
"Apa yang kau lihat?" tanya Alnerd ketika melihat kakak nya Theo Welman sedang menatap kesebuah gerbang kosong
"Tidak ada..." sahut Theo singkat
"Ouh iya apa kau melihat Xana?" tanya Alnerd lagi yang sedari tadi menoleh ke kiri dan kanan mencari gadis kecil itu.
"Tidak..." sahut Theo singkat tidak seperti biasanya
"Ouh iya tumben kau menyapa ku" ucap Theo yang kini mimik nya berubah menjadi ceria seperti biasa.
"Huhh aku cuma bertanya saja bukan menyapa" sahut Alnerd ketus membuat Theo tertawa kecil
"Ouh yaa adik kecil ku, wanita yang kau sukai itu bukan wanita biasa!" peringati Theo dengan nada datar tepat ditelinga Alnerd, Alnerd terdiam tanpa menyahut satu kata pun. Ia sebenarnya tahu jika Xana bukan dari kalangan wanita biasa, tapi entah kenapa pesona gadis itu selalu menarik didepan mata Alnerd.
Theo berjalan melalui Alnerd yang masih terdiam setelah mendengar ucapannya tadi,
'Plukk'
Theo menepuk bahu Alnerd dan ia pergi meninggalkan Alnerd sendiri,
"Apa maksudnya ini" gerutu Alnerd pelan lalu ia melihat-lihat ke sana kemari lagi mencari apakah Xana benar-benar sudah pergi atau tidak.
Diruangan sang Rektor berkumpul para dosen yang merupakan dosen pembimbing dikelas Xana,
"Apa kalian tahu kenapa aku memanggil kalian semua kesini?" tanya Rektor datar
__ADS_1
"Maaf Pak Alizter, apakah ini karna salah satu mahasiswa wanita yang berkelahi?" tanya Theo Welman yang mencoba bertanya kepada Rektor
"Ya! Bagaimana bisa mereka terlibat dalam kekerasan seperti itu" tegas Pak Alizter
"Apa kalian tahu mereka yang terlibat semuanya dari kelas elite!" ucap Pak Alizter dingin
"Bagaimana aku akan menyelesaikan masalah seperti ini! Apa lagi tuan Cullen yang merupakan penyumbang terbanyak untuk kampus kita malah ikut terlibat!" gerutu Pak Alizter lagi
"Tenang pak kita akan mencari solusi nya untuk menangani masalah ini" ucap Dekan lagi yang ikut bergabung dalam pertemuan ini.
"Huhhh..." Pak Alizter menghela nafas kasar didepan para dekan, kajur, kaprodi dan beberapa dosen lainnya.
Dimansion Cullen, Xana yang langsung masuk ke kamarnya karna ingin cepat-cepat membersihkan dirinya hanya mengacuhkan Cullen saja yang sedari tadi juga terus memantau dirinya.
"E-ehh.." ucap Ellena spontan
"Kak Cullen kenapa dengan kakak ipar?" tanya Ellena saat melihat kakak nya itu memasuki ruang tamu
"Tidak apa-apa.." sahut Cullen singkat
"Hmmm" sahut Ellena karna malas bertanya lagi saat melihat wajah letih sang kakak.
"Kak..." ucap Ellena yang mencoba mendekati Cullen
"Bisa tidak aku pulang nya diundur saja" rayu Ellena dengan lembut mencoba meluluhkan hati nya
__ADS_1
"Tidak!" sahut Cullen singkat
"Aaaaaaaaaaa kenapaaa" tanya Ellena disertai rengekan
"Ellena, aku tidak ingin kau mendapat masalah lagi jika kau tinggal di mansion ini" ucap Cullen mencoba memberi penjelasan kepada Ellena yang masih tidak tahu siapa Cullen dan keluarga nya itu sebenarnya.
"Hmmmmm" sahut Ellena lesu lalu Cullen merangkul bahu adiknya itu
"Diluar negri kau tidak akan diganggu oleh siapa-siapa dan kau lebih aman jika jauh dari ku" ucap Cullen lagi
"Kenapa begitu? Padahal ku rasa lebih aman jika bersama kak Cullen" sahut Ellena manja dan percakapan Ellena dengan Cullen itu tanpa sengaja didengar oleh Xana yang ingin menghampiri mereka diruang tamu.
"Maafkan aku ini demi kebaikan kita semua" ucap Cullen lagi
"Emm bagaimana jika kau sudah menikah dengan kak Xana nanti? Bukankah dia juga akan dalam bahaya jika dekat dengan mu? Dan aku pun juga tidak tahu bahaya apa yang sebenarnya kakak maksud itu" ucap Ellena lagi.
"Ellena begini, bahaya yang kakak maksud itu seperti musuh dalam bisnis kakak. Mereka itu licik dan identitas mu tidak boleh diketahui siapapun, selain keluarga kita saja" terang Cullen kepada adiknya yang benar-benar masih polos itu.
Lalu Xana yang sedari tadi memperhatikan keakraban kedua adik kakak itu, membuat dirinya cukup merasa iri.
Untuk yang kesekian kalinya Xana malah merindukan Morvin yang merupakan kakak kandungnya, walaupun dia telah menyakiti Xana atau Alexsa tetap saja dia merupakan kakak kandung seibu dan sebapak.
'Tuhan kesedihan ku terhadap masa lalu kini tidak pernah berakhir, setiap kali mengingat luka hati itu membuat ku berputus asa. Tapi terkadang hal itu juga bisa membuat sudut pandang ku berbeda ketika menatap kedua adik kakak yang sedang saling dukung tanpa kedua orang tua disisi, membuat semangat ku kembali lagi dan mencoba mengakhiri kesedihan yang tak berujung ini.'
...Next......
__ADS_1