dunia ini.
"Saat kau merasakan cinta maka perasaan buruk lainnya akan muncul. Rasa cemburu, rasa ingin memiliki, dan rasa sakit hati ketika perasaanmu tidak terbalas. Atau rasa marah saat cintamu dikhianati, seperti yang aku rasakan saat ini. Aku jadi ingin membunuh mereka berdua, tapi di lain hal aku masih sangat mencintai pria itu." Ujar Gayle dengan wajah terlihat sedih di akhir kalimatnya.
"Bukankah cinta itu sabar, murah hati, tidak cemburu. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong?" Tatap Lucia. "Bukankah itu yang Tuhan katakan pada manusia?"
"Percayalah semua itu tidak semudah seperti yang kau katakan barusan." Jawab Gayle. "Cinta adalah akar kepahitan semua hal buruk di dunia ini."
"Jika seperti itu kenapa Tuhan tidak menciptakan iblis dengan rasa cinta?"
__ADS_1
"Apa maksudmu? Iblis?" Tanya Gayle dengan bingung. Gadis itu langsung melirik tanduk Lucia dan mengerti mengenai sesuatu hal. "Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya lagi."
"Kalau begitu, kau bisa memberitahuku siapa pria dan wanita itu? Yang sudah membuatmu marah karena cemburu. Aku akan membakarnya."
Gayle tertawa mendengar ucapan Lucia. "Kau tidak perlu membakarnya. Aku akan menyihir mereka dengan tongkat sihirku ini."
"Bagaimana caramu menyihirnya?" Tanya Lucia penasaran.
"Dengan dosa yang sering dilakukan manusia." Jawab Gayle sambil fokus pada layar laptopnya. "Sebuah kebohongan. Aku akan mengungkap kebohongan mereka berdua hingga mereka berdua saling marah satu sama lain hingga mereka bertengkar, kalau perlu hingga mereka berdua saling bunuh."
Gayle terdiam setelah mengatakan kalimat-kalimat tersebut. Air matanya mulai keluar dan gadis itu mulai menangis kencang.
"Kenapa aku harus menderita seperti ini? Aku sangat mencintaimu Newt, kenapa kau mengkhianatiku? Daphne tidak lebih baik dariku, tapi kau bercinta dengannya." Ujar Gayle dalam tangisnya. "Sekarang aku harus berbuat apa saat tak ada lagi dirimu di sisiku?"
Lucia diam saja melihat kesedihan Gayle. Gadis itu menjadi merasakan sebuah kebingungan. Jika selama ini ia menganggap cinta adalah sesuatu hal yang bagus yang dimiliki manusia, saat melihat Gayle dirinya menjadi merasa sedikit ragu. Ia jadi semakin tidak mengerti mengenai hal yang disebut dengan cinta.
"Cia, aku iri padamu. Aku juga ingin hidup tanpa cinta agar aku bisa berbuat hal sesukaku tanpa terikat perasaan itu." Keluh Gayle masih menangis keras.
"Apa tanpa cinta lebih bagus dari pada hidup dengan cinta?" Tanya Lucia. "Saat kau tidak memiliki cinta di dirimu, saat itu juga kau tidak memiliki siapapun dalam hidupmu. Itu terdengar bagus untukmu tapi tidak denganku yang tidak pernah merasakan seseorang berbuat sesuatu hal yang bisa membuat hatiku hangat."
Gayle menghentikan tangisannya mendengar perkataan Lucia. Tatapan datar Lucia dengan sambil mengatakan kalimat tersebut membuat gadis iblis itu terlihat bersedih.
"Aku rasa saat ini iblis sedang berbisik padamu." Ucap Lucia.
Saat yang bersamaan muncul sebuah pesan di layar laptop milik Gayle. Gadis itu melirik ke layar laptopnya dan membaca pesan yang langsung terbuka secara otomatis.
Perubahan terlihat dari wajah Gayle saat membaca pesan yang ada di laptopnya. Gadis itu kembali menatap pada Lucia yang masih menatapnya dengan pandangan lekat.
Gadis yang ada di depanmu adalah seorang iblis. Dia merupakan anak dari raja iblis yang akan dinobatkan menjadi ratu iblis. Dia kabur dari neraka untuk merasakan cinta. Jika dalam waktu dekat tidak kembali ke neraka, ia akan membawa kehancuran bagi umat manusia.
Kau harus membuatnya kembali secepat mungkin jika tidak ingin umat manusia binasa. Raja iblis akan datang ke dunia manusia dan membinasakan seluruh muka bumi demi membawa kembali putri tercintanya.
Bekerjasamalah denganku untuk kebaikan umat manusia dan bangsa iblis.
__ADS_1