Gadis Kesayangan Bos Mafia

Gadis Kesayangan Bos Mafia
Bab 11. Perasaan Yang Berbeda


__ADS_3

Tepat pukul 2 malam Cullen tidak mampu berjalan lagi, namun ia sudah sampai ditempat yang pernah ia datangi.


'Tok! Tok!'


Cullen mengetok pintu perlahan beberapa kali ia sangat kesakitan, namun terus mengetok pintu dengan sangat keras. Entah kenapa hati nya ingin menuju rumah kecil ini,


'Sretttt'


Pintu dibuka perlahan oleh seorang gadis, ia memegang tongkat bisbol dan siap menghantam jika ada orang jahat. Tapi belum sempat ia bereaksi Cullen langsung terjatuh kedalam pelukan gadis itu.


"Cu..cullen..." teriak Xana terkejut ia tidak menyangka bisa melihat pria itu lagi, Xana mencoba menjauhi Cullen dari dirinya tapi Cullen telah jatuh pingsan dan tubuh nya tampak seperti telah disiksa.


Xana dengan cepat membawa Cullen masuk kedalam rumah nya, takut akan ada penjahat yang menemukan Cullen di tempat dirinya.


Cullen dibaringkan oleh Xana ditempat tidurnya yang kecil itu,


"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" gumam Xana pelan lalu Cullen perlahan membuka matanya, ia melihat seorang gadis mungil tepat di hadapannya dan menatapnya dengan intens.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Xana, dan Culleng menggelengkan kepalanya membuat Xana menaikkan sebelah alis nya tidak mengerti.


"Aku akan menelpon Ellena.." ucap Xana namun tangannya dengan cepat dipegang erat oleh Cullen


"Jangan!" lirih nya pelan dan tanpa sengaja Xana melihat goresan cukup dalam di pergelangan tangan Cullen yang sudah mulai membiru. Xana tercengang seketika,


"Apa kau diracuni?" tanya Xana spontan seraya memegang kembali tangan Cullen.


Cullen hanya diam menatap Xana dengan intens, samar-samar gadis itu terlihat dan Cullen beberapa kali mengerjap-ngerjapkan mata nya karna kesadarannya mulai memudar lagi.


"Aku akan memanggil dokter" ucap Xana bergegas ia menelpon seorang dokter yang ia kenal dan sengaja menyimpan nomor nya yang ia dapatkan di medsos.


Tidak menunggu lama dokter itu datang dengan cepat lalu memeriksa Cullen,


"Dia diracuni sudah hampir lima jam, dan untungnya daya tahan tubuhnya begitu kuat sehingga mampu bertahan sejauh ini." ucap dokter Clarissa


"Terima kasih banyak sa..." ucap Xana


"Tidak masalah, aku sudah menyuntik nya jadi kau hanya perlu memberikannya waktu untuk istirahat." sahut dokter Clarissa lagi


"Ouh iya saya ingin bertanya sepertinya kamu mengenal saya?" tanya dokter Clarissa penasaran, Xana menjadi salah tingkah. Waktu ia menjadi Alexsa dahulu, Clarissa adalah teman nya sejak dibangku SMA tapi karna mereka berbeda jurusan kuliah maka mereka pun terpisah.


Hingga suatu hari Alexsa kembali bertemu dengan Clarissa yang telah menjadi dokter magang dan Alexsa menjadi direktur perusahaan kakek nya, namun kejadian naas menimpa nya yang membuat Alexsa bertransmigrasi ke tubuh Xana seorang gadis SMA yang selalu menjadi bahan bullyan.


"Hemm tidak dok, cuma ada teman yang memberitahu kepada saya kalau dokter Clarissa itu ahli penyakit dalam." ucap Xana memberikan alasan yang masuk akal, dokter Clarissa tersenyum manis.

__ADS_1


"Kau jadi mengingatkan ku kepada seseorang.." ucap dokter Clarissa spontan ketika melihat gelagat Xana.


"Apa orang itu cukup berarti?" tanya Xana penasaran


"Bukan cukup, tapi sangat berarti. Karna dia yang membuat ku menjadi seperti ini..." sahut dokter Clarissa


"Emmm boleh tahu namanya?" tanya Xana malu-malu, dokter Clarissa tertawa kecil.


"Siapa nama mu?" tanya dokter Clarissa mengalihkan pembicaraan


"Xana Alexsandra.." sahut Xana singkat


"Hemm nama mu juga hampir mirip dengan nya" ucap dokter Clarissa


'Sudah jelas Clarissa ternyata membicarakan aku'


Gumam Xana dalam hati, Xana senyum-senyum sendiri tanpa sadar.


"Kamu kenapa tersenyum?" tanya dokter Clarissa bingung, Xana kembali salah tingkah untuk yang pertama kali ia sangat senang berbicara kepada seseorang.


"Ouh iya apa dia kekasih mu?" tanya dokter Clarissa


"Bukan dia cuma teman.." sahut Xana


"Biasalah pemuda.." sahut Xana singkat yang membuat dokter Clarissa geleng-geleng


"Kau pun masih anak muda," timpal dokter Clarissa membuat mereka sama-sama tertawa kecil


"Ya sudah aku mau pergi dulu, nanti jika ada masalah telpon saja. Dan kamu hati-hati ya tinggal bersama pria..." kata dokter Clarissa mengingatkan dan Xana hanya mengangguk-anggukan kepala saja.


"Jika ia terbangun nanti beri dia obat yang sudah aku resepkan di atas meja itu" ucap dokter Clarissa


"Iya terima kasih dok, kalau soal biaya nya bagaimana?" tanya Xana


"Nanti saja, aku akan kembali memeriksa nya.." sahut dokter Clarissa seraya berjalan keluar dari rumah kecil milik Xana itu. Xana mengantar nya sampai depan rumah tepat pukul 4 subuh dokter Clarissa pergi dari tempat itu.


Xana menutup pintu rumah, ia masih bingung apakah akan menelpon Ellena sekarang atau menunggu Cullen sadar saja. Walaupun Cullen melarang tapi tetap saja jika ia tidak berkabar akan membuat adiknya itu kembali drop karna memikirnya dia.


Xana sedikit iri dengan persaudaraan Cullen dan Ellena, tidak seperti dirinya..


'Huhhh...'


Xana menghela nafas lalu menghampiri pria itu yang terbaring lemah tidak sadarkan diri,

__ADS_1


'Jika dilihat-lihat ternyata Cullen sangat tampan..'


Pikir Xana tanpa sadar ia tersenyum kecil, Xana menjaga Cullen hingga pagi harinya.


Cullen membuka mata nya dan merasakan sekujur tubuh nya yang terasa sangat sakit, ia menatap sekeliling dan ternyata ada seorang gadis kecil yang tengah tertidur disamping nya.


Wajah gadis itu cukup cantik, bibir nya yang merah ranum dan rambut nya yang tebal juga tergerai berantakan. Untuk yang pertama kalinya Cullen menatap secara intens seorang wanita yang tengah tertidur pulas itu,


'Wawawahhhhh'


Xana menguap dan terbangun seketika, namun saat itu juga Cullen menutup mata nya berpura-pura masih tidur.


"Ternyata kau masih belum bangun juga" ucap Xana singkat seraya melihat jam di dinding.


"Baru jam 7 untunglah hari ini hari minggu.." ucap Xana lagi sambil kembali menutup matanya karna ai masih mengantuk berat akibat tadi malam begadang menjaga Cullen.


Xana kembali tidur sedangkan Cullen kembali membuka matanya, entah kenapa ia tersenyum kecil melihat tingkah laku gadis di depannya ini yang menurutnya sangat lucu.


Lalu Cullen mengerakkan tangan nya yang sudah diperban dengan kain kasa,


"Terima kasih gadis kecil kau sudah membantu ku.." gumam Cullen dalam hati, Cullen ingin duduk dan tanpa sengaja menyenggol Xana hingga gadis itu terbangun.


"Ahh kau sudah bangun.." ucap Xana singkat yang membuat Cullen berhenti bergerak. Kemudian Xana membantu menyenderkan Cullen ke dinding, setelah itu ia berjalan ke depur dan memberikan Cullen air hangat.


"Minumlah dulu, aku akan mencarikan kamu makanan..." ucap Xana lagi, Xana berjalan ke kamar mandinya dan membersihkan diri.


Ketika Xana sudah keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa segar dan fress. Xana keluar sebentar untuk mencari makan, ketika ia kembali Xana membawa dua bungkus nasi.


"Makanlah dulu, lalu minum obat kemudian aku akan menelpon Ellena.." ucap Xana


"Jangan beritahu dia, beritahu saja Dony aku akan memberikan kau nomor telpon nya" ucap Cullen datar


"Kenapa tidak kau saja yang menelpon nya?" tanya Xana


"Sebelum aku sembuh aku tidak dapat memegang telpon ku, karna aku dapat dilacak dengan mudah.." ucap Cullen


"Jika boleh tahu memangnya siapa yang melakukan ini pada mu?" tanya Xana penasaran


"Kau tidak akan tahu.." ucap Cullen singkat membuat Xana hanya mengangguk-ngangguk sedikit sebal.


"Tapi benar toh itu bukan urusan ku." pikir Xana tidak mau ambil pusing.


"Terima kasih sudah menolongku.." ucap Cullen singkat membuat Xana terpaku tidak percaya, ternyata orang seperti Cullen masih bisa mengucapkan kata 'Terima Kasih'.

__ADS_1


...Next.......


__ADS_2