
Xana turun kesekolah seperti biasanya, walaupun dirinya masih terluka namun tidak terlalu serius. Sebentar lagi ujian semester terakhir Xana harus mempersiapkan nya dengan matang agar bisa menjadi 'Rang Pertama'.
"Huhhhf setelah sekian lama aku tidak berkecambung dalam pendidikan, akhirnya aku bisa mengulanginya dalam hidup ini" gumam Xana dalam hatinya, ia sangat bahagia untuk kehidupan kedua yang telah diberikan pada dirinya.
"Kemana Ellena?" tanya Xana pada diri nya sendiri, tidak seperti biasanya gadis itu tidak muncul-muncul.
"Apa dia masih terluka karna kejadian itu?" gumam Xana lagi karna mengingat bahwa kejadian dua hari yang lalu menimpa mereka berdua, geng Vania masih ia biarkan saja karna mengingat akan ada ujian dan Xana tidak ingin masalah itu bakal mempengaruhi pelajaran mereka tapi tunggu saja pembalasannya!
'Tringgg! Tringgg! Tringgg!'
Bel sekolah berbunyi keras, membuat seluruh murid berhamburan memasuki ruangan mereka masing-masing.
Geng Vania menatap Xana dengan tajam mereka sedikit tertegun karna melihat Xana masih bertahan hidup dalam siksaan itu,
"Aku yakin dia sudah tidak perawan lagi.." ucap Vania kepada Cerly dan Keren membuat mereka cekikikan tidak jelas.
"Bagaimana jika dipesta kelulusan nanti kita permalukan dia?" kata Cerly spontan memberikan ide yang membuat mereka semakin ingin Xana lebih tersiksa lagi, tanpa mereka katahui bahwa preman yang mereka kirim untuk menodai Xana telah mati dan jasad nya telah diamankan oleh anak buah Cullen sendiri.
"Hehh kalian mengganggu orang yang salah, apalagi kalian telah menyentuh keluarga Alfarizi! Kalian pikir akan menjalani hidup dengan mudah ouhh tidak bisa sodara!" gumam Xana disertai seringai yang tipis namun tidak ada yang melihatnya.
Dikediaman Alfarizi tepatnya di Mansion besar layaknya istana, namun penghuni nya hanya Cullen dan saudara perempuannya Ellena juga pembantu rumah tangga yang mengurus kebutuhan hidup mereka.
"Bagaimana kakak ku bisa menghilang!" teriak Ellena marah seraya menangis ia meronta-ronta layaknya anak kecil, sebenarnya wajar saja karna itulah Ellena ia selalu dimanjakan dan hanya memiliki kakak nya saja yang menjadi tempat sandarannya.
"Aku perintahkan kalian semua! Cari kakak ku sampai dapat!!" teriak Ellena lagi, lalu ia memasuki kamarnya dan menutupnya dengan keras membuat pelayan dan penjaga disana sangat terkejut.
Begitu juga Dony dan Robert mereka mengarahkan seluruh anak buah Cullen untuk mencari tuannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Uhukk! Uhukkl!" sosok pria tampan tengah dirantai dengan posisi tubuh berdiri, hampir berjam-jam ia dibiarkan seperti itu hingga membuat seluruh tubuhnya sangat sakit namun ia memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga masih bisa bertahan sampai detik ini.
'Brukkk!'
__ADS_1
Sebuah tamparan melayang ke wajah tampannya,
'Byurrrrrrrr'
Satu ember berisi air disiramkan ke orang itu agar dia sadar dari pingsannya, perlahan pria itu membuka kedua matanya dan melihat seluruh ruangan yang sedikit gelap namun ada banyak sosok yang memandanginya dengan tajam.
"Apa kau menikmati air yang ku berikan Tuan Cullen?" tanya sosok yang sedang duduk dikursi, tentunya ia adalah bos dari orang-orang yang menatap dirinya dengan buas. Seolah-olah ingin memangsa dirinya hidup-hidup, pria tampan itu adalah Bos Cullen atau Tuan Mafia pemilik pasar gelap yang mengendalikan orang-orang terkuat disana.
Namun ia telah ditangkap oleh pembunuh nomor satu 'Flind Flower' yang bersekongkol dengan Metty juga dengan musuh bebuyutan Cullen sendiri yang berusaha mengambil seluruh pasar gelap itu.
Sebenarnya bukan hanya karna itu, tetapi juga ada dendam yang tersembunyi dibalik itu.
"Kenapa kau tidak menjawab ku Cullen? Apa kau sudah mengaku kalah?" tanya orang itu, Cullen menyeringai lalu ia tertawa terbahak-bahak dengan nada yang mengerikan.
"Hahahahahahaaa..." untuk yang pertama kalinya. Semua orang tercengang dan bergidik ngeri walaupun Cullen telah dirantai namun tetap saja hawa membunuh nya seolah-olah menusuk mereka yang menyaksikan itu.
"Bos Daniel bagaimana jika kita mengulitinya sekarang?" ucap Flind Flower tidak sabar, ia terus memegang belati beracun miliknya yang akan menjadi alat pertama untuk menyiksa Cullen.
"Daniel Amartha hehh ternyata kau masih mengingat masa lalu itu yahh, hehh lucu sekali! Tapi sayangnya itu adalah kesalahan mu sendiri!!" sahut Cullen dengan nada tegas penuh penekanan diakhir ucapannya.
Wajah orang yang bernama Daniel Amartha itu menjadi merah padam menahan amarah, jika menyangkut masa lalu entah kenapa hatinya terasa sakit dan emosi nya memuncak. Padahal tadi ia hanya ingin memancing emosi Cullen agar merasa bersalah dengan apa yang pernah terjadi.
'Brukkk!
"Bajingan kau Cullen!" teriak Daniel Amartha seraya memukul keras wajah Cullen hingga sudut bibirnya berdarah.
Cullen hanya terlihat tenang sambil tersenyum tipis,
"Apa kau menolak lupa?! Daniel Amartha!" ucap Cullen penuh penekanan.
Flash back....
5 tahun yang lalu, ketika Cullen berumur 20 tahun.
__ADS_1
"Megiiiiiiiiiiii apa kau tau Cullen telah pulang dari luar negri!" teriak Daniel histeris dengan tingkah konyolnya ia menari-nari mengelilingi Megi.
Cullen, Megi dan Daniel adalah sahabat masa kecil. Namun dengan sikap yang berbeda-beda, Cullen adalah tipe pria cool, cerdas dan berkesan cuek. Lalu Megi tipe wanita lembut, penyayang dan pintar masak. Sedangkan Daniel adalah sosok pria tampan dengan sikap konyol tapi penyayang dan periang.
Mereka disatukan menjadi sahabat dalam status keluarga yang tinggi, dari sejak kecil hingga dewasa.
Namun sayangnya kejadian naas menimpa hubungan persahabat mereka yang menjadi penyebab hancurnya hubungan yang dibangun sejak kecil hingga dewasa.
"Apa benar?" tanya Megi memastikan dengan wajah merona, hatinya berseri-seri mendengar orang yang paling ia sayangi akhirnya kembali lagi setelah sekian lama terpisah.
"Iyaa Megi, tapi...kenapa wajah mu memerah apa kau sakit?" tanya Daniel polos sambil memeriksa kening Megi
"Suhu tubuh mu normal saja" ucap Daniel lagi
Megi tersipu malu dan dengan cepat memukul pelan tangan Daniel yang tengah menggodanya
"Sudahlah aku baik-baik saja! Ayo kita cepat-cepat ke bandara untuk menyambutnya!!" ajak Megi antusias membuat Daniel merasa sedikit cemburu dan iri dengan tingkah Megi yang terlihat sangat bahagia.
"Hemm baiklah..." sahut Daniel kecil
"Heyy semangatlah jangan pasang wajah seperti itu nanti Cullen tidak suka!" ucap Megi sambil mencubit pipi Daniel, dan spontan cubitan itu mengembalikan semangat Daniel lagi
"Baiklah ayoo!" ucapnya bersemangat seraya menggenggam jemari Megi dan membawa nya berlari.
Dibandara Megi dan Daniel menunggu Cullen, hati Megi yang terasa kacau karna kecepatan jantungnya melebihi kecepatan normal detak jantung manusia.
"Apa yang terjadi pada ku? Kenapa aku begitu gugup untuk bertemu dengan Cullen" gumam Megi dalam hati.
Kemudian terlihat sosok tinggi keluar dari dalam pesawat, sosok pria itu terlihat sangat berwibawa dan auranya begitu memikat. Membuat Megi melihatnya tanpa berkedip,
"Cullen....." ucap Megi pelan tanpa sadar.
...Next.......
__ADS_1