
“Pak Morgan, sejak kapan Bapak berdiri disini?”
Ana melotot tak senang dengan kehadiran Morgan. Terlebih lagi karena Morgan pasti sengaja menguping pembicaraannya dengan Jordan. Morgan melipat tangannya di depan dada dan bersandar di pintu dengan tatapan membunuh.
“Aku mendengar semuanya Ana dan aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!"
“Apa maksudmu Morgan? Ini keputusanku dan kau tidak perlu ikut campur!”
Untuk pertama kalinya Ana berbicara kasar pada Morgan dan hanya memanggilnya dengan sebutan nama saja. Ana merasa terganggu karna Morgan mencoba menghentikan apa yang ingin ia lakukan. Tanpa sadar ia berbicara kasar pada Morgan.
“Ada satu hal yang belum kau ketahui Ana, kalau sebenarnya Jordan adalah adik kandungku!"
Jedar! Seperti ada petir yang menyambar wajahnya membuatnya terkejut tak karuan.
“Apa? Tapi bagaimana mungkin? Kau pasti berbohong!”
“Itu terserahmu mau percaya atau tidak! Aku mengatakannya karna aku sangat mengenal bagaimana Jordan. Dia hanya mempermainkanmu Ana!"
Morgan meninggikan suaranya karna begitu geram dengan gadis di depannya itu. Harga dirinya seperti di injak-injak tanpa ampun.
“Aku tidak peduli! Entah dia adikmu atau sejelek apa dirinya dimatamu! Itu tidak akan membuat hubungan kami terputus!"
“Kau wanita bodoh yang terlalu naif Ana!" Kau merusak hubungan Jordan dan Liona. Bagaimana bisa kau serendah itu?”
“Cukup! Pergi! Tinggalkan aku sendiri!” ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
“Ingat Ana, suatu hari nanti kau akan merasakan hal yang sama seperti Liona!"
Morgan pergi dengan perasaanya yang masih kesal dan kecewa. Ana tak bisa membendung tangisannya dan meringkuk menangis histeris sejadi-jadinya. Kini tak ada sahabat yang selalu berada disampingnya dikala susah dan senang. Ia hanya bisa menyimpan rasa sakit itu sendirian.
***
Ting... tong...!
Bel apartemen Jordan berbunyi. Jordan melangkah membukakan pintu. Seseorang yang sudah tak asing dan pernah berada di hatinya tersenyum lembut dengan wajah pucatnya.
__ADS_1
“Sayang... kenapa tidak menjemputku di rumah sakit? Dan kenapa ponselmu juga tidak diangkat? Aku sudah menelponmu berkali-kali," ucap Liona kecewa.
“Maaf Liona, aku tadi sedikit sibuk jadi tidak bisa menjemputmu."
“Lalu kenapa password apartemenmu berubah? Aku kesal karna harus memencet bel berkali-kali dan tidak bisa langsung masuk!"
“Ohh... itu karna aku ingin menggantinya saja, tidak ada maksud lain."
“Benarkah? Tapi kenapa tiba-tiba? Kau menyembunyikan seseorang didalam?” tanya Liona curiga.
“Bukan begitu, untuk apa aku menyembunyikan orang di dalam?”
“Kalau begitu biarkan aku masuk."
Liona melangkah masuk, memeriksa setiap ruangan dengan teliti. Ia merasa curiga dengan perubahan sikap Jordan. Seperti ada rahasia yang ia sembunyikan darinya. Namun kecurigaan itu tak terjawab karna tak ada seorang pun selain mereka berdua.
“Liona aku sudah berkata jujur padamu. Kenapa kau sangat tidak percaya padaku?”
“Maaf sayang, aku minta maaf. Pikiranku sedikit kacau semenjak di rumah sakit. Aku hanya merasa takut kalau kau bersama wanita lain."
“Aku akan menjadi wanita apapun yang kau sukai Jordan. Aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Liona terisak.
Jordan mengelus pelan punggung Liona. Mencoba membuatnya setenang mungkin. Tapi perasaan bersalahnya kian membesar dan tak tega mengatakan apa yang telah terjadi dikondisinya yang masih lemah seperti sekarang.
“Tenanglah Liona, aku tidak akan kemana-kemana. Jangan menangis lagi," ucap Jordan menenangkan.
“Duduklah dulu, aku akan membuatkan secangkir teh hangat."
Liona menuruti perkataan Jordan dan duduk di ruang tengah sambil menghadap ke arah dapur. Dilihatnya kekasihnya yang begitu tampan sedang menyeduh teh. Rasa cintanya begitu besar sampai ia rela mati demi pria itu. Ia tak akan sanggup menjalani hari tanpa Jordan bahkan sedetikpun tanpa melihat wajahnya atau mendengar suaranya.
“Minumlah Liona, aku membuatkan teh herbal untukmu."
“Terimakasih, baunya sangat harum," ucap Liona tersenyum tipis.
“Oh ya, bagaimana tentang kabarmu dan Ana?” tanya Liona sambil meminum tehnya.
__ADS_1
“Emh... masalah itu, kami belum membuat keputusan apapun karna harus menunggu keputusan lebih lanjut dari agensiku."
“Kenapa begitu? Bukankah beberapa hari lalu direktur agensimu sudah setuju. Lalu keputusan apa lagi yang harus dikonfirmasi?” tanya Liona bingung.
“Emh Liona, kau jangan terlalu banyak berpikir. Aku takut kesehatanmu akan memburuk lagi kalau kau seperti ini. Sudahlah... serahkan semuanya padaku."
“Aku hanya tidak ingin kau berhubungan lagi dengan Ana. Aku ingin kita segera melangsungkan pertunangan seperti rencana awal kita Jordan."
Jordan terdiam kaku dan tak tau harus mengatakan apa. Keringat dingin membasahi pipinya membuatnya terlihat gugup. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Liona. Mungkin ia harus menahannya sementara waktu.
“Jordan! Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan?”
“Hah? Oh tidak ada, aku hanya sedikit lelah."
“Lalu kapan kita akan mengadakan acara pertunangan kita?”
“Emh, kita pikirkan nanti. Sebaiknya kau istirahat saja Liona."
“Tidak mau! Aku ingin jalan-jalan denganmu sayang. Ayo kita makan siang di restoran favorit kita."
“Tapi aku sangat lelah, besok saja kita kesana."
“Ayolah sayang... kenapa kau selalu menolak ajakanku? Kau berubah Jordan!"
“Ada apa denganmu Jordan? semenjak kau bertemu Ana. Sikapmu berubah! Sama sekali tak ada perhatian untukku! Aku nekat bunuh diri karna kau Jordan! Apa kau setega itu padaku!”
Liona merasa putus asa dan menangis saat itu juga. Jordan mendekapnya dengan hangat. Terlalu banyak air mata dan penderitaan yang dirasakan Liona karna dirinya. Ia merasa menjadi pria breng**k yang tak bisa di maafkan. Masih ada serpihan cinta yang ia rasakan bersama Liona. Meski kini ia lebih memilih Ana. Tak bisa dipungkiri ia juga masih mencintai Liona walau tak seperti dulu.
Jordan menatap dalam-dalam mata bulat Liona yang masih sembab karna menangis. Di hapusnya air mata yang berjatuhan di pipi lembut Liona. Tatapannya turun ke bibir mungil Liona yang selalu menjadi miliknya selama ini.
Dikecupnya bibir itu dengan lembut. Mata mereka saling menatap dan seperti ada aliran listrik menjalar di tubuh mereka. Liona menciumnya tanpa segan dan Jordan membalasnya lebih ganas. Tangan Jordan memeluk erat tubuh Liona yang mungil. Bibir mereka saling bersautan dan kini tangan Liona melepas kancing baju Jordan satu persatu. Hingga baju Jordan terlepas dan terjatuh di lantai. Ciuman itu mulai turun mencium leher Liona yang jenjang. Liona merintih pelan menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Jordan. Diremasnya buah d*d* Liona yang begitu kenyal. Gairah mereka semakin memuncak dan tak terkendali.
__ADS_1