Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Ancaman Liona part 2


__ADS_3

“Haha... memang kenapa? Apa kau ketakutan sekarang?”


Suara tawa ironis Liona membuat suasana semakin mencekam. Keringat dingin mengalir dengan deras membasahi setiap lekuk wajah Ana.


“Apakah aku akan mati hari ini? Oh tidak tidak! Aku tidak mau mati mengenaskan begini!” batin Ana.


Ana terjatuh lemas kelantai dengan tubuhnya yang masih bergetar. Ingin sekali ia menjerit namun tiba-tiba suaranya tertahan begitu saja.


Liona semakin mendekat dan ikut berjongkok didepannya. Seringai jahat kembali muncul di senyumnya yang di ikuti sorot matanya yang tajam. Liona memainkan pisaunya, mengukir sesuatu di pipi Ana. Tanpa terasa air mata Ana bercucuran begitu saja.


“Kau tau Ana, aku selalu bertanya-tanya kenapa dengan wajah buruk seperti ini kau bisa memikat pria seperti Jordan dan Morgan? Hemh? Menurutmu kenapa?”


Ana menggelen pelan. Bibirnya terasa kelu enggan menjawab apapun yang dilontarkan Liona.


“Setidaknya jika wajahmu sudah jelek hatimu harusnya cantik. Tapi kenapa wajah dan hatimu sama saja? Apa kau tidak malu dengan dirimu sendiri?!”


Ana hanya diam dengan air mata yang masih mengalir dan terisak pelan.


“Kenapa kau diam saja? Ayo jawab!!” gertak Liona sembari menarik rambut Ana dengan kasar.


Ana menjerit.”Argh! Hiks... kumohon jangan lakukan ini. Aku minta maaf Liona Hiks!”


“Minta maaf? Cih! Sampai mati aku tidak akan memaafkanmu!”


Plak! Tamparan keras melayang di pipi Ana.


Tak berhenti sampai disitu, Liona mencekik Ana menumpahkan kekesalannya yang ia pendam selama ini. Ana menahan cekikan Liona yang membuatnya tak bisa bernapas. Wajah Ana sampai memerah dan Liona hanya tersenyum tipis menyaksikan drama yang ia buat. Merasa puas, Liona melepaskan cekikannya dan melempar tubuh Ana menghatam dinding.


“Uhuk uhuk! Aku mohon Liona jangan membunuhku.”


Plak! Tamparan kembali mendarat, Liona masih merasakan emosi yang sama.


“Kenapa kau merebut Jordan dariku! Siapa kau berani membuatnya selingkuh dibelakangku!” ucap Liona dengan nada tinggi. Matanya berkaca-kaca meluapkan emosinya.


“Kau wanita rendah yang tak sebanding denganku tapi kenapa Jordan memilihmu! Apa kalian memang sama-sama buta!”


“Kau tau Jordan sudah menjadi milikku tapi kau tidak punya malu merampasnya dariku!”


“Hiks! Aku memang tidak tau malu Liona. Aku minta maaf Hiks.”


Hanya itu yang bisa dikatakan Ana, ia tak bisa membela atau melawan karna kesalahan yang ia buat tak patut dimaafkan.


“Dasar jal**ng! Sudah kubilang aku tak akan memaafkanmu!”

__ADS_1


“Kalau kau tidak ingin mati hari ini, menjauhlah dari Jordan!”


Ana menggeleng.”Tidak! Aku sangat mencintai Jordan, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”


Kalimat itu keluar begitu saja, Ana terkesiap mendengar ucapannya sendiri. Bagaimana bisa dikeadaan seperti ini kalimat itu keluar dari mulutnya yang membuat emosi Liona semakin memuncak.


Plok plok plok! Liona bertepuk tangan.


“Sepertinya kau tidak takut sama sekali. Kau sangat pemberani Ana, tapi aku akan menyiksamu sampai kau menurut padaku.”


Liona melakukan aksinya.Mencekram kerah baju Ana dan mendorong Ana sampai tersungkur ke bawah. Ana merintis kesakitan dan hanya bisa pasrah menerima siksaan yang harus ia bayar.


Plak! Plak! Tamparan dilakukan berulang kali.


Seperti ada iblis yang merasuki tubuh Liona, tak terbesit sedikitpun rasa empati pada Ana yang sudah lemas terkulai.Sebuah gelas kaca di atas meja menjadi senjata dan dilemparnya ke arah Ana.


Pyar! Gelas kaca itu pecah berkeping-keping. Lemparan itu tidak tepat sasaran dan hanya menghantam dinding. Ana begitu syok dan menutup kedua telinganya. Liona kembali mendekat dan mengarahkan pisau pada Ana yang sedari tadi di genggam kuat olehnya.


“Pisau ini yang akan menjadi senjataku selanjutnya jika kau tidak segera menjauh dari Jordan. Aku juga tidak akan segan menyiksamu lebih kejam dari ini,” ucap Liona dengan nada mengancam.


Ana hanya bisa menangis tersedu-sedu. Penyiksaan ini membuat jiwa raganya terguncang hebat.


“Ayo jawab! Plak!” ucap Liona geram dan menampar pipi kiri Ana.


“Aaaku aaakan menururti kemauanmu,” ucap Ana terbata-bata.


“Baiklah aku pergi sekarang, Jangan sampai kita bertemu dikeadaan yang sama.”


Liona menyeringai.Ia pun melangkah keluar menyisakan rasa pilu yang mendalam pada Ana. Kini kamarnya tak rupa dengan barang-barang yang berserakan. Ana menelungkupkan kakinya dan menundukkan wajahnya menangis sesegukan.


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Liona sangat kejam dan aku tidak berani melawannya,” gumamnya dalam hati.


“Mungkinkah aku memang harus meninggalkan Jordan?” tanya Ana pada dirinya sendiri.


Keesokan paginya,


Ana sudah sampai di kantor dan melakukan pekerjaannya seperti biasa. Ana menutupi wajahnya dengan masker untuk menutupi lebam pada pipinya karna kejadian semalam.


“Ana! Panggil Neysa.”


Ana menoleh mencari sumber suara. Neysa berlari kecil kearahnya sembari tersenyum lembut.


“Ana ayo ikut...”

__ADS_1


Kalimatnya terhenti melihat sorot mata Ana yang sendu dibalik maskernya. Neysa merendahkan pandangannya mencoba melihat dengan jelas kalau sahabatnya dalam kondisi yang tidak baik.


“Ana kau kenapa? Tumben sekali pakai masker begitu?” tanya Neysa menyelidik.


Ana menggeleng cepat.”Tidak papa Ney, aku hanya sedang flu saja. Takut jika menulari karyawan lain,” ucap Ana memalingkan wajahnya.


“Benarkah? Tapi sepertinya tidak begitu. Coba kau buka dulu Ana. Aku tau kau sedang berbohong.”


Neysa tidak percaya begitu saja. Ia sangat mengenal Ana dibalik sorot matanya yang ingin menutupi sesuatu.Tidak hanya itu, ia bisa melihat mata Ana yang sembab seperti terlalu lama menangis.


“Kumohon Ney, aku sedang tidak menyembunyikan apapun darimu.”


“Aku pergi dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Bye!”


Ana buru-buru pergi meninggalkan Neysa yang masih ingin menghujani berbagai macam pertanyaan dibenaknya. Neysa pasti akan marah besar jika tahu keadaannya seperti ini. Baru setengah berlari seseorang memanggilnya dari kejauhan.


“Ana tunggu!”


Ana menoleh dan melihat karyawan CS lain berlari kearahnya dengan tergopoh-gopoh.


“Ana apa kau bisa membantuku?”


Ana mengangguk.”Tentu, ada apa?”


“Aku ingin minta tolong bisakah kau menggantikanku membersihkan ruangan Pak Morgan? Aku harus pulang secepatnya karna mendapat telepon dari rumah kalau ibuku sedang sakit dan harus segera diantar ke rumah sakit.”


Tanpa panjang lebar Ana langsung mengiyakan permintaan karyawan itu.


“Pergilah, aku akan membersihkannya setelah ini.”


Wanita itu tersenyum senang dan memeluk Ana kegirangan.


“Terimakasih Ana! Terimakasih banyak. Kalau begitu aku pergi dulu.”


“Iya semoga ibumu cepat sembuh,” ucap Ana tersenyum lembut.


“Iya sekali lagi terimakasih,” ucapnya dan berlalu pergi.


Ana menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya ia sedang tidak ingin bertemu Morgan apalagi disaat keadaannya seperti ini. Jangan sampai Morgan melihat wajahnya dibalik maskernya. Ana menaiki lift menuju ruangan Morgan. Saat sampai di ruangan Morgan, Ana celingak-celinguk mencari sosok Morgan. Namun tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Ana bernapas lega dan masuk ke ruangan tanpa rasa takut. Ia mulai membersihkan setiap sudut ruangan dengan rajin.


Kletak... kletak. Suara langkah kaki terdengar diluar ruangan. Ana panik dan segera mencari tempat sembunyi. Tanpa berpikir panjang ia bersembunyi dibawah meja kerja.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2