
"Bagaimana keadaan tuan Cullen?" tanya Dony terlihat raut wajah pemuda tampan itu sangat khawatir
"Kami sedang berusaha semaksimal mungkin agar tuan Cullen bisa cepat pulih" sahut sang dokter.
Dony menundukkan kepala nya terlihat ia cukup frustasi karna keadaan Cullen dan juga hilangnya Xana.
Ruangan bercat putih dan lampu terang yang menyilaukan pandangan sedang terpampang jelas didepan mata, terlihat wajah pucat seorang wanita muda yang masih tidak sadarkan diri.
"Bos dia sedang hamil 3 minggu" ucap seorang pria yang berstatus dokter.
"Hmmm luar biasa, Morvin lakukan tugasmu sebaik mungkin dalam menangani wanita Cullen itu" sahut si pria satunya lagi seraya melepaskan topeng yang ia kenakan.
"Siap tuan Theo" sahut Morvin Elvano
Ya! Pria yang menculik Xana itu adalah Theo Welman Amartha dan Morvin Elvano, mereka adalah rekan satu tim sekarang yang akan menghancurkan kekuasaan pasar gelap Cullen Alfarizi. Perlahan mereka akan memulai rencana itu menggunakan orang terdekat Cullen, setelah itu menghabisi Cullen Alfarizi sampai ke akar-akarnya. Semua ini terjadi karna dendam lama yang telah tersimpan lima tahun lamanya,
"Tuan Theo apa kau tidak ingin mencoba wanita ini sebelum kita jadikan bahan percobaan?" tanya Morvin menggoda Theo yang sebenarnya juga tertarik dengan wanita milik Cullen.
"Ck! Aku sebenarnya tidak sudi menyentuh kekasih musuh ku itu" sahut Theo ketus
"Sudahlah Morvin terserah kau saja ingin diapakan wanita itu, karna aku masih ada kelas nanti siang" sahut Theo Welman Amartha yang juga merupakan dosen di kampus Xana.
"Baiklah pak dosen serahkan urusan ini padaku" sahut Morvin berlagak, setelah itu Theo pergi dari ruangan itu.
Morvin mengambil sebuah suntikan dan juga botol obat,
"Kau tau gadis, jika saja adikku masih hidup sekarang mungkin dia sudah menikah sekarang sama seperti mu.." ucap Morvin ia menceritakan Alexsa adiknya sendiri kepada Xana, wanita yang saat ini terbaring tidak sadarkan diri. Tanpa Morvin ketahui bahwa Xana itu adalah Alexsa yang bertransmigrasi tiga tahun kemudian, jika mengingat kejadian masa itu sungguh membuat hati Xana atau Alexsa menjadi sangat terluka.
Namun kejadian saat ini malah akan memperparah rasa sakit hati Xana, karna ia akan disakiti lagi untuk yang kedua kalinya oleh sang kakak tanpa mereka sadari.
Morvin menjentik-jentikkan jarinya ke jarum suntik yang akan menembus kulit Xana, perlahan ia menusukkan jarum itu tubuh mungil wanita yang tengah berbaring.
__ADS_1
"Setidaknya setelah ini kau tidak akan merasa sakit lagi..." ucap Morvin, tiba-tiba mata Xana terbuka dan ia melihat sang kakak berada tepat dihadapannya.
Xana ingin memberontak tapi tubuhnya tidak berasa dan Xana tidak bisa menggerakkan satu jari pun,
"Hehe ternyata obat ini bereaksi cepat" ucap Morvin seraya tertawa aneh
"Kakak..." ucap Xana dalam hati, ia merasa benar-benar hancur saat melihat kakak kandungnya Morvin Elvano yang membuat dirinya menderita.
"Kenapa kak? Apa salah ku?" tanya Xana dalam hati karna ia tidak bisa bersuara akibat efek obat yang diberikan Morvin tadi, perlahan air mata Xana menetes menampakkan betapa hancurnya hatinya saat ini.
Hanya air mata yang bisa menggambarkan perasaan ketika mulut tak bisa lagi berbicara, Xana benar-benar mati rasa.
"Obat apa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak dan tidak bisa bersuara?" tanya Xana dalam hati
"Hmm apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Morvin ketika melihat sorot mata tajam Xana yang seolah-olah ingin memaki dirinya.
"Aku tidak mendengar katakanlah!?" ucap Morvin seraya mendekatkan telinganya ke mulut Xana
"Hahahahahaha"
"Aku lupa jika kau tidak bisa berbicara" ucap Morvin seraya tersenyum aneh
"Kau tau aku telah menjadikan dirimu bahan percobaan obat baru ku, dan ternyata itu bekerja dengan efisien.." ucap Morvin seraya menyentuh rambut Xana dan menciumi bau rambut itu.
"Rambut mu sangat harum, membuat ku ingin mencoba dirimu" ucap Morvin seraya melepaskan pakaian nya hingga ia telanjang di hadapan Xana.
"Kakak jangan ini aku Alexsa kak!! Adikmu sendiri!!" teriak Xana dalam hati, namun ucapannya tidak terdengar oleh Morvin hingga membuat Xana merasa putus asa.
Karna wajah dan tubuhnya adalah orang yang berbeda, sehingga Morvin tidak mengetahui nya.
"Jangan kak!!!!" lirih Xana dalam hati, hatinya benar-benar hancur jika sang kakak benar-benar akan melakukan hal kotor itu terhadap dirinya.
__ADS_1
Perlahan Morvin melepaskan baju Xana hingga terlihat dal*mannya dan bentuk payud*ranya yang bulat,
"Jangan kak aku mohon!!!" teriak Xana dalam hati, matanya merah karna emosi dan rasa sedih yang bercampur aduk. Air matanya terus mengalir tanpa henti hingga membuat mata Xana lebam akibat menangis.
Morvin menaiki tubuh wanita itu dan bersiap ingin memuaskan nafsu birahinya, namun tiba-tiba...
'Brukkkkk!!!'
Tubuh Morvin terpental sejauh lima meter hingga tubuhnya membentur dinding,
"Akhhhhh, uhukkk!! Uhukk!" Morvin meringis kesakitan sampai ia batuk darah
"Bangs*t!!!! Siapa kau!!" teriak Morvin saat melihat seorang pemuda asing bermasker sedang menutupi seluruh tubuh Xana dengan mantel yang ia kenakan.
'Dorrr!!'
Pria itu melepaskan tembakannya ke arah kaki kanan Morvin
"Akhhhh" teriak Morvin kesakitan, tanpa sempat ia membalas perbuatan pria itu. Morvin kembali diserang dengan suntikan yang telah membuat Xana lumpuh tadi, seketika membuat Morvin tidak bisa bergerak dan berbicara.
Lalu pria asing itu mengangkat tubuh Xana yang masih berbalut mantelnya, tubuh wanita itu dalam keadaan telanjang bulat membuat pria asing itu sedikit malu-malu dan agak ragu saat menyelamatkannya.
"Bangs*t!! Siapa kamu!!" teriak Morvin dalam hati ketika menatap Xana dibawa oleh pria asing itu.
"Terima kasih, siapapun dirimu" gumam Xana dalam hati namun air matanya masih terus menetes.
"Jangan menangis kau telah aman.." ucap pria asing itu
'Degg!'
Suara itu, Xana langsung teringat seseorang.
__ADS_1
...Next......