Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Ancaman Liona


__ADS_3

Didalam mobil,


Ana meremas tangannya sembari menatap jari-jarinya sendiri. Pikirannya sedang bergulat menahan kalimat dikepalanya yang ingin ia lontarkan tapi ragu untuk melakukannya. Ana menatap Jordan yang tepat berada disebelahnya sedang berkonsentrasi menyetir memandang lurus keramaian jalan raya.


“Gimana cara bilangnya ya? Memalukan sekali harus pinjam uang seperti ini,” gumamnya dalam hati.


“Sebaiknya jangan sekarang, besok sajalah. Lagi pula Pak Morgan tidak menetapkan jatuh tempo jadi santai saja Ana.”


Ana beragumentasi di dalam hati.Bertanya dan menjawabnya sendiri agar hatinya merasa sedikit tenang. Ana membuka jendela mobil,menghirup udara malam yang terasa sejuk sampai akhirnya matanya tak kuasa untuk terpejam menelusuri alam mimpi. Tak terasa mobil Jordan telah sampai di depan kost Ana.


Dilihatnya Ana yang sedang tertidur pulas membuat hati Jordan berdebar-debar. Jordan mengelus lembut pipi Ana. Ana menggeliat dengan mata yang masih  terpejam. Jordan tersenyum simpul, ditatapnya lekat-lekat wajah manis gadis didepannya itu. Pandangannya jatuh pada bibir mungil merona yang membuatnya menelan ludah.  Sadar akan ada iblis yang merasuki dirinya, Jordan langsung membuang muka.


“Singkirkan pikiran nafsumu Jordan! Kenapa nafsumu tinggi sekali sih! Ana pasti akan marah jika kau tiba-tiba menciumnya. Tahan... tahan,” gumamnya dalam hati.


Jordan mengambil napas panjang, menepuk-nepuk pelan dadanya yang bidang. Mencoba menenangkan diri dari godaan iblis yang menempel di pikirannya. Jordan masih komat-kamit membaca mantra yang membuat Ana terbangun dari alam mimpinya. Ana mengucek matanya, melihat sekelilingnya yang baru ia sadari ternyata mobil Jordan telah sampai di depan kostnya.


“Jordan apa aku tidur terlalu lama? Kenapa tidak membangunkanku?”


Jordan menoleh, terkejut mendengar Ana berbicara. Padahal sebelumnya ia masih tertidur pulas.


“Tak apa Ana, sepertinya kau sangat lelah jadi aku sengaja tidak membangunkanmu.”


Jordan turun dari mobil,berputar membuka pintu untuk Ana. Ana tersenyum senang merasa tersanjung mendapat perlakuan manis dari kekasihnya. Ana akan turun dari mobil namun ia lupa sabuk pengaman masih menggelantung dan membuatnya tertahan.


“Diam saja Ana. Biar aku yang melepasnya.”


Jordan melongokkan kepalanya ke mobil mencari pengait agar sabuk itu terlepas.


Cklik! Sabuk itu terlepas.


Jordan berniat keluar dari mobil namun mata mereka saling bertemu. Mereka bersitatap  dalam diam tatapan matanya memancarkan kehangatan. Merasakan balutan perasaan yang sama kini Jordan memberanikan diri lebih dekat ke bibir Ana.


“Ya tuhan semoga Jordan tidak mendengar suara jantungku yang tak karuan ini,” gumam Ana.


Bibir mereka saling bersautan menggugah gelora cinta yang membara. Saling membalas dan memberi kehangatan. Ana menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan. Napasnya tersenggal dan melepas ciuman itu sebentar. Ana membuka matanya perlahan kemudian menatap Jordan lekat-lekat. Terpancar senyum kebahagian dibalik senyum mereka saat ini. Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengamati mereka dari kejauhan. Sorot mata tajam mengarah pada mereka tanpa mereka ketahui.


“Ana aku mencintaimu,” ucap Jordan tersenyum.


Ana tersipu malu, matanya berbinar-binar merasa sangat senang luar biasa seperti mendapatkan sekarung emas.


“Aku tau itu,” jawab Ana tanpa menolehkan ke arah Jordan.


“Hemh... cuma itu jawabanmu?”


“Memang apalagi?”


Jordan menaut dagu Ana agar melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Katakan kau juga mencintaiku.”


Ana menurunkan pandangannya karna merasa sangat malu.


“Aku mencintaimu,” ucap Ana pelan.


“Apa? Katakan sekali lagi, suaramu tidak terdengar sama sekali.”


Jordan mendekatkan telinganya menggoda Ana yang sedang malu-malu membuatnya senang.


“Aku mencintaimu Jordan,” ucapnya sekali lagi.


“Hah? Apa? Ayolah Ana, apa kaubelum makan? Bicaralah yang keras.”


Ana menyipitkan matanya. Ia tau kalau Jordan sedang mengerjainya, tak mau kalah ditariknya telinga Jordan sekuat yang ia bisa sampai Jordan merintih kesakitan.


“Awh telingaku! Ampun ampun. Tolong lepaskan Ana, aku minta maaf.”


Ana melepasnya dan Jordan mengelus pelan telinganya yang memerah.


“Tempramenmu sangat buruk, apa begini yang kau bilang mencintaiku,” celutuk Jordan.


“Hihihi, kau sendiri yang memulai,” ucap Ana terkekeh.


“Aku hanya menggodamu sedikit tadi,kenapa harus menjewerku seperti ini,” ucap Jordan sambil mencibirkan bibirnya yang terlihat menggemaskan di mata Ana.


“Hehe... sakit sekali ya? Coba kulihat.”


“Tidak perlu, sebenarnya tidak sesakit itu hehe,” ucap Jordan terkekeh.


Ana tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol yang dilakukan Jordan. Kekasihku ini sangat menggemaskan! Ingin sekali memakanmu hidup-hidup! gumam Ana.


“Sudahlah aku mau masuk, ini sudah malam cepatlah pulang Jordan.”


“Kenapa malah mengusirku? Aku masih ingin berlama-lama sayang,” ucap Jordan sembari mengedipkan mata.


“Dasar genit!”


Jordan tertawa kecil.”Tapi kau senang dengan pria yang genit ini, kan?”


Ana mengangguk.”Iya, senaaaannng sekaliiii!” ucap Ana penuh penekanan.


“Sudah, sudah! Aku mau masuk,” imbuh Ana.


Ana merogoh tasnya mencari kunci untuk membuka pintu. Jordan masih mengawasi Ana sampai Ana benar-benar masuk. Jordan pun segera masuk kedalam mobil dan melaju terlempar angin.


Disaat disekeliling Ana mulai sepi, Liona keluar dari tempat persembunyiannya melangkahkan kakinya dan mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok ... tok!


“Siapa? teriak Ana dari dalam.


Tak ada jawaban atau suara apapun di balik pintu.


“Mungkinkah Jordan kembali lagi? Tapi untuk apa?” ucap Ana menebak.


Ana berjalan dan membuka pintu. Seorang gadis yang tak Ana kira kedatangannya kini tepat berada didepannya dengan sorot mata membunuh.


“Lii...liiona?” ucap Ana terbata-bata.


Tubuh Ana bergetar,langkahnya mundur perlahan. Tangannya menutup rapat mulutnya yang masih ternganga karna terkejut. Liona masuk dengan seringai jahat yang tersungging di balik senyumnya.


“Kenapa kau terkejut begitu Ana? Apa kau tak mengira aku berani datang kesini?” ucap Liona sembari melotot membuat Ana bergidik ngeri.


“Uuuntuk apa kau kemari Liona?” ucap Ana terbata-bata.


Perasaannya kini ketar-ketir. Ia tahu bahwa Liona sekarang sangat marah padahal sebelumnya ia sudah sangat siap dengan konsekuensi yang akan terjadi. Namun nyali ciut saat kenyataan itu benar-benar terjadi.


“Kemarilah Ana, kenapa kau malah menjauh? Aku hanya ingin mengobrol sedikit denganmu,” ucap Liona tersenyum getir.


Ana menggeleng cepat.”Tidak Liona, aku mohon tenangkan dirimu.”


“Tenang katamu? Cih! Wanita jal**ng sepertimu tidak akan tau yang aku rasakan!” umpat Liona geram.


“Aku tau aku salah Liona, aku minta maaf. Apapun yang akan kau lakukan padaku aku akan terima.”


Liona tersenyum kecut.”Kau yakin bisa menerimanya?”


Ana mengangguk.”Iya, tapi kumohon tenangkan dirimu,” ucap Ana dengan suara bergetar.


“Aku sudah sangat tenang sekarang karna mangsa sudah berada tepat dihadapanku. Kini hidupmu berada di tanganku.”


Ana menjerit di dalam hati.”Tolong! Siapapun tolong aku!”


Air mata mulai mengalir di pelupuk matanya. Liona mengeluarkan sebuah pisau dari tas kecilnya. Membuat Ana semakin terguncang ketakutan.


“Liona kau tidak akan sekeji itu padaku, kan?”


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2