Gadis Miskin Dan Pria Kaya

Gadis Miskin Dan Pria Kaya
Jangan Membuangku


__ADS_3

Ana langsung menutup sambungan teleponnya. Ana terdiam beberapa saat. Neysa merasa bingung melihat ekspresi Ana yang diam sedari tadi setelah berbicara pada Arno.


“Ada apa Ana? Apakah Arno mengancam,mu lagi?”


Ana menggelengkan kepalanya.”Tidak Ney, hanya saja ini lebih mengejutkan dari itu.”


“Apa maksudmu?”


“Morgan membayar semua hutangku.”


“Apa?! Tapi bagaimana dia bisa tau tentang Arno?”


“Waktu itu kami sedang makan malam bersama disini. Dan hari itu Arno datang kesini untuk menagih hutang.”


“Owh... aku mengerti sekarang. Orang-orang seperti Pak Morgan tidak sulit mencari informasi orang seperti Arno. Wah! Morgan benar-benar pria idaman.”


Neysa berdecak kagum. Tapi Ana sama sekali tak suka dengan situasi semacam ini. Jika Jordan tau, Ana merasa tak enak hati dan serba salah.


“Aku sempat kecewa padamu Ana, kenapa kau malah memilih Jordan dan bukan Morgan? Kau tidak pintar dalam menilai orang.”


“Entahlah Ney, aku hanya mengikuti apa kata hatiku saja. Aku benar-benar tidak punya perasaan apapun pada Morgan.”


“Tapi bagaimana dengan Liona? Apakah dia tau hubungan kalian? Aku sangat kasihan padanya.”


“Aku minta maaf Ney, kau pasti malu punya sahabat sepertiku.”


Ana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia sadar apapun alasannya yang ia lakukan sekarang adalah kesalahan. Ia tega merebut Jordan dari Liona. Kini hanya perasaannya pada Jordan yang menjadi kekuatan baginya. Neysa seperti mengerti apa yang Ana pikirkan meski ia hanya terdiam. Nesya memeluk Ana dengan lembut. Setidaknya untuk meringankan bebannya.


“Aku tidak malu punya sahabat sepertimu Ana. Jangan terlalu menyalahkan dirimu , karna kau hanya mengikuti apa kata hatimu saja. Kau sudah benar Ana, jadilah wanita kuat seperti yang aku kenal.


Tak terasa Ana meneteskan air matanya. Ia merasa beruntung bisa bertemu dan mempunyai teman seperti Neysa. Kehidupannya terlalu pahit untuk dijalani sendirian.


****


Jordan masih merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam namun ia tak bisa tidur sama sekali. Kerongkongannya terasa kering dan ia bangkit dari tidurnya untuk meneguk segelas air. Jordan berjalan dan duduk di kursi sambil menatap keluar jendela. Pemandangan kota di malam hari sedikit menghiburnya.


“Ting... tong...!”


Bel pintu berbunyi. Jordan sepertinya tahu siapa gerangan yang datang bertamu di malam selarut ini. Jordan membukakan pintunya dan Liona sudah berdiri dengan wajahnya yang tampak muram dan matanya yang sembab.


“Kenapa kau datang selarut ini Liona? Itu tidak baik untukmu.”


“Bisakah biarkan aku masuk dulu? Setelah itu kau boleh mengomeliku.”


“Maaf... masuklah.”


Jordan menutup pintunya setelah Liona masuk. Liona duduk di ruang meja makan. Jordan merasa ada sesuatu yang terjadi pada Liona.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Apakah terjadi sesuatu?”


Liona menatap dingin ke arah Jordan.”Tidak ada, aku baik-baik saja.”


“Benarkah? Lalu ada perlu apa kau kesini di malam selarut ini Liona?”


“Aku hanya ingin kesini saja, kenapa Jordan? Apa aku menganggumu?”


“Tidak, aku hanya sekedar bertanya saja.”


Jordan merasa serba salah. Sebenarnya ia merasa ada yang aneh dengan kedatangan Liona, tapi ia tak berani bertanya agar Liona tak curiga padanya.


“Jordan maukah kau membuatkanku segelas teh hangat?”


“Ya... tunggu sebentar.”


Jordan segera pergi ke dapur. Liona memandangi Jordan dari belakang. Ia masih merasa kecewa dengan apa yang Jordan lakukan padanya.


“Apakah aku sudah tidak berarti lagi untukmu Jordan? Kenapa kau tega padaku” gumam Liona.


Hatinya hancur berkeping-keping. Luka pengkhiatan menjadi luka besar yang membuatnya membenci Ana dan Jordan. Ingin rasanya ia membunuh mereka berdua. Tapi perasaannya pada Jordan juga masih begitu besar.


“Ini tehmu Liona.”


Jordan duduk berhadapan dengan Liona. Mata mereka saling bertemu. Jordan yakin kalau terjadi sesuatu pada Liona. Itu tertulis jelas di raut wajahnya yang muram. Dengan keberanian yang ia kumpulkan Jordan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Bicaralah Liona, aku akan menjadi pendengar yang baik.”


Jordan merasa heran dengan perkataan Liona. Kata-katanya seperti memancing sesuatu yang ingin ia ketahui.


“Apa maksudmu Liona? Aku hanya ingin mendengar sesuatu darimu, barangkali kau mempunyai sebuah masalah maka aku akan coba membantu.”


“Kau yakin bisa membantuku?”


“Tentu saja, aku kekasihmu. Apapun yang terjadi padamu aku akan membantu.”


Liona kembali tersenyum. Ia meletakkan ponselnya diatas meja. Ponsel itu merekam semua pembicaraannya dengan Jordan yang akan ia gunakan sebagai senjata dan bukti.


”Ya kau benar. Aku hampir lupa kalau aku mempunyai kekasih.”


Jordan menaikkan alisnya.”Kenapa kata-katamu aneh sekali Liona.”


“Aku sudah mengetahui hubungan gelapmu bersama Ana!”


Jordan terdiam kaku. Matanya melotot tak menyangka Liona akan tau secepat ini.


“K-kau sudah tau Liona?” tanya Jordan terbata-bata.

__ADS_1


“Tentu saja aku harus tau! Memangnya sampai kapan kalian akan menutupinya dariku!”


“I-itu... sebenarnya aku ingin menjelaskannya padamu tapi aku belum siap memberitahumu semuanya.”


Air mata Liona menetes tapi ia langsung menghapusnya dan tak ingin menangis tersedu-sedu di depan Jordan. Meski sebenarnya amarahnya sudah tak bisa ia tahan ia tetap mencoba bertahan demi harga dirinya.


“Aku minta maaf Liona.”


“Permintaan maaf saja tidak cukup Jordan! Kau pasti tau itu!”


“Aku mengerti, lalu kau ingin aku berbuat apa?”


“Aku ingin kau meninggalkan Ana.”


Mata Jordan terbelalak.”Apa?! Itu tidak mungkin Liona!”


“Kenapa tidak mungkin? Memang apa yang sudah Ana berikan untukmu sampai kau menolak bersamaku?”


“Itu karna, aku sudah jatuh hati pada Ana.”


“Kau pria bre***sek Jordan! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu setelah meniduriku!”


“I-itu kesalahanku Liona. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa bersamamu lagi.”


Liona berdiri dan langsung melemparkan tamparan di wajah Jordan.


Plak!


“Jangan seenaknya kau membuangku Jordan! Kau harus bertanggung jawab!”


“Aku tidak membuangmu Liona! Aku mohon kau mengerti! Kita tidak bisa seperti dulu lagi!”


Plak! Sekali lagi Liona menampar Jordan dengan geram.


“Kenapa kau baru bilang sekarang Jordan?! Seharusnya kau menjauh dariku sebelum kita tidur bersama! Dasar bre**sek!” ucap Liona dengan nada tinggi.


“Ya liona, aku memang salah! Aku memang pria bre**sek! Bunuh aku jika itu membuatmu lega.” Jordan mengambil pisau dan menyerahkannya pada Liona.


“Ayo Liona, bunuh aku sekarang juga! Aku pantas mendapatkan hukuman darimu!”


Liona menangis dan melempar pisau itu. Tubuhnya bergetar dan menangis histeris. Jordan mendekatinya perlahan dan mencoba memeluknya agar Liona tenang. Namun Liona langsung mendorongnya dengan kasar.


“Menjauh dariku! Atau aku benar-benar akan membunuhmu! Kau pikir aku tidak bisa melakukannya!”


“Jika aku tidak bisa bersamamu, maka Ana juga tidak akan bisa! Akan kupastikan kau menyesal Jordan!”


“Tenangkan dirimu Liona, kita bicarakan baik-baik.”

__ADS_1


“Cih! Kau takut aku menyakiti Ana? Lihat saja, aku akan membuatnya hancur sama sepertiku!”


Liona mengambil ponselnya dan beranjak pergi. Jordan terjatuh lemah, ancaman Liona membuatnya takut jika Ana akan disakiti oleh Liona. Ditambah lagi jika Ana sampai tau kalau dia dan Liona sudah pernah tidur bersama. Jordan tak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


__ADS_2