
“Selamat pagi Pak!" sapa Ana sambil menutupi wajahnya.
Morgan tersenyum senang karna Ana membuka pembicaraan.
“ Selamat pagi juga Ana," balas Morgan.
"Bapak tau nama saya?" tanya Ana penasaran kenapa Morgan mengetahui namanya.
"Ataukah, mungkin Morgan sudah tau tentang berita viral itu," gumamnya.
Ana merasa sangat malu sekarang dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Tentu saja aku harus tau namamu."
Ana tampak bingung dengan perkataan Morgan, tapi Ana tidak ingin membahasnya dan ingin segera keluar dari lift.
“Ana, apakah kau ada waktu malam ini?"
“Emh... saya sudah ada janji Pak, maaf."
Morgan tampak kecewa dengan jawaban Ana, tapi ia tidak bisa memaksanya.
“Baiklah kalau begitu, lain waktu kau tidak boleh menolaknya."
Ting ... pintu lift terbuka dan Morgan pergi menuju ruangannya. Ana dibuat bingung oleh ajakan Morgan.
Ana tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
****
Pukul 17.30 jam kerja telah selesai. Ana merapikan diri untuk pulang dan merapikan alat-alat kebersihan.
Anapun berjalan kaki menuju halte bus dengan tetap memakai wig yang Neysa berikan. Dari kejauhan, sebuah mobil menghampiri Ana. Kaca mobil terbuka dan tampak Jordan dengan kacamata hitamnya.
“Hei... kita bertemu lagi," sapanya sambil melambaikan tangan dan terseyum.
“Kenapa kau bisa tau dengan penampilanku yang seperti ini?"
“Tentu saja aku tau hanya dengan melihat bentuk tubuhmu yang jelek itu."
“Apa niatmu bertemu denganku hanya untuk mengejekku?" gerutu Ana kesal.
“Haha... kenapa kau pemarah sekali! Aku hanya bercanda, tapi dengan melihatmu dari jauh saja aku tau kalau itu kau!"
“Lalu kenapa dengan rambut anehmu itu? Apakah style seperti itu sedang tren sekarang?" goda Jordan.
Ana merasa kesal dengan Jordan karna selalu mengejeknya. Ia pun kembali berjalan meninggalkan Jordan.
“Hei tunggu! Aku masih ada urusan yang harus kita selesaikan!" teriak Jordan.
Anapun berhenti dan menoleh ke arah Jordan. Sebenarnya ia harus menyelesaikan masalah ini dengan Jordan agar tidak
__ADS_1
menjadi lebih panjang, begitu pikir Ana. Ia pun kembali berjalan ke arah Jordan.
“Baiklah, kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Ana.
“Masuklah dulu, kau akan tau nanti."
Ana mengangguk mengiyakan permintaan Jordan. Tak lama mobil ferrari milik Morgan berhenti disamping mobil Jordan.
Morgan keluar dari mobil dan Ana heran kenapa Morgan harus berhenti disini.
“Ana, sedang apa disini?"
Mengetahui kehadiran kakaknya, Jordan juga turun dari mobil. Jordan menggandeng tangan Ana, sontak Ana terkejut dengan sikap Jordan.
Ana ingin melepas genggaman tangan Jordan, tapi Jordan menggandengnya begitu kuat. Rahang Morgan mulai mengeras karna begitu kesal seakan ingin menonjok wajah Jordan sekeras mungkin.
“Aku yang harusnya bertanya sebaliknya, sedang apa kau disini Morgan? Kenapa orang sepertimu sangat perhatian kepada bawahan seperti dia!" ucap Jordan ketus.
“Itu bukan urusanmu, aku hanya bertanya pada Ana!"
Kedua pria itu menatap Ana dengan tatapan yang membuat Ana bergidik dan menempatkan Ana diposisi yang sulit seakan Ana seperti ketahuan selingkuh dengan kekasihnya.
“Jawab Ana, kenapa kau diam saja?" tanya Morgan.
“Tentu saja dia akan pergi bersamaku, kenapa kau harus bertanya lagi?" balas Jordan.
Morgan menarik kerah baju Jordan karna terpancing emosi. Jordan hanya diam sambil tersenyum licik seakan meremehkannya. Ana segera menepis tangan Morgan sebelum mereka beradu pukulan.
“Kenapa kalian seperti ini? Tidakkah sikap kalian itu sangat kekanakan?" tegur Ana.
Tangan Morgan menggenggam tangan Ana dengan kuat. Jordan menekan emosinya karna sikap kakaknya itu. Kini tangan Ana diperebutkan kedua kakak-beradik itu.
Ana tak mengerti dengan sikap mereka dan melepaskan gandengan tangan mereka. Ana berpikir ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Morgan agar masalah ini tak berkepanjangan.
“Maaf pak Morgan, saya masih ada urusan dengan Jordan sekarang, jadi saya harap bapak mengerti," ucap Ana dan pergi masuk kedalam mobil Jordan.
Jordan tersenyum sinis karna merasa menang. Sesekali Ana melihat Morgan dengan raut wajah kesal dan memelas.
Ana tampak kasihan, tapi tak ada yang bisa ia perbuat. Mobil Jordan melaju tak menghiraukan Morgan yang masih berdiri memperhatikan mereka.
"Kau mengenal pak Morgan?" tanya Ana.
"Yaa..." jawab Jordan dingin.
Ana tak berani bertanya lagi melihat sikap Jordan dan Morgan yang sepertinya tidak akur.
Di sepanjang jalan mereka terdiam. Mata Ana mulai terpejam karna mengantuk. Merasa lelah setelah bekerja seharian.
Mobil Jordan berhenti di sebuah Villa dia atas puncak. Jordan melepaskan sabuk pengamannya dan akan keluar dari mobil.
Tapi Jordan melihat Ana tertidur pulas dan tak ingin membangunkannya.
__ADS_1
Jordan memperhatikan wajah Ana yang begitu manis saat tertidur. Suasana hati Jordan seketika menjadi sejuk ketika mamandangi Ana.
Jordan terseyum tipis karna perasaannya yang tiba-tiba tak menentu.
“Kenapa Morgan seperti menaruh simpati padamu? Dia bahkan tau namamu lebih dulu dari pada aku," gumam Jordan.
“Seberapa jauh hubunganmu dengan Morgan Ana? Kenapa aku merasa kesal karnanya," imbuh Jordan.
“Oh,her eyes,
Her eyes make the,
Star look like they’re not shinin."
Lagu Bruno Mars dengan judul Just The Way You Are menjadi tanda nada dering ponsel Jordan berbunyi nyaring.
Ana terbangun dan tersadar bahwa ia telah sampai disuatu tempat. Jordan keluar dari mobil dan menjawab panggilan telepon.
Ana keluar dari mobil. Ia melihat villa yang begitu apik dan taman yang tertata cantik dan terasa begitu sejuk.
Jordan menutup sambungan teleponnya dan berbalik menuju mobil. Jordan mencari Ana untuk membawanya masuk, tapi gadis itu pergi entah kemana.
Ana!
Jordan mencarinya ke sekeliling villa dan taman, tapi masih belum menemukannya. Jordan tampak cemas karna malam semakin larut tapi Ana tak kelihatan batang hidungnya.
“Ana... Ana... dimana kau!" teriak Jordan yang kesekian kali.
“Aku disini," ucap Ana yang berada dibelakang Jordan.
“Dari mana saja kau? Kenapa tidak bilang? Aku mencarimu dari tadi," ucap Jordan cemas.
“Maaf, aku hanya berkeliling karna tempat ini sangat bagus," jawab Ana polos dan masih merasa takjub dengan tempat yang baru pertama kali ia kunjungi.
Jordan menggelengkan-gelengkan kepalanya dan tersenyum kecil melihat tingkah Ana yang begitu polos.
Krucuk... krucuk.
Cacing-cacing di perut Ana memberi pertanda untuk segera diisi. Ana menunduk malu sambil mengelus perutnya. Jordan tertawa geli dibuatnya.
“Apakah kau selapar itu?"
Ana mengangguk sambil tersipu malu. Jordan kembali menggandeng tangan Ana membawanya masuk ke villa.
Didalam Villa, Ana dibuat takjub dengan kemewahan didalamnya. Banyak barang-barang antik dan mahal terpajang disetiap ruangan.
Disebuah meja yang besar dan panjang, Jordan mempersilahkan Ana untuk duduk. Beragam jenis makanan chineas food tertata rapi dan menggugah selera.
Ana melongo melihat makanan yang disiapkan Jordan. Jordan kembali tertawa melihatnya. Tapi Ana tak menggubrisnya karna telah terhipnotis oleh makanannya.
“Makanlah, kenapa hanya melihatnya saja!"
__ADS_1
Ana mengangguk semangat dan tanpa banyak bicara memakannya dengan lahap.
Jordan merasa terpukau melihat sikap Ana yang begitu sederhana dan tak banyak bicara, tapi sangat menyenangkan melihat tingkah konyolnya.