GADIS IBLIS MENCARI CINTA

GADIS IBLIS MENCARI CINTA
Walau Harus Ke Neraka


__ADS_3

Legolas terbangun di tengah malam. Ia merasa bersalah karena mengusir Lucia dari rumahnya. Ia merasa alasan Lucia mencuri handphone tersebut karena ingin mengganti handphone miliknya yang dibakar gadis itu. Niatnya baik walau dengan cara yang salah. Bagaimana pun gadis itu adalah seorang iblis pasti ia tidak memikirkan jika yang dilakukannya adalah sesuatu yang tidak baik.


Selain itu Legolas tidak tega jika membiarkan Lucia berada sendirian di luar karena ia tahu bagaimana rasanya sendirian setelah mendapatkan penolakan. Hal itu sudah sering ia rasakan bahkan saat baru lahir ke dunia ini. Orang tuanya meletakan dirinya di depan pintu panti asuhan. Ia tidak ingin melakukan hal yang sama pada Lucia saat ini. Walaupun gadis itu seorang iblis tetap saja pemuda itu tidak tega karena di dunia manusia ini hanya dirinya yang mungkin mau menerima dan menampung seorang iblis tinggal di rumahnya.


Pemuda itu membuka pintu rumahnya dan melihat Lucia duduk meringkuk di samping pintu, kedinginan. Dunia manusia untuk iblis jauh lebih dingin dibanding neraka. Karena itu gadis itu terlihat kedinginan saat ini. Lucia menengadah melihat Legolas dengan tatapan merasa bersalah.


"Masuklah." Ucap Legolas.


Lucia langsung bangkit berdiri menatap Legolas.


"Kau sudah tidak marah?" Tanya Lucia datar. "Apa aku bisa tinggal denganmu lagi? Apa aku tidak perlu berada di luar lagi? Di luar sangat dingin. Kulitku sampai dingin karena membeku."


"Maafkan aku." Ujar Legolas.


Lucia mengangguk. "Aku mencintaimu." Ucapnya.


"Masuklah, di luar memang sangat dingin saat ini." Legolas berbalik dan berjalan meninggalkan pintu.


Tiba-tiba Lucia berlari dan memeluk Legolas dari belakang. "Aku mencintaimu." Ucap gadis itu.


"Iya iya, lepaskan aku sekarang." Seru Legolas tidak berani melepaskan tangan Lucia yang memeluknya. Karena jika ia langsung dengan menyentuh tangan gadis itu tanpa alas apapun, ia akan merasakan panas yang luar biasa.


Lucia menurutinya dan melepaskan Legolas segera. "Aku berjanji, aku tidak akan mencuri lagi, aku juga tidak akan membakar apapun lagi."


"Kau harus pegang janjimu." Ujar Legolas sambil berjalan ke arah kasurnya. "Apa janji iblis bisa dipercaya?" Gumamnya.


"Aku mencintaimu, Olas."


"Sudah jangan berisik, aku mau lanjut tidur lagi." Legolas sudah berbaring di kasurnya dengan memejamkan mata agar bisa tertidur.


"Olas, aku bosan." Keluh Lucia duduk menatap Legolas. "Olas, kau dengar aku kan? Aku bosan."


Legolas mencoba tidak menggubris ocehan Lucia karena dirinya harus fokus tidur.


"Aku sangat bosan, apa yang harus aku lakukan? Temani aku, Olas. Jangan tidur!!"

__ADS_1


Akhirnya dengan kesal Legolas bangkit duduk dan menatap Lucia.


"Ayo kita bermain. Ajari aku permainan di dunia manusia."


Legolas bangkit berdiri dan membuka laci di lemari pakaiannya. Ia mengambil sesuatu, pemutar musik dengan earphones.


"Aku punya lagu cinta untukmu. Kau bisa mendengarkannya, siapa tahu dengan mendengarnya membuatmu tersentuh hingga kau benar-benar bisa merasakan cinta." Ujar Legolas menghidupkan pemutar musiknya dan menyuruh Lucia memakai earphones.


Lucia menatap Legolas saat mendengarkan sebuah lagu cinta yang diputar terus menerus. Lagu yang berjudul Aku Mencintaimu Walau Harus Ke Neraka. Gadis iblis itu mulai menikmati alunan lagu yang didengarnya. Ia segera membaringkan dirinya sambil fokus mendengarkan lagu itu.


Legolas bernapas lega, ia berhasil membuat Lucia tidak lagi mengganggu tidurnya. Dengan cepat ia kembali tidur karena dirinya sudah sangat merasakan mengantuk.


"Kaulah satu-satunya yang ada di hatiku. Aku mencintaimu walau harus ke neraka."


Terdengar suara Lucia yang ikut bernyanyi lagu yang didengarnya. Legolas mencoba menutup telinganya karena saat ini masih terlalu awal satu jam untuk dirinya bangun dan bersiap-siap bekerja.


"Meski dunia hancur dan kau menghilang. Aku mencintaimu walau harus ke neraka. Aku tak akan membiarkanmu pergi. Aku mencintaimu walau harus ke neraka."


"BERISIK!!" Geram Legolas duduk dengan kesal menatap Lucia.


Legolas menahan emosinya agar tidak marah dengan menghela napas panjang sebanyak tiga kali.


"Kau baik-baik saja? Apa kau sulit bernapas?"


"Itu hanya kata kiasan saja, maksudnya karena sangat mencintai kekasihnya hingga dia tidak peduli pada apapun." Jawab Legolas.


"Aneh sekali, jika seperti itu apa dia juga tidak peduli meski harus berbuat dosa?" Tanya Lucia lagi.


"Mungkin seperti itu juga." Ucap Legolas.


"Olas, aku tidak peduli meski harus berbuat dosa. Aku mencintaimu walau harus ke neraka."


"Neraka rumahmu, itu jadi tidak terdengar romantis kalau kau yang mengucapkannya." Ujar Legolas sambil bangkit berdiri hendak bersiap-siap berangkat kerja.


"Kalau begitu kau yang katakan."

__ADS_1


"Itu hanya kata-kata bodoh! Aku tak akan pernah mengatakannya." Jawab Legolas setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai bersiap-siap dan sarapan, Legolas hendak berangkat bekerja. Sekarang ada masalah yang harus ia hadapi saat ini, yaitu meminta Lucia menunggunya di rumah dan tidak ikut ke restoran bersamanya.


"Cia, aku tidak bisa mengajakmu ke restoran lagi. Kalau tidak Drake akan memecatku." Ujar Legolas.


"Aku akan membakar Drake kalau begitu."


"Kau sudah berjanji tidak akan membakar apapun lagi. Tunggulah aku di rumah. Aku akan membawakan kentang goreng yang banyak nanti."


"Di rumah sendirian sangat membosankan." Jawab Lucia.


"Hari ini aku gajian dan besok aku libur, kita bisa pergi keluar. Kita akan membeli pakaian untukmu juga." Seru Legolas meyakinkan. "Aku berjanji padamu tapi sekarang kau harus tetap di rumah. Berjanjilah juga jangan berbuat hal yang macam-macam."


Akhirnya Legolas berhasil membujuk Lucia untuk tidak ikut ke restoran dan tetap tinggal di rumah. Pemuda itu merasa sangat lega. Setidaknya hari ini ia bisa bekerja dengan damai tanpa harus mencemaskan Lucia.


Namun apa yang dikira pemuda itu tidaklah benar. Saat bekerja Legolas menjadi tidak fokus, ia terus menerus memikirkan Lucia. Ia sangat takut jika Lucia melakukan sesuatu hal buruk saat di rumah. Gadis itu mungkin saja akan membakar rumahnya bahkan semua deretan rumah di bangunan itu.


Saat jam kerjanya selesai, Legolas berniat segera pulang. Namun tiba-tiba Chloe menghentikannya.


"Olas, kita tidak pulang bersama?" Tanya Chloe yang merasa aneh pada Legolas.


"Maaf Chloe, Cia ada di rumah sendirian. Aku takut dia berbuat hal yang macam-macam." Jawab Legolas dengan cepat.


"Tunggu dulu, Olas!" Seru Chloe menghentikan langkah Legolas lagi yang ingin bergegas pulang. "Kau besok libur kan? Aku juga libur. Bagaimana kalau kita pergi menonton film?"


Legolas terkejut mendengar ajakan Chloe. Ia merasa senang tetapi pemuda itu teringat akan janjinya pada Lucia yang akan mengajaknya jalan-jalan.


"Maaf Chloe, aku sudah berjanji pada Cia akan mengajaknya jalan-jalan besok. Lain kali saja ya?" Ucap Legolas. "Baiklah, aku pulang duluan ya."


Chloe terdiam setelah mendengar penolakan dari pemuda yang ia tahu kalau pemuda itu menyukainya selama ini.


Legolas bernapas lega saat melihat bangunan di mana rumah yang ia sewa masih berdiri tegak. Lucia tidak membakarnya. Dengan segera ia masuk ke dalam rumahnya namun ia tidak menemukan Lucia dimanapun.


Kekhawatiran langsung menyelimuti pemuda itu. Ia takut kalau Cia pergi karena bosan dan membuat keributan di jalan atau bahkan gadis itu tersesat dan tidak tahu arah kembali ke rumahnya.

__ADS_1


"Dimana kau, Cia?" Tanya Legolas tampak bingung.


__ADS_2