
Xana duduk berhadapan dengan Cullen, mereka makan bersama disebuah caffe yang telah menjadi tempat favorit Xana.
"Xana aku ingin melamarmu, apakah kau benar-benar bersedia menikah dengan ku?" tanya Cullen membuat Xana terdiam tidak percaya, karna keputusan Cullen yang menurutnya terlalu cepat.
"Jangan berfikir terlalu jauh aku mungkin menerima mu, tapi untuk pernikahan bisa kita bicarakan nanti saja." sahut Xana tidak ingin memberi harapan walaupun ia telah menerima bahwa Cullen telah bertunangan dengan dirinya.
"Baiklah jika itu mau mu" ucap Cullen
"Apa rencana mu tentang pertunangan kita?" tanya Cullen lagi membuat Xana tidak habis pikir dengan pria didepan nya ini yang baginya cukup mendesak.
"Terserah pada mu" jawab Xana singkat
"Apa kau setuju jika aku membuat pesta di mansion untuk acara pertunangan kita?" tanya Cullen
"Baiklah tapi jangan terlalu banyak orang" sahut Xana pasrah.
"Ya sudahlah tak apa hanya bertunangan saja bukan menikah" gumam Xana dalam hati, entah kenapa ia masih belum terlalu mengenal Cullen walaupun Cullen benar-benar baik terhadapnya. Itu masih membuat Xana tidak gampang percaya,
"Aku pernah percaya dengan seseorang, namun ia malah mengkhianati ku." gumam Xana lagi dalam hati nya ingin sekali percaya tapi rasa takut akan masa lalu membuat Xana trauma terhadap rasa kepercayaan dan tidak mudah untuk menaruh kepercayaan terhadap siapapun.
"Xana apa kau masih belum mempercayai ku?" tanya Cullen seolah telah menebak isi hati Xana, namun Xana hanya diam dan menjauhkan pandangannya dari Cullen agar isi pikiran Xana tidak mudah untuk dibaca.
Namun raut wajah Xana seolah telah memberikan sebuah jawaban,
"Aku tidak memaksa mu untuk percaya" ucap Cullen
"Tapi aku akan berusaha untuk merebut kepercayaan mu" lanjut Cullen lagi
Jika boleh jujur ingin sekali Xana percaya namun hatinya takut terluka lagi,
"Jika...seseorang pernah membuat mu kecewa di masa lalu, bukan berarti kau tidak bisa mempercayai siapapun lagi di masa depan. Karna jika selalu berfikir takut akan terluka maka kapan kau akan bahagia?" ucap Cullen bijak membuat Xana tertawa kecil dibuat nya.
"Aku merasa seperti disambar petir pagi hari" ucap Xana sambil terus tertawa kecil,
"Ini pertama kalinya aku melihat mu tertawa seperti ini" ucap Cullen
"Jangan membuat ku tidak mood" sahut Xana sambil melanjutkan makan nya dan Cullen hanya tersenyum tipis saja.
Dimansion Cullen, Dony masih menggali informasi dari Metty yang tampak mau terbuka terhadap dirinya.
__ADS_1
"Baiklah Metty, mungkin tuan Cullen akan memaafkan diri mu karna kau telah menyelamatkan dia" ucap Dony seraya bangkit dari tempat duduk nya
"Mau kemana kau?" tanya Metty
"Aku akan menjemput Tuan Cullen dan Nona Xana.." sahut Dony singkat
"Apa aku boleh ikut?" tanya Metty
"Kenapa kau harus ikut?" tanya Dony
"Aku hanya ingin melihat-lihat" sahut Metty bertingkah seperti anak kecil
"Apa kau juga mempunyai kepribadian ganda?" tanya Dony ketus
"Ck kau ini! Tidak bisa diajak bercanda!" gerutu Metty
"Aku ikut yaaa yaa yaaa!" pinta Metty
"Huhh baiklah..." ucap Dony singkat lalu ia membawa Metty untuk menjemput Cullen dengan Xana.
Sesampainya di caffe Dony dengan cepat menghampiri Cullen yang telah selesai makan dengan Xana.
"Terserah.." sahut Xana singkat
"Kau ingin pulang atau ke Mall?" tanya Cullen
"Pulang saja..." sahut Xana singkat karna terlalu lama di luar membuat nya risih namun juga ia harus menyelidiki sesuatu.
Saat mereka berjalan ke arah mobil yang telah terparkir, Xana melihat seorang wanita duduk di belakang.
"Kenapa dia ikut!" gerutu Xana dalam hati
"Hyy Xana" sapa Metty ramah karna ia mencari muka terhadap Cullen, Xana hanya mengacuhkan Metty saja ia malas berteman apa lagi dengan wanita yang tidak jelas seperti Metty.
"Kau ingin masuk atau tidak?" tanya Cullen saat menatap wajah Xana yang terlihat malas, Xana tidak menjawab pertanyaan Cullen dan langsung masuk ke mobil ia duduk di samping Metty.
"Metty kau keluar!" perintah Cullen
"Hahh why?" tanya Metty
__ADS_1
"Aku akan duduk di situ!" ucap Cullen singkat lalu Metty terpaksa keluar dan duduk didepan samping Dony.
Sorot mata Cullen terlihat tajam menatap Dony karna membawa Metty tanpa memberitahu dirinya.
"Jalan!" perintah Cullen, Dony tanpa banyak tanya langsung menggas dan pulang ke mansion.
Beberapa jam kemudian setelah mereka sampai di mansion, Xana keluar dari mobil namun digandeng oleh Cullen sehingga membuat anak buah Cullen tercengang begitu juga pembantu Cullen mereka ikut bahagia.
"Sepertinya kita benar-benar akan memiliki nyonya besar.." ucap salah seorang pembantu
"Jangan seperti ini kau terlalu menarik perhatian orang-orang" ucap Xana sambil berusaha melepaskan genggamannya dari Cullen
"Ouh iya kapan kau akan masuk kuliah?" tanya Cullen
"Minggu depan.." ucap Xana singkat
"Baiklah..." sahut Cullen singkat
Metty yang mengikuti mereka dari belakang hanya diam,
"Kenapa aku disini seperti orang yang tidak terlihat..." ucap Metty dalam hati
Setelah Xana masuk ke dalam kamarnya, Cullen langsung memerintahkan Dony agar Metty dibawa ke ruang kerja nya.
Diruang kerja Cullen Dony dan Metty duduk berhadapan,
"Kau akan aku bebaskan, silahkan pergi dari sini!" perintah Cullen membuat Metty tercengang
"Kenapa?" tanya Metty
"Karna kau bukan pembunuh Antonium maka kau akan ku maafkan, dan juga kau telah menyelamatkan aku disaat yang kritis." sahut Cullen
"Pergilah...aku akan menyiapkan keperluan mu dan kau harus menjalani kehidupan yang lebih baik! Jangan masuk ke dunia hitam lagi!" lenjut Cullen tanpa mereka sadari Xana sedang menguping di ambang pintu,
"Ternyata...." gumam Xana dalam hati, lalu Xana pergi dari tempat itu dan masuk kembali ke kamarnya.
"Tidak ku sangka jika Cullen ternyata terlibat dalam dunia hitam, dan gadis itu juga. Hmm apa keluarga Alvano juga terlibat?" pikir Xana semakin menarik saja.
...Next.......
__ADS_1