
"Selamat siang pemirsa, bersama saya Ririn yang akan memandu acara hari ini. Saat ini saya sedang berada di depan apartemen Liona yang diduga kekasih dari artis papan atas yaitu Jordan Fransisco." jelas reporter itu sembari menatap kamera.
Kini apartemen Liona dibanjiri para wartawan yang sedang haus informasi. Para wartawan beberapa kali mengetuk pintu Liona namun tak ada respon apapun dari pemilik rumah. Tak kehabisan akal para wartawan bertanya pada tetangga kemana Liona pergi dan mendapat jawaban bahwa sejak kemarin Liona tidak tampak batang hidungnya yang artinya Liona sedang berada di dalam rumah. Para wartawan setia menunggu meski sudah empat jam berdiri di depan pintu. Tanpa mereka ketahui Liona sedang memantau lewat cctv yang terhubung ke ponselnya. Ia sengaja tidak ingin bertemu dengan wartawan itu untuk melihat bagaimana reaksi Jordan nantinya. Sepertinya mereka masih belum mendapat konfirmasi apapun dari Jordan.
Liona tak henti-hentinya menyeringai merasa puas dengan hasil kerja kerasnya bersama Ziko. Ia merasa sedang menggenggam kemenangan.
"Rasakan itu Jordan! Ini baru permulaan. Aku ingin melihat bagaimana hidupmu hancur karna Ana."
****
Morgan Narendra,
Sebuah hidangan steak tersaji di meja makan. Morgan mengunyah potongan daging yang empuk dan lezat itu. Anehnya, makanan itu terasa hambar di lidahnya. Pikirannya berkelana pada Ana yang sangat ia rindukan. Morgan begitu cemas bagaimana kondisi gadis itu. Harus bertanya pada siapa ia sekarang? Pemikirannya sedang bergulat berusaha menemukan jawaban.
"Neysa! Ya aku pasti akan mendapatkan informasi tentang keberadaan Ana melalui Neysa. Aah... kenapa aku baru memikirkannya sekarang." ucap Morgan tersenyum simpul.
"Sebaiknya aku harus bergegas sekarang."
Morgan merogoh saku celananya dan meraih ponselnya untuk menghubungi sekretarisnya yaitu Sinta.
"Ya Pak ada apa?" sahut Sinta.
"Sinta tolong panggil Neysa untuk ke ruangan ku sekarang."
"Baik Pak, mohon tunggu sebentar."
Morgan menutup sambungan telepon dan segera bergegas untuk pergi ke ruang kerjanya. Tak lama Sinta masuk dan berdiri di depan Morgan yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Maaf Pak, Neysa sepertinya sedang cuti hari ini. Mungkin besok baru masuk kembali ke kantor."
Morgan menghela napas berat. Merasa kecewa dengan jawaban Sinta.
"Bisakah kamu mencari dimana Neysa tinggal Sinta? Aku sangat memerlukannya sekarang."
Bola mata Sinta berputar ke atas, mencoba mencari jawaban atas permintaan atasannya itu.
"Sepertinya bisa Pak, saya akan coba melihatnya di resume karyawan."
Morgan tersenyum lega dan merasa sangat senang bisa mengandalkan sekretarisnya itu.
"Kau cerdas Sinta! Kalau begitu cepatlah aku sedang terburu-buru saat ini." desak Morgan.
Sinta mengangguk dan berlalu pergi.
__ADS_1
****
Jordan Fransisco,
Pukul 00.30 Jordan menatap langit-langit kamarnya dengan mata kosong. Menyenderkan kepalanya pada satu tangan sembari rebahan di atas kasur empuknya. Pikirannya sedang sangat kalut saat ini.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang akan terjadi setelah ini? Mampukah aku mempertahankan hubungan ini bersama Ana? Atau malah sebaliknya?" gumam Jordan.
"Aku tidak mengira akan serumit ini. Yah... seharusnya aku sudah bisa menebaknya karna Liona bukan wanita yang bisa di bodohi begitu saja.
"La... laa... laaa." dering ponsel berbunyi. Jordan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil. Tertera nama Liona disana yang membuat jantungnya berdegup kencang seketika. Jordan menjawab panggilan itu namun tak mengeluarkan suara apapun.
"Hai Jordan, bagaimana kabarmu? Aku yakin kau sedang tidak baik saat ini. Wah wah... sepertinya karirmu akan hancur setelah ini. Aku turut senang Jordan." ucap Liona sembari tertawa kecil.
Jordan mengepalkan tangannya karna geram. Membanting ponselnya sampai terpental jauh. Tak habis pikir dengan sikap Liona yang begitu licik.
****
Malam hari, Ana masih duduk anteng di atas kursi dengan perasaan yang ketir. Neysa menghampiri dengan membawa dua gelas cangkir berisi coklat panas.
"Ana kau sedang apa? Kenapa dari tadi hanya diam saja? Jangan membuatku cemas. Cobalah kau cari hiburan agar tidak terlalu pusing. Menonton film misalnya." tutur Neysa.
Ana hanya tersenyum dan menghela napas berat. Sorot matanya tampak redup tak bercahaya seperti biasanya.
"Terimakasih Ney, aku akan meminumnya setelah ini." jawab Ana lirih.
"Besok aku bekerja Ana, apa kau baik-baik saja sendirian di rumah?"
"Tidak apa Ney, aku bukan anak kecil. Jadi tidak perlu terlalu cemas." jawab Ana sembari tersenyum.
"Jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja Ana. Aku akan selalu siap membantumu."
"Ya Ney terimakasih tapi..." ucapannya terhenti.
Sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah Neysa.
"Siapa itu Ney? Apa kau mengundang seseorang kesini? tanya Ana.
"Tidak, tunggu sebentar disini aku akan melihatnya."
Neysa beranjak dari duduknya menuju pintu. Dilihatnya dari jendela dan terlihat Morgan yang sudah turun dari mobil.
"Ana cepat kesini!" teriak Neysa.
__ADS_1
Ana segera bergegas karna teriakan Neysa.
"Ada apa Ney?"
"Pak Morgan datang!"
"Apa?! Kenapa dia bisa disini? Bagaimana dia tahu letak rumahmu Ney?"
"Entahlah! Tapi seseorang seperti Pak Morgan tidak akan sulit hanya dengan mencari sebuah alamat. Dia Pati mencarimu Ana. Temui saja sebentar tidak akan jadi masalah." bujuk Neysa.
"Tidak Ney, bagaimana bisa di keadaan seperti ini aku bertemu laki-laki lain? Tidak! Aku tidak mau!"
Tok tok tok! Suara ketukan pintu.
"Ayolah Ana, kasihan Pak Morgan. Dia pasti cemas padamu." ucap Neysa berbisik.
Ana menggeleng cepat dan buru-buru masuk kedalam kamar.
"Ana! Ana!" panggil Neysa lirih.
Dengan terpaksa Neysa membuka pintu karna sedari tadi Morgan terus mengetuk.
"Eh Bapak, ada apa kesini Pak? Kok bisa tahu rumah saya?" tanya Neysa.
"Maaf Neysa kalau saya mengganggu. Tapi apakah Ana berada disini?" tanya Morgan penuh harap.
"Emh... anuu Pak. Itu sebenarnya." ucap Neysa terbata-bata.
Morgan memandang Neysa dengan mata menyelidik. Ia yakin kalau Ana pasti berada di sini. Morgan melihat ke dalam berharap melihat atau mendengar suara Ana namun Neysa mencoba menghalangi.
"Ana tidak berada disini Pak. Saya juga berusaha menghubungi tapi ponselnya mati." ucap Neysa berbohong.
Neysa tidak berani menatap Morgan karna takut jika rasa gugupnya terlihat oleh Morgan.
"Benarkah? Ana tidak ada disini atau memang tidak ingin bertemu denganku?" tanya Morgan penuh penekanan.
"Bukan begitu Pak, Ana memang tidak ada disini. Saya akan berusaha mencari dan menghubunginya. Saya akan memberitahu Bapak kalau sudah dapat kabar."
"Tidak! Aku yakin Ana disini. Neysa saya mohon bantu saya bertemu dengan Ana. Saya hanya khawatir dan memastikan dia baik-baik saja." desak Morgan.
"Pak saya mohon tolong mengerti. Ana tidak berada disini. Saya tahu maksud baik Bapak tapi tidak ada yang bisa saya lakukan sekarang."
"Kalau begitu bolehkah saya masuk dan memeriksanya sendiri?" paksa Morgan.
__ADS_1
Ana yang mendengar dibalik pintu merasa tak enak dengan Neysa yang dibuat sulit karenanya. Ia pun membuka pintu dan keluar dari kamar. Morgan terkejut dan juga senang melihat Ana.