
"Hiks, hiks, hiks" bunyi tangisan seseorang didalam kamarnya, sudah hampir dua hari gadis itu tidak keluar kamar semua pembantu rumah tangga dirumah nya khawatir dan terus membujuknya namun ia tidak bergeming sedikitpun.
"Nona Ellena, ayo makan sedikit saja!" ucap salah satu pembantu ia sangat khawatir dan gelisah karna ulah gadis itu
"Nona, ayoo makan nanti nona sakit.." ucap pembantu itu lagi tapi ia tetap diabaikan
"Bagaimana keadaan Nona Ellena bibi Key?" tanya Dony, wanita yang berumur hampir 49 tahun itu hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menjawab sepatah katapun
"Hahhh, jika begini terus bisa kacau.." ucap Dony lagi dengan nada khawatir
"Tuan Cullen masih belum ditemukan, nona Ellena tidak mau keluar kamar bahkan ia tidak mau makan..." ucap Dony frustasi
"Apa nona Ellena punya teman?" tanya bibi Key, Dony tampak sedang berpikir dengan ucapan bibi Key
"Emm setahu ku mungkin ada, ya ada! Nama nya Xana kalau tidak salah. Memangnya kenapa bi?" tanya Dony agak heran
"Mungkin dengan kita datangkan temannya itu, nona Ellena mau mendengarkan dia.." ucap bibi Key menjelaskan
"Hemm bisa kita coba.." sahut Dony, ia lalu bergegas mengambil mobilnya dan membawa Xana ke Mansion itu.
Tidak lama kemudian, Xana tanpa penolakan mengikuti Dony.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Xana melihat Dony yang terlihat sedang banyak pikiran
"Bos Cullen hilang dan Ellena tidak keluar dari kamar nya sejak kemarin" kata Dony yang terlihat frustasi
"Cullen hilang?" ucap Xana pelan namun masih terdengar oleh Dony
"I..iya.." kata Dony keceplosan
'Menarik!'
Gumam Xana dalam hatinya, ia tersenyum kecil
"Jadi aku diperlukan hanya untuk membujuk nona kalian.." ucap Xana lagi dan Dony hanya mangguk-mangguk.
Sesampainya di Mansion, Xana terpaku melihat seberapa besar dan mewahnya kediaman Cullen Alfarizi ini.
'Luar biasa, ini adalah hasil jerih payahnya'
Xana masuk ke dalam mansion bersama Dony,
"Nona Xana aku serahkan tugas ini kepada mu, karna aku masih banyak urusan yang belum selesai.." ucap Dony sambil membungkuk sedikit dan di ikuti oleh Xana tanda mereka sama-sama saling menghormati.
Lalu seorang wanita paruh baya mendatangi Xana
"Temannya nona Ellena? Ayo ikuti bibi kesini!" ucap wanita itu sambil menggandeng tangan Xana dan membawanya kesebuah kamar yang pintunya berwarna merah muda.
"Ini kamarnya nona Ellena, saya mohon bujuk dia agar keluar..." ucap nya lagi. Lalu Xana tanpa banyak bicara ia mengetok pintu kamar nya Ellena.
'Tok tok tok'
"Ellena ini aku Xana, kamu kenapa tidak menjawab telpon dari ku!" ucap Xana sedikit tegas, tapi masih belum ada respon dari balik pintu itu.
Kemudian Xana berbicara lebih keras lagi
"Jika kau tidak membuka pintu ini maka jangan salahkan aku jika pintu mu rusak" ucap Xana namun masih belum ada respon dari dalam,
'Dbrukkkkk!!'
__ADS_1
Suara keras itu berasal dari pintu kamarnya Ellena, Xana membuka paksa pintu itu hingga pintunya hancur. Bibi Key ternganga dengan sikap Xana yang menurutnya luar biasa kuat untuk seorang wanita. Padahal mereka tidak berani melakukan pendobrakan pintu itu karna takut akan di marahi Nona Ellena ataupun Tuan Cullen, tapi sekarang malah di hancurkan oleh Xana dengan wajah polos tanpa merasa bersalah.
Xana langsung memasuki kamar itu dan terlihatlah Ellena yang sangat pucat, ia terlihat seperti orang yang kurang gizi padahal hanya hampir dua hari saja ia mengurung diri.
Xana menghampiri Ellena dan memeriksa dahinya yang ternyata begitu panas, namun tangan dan kaki nya begitu dingin.
"Bi bantu saya mengangkat Ellena!" ucap Xana, lalu mereka mengangkat Ellena ke atas kasurnya.
"Cepat panggil dokter!" perintah Xana lagi dan tanpa banyak bicara bibi Key menuruti perintah Xana.
Singkat cerita setelah dokter datang, Xana memutuskan untuk pulang kerumah nya dengan berjalan kaki karna ia menolak untuk diantar supir di mansion itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kau benar-benar tidak bisa melihat faktanya?" tanya Cullen tajam kepada Daniel Amartha yang sedang duduk di kursi tepat didepannya, wajah yang sedari tadi merah padam tapi ia berusaha menahan amarah dan mencerna perkataan Cullen tadi kepadanya.
"Jika kau menyukai nya kenapa kau menolaknya? Dan membuat ia melakukan hal nekad untuk membuktikan cintanya pada mu!" teriak Daniel dengan mata berkaca-kaca, ia terluka lagi jika mengingat masa lalu itu. Luka yang berusaha ia sembuhkan kini malah terbuka lagi, entah kenapa rasanya sulit untuk menerima apa yang telah terjadi waktu itu.
"Aku memang menyukainya tapi aku menganggap nya hanya sebatas adik ku saja!" sahut Cullen dengan nada datar namun ia telah berkeringa dingin sedari tadi karna siksaan yang telah Daniel lakukan.
"Apa kau memang tidak ingin menerima kenyataan?" tanya Cullen
"Hehh! Bukan hanya karna itu," ucap Daniel
"Dimana dokumen rahasia?" tanya Daniel tegas
"Dimana kau menyembunyikannya!!" teriak Daniel seperti orang gila, Cullen agak heran dengan perubahan drastis yang Daniel lakukan terlihat seperti bukan Daniel yang dulu. Ia dengan mudahnya berubah-ubah?
'Apa yang terjadi pada mu Daniel?'
Pikir Cullen sambil menatap sorot mata tajam Daniel yang terlihat sedang marah namun ada kesedihan didalam nya.
"Dokumen rahasia apa lagi Daniel?" tanya Cullen
'Dokumen Rahasia, meliputi seluruh aset pasar gelap. Dan daftar semua nama orang-orang kuat yang berhubungan dengan setiap detail data terperinci dari semua orang yang terlibat didalamnya. Wajib bagi orang yang memegang kendali ekonomi di pasar gelap itu, menjaga dokumen ini yang jika berada ditangan orang tidak tepat maka konsekuensi nya lebih besar. Karna sedikit saja terjadi kebocoran, maka mereka akan dibasmi oleh pihak yang berwajib akibat transaksi ilegal dan kejahatan yang dilakukan.'
Cullen diam ia tidak bicara lagi karna kedua pipi nya terasa perih akibat cengkraman kuat dari Daniel.
"Hehh! Filnd buat dia berbicara dimana dokumen itu tersimpan!" perintah Daniel kepada Flind yang sudah terlihat bosan melihat drama kedua orang ini yang dulunya bersahabat, tapi kini malah menjadi musuh bebuyutan.
Setelah Daniel pergi, tertinggal lah Flind dan beberapa anak buah Daniel yang berada di ruangan itu.
"Tidak ku sangka orang hebat seperti mu nasib nya akan seperti ini!" ucap Flind mengejek disertai seringai yang mengerikan
'Brukkkk!'
Flind meninju perut Cullen hingga Cullen muntah darah,
'Uhukkk! Uhukk!'
Beberapa kali Cullen batuk darah akibat dari pukulan dari Flind, di sini Cullen terus disiksa hingga ia buka suara. Namun Cullen tidak selemah yang mereka kira...
Hampir 3 jam Flind memukuli Cullen secara bergantian dengan anak buah yang lain, namun Cullen masih tidak berbicara.
Cullen tersenyum sinis,
"Ap..apa..ka..lian...kelel..ahan" ucap nya dengan terbata-bata disertai seringai yang mengerikan.
"Sial Cullen sangat kuat hingga bisa bertahan sejauh ini, cukup ku akui kehebatannya itu memang pantas ia menyandang mafia paling berkuasa.." gumam Flind dalam hati ia cukup kelelahan namun ia mengeluarkan belati beracunnya tadi,
__ADS_1
"Ini untuk goresan terakhir yang aku berikan untuk mu!" ucap Flind perlahan ia mendekati Cullen yang telah babak belur lalu menggoreskan belati itu di pergelangan tangannya, untungnya tidak mengenai urat nadi. Hanya saja belati itu beracun!
Cullen menahan rasa sakit nya untuk yang kesekian kalinya,
"Tunggu pembalasan ku nanti kalian akan merasakan sakit 1000× lipat dari apa yang telah aku rasakan ini, hingga kalian akan memohon untuk cepat dibunuh!" gumam Cullen dalam hatinya.
Semua orang meninggalkan ruangan eksekusi itu, dan disitulah Cullen baru melepaskan rasa sakit dan lelah nya. Ia hanya terlihat kuat didepan musuh-musuh nya dan setelah itu, setelah ia disiksa siang dan malam Cullen berangsur-angsur melemah.
Cullen pingsan detik itu juga, ia hampir tak sanggup lagi untuk bangun. Beberapa menit kemudian, tepatnya 15 menit setelah penyiksaan. Cullen kembali bangun, tubuh nya yang masih diracuni seperti terbakar rasa sakit. Belum lagi memar dan luka-luka titubuh nya yang seakan-akan ditaburi garam, sangat sakit!
Di detik-detik terakhir itulah Cullen bangkit dengan tenaga terakhirnya, entah dari mana ia mendapatakan kekuatan itu Cullen dengan keras merenggut rantai yang mengikat kedua tangannya.
Ia mencoba dengan keras, namun gagal. Dan untuk yang kesekian kalinya Cullen bekerja keras merenggut rantai itu dari dinding yang mengunci rantai.
Namun tiba-tiba...
'Sretttt'
Pintu dibuka perlahan oleh seseorang, dan terlihatlah seorang wanita cantik mendatangi Cullen.
"Metty?" ucap Cullen pelan ia tidak tahu apa yang wanita itu lakukan saat ini,
"Astaga Cullen aku tidak tahu kau akan disiksa dengan kejam seperti ini" ucapnya sambil menutup mulutnya tidak percaya.
Lalu Metty membuka rantai dipergelangan Cullen dengan perlahan, terlihat oleh Cullen bahwa Metty sedang menangis.
"Kenapa kau menangis?" tanya Cullen heran dengan nada lemah
"Sejahat-jahat nya aku, aku tidak tega melihat kau terluka" ucap Metty lalu ia memeluk Cullen yang rantai nya telah dilepas
"Terima kasih Metty," ucap Cullen singkat dan Metty memandang Cullen sayu, ia ingin mencium bibir mungil milik Cullen namun ia tidak berani melakukan hal senekat itu.
"Apa kau terluka?" tanya Cullen saat melihat pergelangan Metty yang berbalut perban, Metty menghapus air mata nya
"Ini hanya luka ringan.." sahut Metty
"Maaf jika aku menembak mu kemarin" ucap Cullen merasa bersalah dan Metty tersenyum manis
"Tidak masalah, luka hati ku lebih dalam jika melihat mu terluka seperti ini.." ucap Metty yang membuat Cullen terdiam
"Maaf jika aku salah bicara..." ucap Metty
"Tidak, aku yang minta maaf karna tidak bisa menerima perasaan mu.." sahut Cullen lalu ia berdiri sendiri tanpa bantuan Metty
"Terima kasih untuk ini, akan aku balas suatu hari nanti..." ucap Cullen seraya berjalan keluar dari ruangan itu
"Akan aku tunjukan kau jalan yang aman!" ucap Metty lalu ia menggandeng tangan Cullen dan membawa nya menjauh dari sana.
"Aku hanya bisa mengantar mu sampai sini" ucap Metty disebuah terowongan rahasia yang langsung menuju kota
"Terima kasih Metty" ucap Cullen singkat lalu ia berjalan sendiri menyusuri terowongan yang cukup gelap itu, namun sebelum itu Metty dengan cepat memeluk Cullen dari arah belakang.
"Hati-hati..." ucapnya singkat lalu melepaskan pelukan itu dan membiarkan Cullen pergi.
"Cullen andai kau tahu aku sangat menyukai mu, tapi sayangnya ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya kau melihat ku.." ucap Metty dalam hati, ia tersenyum dan menangis disaat yang bersamaan.
Cullen berjalan sudah cukup jauh, dan sekarang sudah pukul 11 malam Cullen berusaha kabur dari tempat itu, ia tergopoh-gopoh dan sering terjatuh karna fisik nya semakin melemah.
Terowongan yang gelap itu ditempuh Cullen dengan jalan kaki, ia sangat kelelahan namun karna semangat ingin bertahan hidup Cullen tetap berjalan tanpa henti. Racun dalam tubuh nya yang masih menyebar perlahan membuat Cullen semakin tersiksa dan merasa kesakitan,
__ADS_1
"Jika begini terus, apa aku akan mati?" pikir Cullen tidak karuan.
...Next.........