Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Makan Siang Spesial


__ADS_3

Ana menggeleng.”Bapak, kan bukan anak kecil, kenapa harus disuapi segala.”


“Ingat ya Pak, saya sudah punya pacar jadi tolong jaga sikap,” ucap Ana tegas.


Morgan tersenyum kecut. Bagaimana bisa di keadaan seperti ini nama Jordan keluar dari pikirannya. Apakah dia juga tidak menghargai perasanku? Aku juga sakit hati mendengarnya menyebut nama Jordan. Darahku seperti mendidih hanya mendengar namanya. Sebenarnya siapa yang salah? Aku atau Ana yang sebenarnya memang berkata apa adanya. Dia sudah menjadi milik orang lain tapi aku disini sebagai pihak ketiga. Hemh... tapi disisi lain dia sedang membayar hutangnya padaku, jadi aku tidak berada di posisi yang salah sepenuhnya. Iya, kan?


Morgan terus beragumentasi didalam hati mencoba membenarkan posisinya saat ini. Percintaannya begitu rumit tanpa bisa ditebak bagaimana nantinya. Yang pasti ia hanya mengikuti hatinya yang masih sangat menyukai Ana meski harus bersaing dengan adiknya sendiri.


“Kalau kau tidak mau, aku akan membatalkan cicilan pertamamu,” ancam Morgan.


“Loh, Bapak tadi bilang saya hanya harus menemani makan dan tidak ada suap-suapan begitu tadi! Kenapa Bapak plin-plan begitu?” gerutu Ana.


“Suka-suka dong, lagi pula kenapa gaya bicaramu selalu kaku padaku. Bicaralah yang santai kita sudah kenal cukup lama.”


“Mana mungkin, Bapakkan atasan saya. Jadi saya harus menjaga sikap sebaik mungkin,” ucap Ana menggebu-gebu.


Morgan hanya bisa menghela napas mendengar sanggahan Ana yang tidak bisa di revisi ulang.


Tok... tok... tok.


Sinta mengetuk pintu dan melongokkan kepalanya.


“Permisi Pak, saya boleh masuk?”


“Ya masuklah Sinta.”


Sinta masuk dengan membawa kantong plastik berisi obat dan menyerahkannya pada Morgan.


“Terimakasih Sinta, kau boleh pergi melanjutkan pekerjaanmu.”


Sindiran halus yang membuat Sinta langsung mengangguk paham pada bosnya yang sedang tidak ingin diganggu. Setelah kepergian Sinta, Morgan membuka kemasan dan mendekatkan diri pada Ana. Namun Ana malah menjauh tiga langkah dari Morgan.


“Aku hanya ingin mengobati lukamu. Aku janji tidak akan macam-macam.”


“Sebenarnya bukan karna hal itu saya menjauh Pak, hanya saja akan terlalu canggung jika terlalu dekat,” batin Ana.

__ADS_1


“Emh berikan pada saya, biar saya obati sendiri.”


Ana mengulurkan tangannya, namun Morgan hanya tersenyum getir sembari menatap Ana lekat-lekat. Dengan sigap Morgan menarik tangan Ana sampai tenggelam ke dalam pelukannya. Morgan sangat pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Seketika Ana langsung mendorong tubuh Morgan sebelum Morgan memperkuat pelukannya.


“Bapak apa-apaan sih! Saya tidak suka Bapak seperti ini!” gerutu Ana.


“Aku juga tidak suka karna kau keras kepala, aku sudah bilang aku hanya akan mengobati lukamu, tapi kau selalu menolak dan membuatku geram! Tidak bisakah kau terima saja niat baikku! Mentang-mentang punya pacar sikapmu seperti jijik melihatku,” ucap Morgan kesal.


Ana tertawa kecil. Melihat raut wajah Morgan yang tampak kesal. Baru pertama kali kami mendebatkan hal sepele seperti ini yang membuatnya terhibur. Aura kharisma seorang CEO yang biasanya menonjol, kini tampak lebih hangat dan bersahabat.


“Bapak marah?”


Morgan mengangguk dan tidak menjawab. Ana semakin geli melihat tingkah Morgan yang cemberut seperti anak kecil merajuk karna tidak diberikan apa yang ia mau.


“Baiklah, saya minta maaf. Kalau begitu tolong obati luka saya.”


Morgan langsung menoleh. Matanya berbinar-binar kesenangan. Senyum sumringah tersungging di bibirnya.


“Tutup matamu, aku akan mengolesnya pelan-pelan.”


“Ana, tidak bisakah kau memberi tahuku siapa yang melakukan ini?”


“Saya sudah bilang saya hanya terjatuh kemarin, tidak ada yang menyakiti saya. Bapak jangan berpikir yang macam-macam.”


Ana berusaha menutupi rasa gugupnya. Jangan sampai Morgan tahu apa yang terjadi. Ini adalah hukuman untukknya yang akan ia pendam sampai keliang kubur.


“Jika kau mengatakannya pada ribuan orang, mereka tidak akan ada yang percaya jika luka seperti ini bisa didapat saat kau jatuh. Jelas-jelas ini bekas tamparan.”


Morgan masih berusaha menyelidiki sembari mengoles luka Ana. Namun Ana tetap bungkam tak memberi petunjuk secuil pun.


“Sudah selesai Ana, buka matamu.”


Ana membuka matanya, ada sensasi dingin yang terasa nyaman setelah lukanya diobati dengan salep.


“Bawa salep ini setelah kau selesai menyuapiku,” perintah Morgan.

__ADS_1


Ana menatap Morgan dengan sorot mata tajam. Mencibirkan bibirnya dan meraih makanan di atas meja dengan berat hati. Mengambil satu suapan besar di atas sendok dan mengacungkannya pada Morgan.


“Itu terlalu banyak, mulutku tidak sebesar paus.”


Ana menghela napas.”Dasar cerewet!”


Morgan melotot.”Hei... lakukanlah dengan iklas, tunjukkan sedikit rasa terimakasihmu padaku. Begini-begini aku sudah menolongmu melunasi hutangmu. Ingat itu.”


Ana terkekeh.”Hehehe... saya sudah sangat iklas kok Pak. Mari makan aaaakkkhhh!”


Morgan tersenyum lalu membuka mulutnya dan haapp! Satu suapan mendarat dengan aman. Rasa bahagia luar biasa dirasakan Morgan saat ini. Tidak ada hari sebaik hari ini, akan ia simpan semua momen yang bersangkutan dengan Ana di dalam memorinya yang paling dalam. Setelah banyaknya suapan yang masuk ke dalam perut Morgan, kini piring itu telah kosong tak tersisa apapun. Tugas Ana kini telah selesai dan cicilan pertama telah terlaksana dengan baik.


“Saya sudah selesai Pak, saya harus kembali bekerja.”


Morgan mengangguk sambil meminum air putihnya.


“Ya terimakasih Ana, kau boleh kembali bekerja.”


“Saya juga berterimakasih untuk makanan dan obatnya.”


Ana membereskan piring-piring itu dan beranjak pergi.


“Biarkan piring kotor itu disini, Sinta yang akan membereskannya.”


“Jangan Pak, biar saya sendiri yang membereskan. Lagi pula saya juga akan kedapur setelah ini.”


“Tapi...”


“Sudah Pak tidak papa. Saya pergi dulu permisi.”


Ana beranjak pergi dengan membawa meja dorong. Didepan pintu terlihat Sinta sedang mengotak-atik komputernya. Mengetahui kedatangannya Sinta tersenyum padanya dan Ana membalas senyumannya. Setelah kepergian Ana, Sinta senyum-senyum sendiri. Dan muncul berbagai ekspetasi tentang Ana dan Morgan.


“Sepertinya hubungan mereka sekarang semakin dekat, apakah mereka sudah pacaran? Waahhh aku iri padamu Ana!” gumam Sinta.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ana pergi ke ruang ganti karyawan untuk berganti baju. Ana membuka loker dan meraih ponselnya. 34 panggilan tidak terjawab tertera jelas di layar ponselnya. Semua panggilan itu berasal dari Jordan. Memang sejak kemarin malam ia tidak memberi kabar apapun pada Jordan. Jordan pasti khawatir padanya,tapi ia berniat menjaga jarak sementara waktu untuk berpikir dengan jelas langkah yang akan ia ambil tentang hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2