
"Ck! ku kira teman ternyata lawan" gumam Theo pelan seraya tersenyum sinis
"Memang sudah lama aku menyimpan dendam dengan mu! Ayo akhiri sekarang!" ucap Theo dingin seraya menatap tajam ke arah Cullen, Cullen melempar pistol nya ke arah lain dan mengambil belati yang ada dibalik kemeja nya. Dengan posisi yang siap menyerang Cullen mengarahkan belati itu tepat didepan matanya,
"Ayo akhiri!" sahut Cullen dingin
'Srettttt'
Hunusan belati Cullen mengenai lengan baju Theo, tapi Theo belum terluka.
'Sretttt'
'Brukkk'
'Wussssss'
Dengan enteng nya Cullen memainkan belati itu dan terus menyerang Cullen, tendangan disertai hunusan belati yang membuat Theo sedikit mengalami kewalah.
'Traaangggg'
Bunyi belati itu bersahutan dengan rantai besi milik Theo,
"Hah! Kau lumayan bagus dengan belati" ungkap Theo sedikit kagum dengan lawannya tapi Cullen tidak terpancing dengan pujian itu, dia lebih memilih diam saja.
'Srettttt!!!'
Hunusan belati yang bergerak cepat untuk mengenai mangsa nya membuat suasana semakin mencekam, tepat seperti gelapnya malam ini dan hawa dingin angin malam yang menembus ke tulang.
Tampak dada Theo yang turun naik karna nafas nya tidak beraturan lagi, dia kelelahan tapi entah kenapa saat melihat Cullen yang hanya berkeringat saja namun nafas nya masih bisa di kontrol.
"Cullen memang hebat, hah aku akui!" gumam Theo dalam hati seraya menatap Cullen dan tersenyum smirk.
"Apa kau kelelahan?" tanya Cullen sinis
"Ck!"
'Hahh hahh hahh'
Suara nafas Theo yang tidak beraturan karna kelelahan sekaligus emosi,
"Kau memang hebat Cullen! Aku akui itu, tapi sayangnya gadis mu tidak akan selamat!" ancam Theo lalu Morvin mendekatkan diri ke samping Theo, mereka menatap Cullen dan Dony yang juga telah berada di samping pria itu.
Mata Cullen berubah seketika menjadi api amarah yang membuat dia semakin cepat menghunuskan belatinya ke arah Theo, pertempuran sengit antara ke empat orang itu.
Tepat pukul 03.22 mereka masih saling melawan tanpa rasa lelah,
'Wusssss!'
__ADS_1
'Srettttttt!!!'
'Brukkkkkk!!'
Tendangan Cullen terus dilayangkan hingga mengenai bahu dan pinggan Theo yang tidak sempat dia tangkis.
"Katakan dimana Xana!" bentak Cullen yang mulai kewalahan melawan musuhnya
"Hah! Cari saja sendiri!" sahut Theo ketus masih dengan nafas nya yang tidak beraturan.
'Brukkkk!!'
Sebuah tendangan mengenai rahang Theo yang membuat nya mundur beberapa langkah dari tempat Cullen berdiri,
"Tidak masalah jika kau tidak mengatakannya, aku akan mengakhiri semuanya disini!" tegas Cullen dengan tatapan mata tajam nya
"Cuhhh!" Theo meludah ke arah depan Cullen
Theo memasang kuda-kuda menyerang dan langsung melakukan gerakan boxing yang pernah dia pelajari,
'Bukkk'
'Bukkkk'
Tamparan itu hampir mengenai wajah Cullen tapi dengan cepat Cullen menangkis nya,
Hunusan belati mengenai lengan Theo untuk yang kedua kalinya, Theo menatap tajam Cullen
'Brukkkk'
Sebuah tamparan mengenai perut Cullen hingga Cullen mundur beberapa langkah, namun tanpa diduga Cullen kembali menyerang Theo dan...
'Sretttt'
'Brukkk'
Hunusan belati itu mengenai dada Theo,
"Akhhhhh"
Jeritan Theo menggema diruangan kosong
'Brukkk'
Tendangan kembali Cullen layangkan tepat mengenai perut Theo hingga dia terhunyung-hunyung dan terjatuh ke lantai.
"Theoooo!!" teriak Morvin Elvano yang juga telah di kunci gerakannya oleh Dony, Cullen mendekatkan kearah Morvin yang masih terdiam menatap Cullen dengan sinis.
__ADS_1
"Kau tahu Morvin, ada satu rahasia yang pernah seorang gadis katakan kepada ku" ucap Cullen seraya mengarahkan belati tajam itu ke depan Morvin Elvano
"Ada terowongan rahasia dibalik lemari kamar Alexsa Elvano, dia hanya memiliki satu-satunya harta yang berharga dalam hidup nya! Dan aku ingin kau tetap hidup sekarang karna kau adalah harta berharga nya!" ucap Cullen membuat Morvin terperanjat kaget
'Dari mana Cullen tahu hal bodoh itu!' Geram Morvin Elvano dalam hati
"Kau terlalu dibutakan oleh harta!" ketus Cullen
'Srettttt'
Cullen menggores luka sepanjang 5 cm di dada Morvin sebagai tanda peringatan saja.
"Jangan pernah muncul dihadapan ku lagi! Karna itu akan mengingatkan ku pada perbuatan keji mu yang hampir menodai tunangan ku!" ancam Cullen
"Aku tidak akan pernah memaafkan diri mu! Ingat itu!" ketus Cullen lalu berbalik pergi meninggalkan Morvin yang seketika terduduk lemas dan Theo yang sudah hampir sekarat.
"Dia hamil..." ucap Morvin singkat kepada Cullen yang seketika menghentikan langkah nya.
"Dia berada di Singapur dan mengandung anak mu.." ucap Morvin lagi membuat Cullen tertegun dan langsung berlari pergi dari situ untuk mencari Xana.
"Dony siapkan tiket pesawat ke singapur!" perintah Cullen dan Dony dengan cepat melaksanakan tugas nya itu.
Belum jauh mereka pergi dari pelabuhan,
"Hahahahahaha!" suara tawa Morvin terdengar keras hingga air mata nya keluar, ingatan tentang Alexsa berputar di kepalanya adik satu-satunya yang ia sayangi tapi juga sangat dia benci.
"Alexsa tunggu aku..." lirih Morvin Elvano
'Dorrrrrr'
Suara letupan senjata terdengar menggema di ruangan yang telah Cullen tinggalkan tadi,
"Tuan Cullen" panggil anak buah Cullen
"Ada apa?" tanya Cullen tegas
"Morvin Elvano bunuh diri!" ucap anak buah Cullen, Cullen hanya diam dan menatap ruangan itu.
"Itu pilihannya.." gumam Cullen
"Dony ayo kita pergi!" perintah Cullen dan hanya diangguki saja oleh Dony
"Bereskan semua mayat dan beri mereka pemakaman yang layak!" perintah Cullen lagi
"Dan bakar tempat ini!" ucap Cullen lagi
"Kita harus menghindari opini publik!" gumam Cullen pelan seraya berjalannya mobil merk ternama milik keluarga Alfarizi itu.
__ADS_1
...Next......