
“Kenapa aku sembunyi? Bagaimana jika ketahuan? Aku harus jawab apa! Kau sangat bodoh Ana!” umpat Ana kesal.
Ana memeluk kedua lututnya sambil memegang lap kotor yang ia pakai tadi. Menggerigiti jemarinya sembari bernapas pelan.
Kletak kletak kletak! Suara itu semakin mendekat dan memasuki ruangan. Ana mengintip dengan mata kecilnya, sepasang kaki dengan sepatu vantopel hitam pekat menunjukkan kalau itu adalah Morgan. Ana semakin gemetaran karna Morgan mulai mendekati meja kerjanya. Tanpa mengetahui kehadiran Ana dibawah meja, Morgan duduk dengan santai mendongakkan kepala dan menutup matanya. Ana memperhatikan seksama raut wajah Morgan yang terlihat sedang lelah dan stres.
“Dia pasti kelelahan,wajahnya sampai pucat begitu. Apa mungkin dia sedang sakit?” gumam Ana.
“Haduh Ana! Pikirkan dulu dirimu sendiri, kenapa malah khawatir padanya.”
Duk!
“Awh! jerit Ana.”
Tanpa sengaja kaki Morgan menyandung dagu Ana dengan keras. Morgan terkesiap dan langsung berdiri.
“Siapa itu?!”
Morgan berjongkok dan terhenyak dengan penglihatannya sendiri. Melihat Ana yang sedang menelungkupkan kakinya sembari melambaikan tangan dan tersenyum padanya dibawah meja.
“Halo Pak, maaf kalau saya mengganggu hehe...”
Morgan tersenyum geli.”Kau sedang apa Ana? Kenapa bersembunyi dibawah meja seperti katak yang tersesat?”
Ana menggaruk kepalanya,tersipu malu karna tertangkap basah.
“Sampai kapan kau akan disana? Sini keluarlah duduk disini bersamaku,” ucap Morgan sambil menunjuk kursi tamu.
Ana segera keluar dari tempat persembunyian. Menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berjalan dengan langkah berat ke arah Morgan. Kini Ana duduk persis disamping Morgan yang menatapnya dengan intens.
“Kau sudah makan siang Ana?”
“Belum Pak, jawab Ana singkat.”
“Kalau begitu makan bersamaku disini, biar Sinta yang menyiapkannya sebentar lagi.”
Ana menggeleng dan menibaskan kedua tanggannya.
“Tidak Pak, saya harus kembali bekerja sekarang. Permisi.”
Ana cepat-cepat berdiri, melarikan diri sebisa mungkin. Namun ia kalah cepat karna Morgan sudah mencekram pergelangan tangannya.
“Jangan coba-coba lari dariku. Ingat kau punya hutang yang harus kau lunasi,” ucap Morgan tersenyum penuh arti.
“Aku akan menggapnya sebagai cicilan pertamu jika kau makan bersamaku,” imbuh Morgan.
“Benarkah? Berapa upah saya jika menemani Bapak makan?” tanya Ana antusias.
“Satu juta.”
“Hah?! Satu juta! Hanya menemani makan mendapat uang sebanyak itu? Bapak tidak bercanda, kan?”
__ADS_1
“Mana mungkin aku bercanda karna masalah uang. Kalau begitu apa keputusanmu?”
Ana mengangguk.”Baiklah, saya mau.”
Morgan tersenyum penuh kemenangan. Ia berjalan ke arah mejanya dan menekan nomor di telepon kantor yang terletak diatas meja.
“Ya Pak saya disini,” jawab Sinta.
“Sinta tolong kau siapkan makan siang untuk dua orang dan bawa ke ruanganku secepatnya.”
“Baik saya mengerti.”
Morgan menutup sambungan teleponnya dan kembali duduk.
“Tunggu sebentar Ana, Sinta akan menyiapkannya sebentar lagi.”
Ana mengangguk.”Iya Pak terimakasih.”
“Emh... apa Bapak tidak ingin bertanya kenapa saya bersembunyi tadi?”
Pertanyaan yang dilontarkan dengan polosnya membuat Ana memaki dirinya didalam hati. Padahal sepertinya Morgan tidak mengungkit masalah yang ia buat tapi dengan gampangnya Ana bertanya tanpa ragu. Morgan menatap lurus tanpa berkedip kemudian tersenyum lagi. Mungkin ia juga berpikir kalau gadis didepannya itu terlewat bodoh.
“Aku sudah tau alasanmu bersembunyi Ana. Kau pasti mencoba menghindar dariku.”
Ana gelagapan dan memalingkan wajahnya.
“Bagaimana dia bisa tau? Apa mungkin sangat terlihat kalau aku memang berusaha menjauh darinya,” gumam Ana di dalam hati.
“Ohh... emh, tidak kok Pak. Saya hanya sedang membersihkan lantai dibawah meja tadi lalu tiba-tiba Bapak datang.Hehehe...”
“Wah wah Ana, kau pandai bersilat lidah sekarang,” batin Ana.
“Benarkah? Tapi kelihatannya tidak begitu. Lalu yang membuatku penasaran adalah kenapa dengan wajahmu itu?”
Morgan langsung mengganti topik pembicaraan karna matanya langsung tertuju pada wajah Ana yang terlihat lebam. Ana langsung menutupinya dengan masker yang ada dibawah dagunya. Ia lupa sempat membukanya saat bersembunyi tadi.
“Kenapa Ana? Siapa yang berbuat kasar padamu?”
Sorot mata Morgan tampak kesal membuat Ana memalingkan wajahnya.
“Saya habis terjatuh kemarin Pak. Ini sudah tidak sakit,Bapak tidak perlu cemas,” ucap Ana tanpa menoleh.
Morgan mengerutkan dahinya, bagaimana bisa terjatuh menyebabkan lebam yang seperti itu. Jawaban yang tak bisa diterima nalar membuat Morgan geram. Ia meraih wajah Ana dan melepaskan masker itu dengan paksa.
“Apa yang Bapak lakukan! Tolong jaga sikap Bapak!”
“Aku tidak peduli, cepat beri aku jawaban yang masuk akal. Siapa yang melakukan ini padamu!” gertak Morgan.
Ana membuang muka, ia masih terdiam tanpa kata. Morgan menghela napas panjang, mencoba menetralisir emosinya sejenak.
“Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya, aku tidak akan memaksamu. Kau sudah mengobati lukamu?”
__ADS_1
Ana menggeleng pelan dan menunduk.
Tok... tok... tok.
“Masuklah Sinta.”
Sinta membuka pintu dan membawa meja dorong dengan makanan diatasnya. Sinta melirik Ana sekilas dan bergumam dalam hati.
“Sejak kapan Ana disini? Perasaan dari tadi belum ada seorang pun yang masuk.”
“Sinta kau sedang apa? Cepat tata makanan itu dimeja.”
“Ohh, baik Pak.”
Masih belum selesai dengan pikirannya, lamunannya langsung buyar karna Morgan memergokinya. Sinta segera menata makanan itu di meja dan melanjutkan pemikirannya yang sempat terhenti.
“Beruntung sekali kau Ana, Pak Morgan sangat perhatian padamu. Kebaikan macam apa yang kau miliki sampai Morgan bisa tunduk padamu,” gumam Sinta.
“Sinta setelah ini belikan aku beberapa salep untuk luka lebam,” perintah Morgan.
“Ya, akan saya belikan setelah ini,” jawab Sinta.
Setelah selesai menata makanan, Sinta segera pergi dan menutup pintu pelan. Kini hanya ada mereka berdua diruangan yang hening. Ana masih di posisi yang sama. Duduk kaku dengan menundukkan kepalanya,sesekali ia melirik makanan yang sudah tertata rapi di meja.
Glek! Air liur terus menetes di tepi bibirnya. Kerumunan cacing menggeliat beramai-ramai bersorak riya dari dalam perut. Ana mengelus pelan perutnya agar para cacing bisa sedikit tenang.
“Makanlah Ana, kau pasti lapar.”
Setelah mendapatkan intruksi Ana segera menyambar makanan itu. Tumis sayur kesukaannya menjadi menu makan siang hari ini. Dalam waktu kurang dari tiga menit Ana sudah menghabiskan satu piring makanannya. Morgan tertawa kecil melihat Ana yang begitu senang saat sedang makan.
“Enak Ana?” tanya Morgan.
Ana mengangguk.”Iya, ini sangat enak.”
Ana tersenyum lalu melanjutkan aksinya di menu kedua yaitu buah semangka.
Kraus...kraus. Semangka yang begitu manis dan kaya akan air membuatnya menetes saat dikunyah. Ana mengipat-ngipatkan bajunya yang kejatuhan air semangka. Lagi-lagi senyum tersungging di bibir Morgan. Setelah merasa kenyang, bagian terakhir adalah minum air putih. Seharusnya minum dulu baru makan semangka, tapi karna semangka itu lebih menggiurkan jadilah minum air putih dibagian akhir. Ya begitulah kira-kira.
“Ana suapi aku setelah ini.”
Mata Ana melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1