Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Ana dan Morgan


__ADS_3

Morgan langsung mundur dan salah tingkah. Ia merasa menyesal setelah melakukan tindakan yang begitu bodoh dan membuat Ana merasa tak nyaman.


“Emh... Ana aku minta maaf. Aku sebenarnya tidak bermaksud begitu" ucap Morgan malu-malu.


“Ahh... emh, ya Pak tak apa," ucap Ana yang juga salah tingkah.


Mereka berdua kembali terdiam saling berfikir harus apa dan bagaimana.


“Ana sebaiknya kau kuantar pulang, agar bisa beristirahat dengan cukup," ucap Morgan memecahkan keheningan.


“Ya Pak saya akan meminta sahabat saya saja untuk mengantarkan saya pulang, jadi Bapak tidak perlu repot-repot," tolak Ana karna merasa tak enak.


“Sahabatmu? Siapa?"


“Dia juga bekerja disini, Neysa namanya."


“Benarkah? Kalau begitu aku akan menyuruh Sinta mencarinya."


Morgan lekas menelpon Sinta  menggunakan telepon diruangannya dan tak lama Sinta masuk.


“Sinta, tolong panggilkan karyawan bernama Neysa untuk ke ruanganku," perintah Morgan.


“Baik Pak," ucap Sinta dan pergi.


“Ana, bolehkah sepulang kantor aku kembali menjengukmu?"


“Tentu boleh Pak," ucap Ana sambil tersenyum.


Morgan membalas senyuman Ana, kini mereka berdua semakin dekat karna sering bersama.


"Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu."


“Permisi Pak," ucap Neysa.


“Ya... masuklah Neysa."


Neysa masuk dan menghampiri Ana.


“Ya, ampun Ana! Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Apakah para wartawan itu sudah mengetahui identitasmu? Ups!" ucap Neysa keceplosan.


Morgan langsung menatap heran mendengar perkataan Neysa.


“Hehehe maksudku, siapa yang melakukannya padamu sampai kau terluka seperti ini?" ucap Neysa mengalihkan pembicaraan.


“Nanti saja kuceritakan Ney, bisakah kau mengantarku pulang dulu?"


“Ohh ya... ya. Aku akan mengantarmu pulang sekarang," ucap Neysa buru-buru sebelum Morgan curiga.


“Kalau begitu saya permisi Pak dan terimakasih banyak."


“Ya Ana, sampai bertemu nanti malam," ucap Morgan terseyum.


Ana mengangguk dan membalas senyuman Morgan lalu pergi dengan Neysa.


Didalam Mobil,

__ADS_1


“Ana kau tau? Tadi seisi kantor membicarakanmu dengan begitu hebohnya!" ucap Neysa yang tak kalah heboh.


“Aduh Neysa! Kejadian tadi pagi diluar kendaliku. Tiba-tiba saja Morgan menggendongku meski aku sudah menolaknya."


“Kau sungguh beruntung Ana! Bisa merasakan digendong pangeran berkuda putih," puji Neysa.


Ana hanya menggelengkan kepalanya mendengar celotehan sahabatnya itu.


“Dan kau tau? Berkatmu aku bisa pulang pagi hari ini!" ucap Neysa senang.


“Benarkah? Kenapa begitu? Kau kan bisa kembali bekerja lagi setelah mengantarku pulang?"


“Itu perintah dari pak Morgan, daann... tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun!" ucap Neysa dengan wajah genitnya.


“Wah! Sepertinya kau memanfaatkan kondisi sahabatmu yang sedang kemalangan ini," goda Ana.


“Hehehe... tidak begitu Ana, aku hanya merasa sedikit beruntung karnamu."


“Tapi kau belum menceritakan padaku, apa yang terjadi! Cepat ceritakan Ana! Aku sangat penasaran."


“Boleh, tapi tidak dengan cuma-cuma."


“Apa maksudmu? Aku harus membayarnya untuk mendengarkan kisahmu itu?"


“Iyalah! Kau hampir saja membocorkannya pada Morgan," ucap Ana tak mau kalah.


“Hehehe... maafkan aku Ana, baiklah kau minta apa?"


“Aku ingin sekotak donat."


"Oke, jadi tadi pagi saat aku bla, bla,bla Ana menceritakan setiap detil kejadian yang ia alami tadi pagi."


“Astaga! Kurang ajar sekali orang itu! Sayang sekali pria bre***sek itu lolos!" ucap Neysa geram.


“Sepertinya aku terkena kutukan yang tak ada habisnya Ney. Masalahku dengan Jordan belum selesai, tapi masalah yang lain datang lagi dan lagi," ucap Ana kesal.


“Sudahlah Ana, mungkin setelah kesialan yang kau alami akhir-akhir ini akan ada kebahagian setelahnya," ucap Neysa menenangkan.


“Semoga saja Ney, dan terimaksih karna kau selalu ada bersamaku," ucap Ana sambil tersenyum.


“Tentu saja, sampai kita menjadi seorang nenek-nenek tua, kita harus selalu bersama."


“Hahaha... sangat lucu jika membayangkannya! Aku dan kau masih bersama dengan rambut putih dan kulit yang keriput serta gigi yang sudang ompong!" ucap Ana tertawa.


Mereka berdua tertawa lepas di dalam mobil. Kini Ana merasa bebannya sedikit berkurang setelah bercanda bersama Neysa.


Mobil Neysa berhenti disebuah toko kue dan donat. Neysa pun masuk membeli beberapa kotak donat sesuai permintaan sahabatnya itu.


Neysa mengantri dibarisan paling terakhir. Toko ini begitu ramai sekarang, karna hari ini sedang ada diskon, jadi banyak sekali pelanggan yang berburu donat. Neysa tidak suka mengantri. Ia sangat kesal sekarang karna antrian begitu panjang.


Tapi apa boleh buat hanya di toko ini donat yang menurutnya enak. Dengan sabar Neysa mengantri, sembari bermain ponsel.


Tiba-tiba seseorang menabraknya dan menumpahkan segelas cola bersoda dipakaiannya. Neysa terkejut bersamaan dengan emosinya. Ditatapnya orang itu siapakah gerangan yang sangat menyebalkan itu.


Dia adalah seorang pria yang rumayan tampan menurut Neysa. Dia terlihat manis meski dengan tampang dinginnya itu. Seketika Neysa membuyarkan lamunannya dan pria itu menatapnya Aneh.

__ADS_1


“Maaf, apakah kau tidak apa? Aku akan mengganti kerugian bajumu yang sudah kotor itu," ucapnya sembari mengeluarkan dompetnya.


“Tidak papa, dan tidak perlu kau ganti. Ini hanya perlu sedikit dicuci, jadi tak perlu repot-repot," ucap Neysa menolak.


“Tapi aku tetap akan menggantinya mesi kau menolak! Ini Lima Ratus Ribu apakah cukup?" ucapnya sambil menyodorkan uang pada Neysa.


“Tidak! Sudahlah, aku tetap menolaknya! Ini sedikit berlebihan!"


“Kau wanita yang keras kepala! Kenapa tidak kau terima saja dan masalah kita beres," ucap pria itu dingin.


“Hei! Aku berbaik hati padamu karna kau sudah meminta maaf dan buatku itu sudah cukup, tapi kenapa kau mengataiku keras kepala?" ucap Neysa tak mau kalah.


“Aku tidak ingin jika kita bertemu lagi kau akan mencoba mendekatiku," ucapnya kesal.


“Cih! Memangnya dimatamu aku wanita murahan? Kau salah besar!" ucap Neysa geram.


Semua orang ditoko memandangi mereka antusias. Neysa sangat geram melihat tingkah pria menyebalkan dihadapannya itu.


Segelas cola yang tersisa dan masih dipegang erat oleh pria itu direbut Neysa dengan paksa.


Dan Byur! Sisa cola itu membasahi wajah pria itu. Neysa tersenyum senang.


“Anggap saja kita impas!" ucap Neysa tersenyum dan pergi.


Pria itu memandangi Neysa dari kejauhan dengan perasaan kesal. Dan kini ia jadi bahan tertawaan semua orang di toko.


Di dalam mobil,


La... lala...la. Dering ponsel Ana berbunyi. Ana segera merogoh tasnya. Nama Jordan muncul dilayar ponselnya.


“Halo."


“Ana dimana kau sekarang?"


“A-ku sedang bekerja," ucap Ana terbata-bata.


“Ohh baiklah, aku akan menjemputmu sepulang kerja karna ada sesuatu yang inginku bicarakan padamu," jelas Jordan.


“Emh... aku minta maaf Jordan, tapi bisakah kita bertemu lain waktu? Karna aku sudah ada janji setelah kerja," ucap Ana berbohong.


“Benarkah? Dengan siapa?" tanya Jordan penasaran.


“Tentu saja aku tidak akan memberitahumu. Aku juga punya privasi!"


“Hey... ayolah jangan begitu! Apakah kau akan bertemu dengan Morgan?" ucap Jordan menebak.


“Tidak! Aku hanya ingin istirahat saja karna merasa kurang sehat," ucap Ana yang entah mengapa dia berkata seperti itu seakan tidak ingin Jordan salah paham.


“Ohh... benarkah? Baiklah kalau begitu bye!" ucap Jordan dan menutup sambungan telepon.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2