Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Menunggunya


__ADS_3

Mulut Ana terbuka lebar tak paham dengan maksud Morgan yang pergi begitu saja setelah membuat para karyawan wanita manatap sinis padanya.


Ana segera menghabiskan sisa makan siangnya yang sempat tertunda dan pergi meninggalkan kantin. Ana mengeluarkan ponsel dari saku celananya menghubungi sahabatnya Neysa.


Tut... bunyi sambungan telepon yang belum terjawab.


“Hai Ana ada apa?"


“Ney, bisakah aku bertemu denganmu sekarang?"


“Ya tentu, tunggu aku dilorong departemen komunikasi."


“Oke, aku akan menunggumu," jawab Ana dan menutup sambungan teleponnya.


Ana segera menuju departemen komunikasi dengan membawa alat-alat kebersihan. Siapa tau Pak Johan memergokinya karna berbincang dengan Neysa disaat jam kerja.


Tak lama Neysa datang dengan membawa setumpuk berkas yang mungkin harus ia selesaikan.


Ana! panggil Neysa. Ana melambaikan tangannya pelan dan tersenyum.


“Kenapa kau membawa berkas yang begitu tebal?"


“Ya... aku harus mengantarkannya ke ruang komunikasi untuk persetujuan setelah ini," jelas Neysa.


“Oh aku mengerti, maaf karna aku mengganggu waktumu bekerja."


“Tak apa Ana, aku juga penasara kenapa kau memanggilku. Seperti ada masalah yang terjadi," ucap neysa cemas.


“Ya Ney, kau benar." Ana menjelaskan semua yang terjadi antara dia, Jordan dan Morgan.


“Apa? Aku sungguh tidak percaya dengan yang kau ceritakan Ana !"ucap Neysa kaget.


“Dua orang pria tampan dan sukses terikat asmara denganmu!" ucap Neysa dengan nada tinggi.


Ana langsung menutup mulut Neysa rapat-rapat karna suaranya begitu nyaring.


“Ssstt! Jangan terlalu keras Neysa! Akan bahaya jika para karyawan lain tahu," bisik Ana.


“Ohh ya... maafkan aku Ana, aku begitu terkejut mendengarnya. Bagaimana kau bisa harus berpacaran dengan Jordan dan berhubungan dekat juga dengan Morgan? Ini sulit dipercaya Ana."


“Aku sangat iri padamu Ana, bagaimana kalau kita bertukar posisi."


“Tentu, aku akan sangat berterimaksih jika itu bisa terjadi."


“Hahaha... anggap saja ini mukjizat Ana. Kau bisa mengenal orang-orang hebat seperti mereka berdua," ucap Neysa memberi semangat.


“Ini bukan mukjizat Ney, ini bencana untukku!"


“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Ana?"


“Entahlah Ney, aku ingin meminta pendapatmu karna aku bingung dan pusing memikirkannya," ucap Ana frustasi.

__ADS_1


“Emh... kalau menurutku, jalani saja apa yang terjadi sekarang."


“Maksudmu Ney?" tanya Ana tak paham.


“Maksudku, kau dan Jordan hanya berpura-pura melakukannya, jadi jangan terlalu memikirkannya dan lakukan saja rencana yang sudah dibuat, agar masalah kalian lekas selesai."


“Dan terima saja ajakan pak Morgan, dia pria yang baik Ana, jangan kau sia-siakan kesempatan ini," imbuh Neysa.


“Tapi aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya Neysa," tolak Ana.


“Ana... jangan terlalu cepat menyimpulkan, kita lihat saja nanti kalau memang kau tetap merasa tidak cocok berikan saja padaku hahaha..." goda Neysa.


“Hahaha, memang kau pikir barang yang bisa diberikan dan diterima begitu saja?" balas Ana.


“Hahaha siapa tau pak Morgan mau melampiaskannya padaku, akupun bersedia," canda Neysa.


“Lakukan apa yang aku bilang Ana, rasakan suasana yang berbeda dari kehidupanmu yang sebelumnya agar hidupmu lebih bewarna."


“Emh... apakah tidak apa aku melakukannya Ney?"


“Lakukanlah Ana, ini kesempatanmu mendapatkan calon suami yang baik seperti pak Morgan,"ucap Neysa bersemangat.


“Tapi aku hanyalah seorang bawahan rendahan Ney, aku tidak ingin mempermalukan pak Morgan."


“Pak Morgan sudah tau itu Ana, jika dia melihatmu hanya dari status, dia tidak akan bertindak sejauh ini."


“Benar yang kau bilang Ney, baiklah aku akan mencobanya."


“Ya semoga saja, sudahlah cepat kembali bekerja kita sudah terlalu lama mengobrol," ucap Ana.


“Oke aku pergi dulu Ana, ceritakan lagi kisahmu tentang malam ini dengan Morgan."


“Ya tentu saja."


Neysa pun pergi dan Ana juga melanjutkan pekerjaannya.


Sepulang kerja, Ana menunggu Morgan di depan kantor sambil menikmati pemandangan kota yang begitu ramai.


Sudah lima belas menit Ana menunggu tapi Morgan belum menampakkan dirinya.


Mungkin Morgan memang sangat sibuk sehingga datang sangat terlambat pikir Ana. Dengan sangat sabar Ana masih duduk menunggu.


Tin ... tin! Klakson mobil berbunyi dan Ana mendongak mencari tau pemilik mobil.


Tampak mobil Jordan menghampiri Ana yang duduk sedari tadi dan hampir membeku karna cuaca malam yang begitu dingin.


“Kau sedang apa Ana? Kenapa kau bergetar seperti itu?" tanya Jordan.


“Ah, oh, emh, anuu, aku hanya sedang istirahat saja sepulang kerja," jawab Ana.


Ia takut Jordan akan marah jika bicara tentang Morgan setelah kejadian kemarin. Sehingga Ana terpaksa berbohong padanya.

__ADS_1


“Masuklah, aku akan mengantarmu pulang," ajak Jordan.


“Tidak! Terimakasih atas tawaranmu, tapi aku akan pulang sendiri," tolak Ana. Jordan keluar dari mobilnya dan menarik Ana paksa masuk ke dalam mobil.


Jordan menambah suhu penghangat mobil dan memakaikan jaketnya pada Ana. Ana merasa sangat lega karna cuaca begitu dingin membuat Ana menggigil kedinginan dan sekarang terasa begitu hangat.


“Aku akan mengantarmu pulang sekarang dan kau tidak boleh menolak," tegas Jordan. Ana hanya menggangguk mengiyakan kemauan Jordan.


“Jordan, kenapa kau kebetulan sekali melewati kantor pak Morgan?" tanya Ana.


“Aku memang berniat bertemu denganmu karna ingin meminta nomor ponselmu," jawab Jordan sambil menyetir.


“Ohh begitu."


“Memang apa yang kau pikirkan?"


“Hah? Oh... tidak kok, aku hanya sekedar bertanya saja."


Didalam hati Ana, ia berharap mungkin


Jordan datang menjemputnya karna sebuah perhatian khusus.


Mungkin Ana yang terlalu berharap dan membuat perasaannya tak karuan. Tapi di lain sisi Ana cukup senang walaupun tidak sesuai yang ia harapkan setidaknya ia bisa sedekat ini dengan Jordan.


Di pertengahan jalan, sebuah mobil melaju dibelakang mobil kami dan membunyikan klakson dengan keras. Ana menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah mobil Morgan.


“Jordan bisakah kau hentikan mobilnya sekarang?"


“Tidak! Aku akan mengantarmu pulang," jawab Jordan dingin.


“Tapi aku ingin kau menurunkanku disini Jordan!" gertak Ana.


Jordan tidak menghiraukan permintaan Ana dan menambah kecepatan mobilnya.


Morgan berhasil menyamai kecepatan Jordan dan kini mobil mereka berhimpitan. Morgan tetap membunyikan klakson agar Jordan berhenti.


Tapi Jordan tak mengubrisnya dan semakin melaju tak terkendali. Dengan cepat, Morgan menambah kecepatannya melaju melebihi Jordan dan memotong jalan. Sehingga mobil Jordan berhenti dan mendadak nyaris menabrak mobil Morgan.


Morgan keluar dari mobilnya, membuka pintu mobil Jordan dengan kasar. Terlihat Ana sangat ketakutan karna nyaris tertabrak. Jika Jordan tidak menginjak pedal Rem dengan tepat, maka hari ini mungkin ia sudah tiada.


“Maafkan aku Ana, aku membuatmu menunggu."


Morgan menggandeng tangan Ana untuk keluar dari mobil. Jordan merasa tak terima dengan tindakan Morgan dan ikut keluar dari mobilnya.


“Tunggu! Kenapa dengan seenaknya kau membawa penumpangku pergi," ucap Jordan sinis.


“Cih! Sombong sekali bicaramu! Mungkin kau tidak tau bahwa aku dan Ana akan pergi bersama malam ini," ucap Morga ketus.”


“Owh benarkah? Aku tidak menyangka kau tega membiarkan Ana menunggumu begitu lama dicuaca sedingin ini!"


Morgan terdiam melihat ke arah Ana karna merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2