Gadis Kesayangan Bos Mafia

Gadis Kesayangan Bos Mafia
Bab 16. Rahasia Xana & Cullen


__ADS_3

"Ck, sial kenapa Xana bisa dekat dengan tuan Cullen!" gerutu Vania kesal, hari ini ia benar-benar dipermalukan oleh gadis cupu itu.


"Bagaimana aku bisa merebut pria tampan itu dari tangan Xana?" gumam Vania pelan sambil memikirkan sebuah cara yang licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mansion Cullen, ia tengah duduk diruang kerja seperti biasanya.


"Tuan, kau hampir lupa sesuatu..." ucap Dony agak sedikit kaku, Cullen menatap Dony datar


"Apa kau lupa siapa dalang dari penculikan Nona Ellena dan Nona Xana?" tanya Dony


"Bukankah kau sudah aku perintahkan untuk menyelidkinya?" ucap Cullen balik bertanya


Walaupun sebenarnya Cullen memang hampir lupa siapa dalang yang telah menjebak adiknya itu, dan kejadian itu sudah hampir satu bulan berlalu. Karna beberapa masalah yang terus menghampiri diri nya, namun untuk saksi mata waktu itu hanya ada dua orang Xana dan Ellena.


"Mungkinkah Nona Xana dan Nona Ellena menyembunyikan sesuatu?" tebak Dony lagi


"Adikku baru pindah ke sekolah itu dan ku rasa Xana yang tahu pasti siapa dalang nya!" ucap Cullen datar


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Dony


"Aku akan bicara kepada Xana!" ucap Cullen lalu ia berdiri dari tempat duduk nya untuk menemui gadis yang selalu menarik perhatiannya itu.


'Tok tok tok'


Cullen mengetok pintu kamar Xana


'Srettt'


Pintu kamar di buka oleh Xana perlahan


"Ada apa tuan?" ucap Xana formal


"Panggil aku Cullen!" sahut Cullen dingin


"Iya ada apa Cullen?" tanya Xana lagi tanpa basa-basi

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" Cullen balik bertanya membuat Xana heran dengan sikap wajah poker ini


"Iya silahkan..." sahut Xana kembali ramah


'Ini rumahnya aku tidak bisa jika melarang nya masuk! Ck sial!'


"Satu bulan yang lalu, Ellena dan dirimu di culik..." ucap Cullen sambil menatap datar wajah Xana yang siap mendengarkan ucapannya selanjutnya


"Apa kau tahu siapa dalangnya?" tanya Cullen ia berusaha membaca ekspresi wajah Xana yang terlihat tenang-tenang saja.


"Tidak tahu!" ucap Xana singkat membuat Cullen menaikkan satu alisnya,


"Kau tahu apa akibatnya jika menyembunyikan sesuatu dari ku?" ucap Cullen seolah-olah tengah memberikan peringantan, Xana hanya diam saja.


"Baiklah itu saja yang ingin aku katakan, selamat malam Xana.." ucap Cullen berlalu pergi meninggalkan Xana sendiri didalam kamar nya itu. Hanya itu yang ia pertanyakan, tidak sampai lima menit tapi sungguh meresahkan!


"Aku tidak bisa memberitahu nya siapa dalang dari penculikan itu walaupun yang menjadi korban adiknya sendiri dan aku, karna aku belum benar-benar tahu siapa Cullen sebenarnya.." gumam Xana dalam hati.


"Ada banyak hal yang menjadi pertanyaan saat ini, apalagi tentang dokumen rahasia waktu itu yang ternyata keluarga ku pun ikut terlibat. Hahh aku belum memahami apa yang sedang terjadi..." Xana terus menggumam dalam hati. Bukan hanya tentang itu saja, tapi ia masih belum tahu apa alasan sebenarnya kakak nya membunuh diri nya waktu itu. Walaupun itu karna iri tapi tetap saja pasti ada alasan untuk itu.


"Hahhhhhhhhh...." Xana menghembuskan nafas berat ia langsung berbaring ke kasur nya, tanpa ia sadari Cullen masih berada di samping pintu kamar nya yang terbuka. Cullen memperhatikan setiap tingkah gadis itu, yang terkadang lembut dan terkadang kasar. Terkadang baik terkadang sangat arogan, sepertinya ia telah melewati perjalan tersulit dalam hidup nya.


'Apa yang pernah ia lalui?'


Tanya Cullen pada dirinya sendiri, ia berusaha mencoba memahami Xana. Lalu Cullen pergi dari tempat itu dan masuk ke kamarnya sendiri, saat ini Cullen dan Xana sama-sama merahasiakan masalah nya satu sama lain. Hingga tanpa sadar itu malah membuat perselisihan antara mereka berdua.


Keesokan paginya, Xana berjalan ke luar mansion tanpa tahu banyak jebakan di area sekitar.


"Nona Xana jangan ke sana!" teriak Yura yang sudah mengetahui area terlarang dimansion, untungnya Xana belum berjalan di arae paling berbahaya sehingga Yura bisa menuntunnya kembali ke tempat yang aman.


"Jangan menginjak itu, itu, itu dan itu!" ucap Yura sambil menunjuk-nunjuk daerah tertentu membuat Xana bingung sendiri


"Memangnya ada apa disana?" tanya Xana penasaran ia berjalan perlahan melihat gundukan tanah disekitar mansion namun ditata begitu rapi, tapi langkah nya terhenti ketika tangan seseorang mencengkramnya dari belakang.


"Tu..tuan" ucap Yura gelagapan, Xana menoleh orang yang memegang tangannya itu.


"Apa kau ingin meledak?" tanya Cullen datar

__ADS_1


"Disini banyak jebakan jika kau ingin bertahan hidup maka jangan kemana-mana!" perintah Cullen


"Aku tahu di sini banyak ranjau, tapi aku mencek saja seberapa besar ledakannya.." sahut Xana asal, dia tidak ingin selalu kalah berdebat dengan Cullen


"Hah, apa kau benar-benar ingin mencoba?" tanya Cullen penasaran, lalu ia mendorong Xana namun tidak sampai terjatuh hanya saja Cullen mencoba menakuti nya saja.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Xana emosi membuat Cullen tersenyum tipis


"Dia sangat manis jika sedang marah!" gumam Cullen dalam hati seraya terus menatap wajah Xana yang memerah.


Xana ingin meninju Cullen saat itu juga, namun dengan cepat ditangkis oleh Cullen.


"Apa kau ingin bermain?" tanya Cullen sambil tersenyum sinis, ia sangat suka menggoda gadis kecil ini.


'Plakk! Plak!


'Brukkk!'


Semua tendangan dan tamparan yang Xana berikan di tangkis oleh Cullen dengan mudah,


"Ternyata kau lincah juga.." ucap Cullen singkat, ia membalas kembali semua serangan yang Xana lakukan. Namun dengan cepat di tangkis oleh Xana, mereka imbang atau Cullen saja yang mengimbangi kekuatan Xana.


Nafas mereka sama-sama tidak beraturan, Xana sudah cukup berkeringat pagi ini sudah lama ia tidak merasa seperti ini rasanya sungguh berbeda.


'Happ'


Tangan Xana dikunci oleh Cullen membuat Xana tidak bisa bergerak dipelukannya, Yura yang masih disitu malah menjadi malu sendiri dengan apa yang ia lihat. Yura menutup wajah nya dengan kedua tangan namun masih ada celah untuk mengintip apa yang akan terjadi berikutnya.


"Lepaskan aku! Aku ingin mandi!" ucap Xana


"Apa kau mengajak ku mandi bersama?" tanya Cullen


"Hahh dasar otak mesum!" gertak Xana namun untuk yang pertama kalinya Cullen tertawa kecil, Xana terdiam melihat pemandangan langka itu begitu juga dengan Yura ia terdiam tidak percaya untuk yang pertama kalinya mereka melihat Cullen tertawa.


'Ia sangat tampan sekali dengan senyuman diwajahnya!'


...Next.......

__ADS_1


__ADS_2