
Cinta ini bukanlah cintai biasa. Biar waktu yang menjawabnya...
Ku tak bisa tuk miliki dirimu dalam hidupku...
Alunan lagu bersenandu merdu di radio mobil milik Niko. Ana menyenderkan bahunya dikaca mobil dengan menggerigiti kuku jarinya karna merasa cemas.
“Apa rumah sakitnya jauh?” tanya Neysa.
“Rumayan, tapi sebentar lagi kita sampai,” jawab Niko sambil mengemudikan mobilnya.
“Aku masih tidak percaya, kenapa wanita seperti Liona bisa melakukan tindakan seperti itu? Dia cantik, berpendidikan tinggi, kaya, dan pintar, tapi kenapa pemikirannya bodoh?”
“Itu yang dinamakan cinta merubah segalanya. Yang namanya cinta pasti tidak mau kehilangan, apapun cara dan resiko agar dia tidak kehilangan orang yang ia cintai, dia akan lakukan semuanya termasuk bunuh diri atau bunuh orang sekali pun!"
“Hiih... itu mengerikan!" ucap Neysa bergidik ngeri.
“Kenapa? Aku salut pada Liona, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi Jordan dan itu berarti rasa cintanya lebih besar dari dirinya sendiri."
“Salut katamu? Itu egois namanya, kalau kekasihnya itu sudah tidak mencintainya lagi, mau tak mau harus merelakan dia pergi agar dia bisa lebih bahagia. Dari pada di paksa untuk mempertahankan hubungan yang sudah tidak sejalan dan melakukan bunuh diri itu sangat merugikan untuk kedua belah pihak!" jelas Neysa panjang lebar.
“Menurutmu begitu? Lalu jika kau berada di posisi Liona, apa kau akan melakukan hal yang sama? Melepas pria yang kau cintai agar dia bahagia? Kau yakin bisa begitu?”
“Emh... mungkin begitu, karna dia sudah tidak mencintaiku lagi maka tidak akan ada kebahagian di dalamnya. Melainkan hanya sebuah paksaan dan rasa kasihan."
Niko tersenyum mendengar pembicaraan wanita yang duduk disebelahnya itu. Meski sikapnya sedikit dingin dan ketus tapi pemikirannya sangat bijak dan matang.
“Ana? Ana? Ana?!" panggil Neysa.
“Hah? Emh... iya Ney. Ada apa?”jawab Ana yang terkejut dari lamunanya.
“Kau sedang memikirkan apa Ana?” tanya Neysa melihat temannya yang sedang melamun sedari tadi dikursi belakang.
“Ohh... tidak kok, aku hanya terlalu fokus melihat pemandangan kota sampai tidak mendengar panggilanmu,” ucap Ana beralasan.
“Benarkah? Kau lapar tidak? Dari tadi kau belum memakan apapun jadi aku membawakan roti dan susu untukmu,” ucap Neysa sambil menyodorkan kotak makan berisi roti dan sebotol susu.
“Ya kau tau saja kalau aku lapar Ney, hehehe...” ucap Ana terkekeh.
Ana melahap roti isi yang diberikan Neysa. Perutnya memang sudah keroncongan dari tadi karna terlalu banyak tidur dan lupa makan. Setelah habis tanpa tersisa mereka juga telah sampai di rumah sakit dimana Liona dirawat. Mereka turun dari mobilnya dan berjalan menuju resepsionis.
“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah.
__ADS_1
“Begini, saya ingin menjeguk pasien yang bernama Liona,” ucap Neysa.
“Oh... tunggu sebentar, saya lihat dulu di komputer," ucapnya.
“Pasien Liona berada di kamar unit VIP 301,” ucapnya memberitahu.
“Oh... baik terimakasih,”ucap Neysa tersenyum.
Mereka pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Menoleh kanan kiri membaca setiap papan kecil yang terpajang di setiap pintu.
“Tunggu, sepertinya itu Jordan,” ucap Niko.
“Ya kau benar! Ayo Ana kita kesana!" ajak Neysa.
“Jordan sedang apa kau disini?” tanya Niko.
Jordan terkejut ketika melihat kehadiran Ana dan juga Neysa. Di lihatnya Ana yang masih tampak pucat dan lesu tersenyum kecil kearahnya.
“Aku sedang merawat Liona disini, dan kenapa kalian juga disini?”
“Aku yang memberitahu mereka dan menyuruhnya kesini," jawab Niko.
“Apa? Kenapa kau tidak membicarakannya dulu padaku?” tanya Jordan kesal.
“Tidak! Sebaiknya kau pulang saja Ana. Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu."
“Kami sudah datang jauh-jauh dan sekarang disuruh pulang! Kenapa kau seenaknya sendiri? Tidakkah kau melihat kondisi Ana yang masih lemah!” ucap Neysa kesal.
“Ya aku minta maaf, tapi ini..."
“Aku mohon Jordan! Biarkan aku menemui Liona. Dia menyuruhku kesini pasti karna dia membutuhkanku,” ucap Ana.
Jordan terdiam dan mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan. Tapi kata-kata Ana barusan ada benarnya. Sepertinya Liona membutuhkan Ana sekarang dan entah apa rencana yang dibuat oleh Liona pada Ana.
“Baiklah kau boleh masuk,” ucap Jordan sambil membukakan pintu.
Ana tersenyum kecil dengan wajah pucatnya. Dilihatnya Liona yang sedang duduk terdiam di atas tempat tidur dengan mata kosong menatap keluar jendela.
“Liona aku Ana,” ucap Ana sambil berjalan mendekat kearah Liona.
“Kau disini Ana,” ucap Liona dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ana duduk dan Liona langsung meghambur ke pangkuan Ana seperti anak kecil yang baru bertemu ibunya dan menangis terisak. Ana menepuk pelan pundak Liona yang sedang bergetar hebat dan mencoba menenangkannya.
“Aku minta maaf Liona, aku tidak bermaksud sedikit pun merebut Jordan darimu!" ucap Ana.
“Aku, aku sangat mencintai Jordan! Kami sudah menjalin hubungan begitu lama. Tapi aku tak menyangka dengan apa yang kudengar kemarin! Aku mencoba menepisnya dan berpura-pura tidak mendengar apapun, tapi saat Jordan begitu panik saat kau tenggelam perasaanku sangat sakit melihatnya!" ucap Liona terisak.
“Ana berjanjilah padaku! Apapun yang terjadi kau tidak akan bersama Jordan!" ucap Liona sambil memegang erat tangan Liona dan menatapnya penuh harapan.
“Ya aku berjanji!"
Ana mengusap air mata yang berjatuhan di pipi lembut Liona dan menatapnya hangat. Disisi lain ia juga merasa bersalah karna sebenarnya ia juga menyimpan perasaan pada Jordan. Kenapa rasa cinta itu harus tumbuh bila pada akhirnya tak bisa memiliki dan terasa menyakitkan. Ia merasa sedih sekaligus empati pada Liona yang masih berada dipelukannya menangis tersedu-sedu. Pada awalnya ia memang sudah sadar, bahwa Jordan hanyalah cinta sebelah tangan yang tak bisa ia genggam sampai kapanpun.
“Terimakasih Ana, kau wanita yang baik. Maafkan atas sikapku selama ini."
“Tak perlu berterima kasih padaku, memang ini yang harus kulakukan."
“Permisi... apakah kalian sudah tenang?” tanya Niko.
“Niko, aku juga berterima kasih padamu,” ucap Liona tersenyum.
“Sama-sama Liona, aku senang membantumu."
“Kalau begitu mari kita mulai membuat konten,” ucap Niko antusias.
“Oke aku siap."
“Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kantorku dulu, karna disana banyak berbagai macam peralatan seperti kamera, mic dan yang lain-lain,” ajak Niko.
“Aku pergi dulu Liona, semoga kau cepat sembuh dan jaga dirimu baik-baik."
“Ya, aku menunggu kabar baik setelah ini,” ucap Liona senang.
Ana, Jordan, Niko dan Neysa keluar dari rumah sakit dan masuk kedalam mobil mereka masing-masing menuju kantor agensi.
“Ana, naiklah ke mobilku!" ajak Jordan.
“Emh tidak mau! Aku bersama Niko dan Neysa saja!" tolak Ana.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu!"
“Aku tidak mau!"
__ADS_1
“Aku mohon Ana, ini kesempatan terakhirku!”
Ana merasa bimbang dengan ajakan Jordan. Apakah ia harus ikut bersamanya? Ada banyak hal juga yang ingin ia bicarakan bersama Jordan, tapi ia juga takut keputusan yang ia buat tidak bisa ia tepati kalau-kalau Jordan mengakui perasaannya lagi. Ia sangat mencintai pria yang ada didepannya saat ini tapi sayang, dia sudah milik orang lain dan ia tak mau menjadi pihak ketiga.