
Cullen dan Xana berlari cukup jauh dari rumah Xana, mereka keluar dari jendela belakang untunglah musuh Cullen tidak mengetahui bahwa Cullen telah kabur dari dalam rumah itu.
Xana menyentak tangannya yang masih di genggam Cullen, nafas mereka sama-sama tidak teratur. Xana ngos-ngosan karna baru kali ini ia kembali berlari puluhan kilometer,
"Sialan Cullen!" gerutu Xana dalam hati karna ia kelelahan dan tidak mampu berbicara secaa jelas.
"Kenapa kau banyak sekali musuh?" tanya Xana yang akhirnya mau berbicara kepada Cullen setelah beberapa menit ia menormalkan debaran jantungnya.
"Yaa begitulah.." sahut Cullen singkat
"Kalau mau mati jangan membawa-bawa orang!" ucap Xana lagi ia emosi benar-benar emosi, jika saja ia tinggal bersama Cullen mungkin ia akan mengalami hipertensi kalau begini terus. Cullen tidak menanggapi ucapan Xana, namun ia langsung mengambil hp yang sedari tadi dipegang erat oleh Xana.
Xana terdiam karna hp nya langsung di rebut Cullen namun ia tidak membalas perbuatan Cullen itu, ia hanya menatap malas pria itu saja.
"Hallo jemput kami di dekat rumah pagar putih nomor lima!" perintah Cullen kepada seseorang yang ada didalam telpon itu.
Tidak menunggu lama lagi, sebuah mobil hitam menghampiri Cullen dan Xana.
"Ayo cepat masuk!" perintah Cullen kepada Xana, Xana langsung masuk ketika Cullen sudah membuka kan pintu untuk nya. Setelah Xana masuk, Cullen juga masuk
"Ehh kenapa kau duduk disini?" tanya Xana
"Inikan mobil ku, jadi dimana pun aku duduk tidak masalahkan." sahut Cullen, Xana hanya diam ia tidak ingin berdebat lagi karna inikah mobil nya Cullen jadi terserah dia lah.
Mobil itu melaju dengan cepat menuju mansion besar milik Cullen, beberapa jam kemudian Cullen dan Xana sampai di tempat yang mereka tuju.
"Kakaaak!" teriak Ellena seraya memeuk Cullen dengan erat, ia menangis sesegukan karna sangat merindukan keluarga satu-satu nya yang dimiliki.
"Sudah, sudah ayo kita masuk!" perintah Cullen datar sambil mengelus-elus rambut adiknya.
"Ellena antarkan Xana ke kamar nomor dua.." perintah Cullen dan Ellena hanya mengangguk saja,
"Ayoo kak Xana.." ajak Ellena sambil memegang erat tangan Xana, saat mereka menuju kamar nomor dua.
"Tidak ku sangka kak Xana akan menempati kamar ini.." ucap Ellena heran
"Memangnya kenapa?" tanya Xana juga penasaran
"Hemm kamar ini adalah kamar utama kedua setelah kamar nya kak Cullen, jadi agak spesial" sahut Ellena
"Benarkah?" tanya Xana tidak mengerti, lalu Ellena membuka kan pintu kamar dan terlihatlah ruangan yang luas dan kasur yang empuk sangat nyaman membuat mereka berdua sama-sama ternganga menatap ruangan ini.
__ADS_1
"Woww aku baru tahu kalau kamar ini baru didekorasi.." ucap Ellena dan Xana hanya diam saja
"Selamat beristirahat kak Xana.." ucap Ellena yang kemudian membiarkan Xana beristirahat diruangan itu.
Belum lama setelah Ellena pergi tiba-tiba seseorang mengetok pintu kamar Xana,
"Permisi nona, kami disini menyiapkan semua perlengkapan yang nona perlukan" ucap seorang pelayan
"Perkenalkan saya Yura, saya ditugaskan tuan Cullen untuk membantu nona Xana.." ucapnya sopan membuat Xana merasa sedikit canggung dengan perlakuan istimewah dari Cullen.
"Setengah jam lagi waktunya makan malam, silahkan nona membersihkan diri dan saya akan memyiapkan pakaian nona Xana.." ucapnya lagi, Xana tanpa banyak bicara masuk ke kamar mandi dan menatap dirinya di cermin.
"Hahhh sepertinya Cullen memang ingin membantu ku saat ini.." ucap Xana pelan, lalu ia mandi dengan air hangat yang bertabur bunga mawar.
"Sepertinya semua ini telah dipersiapkan untuk ku.." ucap Xana lagi yang tanpa sadar ia tersenyum tipis sambil menikmati air hangat yang merendam tubuhnya itu.
Beberapa menit kemudian, Xana keluar dari kamar mandi disana ia melihat Yura telah mempersiapkan stelan baju tidur berwarna biru muda dan make up juga farfum keluaran terbaru?
"Nona Xana ini adalah barang yang telah disiapkan tuan Cullen untuk anda.." ucap Yura antusias
'Whyy? Kenapa ini?? Kenapa Cullen sampai menyiapkan sejauh ini?'
Xana hanya tersenyum kecil saja, ia menyisir rambutnya yang panjang dan ia biarkan tergerai rapi.
Setelah Xana selesai berpakaian, Yura mengarahkan Xana ke ruang makan. Setiap langkah Xana selalu melihat arsitektur yang berkelas dan harga nya pun tidak main-main tentu saja jutaan, belum lagi dinding yang berlukisan karya orang-orang hebat menambah kesan minimalis bercampur gaya kuno.
Saat Xana telah sampai di ruang makan, ia melihat Cullen dan Ellena sedang menikmati santapan makan malam mereka masing-masing.
"Kak Xana ayoo sini" ajak Ellena dan Xana berjalan menghampiri tanpa penolakan,
"Kau mau makan apa?" tanya Ellena antusias
"Apa aja.." sahut Xana singkat
"Bibi Key, siapkan stik daging sapi dengan es jeruk saja!" perintah Cullen yang tiba-tiba buka suara
"Kenapa kami tidak boleh minum wine?" tanya Ellena disertai wajah yang cemberut
"Kalian masih dibawah umur!" sahut Cullen singkat
"Nyenyenyee.." sahut Ellena pelan, Cullen hanya menatap datar adiknya itu lalu tatapannya berpindah kepada Xana yang masih menunggu makanan nya tiba.
__ADS_1
"Ellena besok kamu akan belajar keluar negri lagi!" ucap Cullen dingin
"Kakak??" gerutu Ellena
"Untuk saat ini sangat berbahaya tinggal di mansion, jadi aku akan menelpon Paman George dan Bibi Feny untuk merawat mu disana!" ucap Cullen lagi, Ellena hanya diam dengan memakan-makanan nya di atas meja tanpa bicara. Ellena tidak mampu membantah perintah kakak nya itu, walaupun mereka saling menyayangi tapi Cullen sangat keras kepala satu kali ia bilang tidak maka tetap tidak!
"Xana kau tinggal saja dulu di sini, sampai rumah mu aman ditempati!" ucap Cullen, Xana agak heran jika mansion berbahaya untuk di tempati kenapa Cullen malah menyuruhnya untuk tinggal di sini?
Selesai makan malam Ellena menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa besok, Xana menghampiri Ellena yang terlihat murung.
"Kakak mu benar di sini sangat berbahaya untuk mu.." ucap Xana
"Hahhhhhhh...padahal aku baru saja datang dari luar negri, tidak ku sangka malah akan kembali lagi ke sana.." kata Ellena tidak semangat
"Tapi sepertinya kau punya banyak teman disana dari pada di sini?" sahut Xana dan Ellena mengangguk pelan
"Kak Xana tolong jaga kakak ku, jika terjadi sesuatu tolong kabari aku" ucap Ellena dengan wajah memelas kepada Xana, lalu Xana memeluk Ellena untuk yang pertama kalinya.
"Aku tidak bisa berjanji untuk menjaga nya, tapi akan aku usahakan untuk selalu berkabar tentang keadaannya.." sahut Xana membuat hati Ellena tenang.
Tanpa mereka ketahui Cullen sedang menatap mereka di samping pintu, ia hanya mendengarkan percakapan dua gadis yang tengah berpelukan itu.
Keesokan pagi nya, Cullen dan Xana mengantar Ellena ke bandara.
"Kak Xana makasih udah mau temenan sama aku.." ucap Ellena sambil memeluk Xana dengan erat, lalu ia berpindah ke pelukan Cullen.
"Kakak jangan terlalu kasar dengan Xana, jaga dia sebaik mungkin!" perintah Ellena dan Cullen hanya mengangguk setuju saja
"Untuk yang pertama kalinya kak Cullen membawa wanita ke mansion itu selain aku, ku harap ini adalah awal yang baik." gumam Ellena dalam hati. Ia bersiap untuk menaiki pesawat dan pergi ke New Zeland untuk melanjutkan sekolah nya.
"Ayo pulang!" perintah Cullen membuat Xana kikuk tanpa bebicara sepatah katapun.
Saat Xana ingin memasuki mobil, Cullen membuka kan pintu untuk nya dan kejadian itu tanpa sengaja di lihat oleh gang Vania.
"Oh my good, apa Xana sudah menjadi simpanan sugar dady?" ucap Keren seraya menunjuk-nunjuk dari kejauhan Xana yang sudah berada di dalam mobil. Tanpa mereka ketahui bahwa itu adalah 'Cullen Alfarizi'.
"Wahhh bisa jadi berita viral nih" sahut Celsy
"Kita akan mempermalukan Xana saat pesta kelulusan nanti" sahut Vania dengan senyum smirk yang sangat menyebalkan!
...Next........
__ADS_1