Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Keputusan Yang Salah


__ADS_3

“Halo Niko, kita batalkan acara di agensi dan bertemu di apartemenku sekarang juga!" ucap Jordan sambil menutup sambungan telepon.


“Jordan, apakah yang kita lakukan ini benar? Aku sangat takut membayangkan apa yang terjadi esok,” ucap Ana bimbang.


“Entahlah Ana, tapi yang ingin kulakukan sekarang adalah memperjelas hubungan kita."


Jordan kembali melanjutkan perjalanannya yang terhenti menuju apartemennya. Dia menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya lagi menggenggam tangan Ana lembut. Ana tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Pertama kalinya ia merasakan kasmaran yang membuat jantungnya berdegup kencang tak jelas. Tak lama mereka sampai di Apartemen Jordan dan memarkirkan mobilnya di basemant. Ia membukakan pintu untuk Ana dan merangkul pinggang Ana dengan mesra menuju lift.


Tit... tit... tit. Jordan memasukkan kata sandi apartemennya dan masuk bersama Ana yang masih ia rangkul dengan erat.


“Kau ingin minum apa Ana?”


“Air putih saja."


“Oke duduklah disini, aku akan mengambilkan segelas air,” ucap Jordan dan pergi meninggalkan Ana di ruang tamu.


Ana duduk dan merasa gelisah, ia memikirkan apa yang akan ia katakan jika ia bertemu Liona dan Neysa. Ia merasa menyesal dengan apa yang terjadi, dan ia lakukan sekarang.


“Ana, ini air putihmu aku letakkan disini,” ucap Jordan dan duduk bersebelahan dengan Ana.


“Terimakasih,” ucap Ana dan meneguk air putih didepannya sampai habis tak tersisa.


“Kau sangat haus Ana? Aku akan mengambilkan segelas air lagi untukkmu."


“Tidak Jordan! Aku mohon tetaplah disini bersamaku."


“Oke baiklah."


Jordan merasa bingung dengan sikap Ana tapi ia mencoba menurutinya dan duduk disebelahnya sembari menyenderkan kepala Ana pada pundaknya yang kokoh.


“Ada apa Ana? Kau masih merasa takut?”


“Aku merasa bersalah dan takut. Apa sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi? Aku... aku, benar-benar wanita yang tak tau diri sekarang!” ucap Ana terisak.


“Kenapa kau berkata seperti itu Ana? Masih ada aku bersamamu! Jdi kita hadapi sama-sama dan jangan terlalu takut jika kau tidak ingin dianggap lemah,” ucap Jordan menenangkan.


“Tapi aku benar-benar merasa bersalah pada Liona."


“Aku merasakan hal yang sama sepertimu Ana. Aku akan berusaha menyelesaikannya dan kumohon jangan menangis terus sayang,” ucap Jordan sambil mengecup kening Ana.


Ting... tong! Bel berbunyi dan Jordan langsung berdiri menghampiri.

__ADS_1


Ia membukakan pintu dan sudah menunggu kedatangan tamunya itu. Tamu yang ia tunggu ialah Niko sahabat sekaligus managernya. Satu lagi seorang wanita menututi Niko dibelakangnya yaitu Neysa yang pada akhirnya masuk kedalam masalah mereka bertiga.


“Masuklah."


“Ana kau kenapa? Seperti habis menangis, ada apa?” tanya Neysa cemas melihat mata sahabatnya yang sedikit sembab.


“Aku hanya terlalu senang saja Ney, kau tidak perlu khawatir."


“Benarkah? Lalu kenapa kita malah kesini? Bukankah harusnya kita pergi ke agensi?”


“Itu yang ingin aku jelaskan pada kalian."


“Apa maksudmu? Kenapa sepertinya perasaanku tidak enak."


“Duduklah dulu, aku akan menjelaskannya panjang lebar."


Niko dan Neysa hanya bisa menurut dan penasaran dengan apa yang terjadi, namun setelah Jordan menjelaskannya secara rinci dan yakin mereka sudah menemukan jawabannya. Niko dan Neysa terkejut dan tak tau harus mengatakan apa. Keputusan yang dibuat Jordan terlihat sangat egois dan merugikan Liona maupun Ana. Jordan memohon pada Niko agar membatalkan rencana awal yang sudah mereka buat.


“Kau yakin dengan keputusanmu dan tidak akan menyesal?”


“Aku yakin Niko! Dan aku tidak menyesal dengan keputusan yang kubuat."


“Lalu bagaimana denganmu Ana?”


“Kenapa Ana?”


“Aku tidak tau apa yang kulakukan ini benar atau salah. Aku juga merasa sangat bersalah pada Liona."


“Yang kau lakukan salah Ana! Kau merebut Jordan dari Liona! Kau seperti wanita yang tak punya harga diri!" ucap Neysa ketus.


“Neysa kenapa kau bicara begitu pada sahabatmu sendiri."


“Tidak! Dia bukan sahabatku lagi! Dia bukan Ana yang kukenal!" ucap Neysa dan beranjak pergi.


“Ney! Tunggu! Kau mau kemana?” ucap Niko dan berusaha mengejar Neysa.


Tangisan Ana pecah seketika. Ia tak mempercayai apa yang ia dengar. Kata-kata yang Neysa ucapkan memang benar adanya. Hatinya begitu sakit! Sampai tak bisa membendung air matanya. Jordan mendekap Ana dengan begitu hangat, ia seperti merasakan apa yang Ana rasakan. Keputusan yang mereka ambil memang salah dan terlalu beresiko. Tapi keputusan yang salah inilah yang harus mereka hadapi kedepannya. Entah cemoohan atau pandangan jelek dari sisi manapun.


“Ana kau harus kuat. Pada saatnya Neysa pasti mau mengerti,” ucap Jordan menenangkan.


“Hiks... hiks...semoga yang kau katakan benar Jordan. Aku tak bisa kehilangan sahabatku satu-satunya,” ucap Ana terisak.

__ADS_1


“Kau masih punya aku Ana! Aku akan selalu berada disampingmu mulai sekarang."


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Kau tidak perlu berbuat apapun. Tenangkan dirimu dan biarkan aku yang mengatasinya."


****


Diluar Apartemen,


“Neysa berhenti! Tunggu aku!” panggil Niko.


“Aku mohon berhentilah! Kita bicarakan sama-sama!” teriak Niko.


“Pergilah! Jangan mengikutiku!” ucap Neysa kesal.


Neysa terus berlari tak mempedulikan panggilan Niko yang sudah terengah-engah mengejarnya. Ia kalah cepat mengejar wanita didepanya yang berlari seperti Atlet Nasional.


“Apa kau akan terus berlari sampai ke rumahmu?” ucap Niko yang masih mengejar.


Langkah Neysa terhenti, ia berpikir sejenak mencoba mencerna apa yang dikatakan Niko. Saat ini ia tidak membawa ponsel ataupun uang, karna semua barangnya berada di mobil Niko. Jarak menuju rumahnya juga amat jauh,mustahil jika ia harus berlari disepanjang jalan.


“Nah... gadis cantik apa kau baru memikirkannya?” tanya Niko yang berhasil menyusul Neysa.


“Huh! Menyebalkan! Aku tidak mau satu mobil denganmu!" ucap Neysa ketus.


“Lalu? Apa kau akan nekat jalan kaki atau berlari seperti tadi di siang bolong begini?” ejek Niko.


“Kau terlalu banyak bicara! Ayo cepat antar aku pulang!"


“Oke, oke. Tunggu di depan lobi dan aku akan menyusulmu."


Niko segera berlari menuju bastment dimana ia memarkirkan mobilnya. Neysa mengikuti arahan yang diberikan Niko untuk menunggunya di depan lobi. Pikirannya menerawang tak jelas memikirkan sahabatnya yang terlalu egois dan tak menganggapnya sama sekali.


“Kenapa Ana tidak membicarakannya dulu padaku? Tadi di rumah sakit ia berjanji akan menjauh dari Jordan! Tapi kenapa malah seperti ini?” gumam Neysa.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2